
Hanabi dengan penuh keyakinan mulai turun ke lapangan Arena Lingkaran Harimau. Lawannya kali ini berasal dari Ikatan Darah Tunggal. Hanabi dengan wajah datarnya yang tidak menunjukkan ketertarikan pada lawannya hanya diam, ketika Jaisetsu Kadowaki menatap dirinya dengan tatapan yang menusuk dan tajam.
Gyuki menatap kedua peserta cukup lama, dia memperhatikan Hanabi dan Jaisetsu dengan seksama, setelah itu dia batuk pelan sebelum berkata, "Misuzawa Hanabi, lawanmu adalah seorang laki-laki. Apakah kamu tidak keberatan dengan keputusan ini?"
Hanabi hanya menggelengkan kepalanya, mulutnya tetap terkunci rapat-rapat. Kemudian Gyuki menatap Jaisetsu dan menanyakan hal yang sama pada pemuda tersebut.
"Jaisetsu Kadowaki, apakah kamu tidak keberatan melawan Misuzawa Hanabi?" Senyuman lebar terlihat di wajah Jaisetsu.
"Aku tidak keberatan. Jika dia tidak keberatan melawanku maka aku juga tidak keberatan. Lagipula aku sudah menantikan pertandingan ini." Jaisetsu menjawab perkataan Gyuki dengan penuh percaya diri.
Gyuki hanya memberi isyarat pada kedua peserta untuk mengambil jarak yang telah ditentukan, setelah melihat Hanabi dan Jaisetsu berdiri di garis putih, Gyuki menarik napas dalam-dalam dan memulai pertandingan ketiga babak 32 besar Turnamen Harimau Kai.
"Pertandingan ketiga babak 32 besar Turnamen Harimau Kai, antara Misuzawa Hanabi melawan Jaisetsu Kadowaki, dimulai!" Gyuki langsung mundur beberapa langkah ke belakang, tepat setelah dirinya memulai aba-aba pertandingan.
Jaisetsu melepaskan aura tubuhnya yang berwarna coklat, kemudian dia memanipulasi aura tubuhnya menciptakan sepuluh pedang yang terbuat dari tanah.
"Hanya aku diantara pendekar muda yang memiliki serangan bervariasi! Aku akan mengalahkannya dan menggeser posisi ketiga orang terkuat diantara pendekar muda itu!" Jaisetsu menatap tajam seorang pemuda yang bernama Ashiya Giyumaru.
Hanabi hanya diam ketika mendengar perkataan Jaisetsu. Gadis berambut hitam kemerah mudaan itu dengan tenang mengaliri tangan kanannya dengan tenaga dalam.
Setelah tangan kanannya terasa dingin, Hanabi melepaskan aura tubuhnya yang berwarna merah muda. Daun-daun sakura yang berjatuhan mulai mengitari tubuh Hanabi, mereka terlihat seperti terbang di udara.
Selang beberapa detik kemudian, Hanabi menciptakan sebuah pohon sakura dengan tenaga dalamnya. Sebuah pohon sakura ilusi yang dia ciptakan dengan tenaga dalam dan aura tubuhnya itu membuat penonton berdecak kagum, karena mereka kembali melihat pertarungan Hanabi yang tidak pernah membosankan.
__ADS_1
Bibir Hanabi merekah, setelah itu dia mengucapkan nama tekniknya dengan sangat pelan. "Sakura Dalam Ilusi." Hanabi mengucapkan nama jurusnya dalam hatinya.
Dedaunan jatuh dengan pelan dari pohon sakura ilusi ciptaan Hanabi. Tangan kanan Hanabi membuka dan menciptakan sebuah pedang yang tercipta dari bunga-bunga sakura yang berjatuhan, setelah pedangnya terbentuk sepenuhnya, bibir Hanabi kembali merekah dan dia berkata lirih, "Pedang Sakura."
Jaisetsu tersenyum lebar melihat Hanabi yang mulai bertarung serius dari awal pertandingan, pemuda itu menggerakkan sepuluh pedang yang dia ciptakan dari tanah ke arah Hanabi. Kekuatan elemen bawaan Jaisetsu adalah tanah, pemuda itu hanya menggerakkan tangannya untuk menyerang Hanabi. Sedangkan dirinya tetap berdiam diri di tempat dia berpijak, matanya fokus melihat Hanabi yang sedang mengayunkan pedangnya menangkis setiap serangannya.
"Hmmm, dia mampu menangkis serangan sepuluh pedang tanahku..." Jaisetsu membatin dalam hatinya ketika melihat Hanabi dapat menangkis serangan beruntun dari sepuluh pedang tanahnya.
Hanabi tetap tenang ketika menangkis setiap serangan yang datang dari berbagai arah itu, tebasan pedangnya yang dialiri tenaga dalam di tangannya sudah menghancurkan tiga pedang tanah yang diciptakan Jaisetsu.
