
Dua hari setelah kepergian Kakek Hyogoro meninggalkan Pulau Samui. Hari - hari yang tenang penuh kedamaian benae - benar terasa di Pulau Samui. Nagato sedang berbaring dan menikmati paginya yang cerah di Asrama Salju Rembulan.
Suara ketukan pintu kamarnya membuatnya beranjak dari kasur yang membuat seluruh badannya malas untuk bergerak, dengan malas Nagato membuka pintu kamarnya dan mendapati gadis muda cantik yang sudah berdandan menyapanya.
"Naga?" batin Iris menaikan alisnya melihat Nagato yang masih berantakan rambutnya dan masih memakai baju tidur.
"Kamu sudah berjanji padaku untuk berlatih bersamaku seharian! Apa kamu lupa yang kamu ucapkan kemarin?" Iris mendorong tubuh Nagato dan berdecak kesal melihat Nagato yang terlihat tidak merasa bersalah.
"Maaf... maaf. Iris sebaiknya kamu keluar dulu. Aku ingin melepas bajuku." ujar Nagato sambil menyentuh kancing baju tidurnya yang berwarna putih bercorak bunga mawar itu.
Iris memerah wajahnya dan merapatkan giginya menatap Nagato penuh kekesalan, tidak berapa lama dia menunggu Nagato di luar kamar.
Asrama Salju Rembulan menyediakan kamar mandi yang ada di kamar, cuaca di Pulau Samui selalu musim dingin di tengah Pulau Samui. Sementara itu di pinggiran Pulau Samui cuaca begitu panas, keanehan yang terjadi sangat mirip dengan Hutan Cakrawyuha, sehingga Nagato dan Litha mudah beradaptasi.
Kemarin saat Nagato dan Iris duduk berdua, Nagato mengajak Iris berlatih bersama hanya berdua saja. Sudah lama Nagato ingin melihat perkembangan gadis yang membuat dirinya tertarik pada gadis tersebut, sikap Iris terlihat terbuka padanya tetapi ketika bertemu dengan pendekar perempuan dari Klan Fuyumi yang lain, Iris bersikap dingin.
Satu jam telah berlalu, Iris berdecak kesal karena merasa begitu lama menunggu. Tidak berapa lama Nagato keluar memakai baju putih dan sebuah jaket hitam yang dipakainya bersama dengan sebuan syal putih yang melingkar di lehernya.
"Ayo berangkat. Maaf membuatmu menunggu." Nagato tersenyum dan menggaruk pipinya sendiri dengan lembut.
Iris tersenyum melihat ketampanan Nagato dan dengan sigap di! menarik tangan Nagato untuk segera pergi ke sebuah tempat kesukaannya, keduanya bergandengan tangan dan keluar dari Asrama Salju Rembulan.
Nagato membalas genggaman tangan Iris dan terus melangkah menjauh dari Asrama Salju Rembulan. Mereka berdua melewati jalan setapak yang di samping kiri dan kanannya terlihat sebuah Pohon Cemara di sepanjang jalan setapak tersebut. Iris membawa Nagato melewati sungai yang dangkal, sebelum melanjutkan perjalanannya, Iris sengaja memperlihatkan keindahan Pulau Samui pada Nagato.
Iris mempunyai tempat latihan tersendiri di tempat yang paling dalam dari Pulau Samui. Tempat itucterdapat sebuah danau kecil, ditengah danau kecil tersebut terdapat sebuah hamparan tanah yang membentang cukup luas.
Sesampainya di tempat kesukaan Iris, mata Nagato melebar kagum karena Iris membawanya ke sebuah tempat yang tidak pernah terlintas di dalam pikirannya.
"Apa kamu selalu berlatih di sini sendirian?" tanya Nagato pada Iris penasaran.
Iris mengangguk dan tersenyum melihat Nagato yang terlihat senang, kemudian Iris kembali menarik tangan Nagato membawanya ke perahu kecil.
Nagato dan Iris menaiki perahu, Nagato sebagai lelaki lebih memilih untuk mendayung perahu dan melepaskan genggaman tangan Iris. Setelah mereka berdua duduk bersebelahan, detak jantung Nagato tidak teratur. Nagato menyandarkan punggunya ke punggung Iris.
Raut wajah Iris memerah dan detak jantungnya juga berpacu semakin cepat, tidak pernah dia sangka jika dirinya akan jatuh cinta pada Nagato sedalam ini. Sentuhan hangat punggung Nagato membuatnya menyandarkan punggungnya dan kepalanya pada punggung Nagato.
__ADS_1
"Ketika malam hari tempat ini akan dipenuhi kunang - kunang." ucap Iris sambil menyandarkan kepalanya ke punggung Nagato.
Sensasi sentuhan rambut panjang Iris membuat Nagato merasa nyaman, tangannya terus mendayung perahu dengan pelan tapi pasti.
"Malam ini temui aku disini, Naga." Iris tersenyum dan tangannya menyentuh punggung Nagato, "Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu." tambah Iris sambil membenamkan wajahnya pada punggung Nagato.
"Baiklah." jawab Nagato singkat sambil terus mendayung perahu.
Iris tersenyum bahagia mendengar jawaban Nagato. Hatinya merasa sangat nyaman berada di dekat Nagato.
Selama beberapa bulan terakhir setelah Shirayuki memberitahu Iris tentang Nagato yang akan tinggal di Pulau Samui. Semenjak itu, Iris selalu berlatih membuat kue karena ingin mendengar pujian Nagato tentang kue buatannya.
Setelah sampai di hamparan tanah yang membentang luas di tengah - tengah danau kecil, Nagato dan Iris turun dari perahu sambil melihat sekelilingnya.
