
Nagato bertukar serangan dengan pria yang terus mendesaknya ke posisi bertahan. Tebasan demi tebasan yang dilancarkan pria tersebut membuat Nagato mengalami luka di sekujur tubuhnya. Dalam kurun waktu satu menit, enam orang lainnya terlepas dari es yang membekukan tubuh mereka.
“Yami! Kurang ajar! Bagaimana bisa kau tidak melepaskan kami!” Pria dengan baju bertuliskan huruf “B” dalam huruf besar menggertakkan giginya menatap sengit pria yang sedang menyerang Nagato.
“B-Town, salahkan dirimu yang lengah dan terlalu meremehkan musuhmu...” Pria bernama Yami menendang perut Nagato dan mundur ke belakang, “Aku bahkan lebih tertaring melawannya, dibandingkan mengobrol dengan kalian. Lihat dia, dari tatapannya dan keberaniannya. Seolah-olah seorang pria sejati yang tidak takut dengan kematian. Tatapan seperti itu adalah tatapan orang yang pernah melihat neraka dunia!”
Yami menekan aura tubuhnya hingga hawa keberadaannya menghilang walau pria tersebut nyata berdiri di depan Nagato. Selang satu menit. Yami melepaskan aura tubuhnya hingga udara disekitarnya terasa mencekam.
“Kalian berenam lebih lemah dariku. Organisasi Laba-Laba Malam mempunyai dua peraturan. Orang terkuat setelah pemimpin bisa mengatur anggotanya. Dan orang itu adalah aku...” Yami menyarungkan pedangnya dan mundur duduk di bongkahan bangunan rumah. Sambil duduk di bata. Yami menatap Nagato yang sedang mengatur napasnya.
“Pemimpin ingin menangkap gadis-gadis muda dari Kekaisaran Kai. Kalian lihat tadi, aku bisa lihat ada lusinan gadis muda yang siap matang. Tetapi pemuda ini dengan gagah berani menghadang kita semua dan membiarkan teman-temannya, melarikan diri. Orang seperti itu, aku ingin lihat sendiri perjuangannya!” Yami menambahkan sembari menatap raut wajah Nagato yang mengernyitkan keningnya.
“Aku akan maju! Aku dan B-Town adalah orang baru di Organisasi Laba-Laba Malam. Tidak buruk juga aku memberi pelajaran pada pemuda yang wajahnya seperti permata yang indah itu!” Pria dengan baju bertuliskan “A” berjalan menghampiri Nagato.
“A-Town. Aku akan membantumu. Lebih kita akhiri dia dengan cepat sebelum datang orang-orang yang merepotkan...” B-Town melepaskan aura tubuhnya dan berjalan di samping A-Town.
“Tenang, kita akan menjadikan tempat ini sebagai pertempuran kita. Walau mati, aku tidak akan menyesal karena melihat kehancuran dua negeri besar yang telah berdiri ribuan tahun ini...” Pria berbadan kurus duduk di samping Yami sembari memainkan kunci rumah yang jumlahnya puluhan.
“Jangan remehkan anak itu! Jika kalian berdua mati, aku akan merekomendasikan dia menjadi anggota kita!” Pria berambut putih ikut duduk di bongkahan bata bersama Yami dan Key.
“Key, White, siapa menurutmu diantara mereka yang menang?” Pria berambut putih dan pria yang memegang puluhan kunci rumah menatap pria yang memegang gergaji.
“Saw. Aku tidak tidak mengetahuinya. Tetapi aku yakin diantara mereka bertiga akan ada yang mati.” Pria yang memegang puluhan kunci rumah, yang bernama Key menatap Nagato yang sedang bertarung melawan A-Town dan B-Town.
“Kita lihat saja. Tetapi aku merasa anak itu mempunyai kekuatan yang tersembunyi. Aku bisa merasakan nafsu membunuh yang besar di dalam tubuhnya, namun semua itu terasa samar-samar...” Pria berambut putih, yang bernama White melihat permainan pedang Nagato yang tenang.
“Yang sekarat akan merasakan gergaji indah milikku ini. Aku tidak akan segan untuk menggorok leher mereka!” Saw tersenyum menyeringai dan duduk dengan tenang disamping pria yang berdiri dan menyilangkan kedua tangannya.
__ADS_1
“Anak muda yang pemberani! Itulah gairah masa muda!” Pria yang terlihat bersemangat itu bernama Bravo. Memakai baju olahraga berwarna merah, namun dia adalah anggota Organisasi Laba-Laba Malam.
Kelima pria dari Organisasi Laba-Laba mengamati pertarungan Nagato melawan A-Town dan B-Town. Kelima pria yakni Yami, Saw, White, Bravo dan Key.
Pukulan beruntun dari A-Town dan B-Town mampu ditahan Nagato dengan baik. Permainan pedang Nagato dapat menangkis pukulan kedua bersaudara itu yang dilapisi aura.
