Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 51 - Hawk


__ADS_3

Waktu berlalu dengan cepat dan tak terasa malam telah tiba, Kakek Hyogoro sedang mendampingi ketiga murid Pandu yang sedang mengolah pernafasan.


"Tarik!" Kakek Hyogoro memberikan instruksi kepada Azai dan yang lain.


"Tahan! Dada, Perut, Dada, Lepas!"


"Ketika melakukan pernafasan jangan sampai bocor, menelan ludah apalagi kentut!" Kakek Hyogoro menjelaskan kepada mereka bertiga. Setelah itu Kakek Hyogoro menyuruh mereka kembali melakukan pernafasan.


Ketika malam bulan purnama bersinar di atas langit Hutan Cakrawyuha, Kakek Hyogoro mengajak Azai, Kuina dan Serlin untuk pergi ke Air Terjun Tujuh Mata Air Berbeda di Hutan Cakrawyuha. Disana Kakek Hyogoro menyuruh mereka bertiga untuk meminum air itu dan menyuruh Azai mengambil tiga gelas air dari air terjun itu.


Kakek Hyogoro menyuruh Azai meminum terlebih dahulu kemudian menyuruhnya untuk mengambil gelas yang ada dirumahnya, setelah itu Kuina dan Serlin meminum air dari air terjun yang sangat jernih airnya, air itu terasa begitu segar untuk melepas dahaga rasa haus yang melanda mereka.


"Gluk ... Gluk ... Gluk."


Kuina maupun Serlin sangat menikmati air yang mengalir dari Air Terjun Tujuh Mata Air Berbeda, bahkan kedua gadis itu terus meminum air yang ada dihadapannya dengan menyatukan telapak tangan mereka untuk mengambil air dan meminumnya kembali.


Tidak lama Azai datang dengan membawa tiga gelas kemudian diberikan ketiga gelas itu pada Kakek Hyogoro tetapi Kakek Hyogoro menyuruh Azai untuk mengambil air dari air terjun dengan gelas itu dan membawanya kembali kedalam rumahnya.


"Jangan diminum air didalam gelas itu, aku akan membuka aura tubuh kalian semua malam ini!" perintah Kakek Hyogoro bergegas kembali kerumahnya, dijalan yang dilewatinya terdapat banyak jejak hewan yang menghuni lapisan hutan ke dua puluh dua ini.


Azai, Kuina dan Serlin mengikuti Kakek Hyogoro dari belakang menuju kediaman Kakek Hyogoro yang berada ditengah Hutan Cakrawyuha.


"Jadi ini hutan tersembunyi yang sulit ditemukan itu?!" ucap Serlin sambil berjalan dan memandang langit malam yang membentang luas diatas sana.


"Apa maksudmu? Aku tidak tahu kalau ini adalah hutan yang sulit ditemukan!" sahut Kuina yang berjalan disamping gadis penyihir itu.


"Eh ... hehe ... aku mendengar rumor yang kudengar saat itu!" jawab Serlin sambil tersenyum pada Kuina.


"Hmmm ... " gumam Kuina sambil terus berjalan dan menatap Serlin disampingnya.


Setelah sampai dirumah Kakek Hyogoro, Nagato dan Litha sudah tertidur, mereka berdua tidur bersama dengan beralaskan kayu dengan tubuh mereka ditutupi selimut, Azai memberikan ketiga gelas yang berisi air dari Air Terjun Tujuh Mata Air Berbeda kepada Kakek Hyogoro.


"Kalian bertiga tunggu disini, nanti akan kupanggil nama kalian satu - satu!" Kakek Hyogoro melangkahkan kakinya masuk kedalam rumahnya kemudian Azai, Kuina dan Serlin menunggu diluar.


Satu jam telah berlalu, kemudian Kakek Hyogoro memanggil Azai, pemuda itu memasuki rumah Kakek Hyogoro dengan detak jantung yang berdegup kencang.

__ADS_1


"Duduk yang santai, ulurkan tangan kananmu." perintah Kakek Hyogoro kepada Azai.


Azai duduk bersila didepan Kakek Hyogoro, kemudian mengulurkan tangan kanannya pada Kakek Hyogoro.


Kakek Hyogoro menyalurkan tenaga dalam pada Azai untuk membuka pori - pori tubuhnya secara paksa agar aura pemuda itu bisa bangkit dalam tubuhnya.


