
"Hem ... bocah sialan ini, sepertinya dia memiliki potensi yang luar biasa, ini akan menjadi oleh - oleh termewah jika aku membawa kedua bocah ini dan kalau tidak salah yang disana itu ada empat anak kembar, mana yang harus kuculik?" batin X 2 melihat Nagato dan Iris yang berani mendekatinya kemudian dia menatap Chiaki dan Chaiki namun disana juga ada Tika dan Hika yang merupakan gadis kecil kembar, X 2 menjadi bingung harus menangkap siapa karena Pemimpin Sekte Pemuja Iblis menyuruh mereka bertiga untuk menangkap anak kembar dari Shugo dan Haru, namun X 2 belum pernah melihat anak kembar itu bahkan disana ada dua anak kembar yang lainnya.
"Lebih baik kutangkap keempat bocah itu dan kedua bocah sialan yang berani melawanku?!" gumam X 2 kemudian dia merangkak dan membuka mulutnya secara perlahan setelah itu dia berteriak dengan keras.
"Iris?" Nagato dengan cepat melangkahkan kakinya untuk melindungi Iris, karena hembusan angin yang begitu kencang bahkan beberapa penduduk kota yang sedang melihat tubuhnya terhempas oleh angin yang keluar dari teriakan mulut manusia buas X 2.
Wajah Iris memerah ketika melihat punggung Nagato yang melindunginya, namun gadis kecil itu tetap bersikap acuh pada pemuda yang melindunginya.
"Aku baik - baik saja!" sahut Iris ketika Nagato menghadang angin yang berhembus ke arahnya dengan badannya.
"Nafas mulut sialan itu tercium seperti bau busuk yang menyengat, bahkan dengan percaya diri dia membuka mulutnya dengar lebar! Apa urat malunya sudah putus?" gumam Nagato sambil menggerutu karena dirinya mencium bau nafas mulut manusia buas X 2 yang bercampur dengan hembusan angin.
"Dia? Bagaimana dia bisa membahas hal seperti itu di saat seperti ini." ucap Iris dengan pelan dan lembut sambil tersenyum kecil, gadis kecil itu tidak menyangka melihat sisi lain dalam diri Nagato.
X 2 kembali berdiri dan sedikit terkejut melihat kedua anak kecil di hadapannya masih berdiri.
Dengan memasang wajah sombong X 2 tersenyum mengejek Nagato dan Iris, tidak lama Nagato mengincar manusia buas X 2 dengan menggunakan busur panah yang dia pinjam dari Hika.
"Konsentrasi dan incar mata sialan itu!" batin Nagato sambil melihat sasarannya dengan teliti sebelum dia melepaskan anak panahnya.
Beberapa anak panah melesat kearahnya namun manusia buas X 2 dapat menangkap semua anak panah itu dengan mudah.
Wali kota dan penduduk Kota Yasai yang berada di alun - alun tengah kota terkejut melihat Nagato dan Iris dengan berani melawan makhluk yang terlihat mengerikan bagi penduduk kota itu.
Setelah melihat aksi anak muda yang melawannya itu, manusia buas X 2 tertawa terbahak - bahak, dirinya tidak menyangka akan melawan anak muda yang terlihat konyol menantangnya berduel, Nagato tidak menggunakan pedang tajam yang ada dipinggangnya, namun Nagato hanya menggunakan busur panah, bagi dirinya Nagato benar - benar terlihat begitu bodoh dan terlalu percaya diri.
"Nagato, Apa yang kamu pikirkan?" Iris mendekati Nagato karena dirinya tidak menyangka Nagato melawan manusia buas yang besar dan setinggi enam meter hanya menggunakan busur panah.
Iris tertawa kecil ketika melihat Nagato disebut dengan sebutan anak konyol oleh manusia buas X 2.
"Jujur saja, aku agak merasa kesal!" Nagato menatap Iris yang sedang tertawa disampingnya.
__ADS_1
"Jadi, kau tidak suka jika terlihat kalah dan diremehkan ya?" Iris tersenyum tipis.
"Aneh? Aku tidak pernah tertawa seperti ini sebelumnya." batin Iris sambil memandang Nagato yang berdiri disampingnya.
"Iris, biarkan dia meremahkan kita, jadi ada satu hal yang harus kita tunjukkan kepada sialan itu!" kali ini raut wajah Nagato berubah, dirinya terlihat begitu tenang dengan tatapan yang begitu tajam dan dingin membuat Iris merasakan bahwa Nagato dengan sungguh - sungguh dan berusaha sekuat tenaga melawan manusia buas X 2 di pertarungan ini.
"Kalau begitu, kita berdua harus menunjukkan pada sialan itu, bahwa anak kecil juga bisa menakutkan bila mereka marah!" Nagato menambahkan sambil tersenyum tipis dirinya menatap manusia buas X 2 dengan tatapan yang tajam.
Manusia buas X 2 masih menertawakan Nagato, setelah beberapa detik kemudian manusia buas X 2 diam dan menatap Nagato.
"Hem ... aku harus akhiri ini secepatnya! Sepertinya aku harus membunuhmu sekarang juga!" ucap manusia buas X 2 sambil melihat Nagato dan Iris.