Hanabi terus mengayunkan pedangnya dan menghancurkan seluruh pedang yang diciptakan oleh Jaisetsu. Kini dia berlari dengan cepat mendekati Jaisetsu sembari menghindari serangan jarum-jarum yang terbuat dari tanah yang dilesatkan oleh Jaisetsu.
Setelah menghindari serangan jarum-jarum tanah yang menyulitkan langkahnya, Hanabi mengayunkan pedangnya dengan sangat cepat untuk menghancurkan pelindung tanah Jaisetsu. Matanya menatap Jaisetsu yang sudah memegang pedang tanah. Sambil mengolah pernapasan, Hanabi menggunakan teknik pedangnya. "Teknik Pedang Sakura Pertama : Penantian Musim Semi."
Langkah tipuan Hanabi ketika berada di depan Jaisetsu membuat dirinya seolah-olah menghilang, kini Hanabi menghilang dari pandangan Jaisetsu. Gadis berambut hitam kemerah mudaan itu sudah berada di belakang Jaisetsu sambil menebaskan pedangnya.
Benturan kedua pedang menggema ketika Jaisetsu berhasil menangkis tebasan pedang Hanabi dengan menaruh pedangnya di punggungnya.
"Putaran Bunga Sakura."
Hanabi kembali melakukan gerakan tipuan yang lebih cepat dari sebelumnya, ayunan pedangnya yang memutar itu menciptakan tebasan yang melengkung berwarna merah muda.
Tebasan pedang Hanabi melesat dengan cepat ke arah Jaisetsu. Setelah begitu dekat dengan Jaisetsu, dalam sekejap tebasan pedang Hanabi berubah menjadi pusaran angin yang dipenuhi bunga sakura.
__ADS_1
Mata Jaisetsu melebar karena mengira Hanabi tidak memutarkan tubuhnya, ternyata serangan yang pertama hanyalah tipuan dan gertakkan saja, pemuda itu menggertakkan giginya dan melepaskan aura tubuhnya yang berwarna coklat lebih besar dari sebelumnya.
Tubuh Jaisetsu terhempas ke atas, namun pemuda itu telah selesai mengeluarkan tekniknya yang lain. Pemuda itu berteriak menyebutkan nama jurusnya.
"Beruang Coklat Aura Variasi Tanah."
Gyuki yang mendengarnya hanya menggelengkan kepalanya, kemudian dia membatin pelan dalam hatinya, "Cih, bocah memang menggelikan." Setelah itu pandangan matanya terarah pada sosok dua beruang yang terbentuk dari tanah, salah satu beruang tanah tersebut menangkap tubuh Jaisetsu.
Namun setelah tertangkap dipelukan beruang yang dia ciptakan dengan aura tubuh dan tenaga dalamnya, Jaisetsu berteriak, "Ugh! Cih, sial! Pantatku teras sakit!" Penonton yang mendengar teriakan Jaisetsu hanya tertawa.
Hanabi melempar pedangnya dari jauh ke arah Jaisetsu. Namun pedang sakuranya itu ditahan oleh tangan beruang yang tidak menggendong tubuh Jaisetsu.
"Serangan itu tidak mempan terhadap beruang-beruang kesayanganku!" Jaisetsu memerintahkan dua beruang yang terbentuk dari tanah untuk menyerang Hanabi.
Gyuki membatin pelan ketika melihat Hanabi menjaga jarak dari serangan pukulan dua beruang yang terus mengarah pada gadis berambut hitam kemerah mudaan tersebut.
"Jaisetsu Kadowaki cukup berbakat, hanya saja dia terlalu bodoh. Untuk menciptakan dua beruang seperti ini memerlukan tenaga dalam dan aura tubuh yang besar. Kemungkinan dia telah kehabisan tenaga terlebih dahulu jika teknik selanjutnya lebih konyol dari ini," batin Gyuki. Pandangan matanya menatap Hanabi yang sedang bertukar serangan dengan dua beruang yang terbentuk dari tanah itu.
Hanabi mundur beberapa langkah ke belakang dan memperhatikan serangan yang terus dilancarkan Jaisetsu dengan menggerakkan dua beruang tanah itu.
Mata Hanabi melebar, dia menemukan celah atau bisa dibilang dia menemukan cara untuk menghancurkan dua beruang tanah yang membuatnya terdesak.
Walaupun beresiko, Hanabi harus mencobanya. Dia tidak akan tahu sebelum mencobanya, entah berhasil atau tidak, tetapi ini adalah hasil dari rencananya sendiri.
__ADS_1
Jaisetsu menyadari perubahan raut wajah Hanabi walau hanya sesaat, pemuda itu mengerutkan dahinya karena dia sedang memulihkan aura tubuhnya sebisa mungkin.
"Kali ini apa yang dia rencanakan?" Jaisetsu membatin penuh pertanyaan ketika melihat Hanabi berlari mendekati kedua beruang yang dia ciptakan dari tanah dengan aura tubuhnya beserta tenaga dalamnya.