Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 232 — Babak 8 Besar Turnamen Harimau Kai


__ADS_3

Arena Lingkaran Harimau semakin ramai pengunjung. Pagi hari di Ibu Kota Daifuzen semakin ramai dengan diadakannya babak 8 besar Turnamen Harimau Kai.


“Kita berempat tidak tidur semalaman...” Litha menutup mulutnya dengan telapak tangannya dan menguap pelan.


“Benar, coba kalian lihat mata Hisui. Aku jadi gemas melihatnya...” Iris justru memperhatikan Hisui yang terlihat sangat mengantuk. Tanpa sadar gadis cantik itu mengawasi Hisui dari kejauhan.


“Benar, matanya sayu sekali...” Litha ikut tertawa lirih, sedangkan Nagato tetap duduk tenang di bangku penonton menunggu kedatangan Gyuki.


“Aku belum menyapa Kakak Serlin. Pasti berat bagi Kakak Serlin yang ditinggal seluruh teman seperguruannya...” Litha membatin dan menatap Serlin yang duduk di bangku penonton khusus Keluarga Akaramizarawa.


Tak lama suara Gyuki membuat semua orang yang hadir di Arena Lingkaran Harimau terdiam. Pria itu menjelaskan pada senua orang yang hadir di Arena Lingkaran Harimau jika hari ini akan langsung diadakan babak 8 besar dan babak semi final.


“Hari ini akan ada empat pertandingan di babak delapan besar. Untuk mempersingkat Turnamen Harimau Kai, panitia pelaksana membuat babak semi final digelar di sore hari bersamaan dengan babak 8 besar...” Gyuki menjelaskan pada semua orang dengan tampangnya yang terlihat masih mengantuk.


“Jadi hari ini akan ada pertandingan babak semi final di sore hari. Sedangkan besok, kita akan menggelar pertandingan final...” Gyuki menambahkan.


Semua penonton saling berbisik dan menunggu digelarnya pertandingan pertama babak delapan besar Turnamen Harimau Kai.


“Untuk mempersingkat waktu, kita panggil dua nama peserta yang akan bertanding di pertandingan pembuka babak delapan besar Turnamen Harimau Kai...” Gyuki menatap ke arah tribun penonton, “Mangetsu Tatara dari Klan Mangetsu dan Fuyumi Iris dari Klan Fuyumi silahkan maju ke depan!”


Penonton bergemuruh karena tidak menyangka dua nama peserta yang akan bertanding di pertandingan pembuka babak delapan besar Turnamen Harimau Kai adalah Mangetsu Tatara dan Fuyumi Iris.


“Air dan Es. Balaskan kekalahan bocah manjamu, Iris...” Nagato tersenyum tipis, namun pagi ini entah mengapa suasana hatinya sedang buruk sehingga senyumnya tidak nampak di wajahnya yang rupawan.


“Aku akan memenangkan pertandingan ini agar dapat bertarung melawan kalian berdua, Litha, Nagato...” Ucap Iris, lalu Iris berjalan menuju tengah lapangan Arena Lingkaran Harimau.


“Aku tidak bisa bertarung seperti biasa, Nagato...” Litha menyandarkan kepalanya pada bahu Nagato dan matanya terpejam, “Aku lelah. Suara bising ini membuat perasaanku menjadi sedih...”


“Sebenarnya aku ingin semua ini cepat berlalu, aku benci melihat tawa mereka saat perasaanku hancur seperti ini...” Nagato menanggapi perkataan Litha dingin.


“Nagato, apa kamu sedang marah?” tanya Litha sambil menatap Nagato. Namun Nagato tidak menggubris perkataan Litha dan hanya memejamkan matanya.


“Kakak Soren...” Litha dengan suara yang sedikit manja berbisik lirih di telinga Nagato, “Jawab aku...”


“Hmmm... Baiklah, baiklah.” Tangan Nagato menyentuh kepala Litha dan menatapnya, “Saat ini kita berdua masih dalam keadaan berkabung, aku mungkin tidak akan bertanding seperti biasa nanti karena hari ini aku ingin menenangkan diri...”


Litha mencoba tersenyum lembut pada Nagato, “Kita harus menangkan dua pertandingan yang tersisa. Kita berdua harus memberi hadiah terindah untuk Kakek...”


