Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 171 - Jawaban Nagato Dan Cincin Janji Cinta Mereka Berdua


__ADS_3

Malam hari tiba, di depan Penginapan Matahari Timur terlihat gadis cantik yang sudah berdandan menunggu kedatangan pemuda yang mengajaknya jalan.


"Kenapa Naga lama sekali," gerutu Iris melihat kiri dan kanannya tidak ada tanda-tanda kedatangan Nagato.


"Apa aku membuatmu lama menunggu." Nagato datang melihat Iris yang sedang terlihat kesal.


"Kamu membuatku lama menunggu, laki-laki tidak boleh membuat seorang perempuan menunggu." Dengan ketus Iris memalingkan wajahnya ke samping tidak melihat Nagato.


"Aku ingin mengajakmu berjalan-jalan malam ini." Nagato memegang telapak tangan Iris.


"Jangan cemberut, aku mengaku salah telah membuatmu menunggu," ucap Nagato sambil tangan kanannya mencubit pipi Iris.


Wajah Iris memerah namun dia berusaha untuk tetap bersikap acuh. Tangan kanannya membalas genggaman tangan Nagato.


"Aku akan memaafkan kesalahanmu hanya dengan satu syarat..." Iris menatap Nagato sesaat.


"Hmm ... baiklah." Nagato menatap Iris dalam. Wajahnya yang tidak memakai topeng terlihat sangat tampan.


"Apa yang kamu bicarakan dengan Hisui tadi sore. Aku ingin mendengar langsung darimu." Sambil berjalan melewati jalanan Ibu Kota Daifuzen yang ramai, Iris terlihat mesra dengan Nagato. Beberapa orang yang melihat kedua anak muda yang jalan bersama hanya diam dan sesekali mereka melirik menganggap Nagato dan Iris adalah pasangan muda-mudi yang telah dijodohkan.


"Bocah manja itu ingin jalan bersamaku seharian penuh jika dia masuk babak 8 besar. Tapi aku yakin dia tidak akan masuk." Nagato tersenyum tipis melihat Iris yang menatap dirinya penasaran.


"Apa kamu menyetujuinya?" Iris kembali bertanya.


Nagato mengangguk pelan sambil melihat sekeliling mereka. Pandangan mata Nagato terarah pada sebuah kedai makan yang dipenuhi lampion. Tempat indah yang membuatnya ingin mengajak Iris makan malam di sana.


"Kalau begitu aku juga ingin minta satu hal padamu, Naga. Kamu harus menuruti perkataanku," ucap Iris pada Nagato sambil menggenggam tangan pemuda itu lebih erat.


"Baiklah. Hmm ... Iris malam ini aku ingin mengajakmu makan malam di luar. Ada yang ingin aku sampaikan," terang Nagato menatap Iris yang berada di dekatnya.


"Aku akan turuti perkataanmu. Tapi hanya sekali ini saja," tambah Nagato.


"Apa yang ingin kamu sampaikan padaku..." Iris terlihat penasaran.


"Mari ikut aku," ajak Nagato menarik tangan Iris dengan lembut memasuki kedai makan.


Kedatangan Nagato dan Iris membuat orang-orang yang sedang makan tercengang, pemuda tampan yang berpegangan tangan dengan gadis cantik membuat mereka merasa iri. Semua mengenal Iris namun tidak dengan Nagato. Ketampanan Nagato juga membuat perempuan-perempuan yang sedang ada di kedai makan tersenyum sendiri.


"Naga. Semua orang menatap kita," lirih Iris sambil kepalanya menunduk malu.


"Kita berdua terlihat seperti sepasang kekasih. Jangan pedulikan mereka. Bukankah ini yang kamu inginkan?" Nagato tersenyum tipis melihat bibir tipis Iris merekah. Gadis cantik itu kagum dengan Nagato yang membawanya ke lantai atas kedai makan.


Lampion yang ada di kedai makan membuat suasana malam di Ibu Kota Daifuzen menjadi lebih indah.


"Maaf. Tuan Muda dan Nona Muda. Apa kalian memiliki uang?" Sapaan pelayan kedai makan membuat Nagato dan Iris saling menatap satu sama lain.