"Tanganku terasa ditusuk seperti jarum." batin Azai ketika melihat Kakek Hyogoro menyalurkan tenaga dalamnya walau tidak menyentuh kulit tangan Azai, namun tenaga dalamnya benar - benar terasa.


"Azai, basuhkan air ini keseluruh tubuhmu!" perintah Kakek Hyogoro ketika hendak memberikan gelas yang berisi air itu.


Setelah selesai Kakek Hyogoro memberikan gelas yang telah diisi kepada Azai. Kemudian Kakek Hyogoro memanggil Kuina dan tak lama dirinya memanggil Serlin. Sama halnya dengan Azai Kakek Hyogoro menyuruh kedua gadus itu untuk membasuhkan air yang ada didalam gelas keseluruh tubuh mereka berdua.


Kakek Hyogoro beranjak keluar dari rumahnya dan memberikan kedua gadis itu untuk membasuh tubuhnya dengan air yang hanya satu gelas itu.


Azai, Kuina dan Serlin membasuh dari rambut hingga keujung kaki secara berurutan tetapi air didalam gelas itu masih tersisa banyak walau mereka bertiga sudah membasahi seluruh tubuhnya bahkan bisa dibilang mereka bertiga terlihat seperti sedang mandi.


Setelah satu jam berlalu Kuina dan Serlin keluar dari rumah Kakek Hyogoro dengan kondisi badan yang basah kuyup.


"Kalian bertiga duduk bersila, kosongkan semua pikiran kalian, tarik napas dalam - dalam simpan perut, kemudian hitung dari satu sampai sepuluh!" Kakek Hyogoro memberikan instruksi kepada merek bertiga.


Ketika Azai, Kuina dan Serlin sudah terbiasa tubuh mereka terasa seperti diselimuti oleh sesuatu yang tak kasat mata.


"Kalian berhasil hanya tinggal berlatih mengontrolnya dan mengembangkannya, semua tidak ada batasnya jadi jangan merasa senang terlebih dahulu karena diatas langit masih ada langit." Kakek Hyogoro memberika nasihat kepada mereka bertiga.


Azai memiliki aura berwarna coklat yang menyebar diseluruh tubuhnya, Kuina memiliki aura berwarna merah muda dan gadis ini berhasil mengontrol aura tubuhnya yang keluar secara drastis hanya dalam waktu yang sangat singkat sedangkan Serlin memiliki aura berwarna kuning yang menyebar di seluruh tubuhnya.


Waktu terasa semakin berlalu, beberapa hari setelah hari dimana Azai, Kuina dan Serlin membuka auranya, mereka bertiga berlatih mengontrol kekuatan aura tubuhnya, sedangkan Nagato sudah bisa kembali berjalan namun belum sepenuhnya pulih.


Sudah satu bulan mereka menetap di Hutan Cakrawyuha untuk menunggu kedatangan Hawk, tetapi seseorang yang mereka tunggu belum datang hingga sekarang.


"Nagato kaki kirimu taruh didepan jangan sampai menyentuh tanah, dan kaki kananmu berjinjit, lakukan gerakan jongkok kemudian berdiri selama dua puluh lima kali!" Kakek Hyogoro sedang mengajari Nagato dan Litha, karena mereka berdua terus memaksa Kakek Hyogoro menjadi guru dari mereka.


"Litha, lakukan jatuhan belakang selama satu jam penuh hingga kamu bisa melakukan gerakan dasar itu sampai benar!" Kakek Hyogoro memberikan instruksi kepada Litha.


"Mereka berdua terlalu semangat, setidaknya aku harus mulai dari dasar terlebih dahulu jika gerakan mereka sudah bagus maka akan kuajari pukulan, tendangan dan yang lainnya!" batin Kakek Hyogoro yang sedang memperhatikan Litha dan Nagato.

__ADS_1


"Nagato jika sudah selesai ulangi lagi sampai paha kaki kananmu terasa pegal, dan lakukan gerakan itu secara berulang - ulang selama dua jam!" Kakek Hyogoro menatap Nagato.


"Kalian berdua yang memaksa Kakek menjadi guru kalian, menjadi seorang pendekar tidak ada yang namanya jalan pintas!" Kakek Hyogoro menambahkan.