Nagato tersenyum tipis melihat Litha yang mencoba untuk tetap tegar, “Benar, kita harus memberikan hadiah yang terbaik untuk Kakek Hyo. Setidaknya jika aku berhasil menyembuhkan penyakitku, aku ingin mewujudkan impian Kakek Hyo...”


Banyak orang yang melihat Nagato dan Litha seperti anak muda di bawah umur yang sudah bermesraan, tetapi sebenarnya mereka berdua adalah kakak beradik yang sedang saling menyemangati satu sama lain agar tetap tegar dalam menjalani kehidupan.


Di tengah lapangan terlihat Gyuki sedang menunggu kedatangan Iris dan Tatara. Pria itu memejamkan matanya sambil tersenyum tipis melihat Hika dan Tika.


“Aku tidak menyangka jika Bos Hyogoro dan ayahku telah meninggal. Gore dan Brusca, orang ini sangat berbahaya...” Gyuki menggumam pelan dan tak lama Iris sampai di tengah lapangan begitu juga dengan Tatara.


Seperti biasa, Gyuki menjelaskan peraturan pertandingan kepada Iris dan Tatara terlebih dahulu. Peraturan masih tetap sama seperti babak 32 besar.


“Apa kalian masih ingat peraturannya?” Gyuki melihat Iris dan Tatara mengangguk pelan, “Kalau begitu ambil jarak dan tunggu aba-aba pertandingan dariku...”


Iris dan Tatara melompat ke belakang, sedangkan Gyuki memberi tanda pada kedua peserta.


“Pertandingan pembuka babak 8 besar Turnamen Harimau Kai antara Fuyumi Iris melawan Mangetsu Tatara dimulai!” Gyuki memulai aba-aba pertandingan.


Iris menarik napas panjang dan menyalurkannya ke seluruh tubuhnya, “Apa yang bisa kulakukan untuk mereka berdua? Aku tidak ingin melihat Naga dan Litha mengeluarkan air mata kesedihan lagi...”


Tanpa sadar Iris masih ingat saat-saat mereka berempat tidak tidur semalaman dan saling mengucap janji. Dalam ketenangannya itu, tebasan pedang dari Tatara membuat Iris membuka matanya dan menatap tajam pemuda yang menjadi lawannya itu.


Iris membuka telapak tangannya ketika Tatara semakin dekat dengannya, “Pedang Es...” Benturan tebasan pedang menggema ketika pedang Iris dan pedang Tatara bertemu saling bersentuhan.


Percikan air yang keluar dari tebasan pedang Tatara membeku karena Iris. Kekuatan yang dimiliki Iris membuat gadis cantik itu tidak sadar jika saat dirinya bersedih atau terlalu bahagia, maka hawa dingin yang keluar dari tubuhnya jauh lebih besar dan lebih dingin dari biasanya.


Bahkan Tatara terkejut melihat tebasannya yang dilapisi air tidak mempan terhadap Iris. Semua serangannya membeku, walau Tatara sudah mencoba berkali-kali berusaha memojokkan Iris.


“Teknik Pedang Air : Air Terjun Mencekam...”


Suara nyaring dari benturan pedang menggema di tengah lapangan Arena Lingkaran Harimau, pedang es Iris hancur sepenuhnya karena tebasan pedang Tatara.


“Tapak Es...”


Mata Iris cukup jeli karena menghindari tebasan pedang Tatara tepat setelah pedang es miliknya hancur. Tapak tangannya yang dingin itu mengenai perut Tatara dan membuat pemuda itu mundur tiga langkah ke belakang.


“Apa ini?” Tatara mengernyitkan dahinya karena melihat perutnya membeku. Kemudian Tatara menatap Iris yang kembali menciptakan puluhan pedang es untuk menyerang Tatara.


“Teknik Pedang Air : Hujan Membasahi Jiwa Ketenangan!” Ayunan tebasan pedang Tatara cepat dan berisi. Puluhan pedang es milik Iris hancur dalam sekali tebasannya.


Pertukaran serangan terjadi ketika Iris mendekati Tatara dan memainkan pedangnya dengan gemulai.


“Tarian Peri Salju!”


Iris menatap sengit Tatara yang dapat menahan tebasan pedangnya, kali ini dia mencoba menyerang Tatara dari berbagai arah untuk membekukan pemuda tersebut.