"Jangan bilang Naga tidak membawa uang sama sekali," batin Iris khawatir karena dia merasa sangat malu.


"Aku ada uang. Pelayan, aku memesan lantai atas selama dua jam. Selama waktu itu tidak ada boleh yang menginjakkan kaki di lantai ini," ucap Nagato sambil memberi 22 keping emas kepada pelayan.


"Tuan Muda ini kebanyakan..." Pelayan kedai makan terkejut melihat Nagato.


"Bukankah ini kedai makan. Jadi siapkan makanan terbaik kalian," ujar Nagato dengan tenangnya.


Wajah Iris memerah melihat Nagato. Pemuda yang entah datang dari mana, pertemuan yang tidak terduga, dan semakin hari tindakannya membuat Iris semakin jatuh cinta pada pemuda yang sekarang sedang mengajaknya makan malam berdua.


"B-Baik Tuan Muda." Pelayan perempuan yang ada di lantai atas terlihat gugup.


Pelayan tersebut langsung pergi meninggalkan Nagato dan Iris di lantai atas.


Nagato tersenyum lembut pada Iris. Sebuah senyuman yang tidak pernah dia tunjukkan pada orang lain kecuali ibunya sendiri. Jantung Iris berdegup kencang melihat senyuman Nagato.


Iris duduk di kursi sambil melihat Nagato yang merogoh sesuatu di kimono putihnya. Iris juga memakai kimono putih yang sama dengan Nagato. Keduanya terlihat sangat serasi.


"Iris." Nagato mengeluarkan cincin hati yang merupakan peninggalan dari ibunya.


"Ini adalah cincin pemberian mendiang ibuku. Lihat ini, cincin di jari manisku ini adalah cincin yang sama dengan ini." Jantung Iris semakin berdegup kencang.


Iris mencoba untuk tetap tenang mendengarkan perkataan Nagato.


"Aku ingin kamu memakainya. Mungkin ini terdengar egois, tapi aku juga jatuh cinta padamu, Iris. Ini jawaban dariku untuk perasaanmu di malam itu." Nagato memegang tangan Iris dengan lembut.


"N-Naga..." Iris gugup mendengar perkataan Nagato. Bibir tipisnya bergetar.


Nagato melingkarkan cincin milik Sarah pada jari manis Iris. Sedangkan cincin milik Pandu sudah Nagato pakai.


"Kamu tidak perlu cemburu ketika ada perempuan lain bersamaku. Ini sebagai bukti janji antara kita. Kamu masih ingat, kan?" Nagato menempelkan jari manisnya pada jari manis Iris. Terlihat sangat jelas kedua cincin itu jika disatukan membentuk lambang dua hati yang saling menyatu.


"Iya, aku masih ingat." Iris menjawab perkataan Nagato dengan sangat malu.


"Aku tidak mempunyai mimpi. Tapi aku ingin merasakan cinta. Ibuku selalu berkata padaku jika cinta akan membuat hidup lebih berwarna. Jujur mungkin aku tumbuh bersama Litha dan tidak pernah peduli padamu." Nagato menatap Iris lurus.


"Tapi aku merasa kamu adalah seorang perempuan yang akan membuatku sadar. Aku memberikan ini agar kamu ingat denganku. Aku tidak bisa memberi tahu alasannya, tetapi aku berjanji." Entah kenapa perkataan Nagato membuat Iris merasa sedih.


"Aku berjanji akan mengawasimu dari kejauhan. Aku ingin melihatmu tersenyum bahagia." Kini pandangan mata Nagato menatap tangan putih Iris yang halus.

__ADS_1


"Naga. Aku tidak mengerti maksud perkataanmu. Tolong jangan katakan hal yang menyedihkan..." Iris memegang tangan Nagato yang sedang menyentuh tangannya.


"Aku tidak tahu masa lalumu. Tapi aku ingin kamu bisa berbagi keluh kesah hidupmu denganku. Kamu tidak perlu menanggung semuanya sendirian." Iris menatap Nagato dengan sangat tulus.


