Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 192 - Rencana Hayabusa Dan Rekan Barunya


__ADS_3

Sekali lagi matahari bersinar dengan lembut menyinari langit pagi Ibukota Daifuzen. Hari ini jalanan kota terlihat lebih ramai dari hari kemarin, sangat padat sangat dan berisik tentunya. Nagato dan yang lainnya berangkat lebih awal menuju Arena Lingkaran Harimau.


Penonton berdesak-desakan untuk melihat secara langsung babak 32 besar Turnamen Harimau Kai. Di antara semua orang itu ada beberapa penyusup yang sedang berniat melancarkan rencana besar mereka ketika babak semi final. Penyusup dari Kekaisaran Rakuza berniat memulai rencana menghabisi militer Kekaisaran Kai bersama dengan keluarga Kaisar Hizen ketika Turnamen Harimau Kai mencapai babak 4 besar.


Ada yang berbeda dari hari ini, wasit pertandingan babak 32 besar dipimpin oleh anak dari Panglima Goro dan Sachie. Seorang pria dengan rambut yang diikat, sedangkan wajahnya terlihat garang namun sikapnya yang terlihat bosan menatap semua orang membuat sosok Gyuki yang menjadi wasit menarik perhatian semua orang.


Beberapa penonton mulai membicarakan sosok Gyuki yang sedang menguap di tengah lapangan Arena Lingkaran.


"Dia tidak mau masuk ke dalam militer. Kasihan sekali Panglima Goro mempunyai anak seperti dia." Salah satu penonton pria angkat bicara mulai membicarakan tentang sosok Gyuki.


"Aku dengar Gyuki hidup bersama Panglima Goro ketika sudah dewasa." Sahut penonton yang lainnya.


"Jangan bicara sembarangan! Bagaimanapun Gyuki adalah anak dari Panglima Goro. Keturunan Keluarga Akaramizarawa sudah melindungi Kekaisaran Kai selama ribuan tahun, kita tidak boleh membicarakan hal buruk pada mereka." Pria paruh baya menergur perkataan pria yang duduk disampingnya.


"Walau Gyuki terlihat seperti orang yang malas tetapi kekuatannya digadang-gadang hampir menyamai Panglima Goro. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya." Seorang pria menanggapi perkataan kedua orang yang sedang berbeda pendapat.


"Itu sudah tidak diragukan lagi. Bagaimanapun nama lengkap Gyuki adalah Akaramizarawa Gyuki yang merupakan anak dari Akaramizarawa Goro. Lebih baik yang menjadi wasit dari Keluarga Akaramizarawa, karena mereka keluarga yang netral dan berdiri sendiri. Kita nikmati saja pertandingan yang disajikan oleh para orang-orang tua yang mengaku menjadi sesepuh itu!" Seorang pria yang memakai jubah putih angkat bicara. Pria itu adalah Kuromachi Shin.


Penonton yang duduk dekat dengan tiga pria berjubah putih menjadi penasaran dengan identitas mereka. Beberapa juga mulai menjauh karena penampilan mereka sangat mencurigakan.


"Mereka bertindak seenaknya karena kita terikat dengan sumpah dekrit darah. Aku siap membunuh salah satu dari sepuluh orang itu, tetapi aku lebih tertarik membunuh Nezusaki dan Satra!" Take menatap tajam Nezusaki yang sedang duduk dikawal puluhan pendekar dari Klan Kuromachi.


"Cih, seorang pendekar pedang tetapi dia melakukan tindakan yang memalukan! Aku tidak menyangka Nezusaki sialan itu menjadi seorang penjilat dan membunuh orang terdekatnya!" Ohta meminum arak dan terlihat sudah mabuk.


Shin dan Take juga sedang meminum arak, mereka bertiga tidak peduli jika ada orang yang mendengar ucapan mereka.


"Semua selesai jika kita membunuh Satra dan kaisar yang sekarang ini!" Ohta kembali meminum araknya dan mulai bicara ngelantur.


"Itu tidak akan selesai, sampai semua manusia sampah dibersihkan dari tanah Kai ini. Aku tadi mendengar kalian mengatakan hal yang tidak boleh dibicarakan di depan umum!" Mujin datang dengan memakai tudung di kepalanya. Kemarin dia berhasil lolos dari pembunuh yang merupakan anggota Akuyaku berkat pertolongan Hayabusa.