Iris memutarkan tubuhnya menciptakan pusaran salju yang terhempas oleh angin kencang dari permainan pedangnya, Tatara juga melakukan hal yang sama dengannya.


Benturan kedua pusaran salju dan pusaran air membuat Iris menemukan sedikit celah untuk membuat Tatara kewalahan.


Iris melepaskan aura tubuhnya yang berwarna putih dalam jumlah besar, kemudian dia membekukan kedua pusaran salju dan pusaran air yang saling bertabrakan.


“Merepotkan, dia membekukan setiap seranganku...” Tatara tersenyum dan menggelengkan kepalanya, tak lama dia melihat Iris yang mengarahkan bongkahan dua pusaran salju dan air yang membeku kepada dirinya.

__ADS_1


“Klan Fuyumi sekali mengirimkan perwakilannya, mereka benar-benar mengerikan. Bakat muda yang sebenarnya...” Tatara menatap dua bongkahan pusaran yang membeku dan memotongnya menjadi empat bagian.


Penonton tercengang melihat pertarungan antara Iris melawan Tatara yang berlangsung sengit di tengah lapangan Arena Lingkaran Harimau.


Tatara mengatur napasnya dan menatap Iris yang sedang menjentikkan jarinya, raut wajah Tatara memburuk karena merasa Iris sedang merencanakan sesuatu.


Serpihan-serpihan es yang mengenai sekujur tubuhnya membeku, ternyata Iris sudah memanipulasi aura tubuhnya untuk mengincar saat-saat seperti ini.


“Cengkeraman Es...” Iris memerah wajahnya ketika menggumam pelan, “Nama teknik ini sangat buruk, aku ingin mengikuti Hisui tapi malah seperti ini...”


Iris berdecak kesal sendiri, kemudian telapak tangannya menggenggam. Tubuh Tatara hampir membeku sepenuhnya kecuali kepala.


Iris bukanlah gadis yang mau ambil pusing melihat perlawanan musuhnya, ketika melihat Tatara masih menunjukkan ekspresi tidak menyerah, Iris menggunakan tenaga dalamnya untuk membentuk ratusan jarum-jarum yang terbuat dari es.


Jarum-jarum tersebut dia arahkan pada sekujur tubuh Tatara yang membeku, bahkan Iris menghentikannya serangannya tepat di wajah dan leher Tatara.


Gyuki tersenyum tipis, “Sangat mirip dengan Tuan Putri Shirayuki...”


Iris menatap tajam Tatara yang masih belum menyerah, sehingga Iris melepaskan hawa dingin yang mencekam pada Tatara lebih besar lagi.


Tatara pucat pasi wajahnya karena suhu tubuhnya menurun dengan drastis. Tak lama Gyuki memberi tanda pada Iris agar berhenti.


Terlihat Iris juga sedang sedikit emosional dan tidak bertarung tenang seperti biasanya.


“Aku berlebihan,” ucap Iris sambil mencairkan tubuh Tatara yang membeku.


Kemudian Iris kembali ke bangku penonton, sedangkan Gyuki mengumumkan Iris sebagai pemenangnya.


“Pemenangnya Fuyumi Iris!” Semua orang memberikan tepuk tangan yang meriah pada Iris.


“Sepertinya aku harus berlatih lebih giat agar bisa mengalahkan orang yang memiliki kemampuan es seperti Fuyumi Iris...” Tatara sudah berpikiran dewasa, kekalahannya dia anggap sebagai pelajaran. Dengan langkah yang tenang dia kembali ke bangku penonton yang ditempati Klan Mangetsu.


Gyuki menatap Iris yang masih berjalan, kemudian dia memanggil dua nama peserta selanjutnya, “Fuyumi Nagato dan Himuro Kirigiri. Dua nama yang kupanggil silahkan maju ke depan!”


Semua penonton kembali berteriak histeris karena pertarungan selanjutnya mempertemukan Himuro melawan Nagato.


Di bangku penonton Nagato berdiri dan memencet hidung Litha lembut, “Aku duluan, Litha...”


Litha tersenyum tipis dan menatap wajah Nagato, “Semangat Kakak Soren, maksudku Nagato...”