"Iris, kita hindari setiap pukulannya jika ada kesempatan menyerang kau alihkan perhatiannya, dan saat itu juga aku akan melesatkan anak panah ini ke mata sialan itu." bisik Nagato lirih ditelinga Iris, hembusan nafas Nagato terasa di telinga Iris.
"Haaah? Bocah konyol sepertimu hendak merencanakan sesuatu! Situasi tidak akan berubah!" manusia buas X 2 meremehkan Nagato dan Iris.
Manusia buas X 2 melayangkan pukulan tangannya untuk membunuh Nagato, namun Nagato dapat menghindari setiap pukulan manusia buas X 2 dengan gesit.
"Iris terus melesatkan jurus es miliknya ke arah mata sialan itu, aku harus gunakan kesempatan yang telah diberikan oleh Iris untuk membidik matanya!" batin Nagato sambil terus memperhatikan pergerakan manusia buas X 2 dan Iris.
Raut wajah manusia buas X 2 murka, ketika melihat gadis kecil yang terus memberikan serangan kepadanya, manusia buas X 2 mengambil pecahan bata dari bangunan rumah yang dia hancurkan kemudian dia melemparkan bata berukuran besar ke arah Iris dengan sekuat tenaganya.
"Mati kau! Bocah brengsek!" teriak manusia buas X 2 sambil melemparkan bata besar itu dengan sekuat tenaganya.
"Gadis kecil itu terlihat sangat cantik tapi sudah menjadi takdirnya untuk mati di tanganku!" manusia buas tertawa kecil.
"Makhluk sialan! Dia berniat membunuh Iris?!" gumam Nagato matanya melebar melihat manusia buas X 2 yang menggenggam bongkahan bata besar dan melemparkannya ke arah Iris.
Nagato dengan cepat melangkah kakinya, dirinya menghilang dalam sekejap untuk menyelamatkan Iris, dalam hitungan detik dia berada disamping Iris.
"Aku tidak akan sempat menghindar! Apakah aku akan berakhir di tempat ini? Ibu sepertinya aku bukanlah anakmu." gumam Iris pelan yang melihat bongkahan batu besar melesat dengan cepat ke arahnya, dirinya berniat menghindari namun langkah kakinya sedikit telat untuk menghindar.
__ADS_1
"Iris, bukankah kau yang menyuruhku untuk tetap tenang." ucap Nagato pelan sambil tersenyum hangat kepada gadis kecil itu.
Nagato mendorong tubuh Iris dengan sekuat tenaganya, setelah Iris terlempar cukup jauh oleh dorongan tangan Nagato, bongkahan bata besar melesat dengan cepat kearah tubuhnya.
"Hah, apa yang terjadi padaku? Tanpa pikir panjang aku melangkahkan kakiku untuk menyelamatkannya." Nagato tersenyum seolah - olah dia tidak memiliki penyesalan.
Bongkahan bata besar menghantam tubuh Nagato dengan keras, sehingga Nagato terpental cukup jauh, bahkan tubuhnya menabrak rumah penduduk hingga hancur.
"Nagato, tidak! Kenapa kamu menolongku!" teriak Iris histeris yang melihat Nagato yang menyelamatkan dirinya.
"Tidak Nagato, kumohon jangan mati!" mata Iris melebar melihat tubuh Nagato yang bersimbah darah, gadis kecil itu tidak tahan melihat Nagato yang terluka karena menyelamatkan dirinya.
Ketika Iris melihat wajah Nagato, dirinya terkejut melihat wajah pemuda yang menyelamatkannya tersenyum walau seluruh tubuhnya bersimbah darah, seolah - olah Nagato mengatakan bahwa dia tidak memiliki penyesalan sama sekali.
"Nagato ... !" Serlin panik dan berteriak histeris melihat anak dari gurunya telah terkapar.
"Na ... Nagato ... tidak .... tidak!" Litha terduduk melihat Nagato sambil menggelengkan kepalanya seolah tidak percaya dengan apa yang sedang ia lihat.
Mata Shugo dan Haru melebar melihat Nagato yang telah terkapar.
"Ini tidak mungkin ... " ucap Shugo sambil berjalan pelan menghampiri Nagato.
"Pandu .. anakmu .. kumohon .. jangan mati." Shugo terlihat begitu histeris sambil berjalan pelan mendekati Nagato.
Sedangkan Chiaki dan Chaika menangis melihat Nagato yang bersimbah darah.
Seluruh penduduk kota melihat Nagato, mereka tidak menyangka seorang anak muda berumur lima tahun berjuang untuk melindungi mereka.
"Makhluk keparat! Aku sebagai penduduk kota ini aku bersumpah akan membunuhmu!" teriak salah satu penduduk kota yang hatinya merasa tergerak setelah melihat perjuangan Nagato, dirinya mencoba melawan manusia buas X 2.
Nagato tidak berdaya melawan manusia buas X 2 yang setinggi enam meter, yang mengalahkan dirinya dengan satu lemparan bongkahan bata besar yang melesat dengan cepat kearahnya. Apa yang sedang Nagato pikirkan, yang lebih memilih menyelamatkan Iris dari pada melepaskan anak panahnya ke arah mata lawannya ketika manusia buas itu sedang fokus kepada Iris, tubuhnya bergerak dengan cepat ketika Iris dalam bahaya, ketika diambang kematian Nagato tersenyum seolah - olah dia tidak menyesal dengan keputusannya itu.
__ADS_1