"Aku senang mendengarnya." Nagato tersenyum pada Iris. Kemudian dia menahan dirinya untuk tidak menghela napas panjang.


"Apa kamu tahu kutukan?" Nagato bertanya pada Iris.


"Aku tahu itu,"jawab Iris pelan.


"Di dalam tubuhku ada kutukan yang membuat umurku hanya mampu bertahan sampai 15 tahun. Aku sudah mendengar langsung dari ibuku saat kami masih hidup bahagia." Nagato diam sesaat. Bukan ini yang ingin dia katakan, dia tidak ingin bercerita tentang masa lalu dan kesedihannya dengan gadis yang ingin dia beri kejutan malam ini.


"Tujuanku hidupku hanya satu Iris ... aku ingin membunuh semua orang yang telah mencemarkan nama baik ayahku. Andai aku diberi kekuatan yang hebat, aku akan membunuh orang sebanyak mungkin sebelum kematianku." Iris bergetar mendengar perkataan Nagato. Tangannya menggenggam tangan Nagato lebih erat agar pemuda itu tenang. Dia bisa merasakan kemarahan dan kesedihan di saat yang bersamaan dengan sentuhan tangannya pada tangan Nagato.


"Apa kamu masih mencintaiku dengan diriku yang seperti ini?" Nagato menatap Iris dengan mata yang berkaca-kaca.


Iris berdiri dan berjalan mendekati Nagato.


"Naga pejamkan matamu," ucap Iris pada Nagato.


Tanpa curiga, Nagato memejamkan matanya. Tangan kanannya masih di genggam tangan Iris dengan lembut.


Iris menunduk menatap mata Nagato yang terpejam. Wajahnya sudah sangat dekat dengan wajah Nagato. Mata Iris berlinang, dia bisa merasakan rasa sakit yang di alami Nagato. Lalu, dengan penuh kelembutan Iris menyorongkan kepalanya, tangannya menyentuh pipi Nagato dan bibirnya mengecup kening Nagato dengan lembut.


Mata Nagato terbuka, dia terkejut melihat Iris dengan berani mengecup keningnya. Sentuhan bibir Iris di keningnya membuat wajah Nagato sedikit memerah.


"Aku janji tidak akan pernah berpaling darimu, Naga. Aku tidak akan membiarkanmu sendirian. Dan aku akan membuatmu merasakan hidup yang berwarna itu." Iris tersenyum manis pada Nagato.


"Bruk!"


Suara makanan yang jatuh membuat Nagato dan Iris kaget. Baik Nagato dan Iris tidak menyadari keberadaan beberapa pelayan yang sedang mengantarkan makanan ke meja makan mereka.


"Ma-Maafkan kami. Silahkan lanjutkan Tuan Muda dan Nona Muda." Pelayan yang menjatuhkan makanan hendak berlari pergi namun pundaknya di tahan oleh pelayan yang lainnya.


"Tunggu. Jangan pergi dulu kamu pelayan baru, Tuan Muda dan Nona Muda sudah membayar makanan dan tempat ini. Kamu harus bicara dengan Nona pemilik karena telah menjatuhkan makanan yang dipesan." Pelayan yang terlihat tegas menegur pelayan yang terlihat kikuk itu.


Wajah Iris merah padam karena ada orang yang melihatnya mengecup kening Nagato.


"Maaf Tuan Muda. Ini makanannya.", Pelayan yang lain menaruh makanan di atas meja.


"Makanan yang jatuh nanti kami akan ganti dengan yang baru. Jadi sekarang kami hanya bisa menyediakan kue coklat ini." Pelayan kedai makan menaruh kue coklat di atas meja.


"Makanannya tidak perlu di ganti. Ini saja sudah cukup. Ingat dua jam," jelas Nagato pada pelayan. Jujur saat ini Nagato merasa malu tetapi dia mencoba untuk tetap tenang.


Setelah pelayan penginapan membersihkan makanan yang jatuh ke lantai, mereka langusng meninggalkan Nagato dan Iris kembali.


Kue coklat yang ada di atas meja berbentuk hati. Mata Nagato dan Iris saling menatap, kemudian mereka berdua tertawa kecil.