“Entah kenapa aku menyukai panggilan Kakak Soren dibandingkan Nagato...” Sambil berjalan ke tengah lapangan, Nagato membatin bahagia karena Litha membuatnya mempunyai keinginan untuk hidup lebih lama.


“Keinginanmu terkabul, Naga...” Iris menyapa Nagato yang berpapasan dengannya.


“Ya, entah kenapa hari ini aku dalam kondisi yang sangat baik untuk menunjukkan kekuatanku...” Nagato melirik Iris dan berjalan melewati gadis cantik itu.


“Sejak aku mengenal Naga dan Litha, sejak saat itu juga aku berani mengutarakan perasaanku... Aku harap kami tetap bersama sampai dewasa dan seterusnya...” Iris membatin penuh makna dan duduk di samping Litha.


Gyuki menaikkan alisnya menatap Nagato, “Gore dan Brusca. Itu dua nama yang membunuh ayahku...”


Nagato memejamkan matanya, “Terimakasih... Aku akan membalaskan kematian ayahmu, Paman Gyuki...”


Gyuki baru sadar jika Nagato adalah murid Kakek Hyogoro, dan menurutnya Nagato adalah anak dari Pandu, namun Gyuki masih ingin mengawasi Nagato terlebih dahulu dan melindunginya dari kejauhan.


“Apa kalian berdua masih ingat peraturannya?” Gyuki bertanya pada Nagato dan Himuro.


“Ya, aku masih mengingatnya,” jawab Nagato sambil menatap Himuro yang baru datang ke tengah lapangan Arena Lingkaran Harimau.


“Aku akan membunuhmu, Fuyumi Nagato fafafa.” Untuk pertama kalinya Gyuki dan Nagato mendengar suara Himuro yang terdengar seperti orang tertawa.


Nagato justru tidak menggubris perkataan Himuro dan fokus menunggu aba-aba dari Gyuki.


“Baiklah pertandingan kedua babak 8 besar Turnamen Harimau Kai antara Fuyumi Nagato melawan Himuro Kirigiri dimulai!” Gyuki langsung melompat ke belakang namun tubuhnya berhenti di udara selama satu detik.


“Ini?” Mata Gyuki langsung menatap Nagato yang menggunakan Tenkai pada Himuro.


“Pernapasan Pelangi Surgawi : Bentuk Merah!”


Nagato mengolah pernapasan dan bergerak cepat mengayunkan pedangnya pada Himuro.


“Lintasan Jingga!” Benturan pedang Nagato dan Kapak Api Himuro membuat penonton berdecak kagum.


Kecepatan Nagato sulit untuk diikuti bahkan Himuro yang biasanya tetap santai dalam posisinya langsung goyah.


Himuro tersenyum menyeringai, “Ini lawan yang telah aku nanti!”


Nagato tersenyum tipis dan mengayunkan pedangnya dari berbagai arah menyerang Himuro.


Nagato dan Himuro bertukar serangan di tengah lapangan Arena Lingkaran Harimau. Kapak Api milik Himuro dapat ditahan Nagato dengan baik, bahkan seluruh orang yang melihat pertarungan tersebut hanya bisa diam tenang dan menikmati jalannya pertandingan.


Himuro melepaskan kekuatan dari Air Suci Buatan : Tipe Elemen Api. Dalam sekejap tengah lapangan dipenuhi api yang berkobar.


Nagato melepaskan aura tubuhnya yang berwarna emas dan memanipulasi api disekitarnya menjadi api yang tidak menyentuhnya.


“Jadi ini kekuatannya?” Nagato tersenyum tipis dan kembali menyerang Himuro dengan tebasan pedangnya yang dalam.


Himuro menangkis tebasan pedang Nagato dengan Kapak Api ditangannya, namun ayunan tebasan Nagato sangat kuat hingga tubuhnya kembali mundur ke belakang.


“Lautan Api!”

__ADS_1


“Pemecah Bara!”


Nagato dan Himuro menggunakan teknik senjata mereka hampir bersamaan, kali ini tengah lapangan Arena Lingkaran Harimau dipenuhi debu karena benturan dua teknik milik Nagato dan Himuro.


Pendekar muda yang melihat Nagato dapat menahan serangan demi serangan dari Himuro hanya menelan ludah tak percaya.