Raut wajah Shin, Take dan Ohta berubah menjadi pucat karena mereka sudah tidak punya pilihan lain selain melawan Mujin.


"Kau? Mujin ... apa kau ingin menangkap dan menjual kami sebagai budak?!" Shin merapatkan giginya melihat Mujin yang terlihat sedang menatap tajam dirinya.


"Tuan Shin kita bunuh saja dia! Jika kita mati atau menjadi budak, setidaknya kita berhasil membunuh salah satu dari sepuluh orang busuk itu!" Take memegang pedang besarnya.

__ADS_1


"Kalian bertiga ikut aku! Kita selesaikan masalah ini di luar!" Mujin berjalan tanpa menunggu jawaban dari Shin, Take dan Ohta. Dengan langkah yang santai dan berjalan di kerumunan banyak orang, Mujin mengawasi setiap sudut tribun yang diisi oleh penyusup dari Kekaisaran Rakuza.


Sesampainya di luar Arena Lingkaran Harimau, Mujin berjalan kembali menuju tempat kedai makan yang sangat megah bangunannya. Di sebuah ruangan khusus, Mujin terus menuntun ketiga orang yang mengikutinya menuju tempat Hayabusa berada.


"Kemana dia membawa kita? Apa ini tempat pertarungan yang dia maksud?!" Take mengerutkan dahinya melihat Mujin yang terus berjalan menaiki tangga kedai makan.


Di lantai atas, di dalam sebuah ruangan khusus yang dipesan Hayabusa. Di atas meja makan telah disajikan makanan mewah dan lezat yang terpampang jelas oleh mereka bertiga.


"Hayabusa telah mengamati gerak-gerik kalian, masalah internal yang terjadi di Klan Kuromachi sangat rahasia tetapi kalian sudah mengetahuinya, bukan?" Mujin melirik Shin, Take dan Ohta. Setelah melihat ketiga pria itu mengangguk, Mujin berkata, "Lupakan soal sumpah dekrit darah. Buang nama marga kalian, lagipula aku juga sudah didepak dari kursi Sepuluh Tetua Kai. Aku tidak tahu detail malam pembantaian berdarah, tetapi aku saat ini telah sadar. Orang yang menggantikan posisiku di kursi Sepuluh Tetua Kai adalah pemimpin Sekte Pemuja Iblis!"


"Apa?!"


Shin, Take dan Ohta terkejut, mereka bertiga mengira hari ini adalah kematian mereka, mengingat Mujin dan Hayabusa terlihat bekerjasama. Namun yang membuat mereka bertiga lebih terkejut karena Mujin tidak lagi menjadi anggota Sepuluh Tetua Kai.


"Saat itu aku juga tidak berpikir secara luas, aku kira jika menjadi teman Satra dan menggunakan kekuatanku untuk melindungi Kekaisaran Kai di kursi Sepuluh Tetua Kai adalah hal yang seharusnya, tetapi aku harus menebus dosaku. Aku sadar telah berbuat dosa terlalu banyak, aku menutup mata setiap melihat orang-orang yang kelaparan, dijual sebagai budak dan disiksa oleh kaum bangsawan..." Mujin menatap lantai kedai makan. Kemudian dia duduk di kursi dan berkata, "Semua sudah jelas sekarang, sistem kasta dan aturan mutlak Kaisar Hizen maupun Sepuluh Tetua Kai sangat tidak adil!" Hayabusa memberi isyarat pada Shin, Take dan Ohta yang sedang berdiri agar segera duduk. Kemudian dia berbicara sambil menatap ketiga orang yang berhasil Mujin bawa kehadapannya.


"Buku hitam yang dibuat oleh Satra disebarkan kepada pendekar kubu barat. Nama mereka yang ada di buku hitam itu adalah daftar orang yang mengetahui kebusukan Sepuluh Tetua Kai! Seribu orang diculik dan dijadikan budak, orang yang bernama Satra melimpahkan semua kesalahan pada Sekte Pemuja Iblis, mengingat tidak ada yang mengetahui sosok pemimpinnya, Satra menuduh rekan bisnisnya yang bernama Gore. Dan Gore adalah pemimpin Sekte Pemuja Iblis yang namanya baru-baru ini aku ketahui. Bangsawan yang tidak setuju dengan sistem kasta dibunuh, dan mereka kembali menuduh Bos Hyogoro menjadi dalangnya. Malam tragedi pembantaian saat itu adalah hal yang tidak bisa kulupakan ... mereka membantai semua orang di kediaman Klan Kitakaze Kagutsuchi dan melimpahkan kesalahannya kepada mendiang guruku!" Setelah semua orang yang bisa diajak menjadi rekannya duduk, Hayabusa meminum arak dan melanjutkan perkataannya.