Nagato mencari celah untuk menghabisi kedua pria yang sedang dia lawan, “Aku bisa saja menggunakan itu sekarang. Tetapi aku harus bisa mengurus lima sisanya. Sial! Situasi ini sungguh menyebalkan!”
Nagato menekan aura tubuhnya dan melepaskan aura tubuh yang berwarna putih. Permainan pedang Nagato masih tajam seperti biasa. Untuk mengecoh kedua lawannya, Nagato menggenggam pedangnya dengan cara terbalik sebelum menebaskan pedangnya.
Permainan pedang Nagato kali ini berhasil membuat A-Town dan B-Town kesulitan memberikan serangan balik pada dirinya. Ayunan pedangnya sangat berbeda dari gaya berpedang pendekar pedang yang lainnya.
“Lautan Api!”
Nagato menebaskan pedangnya menciptakan tebasan api yang membara. Api tersebut seperti ombak laut dalam bentuk api.
A-Town melepaskan aura tubuhnya yang berwarna kuning dan menahan tebasan pedang Nagato. Aura berwarna kuning itu membungkus tubuhnya, namun luka bakar dari serangan Nagato membuatnya mengerutkan dahinya.
“Beraninya kau melukaiku?! Bukankah kau hanya anak muda yang masih jauh usianya dariku?!” A-Town menggila dan berlari ke arah Nagato. Serangan pukulan membuat kerusakan yang besar, namun Nagato dapat menghindarinya dengan baik.
“Bodoh! Itulah akibat dari meremehkan lawanmu!” Yami berteriak. Suaranya membuat A-Town mundur dan menjaga jarak dari Nagato.
“A-Town. Kita habisi dia dengan pukulan gabungan!” B-Town melepaskan aura tubuhnya yang berwarna biru dan memadatkannya di kepalan tangannya.
Sama seperti B-Town yang memadatkan aura tubuhnya pada kepalan tangannya, A-Town juga melakukan hal yang sama. Kedua tangan A-Town dan B-Town yang mengepal bercahaya berwarna biru dan kuning.
“Aku bisa merasakan nafsu membunuh dalam diriku begitu besar. Pikiran bisa gila melihat tatapan mereka yang meremehkanku...” Kepribadian Nagato hampir goyah karena aura hitam pekat yang dari Roh Dewa Kematian, Shinigami, mulai menyeruak keluar.
__ADS_1
“Pernapasan Sirih!” Nagato menarik napas dalam-dalam dan menahannya selama delapan detik. Kemudian dia menghembuskannya. Secara perlahan dia mulai mengatur aliran pernapasannya yang tidak stabil.
Tak lama A-Town dan B-Town berlari dengan cepat ke arah Nagato sambil mengarahkan pukulan tangannya pada Nagato.
“Tinju Ombak!”
“Tinju Awan!”
Nagato menggertakkan giginya dan mulai melancarkan serangan beruntun untuk membalas serangan dari A-Town dan B-Town.
”Putaran Matahari!”
“Ombak Api!”
Nagato juga melesat ke depan dan bertukar serangan dengan A-Town dan B-Town. Ratusan pukulan dari kedua bersaudara itu dapat Nagato tahan dengan baik. Bahkan sekarang dia telah melepaskan aura tubuhnya yang berwarna hitam pekat tanpa kebencian dari Roh Dewa Kematian, Shinigami.
Nagato berusaha menekan seluruh kebenciannya. Setiap dia melihat tatapan orang yang merendahkan dirinya. Tangannya gemetar hebat ingin membunuh orang tersebut.
“Sial!” Nagato berteriak. Tanpa sadar dia memanipulasi aura tubuhnya menjadi api yang membara membentuk lingkaran pelindung tubuhnya.
“Kenapa dia?!” A-Town mengernyitkan dahinya dan merasakan bahaya dari arah Nagato.
“Dia hanya ketakutan! Lihat tubuhnya gemetaran! Dasar anak muda lemah!” B-Town melepaskan aura tubuhnya dalam jumlah besar dan mengintimidasi Nagato. Tangannya yang mengepal kembali mengeluarkan cahaya berwarna biru.
Aura tubuhnya yang berwarna memadat hingga kepalan tangannya mengeluarkan percikan-percikan api. Tangan kiri B-Town mengarahkan pukulan tangannya pada Nagato.
“Bodoh! Jangan!” A-Town hendak menghentikan tindakan B-Town namun terlambat sudah. Tangan kiri B-Town terpotong. Sementara Nagato sudah berada di tengah-tengah mereka berdua dengan tatapan yang begitu dingin.
__ADS_1
“Heh?” B-Town berkeringat dingin melihat tangan kirinya terpotong.
“Ternyata seranganku meleset...” Dengan wajahnya yang tenang dan tatapannya yang dingin. Kehadiran Nagato ditengah-tengah kedua bersaudara itu membuat A-Town dan B-Town berkeringat dingin.