
Malam yang tenang menghampiri Kota Kumori. Angin malam yang berhembus membuat ketenangan malam semakin terasa di kulit.
Kakek Hyogoro tersenyum setelah menjelaskan rencananya pada Nagato dan Litha, perlahan Kakek Hyogoro meninggalkan Nagato dan Litha di ruangan kamar. Dia beranjak untuk pergi ke luar rumah mewah Otani.
"Litha, jangan bertindak gegabah." ucap Nagato tersenyum tipis sambil mengusap rambut Litha.
"Seharusnya aku yang berkata seperti itu." balas Litha memukul badan Nagato.
Kemudian mereka berdua berpisah satu sama lain, Nagato pergi menuju ruangan kamar Otani. Sedangkan Litha pergi untuk mengawasi kamar Kazuo dari luar jendela.
Nagato berjalan mengendap - endap melangkah mendekati ruangan kamar Otani. Setelah itu dia membuka pintu kamar Otani dan masuk kedalamnya.
"Apa - apaan ini? Apa dia benar seorang wali kota?" batin Nagato setelah menutup pintu kamar Otani. Nagato melihat beberapa lukisan perempuan yang tidak memakai sehelai pakaian apapun.
"Ternyata Kekaisaran Kai jauh lebih buruk dari Azbec." gumam Nagato ketika dia mengetahui jika Otani memiliki hubungan dengan organisasi bawah tanah yang ada di Benua Ezzo.
Nagato terus mencari sesuatu yang bisa dijadikan bukti, tetapi dia tidak dapat menemukannya. Ketika Nagato sedang terus mencari sebuah barang yang bisa dijadikan sebagai bukti tiba - tiba pintu kamar Otani terbuka.
Nagato masuk ke dalam lemari dan bersembunyi di dalam lemari yang berada di ruangan kamar Otani.
"Sial! Orang itu kembali." umpat Nagato dalam hati.
Di sisi lain Otani sedang meminum arak dan perlahan dia merebahkan tubuhnya di kasur yang empuk.
"Malam ini aku sudah bosan dengan gadis muda, aku ingin mencoba istri dari Bangsawan Minami itu..." ucap Otani yang sedang meminum arak kemudian dia melempar botol araknya ke dinding kamar hingga pecah.
"Lebih baik aku mencari perempuan itu dan membawanya kesini..." ucap Otani berjalan keluar kamar dan menuju ke kamar Kazuo.
Sedangkan di ruangan Bangsawan Minami, Kazuo bersama dengan kedua anaknya yang bernama Kazue dan Eiko telah tertidur. Aiko yang tertidur tiba - tiba dia terbangun, ketika dirinnya merasa ingin buang air kecil.
Aiko masuk ke dalam kamar mandi yang ada di ruangan kamarnya, kemudian setelah selesai buang air kecil. Aiko ingin mencari udara malam di luar kamar.
__ADS_1
"Malam ini terasa dingin, tapi entah mengapa aku merasa gerah?" gumam Aiko berjalan keluar ruangan kamar dan beranjak pergi ke ruang tengah.
Ketika Aiko sampai di ruang tengah, dia bertemu dengan Otani. Kemudian Aiko menyapa Otani.
"Selamat malam..." sapa Aiko tersenyum manis pada Otani.
Otani tidak menjawab sapaan Aiko, tetapi dia perlahan mendekati Aiko. Setelah semakim dekat dengan Aiko, Otani memeluk tubuh perempuan tersebut dan menyeretnya masuk ke dalam ruangan kamarnya.
"Kurang ajar! Apa yang kau laku-" belum selesai berbicara, mulut Aiko ditutup oleh tangan kanan Otani.
"Diam! Malam ini layani aku dan anggap aku sebagai suamimu..." bisik Otani di telinga Aiko sambi menjilat telinganya.
Setelah masuk ke dalam kamar, Otani mendorong tubuh Aiko, hingga perempuan beranak dua itu terbaring di kasur.
Aiko gemetar ketakutan, dia tidak menyangka jika seorang wali kota di Kota Kumori akan sebejat ini.
"Tolong aku..." teriak Aiko tetapi dia takut jika suaranya membangunkan suaminya, karena pasti akan terjadi kesalahpahaman.
"Ya, aku ingin mendengar desahanmu..." sahut Nagato yang keluar dari lemari dan berada di samping Otani.
"Kau akan menyukainya, kujamin aku akan membuatmu melayang." balas Otani yang masih tidak sadar jika Nagato berada disampingnya.
Nagato menghela napas panjang melihat pria dihadapannya sudah begitu bernafsu.
"Enyahlah!" ucap Nagato dengan geram sambil tangan kanannya memukul wajah Otani dengan keras.
Otani terlempar menabrak dinding dan tubuhnya terkena pecahan botol yang dia lempar sendiri.
"Kurang ajar! Beraninya kau memukulku!" teriak Otani dengan nada penuh kemarahan menatap Aiko.
Aiko tersenyum melihat Nagato yang datang menolongnya. Dengan topeng rubah putih yang Nagato pakai, membuat identitasnya tidak diketahui.
__ADS_1
"Paman, aku yang memukulmu." ucap Nagato menegur Otani yang dari tadi terus menatap Aiko.
"Eh? Bagaimana kau ada disini?" tanya Otani kaget melihat Nagato yang memakai topeng rubah putih berada di ruangan kamarnya.
"Untuk mengambil ini." jawab Nagato mengeluarkan kunci yang dia pegang.
Wajah Otani marah ketika melihat Nagato mengambil kunci gudang budaknya.
"Siapa kau sebenarnya?" Otani berdiri dan menatap Nagato. Dia penasaran dengan identitas pemuda bertopeng rubah putih tersebut.
"Aku adalah dewa kematian." jawab Nagato dengan tenang sambil berjalan mendekati Otani.
Wajah Otani pucat pasi karena dia mengingat bawahannya yang kembali dengan wajah pucat ketika mereka menguasai sebuah desa.
"Apa kau mengingatnya?" tanya Nagato dari balik topeng rubah putih.
Otani tersenyum sinis kemudian tubuhnya mendadak membesar.
"Jangan sombong dulu bocah tengik!" ucap Otani dengan tajam.
Tubuh Otani terlihat seperti manusia buas, tetapi dia terlihat sudah mampu menguasai kekuatan terlarang tersebut.
Nagato melirik ke arah Aiko dan menarik tangan perempuan tersebut.
"Ikuti aku tante." ucap Nagato keluar dari ruangan kamar dan membawa Aiko keluar kediaman Otani.
Nagato dan Aiko terus berlari menghampiri Kakek Hyogoro. Di sana terlihat Litha sudah membawa Kazuo bersama dua anaknya.
"Kakek Hyo, paman sialan itu memiliki hubungan dengan Sekte Pemuja Iblis." ucap Nagato ketika telah sampai dihadapan Kakek Hyogoro.
Kakek Hyogoro mengangguk pelan sambil menatap Otani yang tubuhnya membesar dan setinggi tujuh meter tersebut.
__ADS_1
"Tuan Kazuo, tolong jangan menjauh dari kami." Kakek Hyogoro mengingatkan Kazuo dan keluarganya agar berada didekatnya.