Nagato memaksakan dirinya melewati batas kemampuannya, keringat mengucur diseluruh tubuhnya, paha kaki kanannya yang menjadi pangkuan terasa begitu pegal. Litha terus melakukan jatuhan belakang berulang - ulang sambil belajar untuk melakuakn kip.


Tiga jam telah berlalu, Kakek Hyogoro melihat Nagato dan Litha yang sedang berbaring diatas tanah, dirinya tidak menyangka melihat mereka berdua melakukan gerakan yang disuruh olehnya dengan menggunakan seluruh tenaga mereka punya, seolah - olah mereka berdua mengatakan bahwa latihan yang mereka lakukan ini akan mereka jalani dengan bersungguh - sungguh, bahkan Nagato dan Litha menghabiskan seluruh tenaganya hanya untuk melakukan gerakan dasar latihan, karena tidak ingin setengah - setengah menggunakan tenaganya bagi Nagato maupun Litha mengikuti latihan ini adalah takdir atau panggilan dari sang pencipta.


"Ini diminum secara bergantian!" Kakek Hyogoro memberikan air daun kates yang telah direbus kepada Nagato dan Litha. Kemudian Kakek Hyogoro menyuruh Nagato untuk memimpin doa sebelum mereka berdua beristirahat. Tidak lama Kuina membawakan minuman manisan yang dibuat dari jahe dan air putih untuk Nagato dan Litha.


***


Sementara itu di Ibu Kota Kekaisaran Kai tempat tinggal para petinggi militer Kekaisaran, Jendral Hawk sedang membujuk agar Matsuri segera keluar dari kamarnya, karena sejak mendengar kabar kematian Pandu, gadis itu mengurung diri dikamar hingga hari ini.


"Matsuri ... keluar ... apa kau tidak merasa bosan ... aku berniat mengajakmu pergi ketempat Penjahat Kelas Kakap!" Hawk mengetuk pintu kamar Matsuri berkali - kali tetapi gadis itu sama sekali tidak membuka pintu kamarnya bahkan tidak menjawab perkataan Hawk.


"Oi, Matsuri apa kau sudah mati?!" Hawk semakin kesal karena dirinya merasa sedang berbicara dengan pintu yang terus dia ketuk dan tidak ada jawaban sama sekali.


"Pergi! ..., aku tidak berhak menemui mereka!" suara yang terdengar merdu dengan nada yang sedikit membentak menyuruh Hawk segera meninggalkan kediamannya.


"Heeh ... dia masih hidup rupanya?!" batin Hawk setelah itu dia keluar dari kediaman Matsuri dan menaiki kuda hitam yang selalu menjadi rekan untuk dirinya jika berkelana atau berjalan - jalan.


Hawk kemudian menunggangi kuda hitam miliknya dan hendak pergi ke tempat kediaman Kakek Hyogoro.


"Takdir memang kejam! Berkat kedamaian yang diberikan oleh guru, cepat atau lambat Kekaisaran ini akan hancur dari dalam dan bukan dari luar!" batin Hawk sambil terus memacu kudanya meninggalkan kediaman Matsuri.


"Sekte Pemuja Iblis melakukan pergerakan dan banyak organisasi bawah tanah yang mencoba masuk kedalam ke Kekaisaran Kai, hal merepotkan datang satu per satu." batin Hawk yang sedang mengeluh meratapi keadaan yang menimpa dirinya akhir - akhir karena Hawk selalu bertempur melawan kelompok bandit dan organisasi bawah tanah yang semakin gencar melakukan pergerakan di Kekasiaran Kai.


"Bukankah itu ... " Hawk menyipitkan matanya ketika melihat elang emas terbang bebas di angkasa dan terlihat sedang berputar mengelilingi kediaman milik Matsuri. Kemudian Hawk bersiul dan tak lama Kin terbang rendah dengan cepat ke arah Hawk.


"Kin, lama tidak berjumpa!" Hawk mengulurkan lengannya kesamping kemudian Kin hinggap di lengannya itu.


"Lihat dulu apa yang tertulis disini." gumam Hawk yang sedang mengambil sepucuk surat yang ada di tas kaki Kin. Kemudian dia membaca surat itu.


"Jadi mereka berhasil sampai dengan selamat di Hutan Cakrawyuha, aku tidak sabar melihat anak dari guru!" gumam Hawk kemudian dia memacu kudanya menuju Hutan Cakrawyuha.

__ADS_1


__ADS_2