"Jujur aku sangat malu. Aku tidak menyangka kamu berani berbuat seperti itu." Nagato tertawa kecil menatap senyuman yang menyungging di bibir tipis Iris.


"Dasar. Sudah lupakan itu..." Iris sangat malu, jari telunjuknya menyentuh bibirnya yang tipis itu.


"Kenapa? Ciuman pertamamu hilang karena kamu yang menciumku saat itu. Jadi lupakan saja." Nagato memotong kue coklat dan memakannya. Sambil menatap Iris yang masih terlihat malu-malu di depannya.


"Itu tidak dihitung. Aku pikir aku tidak bisa bersamamu lagi, aku hanya ingin kamu menjadi yang pertama." Iris menatap Nagato yang sedang makan kue sambil menatap dirinya.


"Hmm..." Nagato mengunyah kue sambil tersenyum mendengar perkataan Iris. Selesai memakan kue coklat, Nagato menatap langit malam sambil sesekali dia melirik lampion.


"Aku lega. Aku lega telah mengatakan semua perasaanku." Nagato bergumam pelan.


"Naga. Apa yang kamu katakan tadi itu sungguhan?" Iris menatap Nagato serius.


"Sungguh. Aku jatuh cinta padamu. Apa masih kurang jelas perkataanku?" Nagato melihat mata Iris yang terlihat sedih.


"Bukan itu ... bukan itu maksudku." Iris menunduk.


"Tentang umurmu yang tidak sampai 15 tahun. Apakah itu benar?" Iris menahan tangisannya.


"Iya, itu benar. Maka dari itu aku ingin mengungkapkan perasaanku padamu. Sebelum semua itu terlambat." Nagato melihat mata Iris yang berlinang.


"Jangan menangis. Aku tidak ingin melihatmu menangis." Nagato menghampiri Iris. Kemudian dia menyeka air mata yang keluar dari mata Iris.


"Tapi..." Iris menangis tersedu-sedu.


"Naga. Kamu jahat. Setelah berkata seperti itu, kamu-..." Iris menangis sejadi-jadinya.


"Maaf. Tapi aku akan berusaha melawan penyakitku ini. Sudah, jangan menangis. Aku ingin melihat Iris yang dingin, cuek dan tidak peduli. Bukan Iris yang menangis dan lemah lembut seperti ini.", Nagato tersenyum sambil menyeka air mata Iris. Hatinya terasa sakit mengingat kehidupannya.


"Makan kue coklat ini. Bukankah kamu menyukai makanan yang manis-manis." Nagato mengulurkan tangannya yang memegang sendok berisi potongan kue coklat.


Iris menarik napas panjang untuk menenangkan dirinya.


"Buka mulutmu. Aaa!" Iris menahan tawa melihat Nagato. Kemudian dia membuka mulutnya pelan.


"Bagaimana rasanya?" tanya Nagato sambil melihat Iris yang sedang mengunyah kue coklat.

__ADS_1


"Mmmm ... enak." Iris tersenyum sambil kedua telapak tangannya menyentuh pipinya.


Nagato tersenyum melihat Iris. Sudah dua kali Nagato melihat Iris yang menangis untuk dirinya. Sikap dingin yang sering Iris tunjukkan pada yang lain seakan-akan tidak pernah ada, Nagato hanya mengingat Iris yang sekarang.


Setelah menghabiskan kue coklat. Nagato dan Iris berbincang-bincang menghabiskan waktu 2 jam di lantai atas.


Tak terasa 2 jam telah berlalu, Nagato dan Iris kembali ke Penginapan Matahari Timur. Tangan Nagato menggandeng tangan Iris ketika keluar kedai makan.


"Terimakasih Tuan Muda. Terimakasih Nona Muda." Puluhan pelayan membungkuk melihat Nagato dan Iris yang pergi meninggalkan kedai makan.


"Apa ada hal yang bisa kulakukan untuk membantu, Naga?" pikir Iris dalam hati mengingat penyakit yang dibicarakan Nagato.


Iris bisa merasakan emosi Nagato yang terkadang tidak stabil. Terkadang dia ingin mengetahui masa lalu Nagato yang membuat Nagato jadi seperti ini. Namun Iris ingin membuat Nagato semakin terbuka padanya.