"Apa kamu sudah bisa menggunakan Tenkai?" tanya Iris pada Nagato dengan kedua bola mata indahnya menatap Nagato penuh makna.
Nagato tersenyum tipis dan mendekat pada Iris. Perlahan Nagato mengeluarkan tenaga dalam dan auranya secara bersamaan, jangkauan Tenkai milik Nagato menyebar dan terasa begitu mencekam di tubuh Iris.
"Aura gelap ini?" batin Iris terkejut ketika merasakan aura Nagato yang begitu gelap walau berwarna emas. Mata Iris bisa melihat kepribadian Nagato ada dua, entah mana yang asli tetapi Nagato yang ada dihadapannya adalah Nagato yang dia cintai.
"Naga!" teriak Iris pada Nagato yang tersenyum sinis menatap dirinya, tubuh Nagato membeku karena Iris tidak kuat menahan Tenkai milik Nagato.
"Aku ingin melihat perkembanganmu?" bisik Nagato di telinga Iris sambil tersenyum tipis melihat Iris memakai jepit rambut bunga mawar berwarna merah muda, "Kau adalah perempuan pertama yang mampu menatapku dengan tatapan dingin, dan itu membuatku semakin tertarik padamu." tambah Nagato.
Iris memerah wajahnya karena wajah Nagato begitu dekat dengan wajahnya. Matanya bisa melihat pipi, telinga dan rambut Nagato yang membuat jantungnya berdetak lebih kencang.
"Naga, aku juga tertarik denganmu. Jujur, sejak saat itu aku sangat mencintaimu!" Iris menyentuh dada Nagato yang terbalut jaket hitamnya.
"Naga ...." gumam Iris ketika tangan Nagato menyentuh matanya karena dirinya hendak menoleh melihat Nagato.
"Hmmm." Nagato memerah wajahnya karena sekarang dia tidak tahu harus bersikap seperti apa.
Iris juga baru sadar jika dia telah mengatakan perasaannya pada Nagato tanpa dia sadari. Iris berjalan pelan selangkah menjauh dari Nagato.
"Aku bersyukur kau mengajakku berjalan berdua, bukan ... aku bersyukur bertemu denganmu." ucap Iris dengan polosnya dan kedua tangannya menyentuh jubah putihnya.
__ADS_1
"Hentikan, bodoh!" Nagato menundukkan wajahnya. Perkataan Iris lagi - lagi membuat Nagato ingin mengatakan perasaannya pada Iris, "Kau membuatku malu tahu." Nagato menambahkan.
"Kenapa? Aku serius? Apa kamu tidak mencintaiku?." Iris menaikan alisnya dan menatap Nagato dalam - dalam.
"Naga. Aku tidak pernah bersikap seperti ini di depan yang lain, selain kamu dan ibuku," Iris menatap Nagato dengan berkaca - kaca, "Bahkan aku tidak pernah terlihat manja di depan Hika dan Tika." tambah Iris dengan suara yang sedih karena Nagato terlihat seperti menolak perasaannya.
Nagato menyentuh pundak Iris dan membenamkan wajah Iris ke dadanya, hari ini Nagato ingin mengutarakan perasaannya pada Iris.
"Justru sebalikanya, Iris, aku berterima kasih padamu, sebenarnya aku sangat bersyukur bisa berkenalan denganmu..." ungkap Nagato dengan tangan kanannya yang membelai rambut halus Iris dengan penuh kelembutan.
Melihat Nagato yang menyentuh rambutnya, reflek kedua tangan Iris memeluk tubuh Nagato dan tersenyum bahagia mencoba melihat raut wajah Nagato.
"Naga..." gumam Iris lirih meneteskan air mata kebahagiaan.
"Kenapa kamu menangis?" Nagato melepas pelukan Iris dan mengusap air mata gadis yang dia cintai itu.
"Tidak. Aku tidak menangis." Iris mengembungkan pipinya dan menatap Nagato dalam.
Nagato telah sadar sekarang, kehangatan yang dia dapatkan bersama Iris sangat berbeda dengan Litha ataupun gadis yang lainnya. Sosok Iris benar - benar membuat hati Nagato sejuk, dendam yang menguasai hatinya perlahan mencair.
"Iris. Jika suatu saat aku menghilang, apa kau masih tetap mencintaiku?" Nagato menatap langit dan matanya terlihat sedih di mata Iris, "Apa kau masih tetap mencintaiku saat seluruh dunia membenciku?" Nagato menatap Iris dan kali ini tatapannya terlihat begitu serius.
"Naga, aku akan tetap mencintaimu walau seluruh dunia membencimu." jawab Iris membalas menatap Nagato penuh rasa penasaran.
Nagato tersenyum tipis dan melangkah mendekati Iris. Setelah keduanya berdampingan, Nagato berhenti dan bergumam pelan di telinga Iris.
"Saat aku jatuh dan kehilangan arah, tolonglah aku. Aku sangat takut sendirian..." gumam Nagato pelan sebelum melangkahkan kakinya kembali.
Iris menarik tangan Nagato dan menggenggamnya erat.
"Ini adalah janjiku." Iris mengaitkan jari kelingkingnya di jari kelingking Nagato.
"Aku akan membuatmu percaya padaku, sampai kau bisa menceritkan semua keluh kesah hidupmu, Naga!" Iris tersenyum selembut - lembutnya pada Nagato.
Saat itu Nagato sadar dengan yang diucapkan ibunya sendiri yaitu Sarah. Saat seseorang jatuh cinta, maka seluruh dunia terasa begitu indah dan berubah. Nagato mengelus rambut Iris dan mengajaknya kembali pulang ke Asrama Salju Rembulan.
__ADS_1
___
IG : pena_bulu_merah