"Kalian tahu kenapa lambang dari Klan Kagutsuchi adalah simbol matahari? Leluhur Klan Kagutsuchi mendambakan fajar. Dimana semua orang bisa berada di langit yang sama dalam kesetaraan. Itu yang dikatakan Guru Besar Sura kepada kami semua. Aku tidak terlalu peduli dengan hal itu, karena aku bukan menjadi bagian dari Keluarga Kagutsuchi yang asli. Di Azbec, ribuan penyihir menggunakan simbol matahari di lengan mereka. Nona Sarah yang merupakan istri dari Guru Pandu meramalkan tentang sosok anaknya yang akan membuka Benua Ezzo. Membuka bukan berarti membiarkan para penjajah dari negeri asing merusak dan merusuh di Benua Ezzo. Membuka berarti menyatukan seluruh Benua Ezzo dibawah namanya. Dulu aku sempat berpikir seperti itu..."


"Saat itu aku sempat berpikir seperti itu, namun setelah melihat kondisi Benua Ezzo yang semakin memprihatinkan, akhirnya aku sadar dengan kata-kata terakhir dari Nona Sarah. Membuka Benua Ezzo yang dimaksud Nona Sarah bukanlah membuat seluruh negeri yang ada di Benua Ezzo menjadi wilayah kekuasaan anak dari Guru Pandu dan Nona Sarah. Melainkan Nona Sarah percaya jika kelak anaknya akan membuat semua orang di Benua Ezzo akan hidup berdampingan dan hidup dalam kesetaraan!" Hayabusa sendiri sedang melakukan pencarian terhadap anak dari Pandu dan Sarah karena menurutnya anak tersebut masih hidup.


"Bagiamana kau bisa mengetahui penyihir Azbec mempunyai simbol matahari di lengan mereka?" Take mengajukan pertanyaan setelah meminum arak milik Hayabusa.


"Kau?! Itu arak yang aku pesan! Ya, sudahlah..." Hayabusa menggelengkan kepalanya agar tetap sadar. "Aku ada kenalan di sana, kalau tidak salah dia menjual minuman dingin yang sangat enak rasanya. Lupakan itu, aku menceritakannya kepada kalian, tapi kalian juga tidak akan mengerti maksud perkataanku." Take meminum arak dan membanting gelasnya di meja.


"Cih, masa bodoh dengan hal itu. Anak yang diramalkan, aku tidak peduli, yang perlu kita lakukan hanya menghabisi-" Shin menutup mulut Take dengan daging ikan.


"Take! Jaga bicaramu!" Shin emosi melihat Take yang selalu seperti ini ketika mabuk.


"Cukup basa-basinya! Hayabusa kau terlalu banyak minum, beruntung aku telah keluar dari Sepuluh Tetua Kai. Semua yang keluar dari mulutmu itu adalah informasi yang sangat berharga!" Mujin menegur Hayabusa yang masih minum.


"Kau didepak! Ingat itu!" Hayabusa tersenyum tipis kepada Mujin. "Aku sengaja bercertia tentang hal ini kepada kalian, dengan harapan kita bisa bekerja sama."


"Baiklah, aku akan berkerjasama denganmu, Hayabusa. Aku mewakili dua teman bodohku ini!" Shin menerima ajakan Hayabusa untuk bekerjasama.

__ADS_1


"Apakah kalian kenal dengan kota yang dulunya dikenal dengan sebutan Kota Penghasil Kain?" Hayabusa menatap Mujin, Shin, Take dan Ohta dengan serius.


"Bukankah itu Kota Helai?" Mujin menaikan alisnya menatap tajam Hayabusa.


"Benar sekali, itu adalah Kota Helai." Shin menanggapi perkataan Hayabusa.