"Naga. Boleh aku bertanya satu hal padamu?" tanya Iris sambil melihat Nagato.


"Boleh," jawab Nagato.


"Apa yang kamu suka dari diriku?" tanya Iris penasaran.


"Apa aku harus menjawab pertanyaanmu itu?" balas Nagato karena dirinya tidak ingin mengatakan hal yang memalukan kembali.


"Harus. Aku butuh pembuktian. Lihat ini." Iris menunjukkan jari manisnya pada Nagato.


Nagato menghela napas panjang, tangannya menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Kemudian dia menarik tangan Iris dengan cepat.


"Naga!" Iris kebingungan melihat Nagato.


Nagato membawa Iris kembali ke Penginapan Matahari Timur. Dengan langkah yang cepat Nagato terus menggandeng tangan Iris menuju kamarnya. Sesampainya di kamarnya, Nagato segera menutup pintu kamar.


"Kamu butuh bukti?" tanya Nagato sambil menatap Iris lurus.


Iris mengangguk pelan membalas tatapan Nagato.


"Lihat ini." Nagato menunjukkan jari manisnya pada Iris. Gadis cantik itu melihat cincin yang sama dengannya di jari manis Nagato.


Ketika perhatian Iris fokus menatap cincinnya, Nagato mengecup bibir Iris dengan cepat.


Iris merasa tubuhnya tersengat sesuatu, betapa terkejutnya dia melihat Nagato yang bertindak seperti itu.


Perlahan Iris memejamkan matanya, dan melihat sekilas tatapan tajam Nagato.


Napas keduanya memburu, Nagato melepaskan ciumannya dan menyentuh bibirnya.


"Seharusnya aku tidak melakukan ini," gumam Nagato pelan merasa bersalah.


"Tapi kamu sudah melakukannya," sahut Iris penuh rasa malu menatap Nagato.


"Kamu yang memaksaku berbuat seperti ini," balas Nagato.


"Apa kamu menyukai bibirku ini?" tanya Iris malu-malu dengan memasang wajah polosnya.


"Hah? Tidak ... kamu butuh bukti, kan. Jadi aku menciummu," jawab Nagato kebingungan.


"Terus apa yang kamu suka dariku?" tanya Iris sengit. Dia menghiraukan jawaban Nagato.


"Aku suka melihatmu cemburu," ledek Nagato sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Iris.


"Hmph! Dasar," gerutu Iris mencubit tangan Nagato.


"Nagato. Apa kamu sudah pulang?" Suara Emi dari luar kamar membuat Iris dan Nagato terkejut.


"Bagaimana ini?" Nagato berbisik di telinga Iris.


"Nenek akan marah jika tahu kita berduaan seperti ini. Kita belum cukup umur, Naga," bisik Iris khawatir.


"Kamu sembunyi di ranjangku," ujar Nagato menarik tangan Iris dan mendorong tubuh gadis itu pelan ke ranjangnya.


"Naga! Apa yang kamu-" Nagato membekap mulut Iris agar tidak berbicara.


"Kamu tidur di sampingku. Jangan keluar dari selimut ini," perintah Nagato yang hanya dibalas anggukan pelan dari Iris.


"Nagato." Ketukan pintu kamar membuat Nagato pura-pura sudah tertidur.


"Ada apa Nenek Emi?" sahut Nagato dengan nada yang malas. Dia tidur memunggungi Iris yang sembunyi di sampingnya.


"Boleh Nenek Emi masuk." Emi kembali bersuara dari luar kamar.


"Boleh," jawab Nagato singkat sambil menarik selimutnya menutupi pakaiannya.


Kemudian Emi masuk ke dalam kamar Nagato. Dia melihat lampu kamar Nagato yang dimatikan, hanya ada lilin yang menyala di kamar tersebut.


"Kenapa aku merasakan hawa dingin yang tidak asing di kamar ini," ucap Emi kebingungan sambil berjalan menghampiri ranjang Nagato.


"Gawat," batin Iris ketakutan.

__ADS_1


__ADS_2