“Cih, perasaan apa ini? Aku merasa sangat marah!” Nagato menggertakkan giginya dan melepaskan aura tubuhnya dalam jumlah besar.


Debu-debu menghilang dan terlihat di tengah lapangan Nagato sedang berdiri dengan wajah yang emosional menatap Himuro.


“Ruang Hampa!” Hanya Litha yang mengetahui Nagato saat ini dalam kondisi buruk suasana hatinya.


Himuro pertama kalinya berkeringat dingin saat bertanding di pertandingan Turnamen Harimau Kai. Aura tubuh Nagato sangat mencekam, walau berwarna putih dan emas, tetapi ada satu aura yang membuatnya tidak berhenti bergemetar ketakutan.


Himuro semakin panik saat tidak mendapati Nagato dimanapun, semua penonton bergemuruh ketika melihat kecepatan langkah kaki Nagato yang kini telah berada di samping Himuro.


“Kau—” Nagato memukul wajah Himuro sebelum pemuda itu menyelesaikan perkataannya, kemudian Nagato memainkan pedangnya berniat menghabisi Himuro.


Shirayuki dan Emi yang sedang duduk di bangku penonton terkejut melihat perubahan Nagato. Menurutnya Nagato saat ini hanyalah pemuda yang ingin melampiaskan kekesalannya dan amarahnya pada sesuatu. Dan sayangnya sesuatu itu adalah Himuro yang kini menjadi lawannya.


Tebasan demi tebasan yang dilancarkan Nagato mengenai dada Himuro. Kini Gyuki melihat kedua peserta yang bertanding sama-sama memiliki nafsu membunuh yang besar.


Nagato merapatkan giginya dan melompat ke belakang ketika mulut Himuro mengeluarkan puluhan bola-bola api. Sedangkan jari-jari Himuro juga mengeluarkan bola-bola api.


“Pernapasan Pelangi Surgawi : Bentuk Nila!”


Nagato tanpa sadar mengolah pernapasan kasar, pertukaran serangan kali ini dimenangkan oleh Himuro yang berhasil mendaratkan tebasan kapaknya pada Nagato.


Tubuh Nagato terlempar jauh ke belakang, mata Nagato terpejam mengingat kesedihannya. Emosinya saat ini tidak stabil, dia butuh orang yang memahaminya seperti Litha, namun dia juga butuh pelampiasan disaat yang bersamaan.


“Sial!” Nagato berteriak dan melepaskan aura tubuhnya beserta tenaga dalamnya, “Sirih!”


Semua orang kembali berdecak kagum ketika Nagato menggunakan pedangnya menjadi pijakan kakinya untuk berdiri. Kaki kanannya berpijak pada pedangnya yang tertancap di tanah.


Himuro berlari mendatanginya dengan serangan puluhan tebasan kapak yang menciptakan api berbentuk burung.


“Ruang Hampa!” Nagato tersenyum sinis dan bergerak dengan cepat menebaskan pedangnya pada dada Himuro.


“Pernapasan Sirih : Bentuk Kasar!” Pedang Nagato membara dilapisi api, mata Nagato menatap tajam Himuro, “Api Matahari!”


Himuro merapatkan giginya melihat putaran api yang besar membentuk matahari kecil.


Nagato menebas dada Himuro tanpa ragu sedikitpun dan menendang pinggang pemuda itu tersebut ke samping.


“Argh!” Penonton terkejut melihat Himuro mengerang kesakitan di tengah lapangan Arena Lingkaran Harimau, sedangkan Nagato terlihat sedang menyiksa Himuro dengan tebasan pedangnya yang tidak mampu ditahan Himuro.


“Cukup!” Gyuki mengangkat tangannya dan menunjuk Nagato sebagai pemenangnya, namun Himuro tidak dapat menerimanya.


“Ini lawan yang aku tunggu fafafa!” Himuro melepaskan seluruh aura tubuhnya dan berlari dengan cepat ke arah Nagato, “Letusan Bara!”


“Cih, jangan salahkan aku...” Nagato menangkis ayunan kapak Himuro dan menusuk telapak tangan Himuro dengan pedangnya.


Kaki Nagato menginjak dada Himuro dan menekannya kuat. Terlihat Nagato menggertakkan giginya dan wajahnya dipenuhi amarah.