"Sekarang Kota Helai dikenal sebagai pengrajin kain dan pembuat senjata terbesar di Kekaisaran Kai bahkan pemasokan senjata dari Kota Helai mencakup seluruh daratan Benua Ezzo. Kota pengrajin kain sudah tidak cocok dengan Kota Helai, mengingat pabrik senjata disana sangat menguntungkan penduduk dan jumlahnya jangan ditanya lagi. Tentu dengan jumlah yang cukup banyak." Hayabusa mengepalkan tangannya.


"Maksudmu seseorang dengan uang yang sangat banyak membeli dan mengumpulkan senjata dari Kota Helai?" Shin cukup cekatan memahami maksud perkataan Hayabusa.


"Ya, seseorang mengumpulkan senjata untuk memicu perang besar di Kekaisaran Kai. Orang yang menjadi dalangnya adalah Satra!" Mujin, Shin, Take dan Ohta terkejut karena kemungkinan Satra memiliki ambisi yang jauh lebih besar daripada memicu perang di Kekaisaran Kai.


"Satra!" Mujin merapatkan giginya dan berkata, "Jadi ini alasannya kenapa Kota Helai menjadi kota penghasil senjata selama beberapa tahun terakhir. Aku rasa Satra memiliki ambisi yang lebih besar daripada memicu perang!" Shin yang mendengar tanggapan Mujin tentu menyadarinya.


"Satra ingin menjadi Kaisar Kai yang baru dan membunuh siapa saja yang tidak tunduk padanya!" Shin memberi pendapat.


"Sebuah tempat dimana yang kuat memimpin dan yang lemah ditindas, itu adalah pemikiran dari orang asing yang datang dari luar Ezzo. Beberapa tahun belakangan ini semakin marak pemikiran sampah seperti itu di Benua Ezzo." Mujin mengingat perkataan Satra tentang ambisinya, dia pikir Satra hanya sedang bercanda tetapi sekarang telah terbukti jelas.


Hayabusa menanggapi perkataan Mujin dan Shin.


"Ya, itu tujuannya. Aku sangat yakin tentang hal ini. Jika Satra berhasil membunuh keluarga Kaisar Hizen, tentu itu bukan hal yang mustahil, mengingat jumlah senjata yang dia kumpulkan selama beberapa tahun terakhir ini, dia bisa saja membuat Turnamen Harimau Kai menjadi lautan darah dalam sekejap. Hanya saja, Satra adalah orang yang sangat perhitungan, dia tidak akan melakukan hal yang gegabah ketika Kekaisaran Rakuza dan beberapa Organisasi bawah tanah mempunyai tujuan yang sama dengan dirinya. Mengingat Satra orang yang sangat perhitungan, aku yakin cepat atau lambat kekacauan akan terjadi di Kekaisaran Kai. Kita tidak tahu apakah Satra yang merencanakannya atau Kekaisaran Rakuza. Tetapi kita juga harus bergerak sendiri." Hayabusa menatap Shin dan Mujin karena kedua orang itu yang paling mengerti maksud perkataannya.


"Yang penting kita hanya perlu membunuh Satra dan Kaisar Hizen. Maka semua selesai..." Take menggelengkan kepalanya berkali-kali sebelum kepalanya bersandar di bahu Ohta.


"Abaikan dua orang ini, lanjutkan saja Hayabusa." Shin menatap Hayabusa dengan sangat serius.


"Tujuan kita sama, menjatuhkan sistem kasta dengan cara membunuh Sepuluh Tetua Kai!" Hayabusa mengakhiri pembicaraan ketika Mujin, Shin, Take dan Ohta mengangguk setuju.


"Aku menawarkan kerja sama ini dengan kalian semua!" Hayabusa sendiri bukan orang yang naif. Untuk menghentikan kekacauan tentu dia tidak bisa sendirian melakukannya, semua butuh pengorbanan, pasti akan ada korban berjatuhan dan dia tidak bisa menghentikannya.


Setelah lima orang sepakat berkerjasama, Hayabusa, Mujin, Shin, Take dan Ohta melakukan pergerakan untuk mengumpulkan informasi tempat-tempat para penyusup dari Kekaisaran Rakuza menginap dan tempat senjata yang disembunyikan Satra.


___


22 komentar : Bonus 1 chapter.(0/5)

__ADS_1


122 Like : Bonus 1 chapter.(3/5)


__ADS_2