Gyuki menahan pundak Nagato, “Cukup! Nagato!” Namun tangan Nagato menepis tangan Gyuki dan menarik pedangnya dengan cepat.


Himuro mengerang kesakitan dan berguling di tanah, “Fuyumi Nagato! Bunuh aku!”


“Hah?” Nagato yang sedang berjalan kini berhenti, “Apa kau sama seperti Kakugo? Ikut aku jika kau takut dengan orang yang menyiksamu. Aku akan membunuhnya untukmu...”


Gyuki melebar matanya, sekarang dia mengerti maksud perkataan Kakek Hyogoro tentang anak muda yang telah menjadi muridnya.


“Nagato adalah kertas putih yang telah ternoda dengan coretan merah. Rasa sakit dan penderitaan membuatnya menjadi seperti ini...” Gyuki membatin dan mengepalkan tangannya, “Aku harap dia tidak sama seperti kakak dari Guru Besar Sura yang pergi dari Benua Ezzo dan menebar teror ketakutan pada dunia...”


Gyuki mengakhiri pertandingan dan merasa gelisah karena akhir-akhir ini dia sering bermimpi saat dirinya melihat teman-temannya dari Klan Kagutsuchi mati terbakar dilahap api secara hidup-hidup dan karena menghirup asap kemudian dibunuh secara massal dengan pembantaian sepihak yang mengerikan.


“Pemenangnya Fuyumi Nagato!” Gyuki mengangkat tangannya dan melihat Nagato menyuruh Himuro mengikutinya.


Himuro terlihat ketakutan untuk menatap Satha beserta Sepuluh Tetua Kai. Bahkan beberapa pendekar dari kubu barat ada yang mendekati Nagato namun mereka semua berhenti bergerak ketika melihat aura mencekam dari tubuh Nagato.


“Aku ingin menggali informasi darimu, jadi jangan salah paham...” Nagato duduk di bangku penonton dan menatap Himuro yang duduk disampingnya, “Aku ada masalah dengan Sekte Pemuja Iblis, jika orang menyiksamu ada hubungan dengan kelompok yang kuincar, maka orang itu harus kubunuh!”


Litha, Iris, dan Hanabi mendengar perkataan Nagato yang sedang berbicara pada Himuro. Mereka semua tidak menyangka Nagato dapat membuat Himuro yang ditakuti pendekar muda menjadi seorang sandera dibandingkan teman barunya.


“Aku tidak bisa membicarakan ini fafafa...” Nagato melihat sekilas lidah Himuro yang sama seperti Kakugo.


“Nagato!” Iris menatap Nagato yang terlihat ingin melampiaskan kekesalan, sedih dan amarahnya pada Himuro, “Jika kau ingin melampiaskan rasa sakitmu itu, lampiaskan padaku. Aku akan menantangmu di babak final!”


Litha yang biasanya terlihat tidak antusias dan ambisi menjadi juara kini menatap Iris sengit, “Iris, aku yang akan melawan Nagato!”


“Aku yang akan melawan Nagato! Bukan kalian berdua!” Iris dan Litha menoleh ke arah Hanabi yang menatap Nagato sengit.


“Himuro, pukul aku...” Nagato menghela napas panjang dan mencoba bersabar sambil menenangkan dirinya yang dikuasai amarah.


“Hah?” Himuro kebingungan dan dia ingin menangis namun dia malah tertawa, “Fafafafa!”


Nagato yang mendengar itu memejamkan mata, hatinya merasakan kesedihan yang Himuro rasakan, “Himuro, kau sepertinya sudah lama menderita. Tadi aku berniat membunuhmu karena aku merasa ada orang yang menyuruhmu untuk melukaiku, tetapi tebakanku benar, kau sama seperti Kakugo yang menjadi korban dari Sekte Pemuja Iblis...”


“Fafafa! Benar sekali! Fafafa!” Mendengar suara tawa Himuro yang terdengar aneh, Litha dan yang lain mengernyitkan dahinya kebingungan.

__ADS_1


“Tetapi aku rasa ada hal yang disembunyikan Himuro? Aku juga tidak melihat temannya yang bernama Ashiya... Kenapa aku malah mengikuti perkataannya?” Nagato membatin mengingat kata-kata Ashiya yang memohon pada Nagato agar mengalahkan dan menyelamatkan Himuro.


__ADS_2