Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 103 - Penyakit Nagato


__ADS_3

Pertarungan Nagato dan Demet telah selesai. Dan, pertarungan tersebut dimenangkan oleh Nagato.


Setelah kedatangan Kakek Hyogoro pulang ke Hutan Cakrawyuha. Litha keluar dari balik pohon dan membalut luka di dada Demet dengan perban. Untung saja luka di dada Demet tidak terlalu fatal, hanya saja meninggalkan bekas luka bakar berbentuk bulan sabit di dadanya.


Devon tidak menyangka melihat Demet tunduk pada Nagato yang masih berumur sepuluh tahun itu, kemudian dia mengajak Nagato berduel dengannya sebagai sesama pendekar pedang. Dan, jika dia kalah maka Nagato boleh menebas dadanya seperti yang Nagato lakukan kepada Demet.


Nagato menerima tantangan Devon, bahkan dia juga akan membiarkan Devon menebas dadanya atau membunuhnya jika dia kalah dalam pertarungan tersebut.


Demet menghela nafas panjang melihat Devon dan Nagato yang akan bertarung, dia yang paling mengetahui kenapa alasan Devon berbuat seperti itu, sampai - sampai teman baiknya itu menantang Nagato bertarung.


Litha begitu khawatir pada Nagato, tetapi Kakek Hyogoro menepuk pundak Litha dan menyuruhnya melihat pertarungan Nagato dengan cermat.


"Seseorang lebih cepat berkembang ketika berhadapan dengan sesuatu yang nyata. Kau mudah menghafal setiap gerakan dan jurus yang baru ku ajarkan, sedangkan Nagato selalu berlatih keras untuk menghafalkan semuanya, karena dia tipe orang yang tidak mau diatur bahkan dia bisa menciptakan jurusnya sendiri dan mengasahnya menjadi senjata utamanya..." ucap Kakek Hyogoro mencoba menenangkan Litha dan sedikit memberinya wejangan.


Devon mengluarkan aura intimidasinya dan aura berwarna merah keluar dari tubuhnya, aura miliknya terlihat begitu membara tetapi tetap membungkus seluruh tubuhnya.


"Bagaimana mungkin Demet, bisa tunduk pada bocah ini." batin Devon menatap Nagato tajam.


Nagato hanya diam berdiri menatap Devon yang terus mengeluarkan aura intimidasi ke arahnya.


Devon maju terlebih dahulu menyerang Nagato, dia berniat membuat Nagato kehabisan stamina terlebih dahulu. Karena menurut Devon, pertarungan melawan Demet membuat tenaga Nagato terkuras cukup banyak.


Awalnya Devon hanya menggunakan tiga puluh persen kekuatannya, tetapi ketika melihat Nagato mampu mengimbanginya. Devon sadar jika dirinya terlalu meremehkan Nagato.


"Kenapa staminamu masih banyak, bocah tengik." gumam Devon yang terus mengayunkan pedangnya ke arah Nagato.


Nagato mengolah pernafasannya sebelum menjawab perkataan Devon, "Masih banyak katamu? Aku sudah melewati batas kekuatanku sejak tadi..." Nagato tersenyum menangkis setiap serangan Devon. "Tetapi aku tidak akan kalah darimu... tidak akan."


Nagato menyerang balik Devon, tebasannya benar - benar dalam dan setiap ayunan pedangnya begitu berisi, bahkan dia mampu membuat Devon cukup kesulitan menahannya.

__ADS_1


"Pernapasan Pelangi Surgawi : Bentuk Kuning." hati Nagato menarik napas panjang dalam satu tarikan napasnya. Dia kembali menyerang Devon dengan sekuat tenaganya.


Keduanya saling bertukar serangan selama beberapa menit, tetapi pertarungan tersebut menjadi berat sebelah. Ketika hidung Nagato mimisan dan mata kirinya mengeluarkan darah.


"Sial! Pandanganku kabur... apa aku mempunyai penyakit turunan seperti ibu..." gumam Nagato dengan suaranya yang sendu. Setelah mendengar perkaataan Nagato, hati Devon luluh dan merasa kasihan pada Nagato.


Devon mengurangi kekuatannya dan kini dia hanya menangkis serangan tebasan pedang Nagato.


Kakek Hyogoro dan Litha menyadari jika Nagato memiliki tubuh yang lemah. Dan, melihat hal itu Litha hendak menghentikan Nagato kembali tetapi Kakek Hyogoro mencengkeram pundaknya.


"Litha, ada kalanya kau harus melihat tekad seorang lelaki, Nagato mempunyai harga diri yang tinggi. Jika dia dikasihani ketika dia bertarung dengan segenap kekuatannya, maka Nagato yang kamu kenal akan menghilang dan dia tidak akan kembali..." ucap Kakek Hyogoro mencengkeram erat pundak Litha, karena dia juga sadar Nagato yang memiliki Kutukan Kuno Dewa Kematian ditubuhnya, semua itu membuat Nagato tidak berumur panjang.


"Nagato, mempunyai sebuah kebanggan dan tekad, kau cukup melihat dan mendukung orang yang kamu sukai itu..." tambah Kakek Hyogoro sambil tersenyum pada Litha.


"S-S-Suka... " ucap Litha terbata - bata karena dia terkejut mendengar perkataan Kakek Hyogoro.


"Jadi aku menyukai Nagato..." batin Litha melihat Nagato yang sedang dia pandang. Litha tidak pernah menyadari perasaannya kepada Nagato.


Nagato terus mengayunkan pedangnya dan dia telah memberikan luka sayatan yang cukup banyak di tubuh Devon. Karena sadar Devon merasa kasihan padanya, Nagato geram dan mundur beberapa langkah ke belakang untuk mengatur napasnya yang tersengal - sengal.


Nagato menatap dingin Devon, "Apa kau sengaja menghinaku," teriak Nagato karena Devon tidak menggunakan seluruh kekuatannya setelah melihat wajah Nagato pucat, "Serang aku layaknya kau membunuh targetmu, bukankah kau seorang pembunuh bayaran."


Devon terdiam sesaat mendengar perkataan Nagato, dia mengerti kenapa Demet tunduk pada Nagato.


"Aku hanya kasihan melih-" belum selesai Devon berbicara, sebuah tebasan berbentuk pisau api padat melesat ke arahnya.


"Kau bilang ingin bertarung denganku sebagai sesama pendekar pedang, apa kau ingin menghina tekadku!" Nagato marah, karena Devon mengasihani dirinya.


"Aku adalah putra dari seorang pendekar pedang! Aku tidak mau hidup dalam rasa malu!" teriak Nagato dengan lantang, bahkan setelah dia berteriak mulutnya batuk darah, di pipinya dan bibirnya terlihat darah segar keluar dari mulutnya.

__ADS_1


Kakek Hyogoro dan Litha tercengang melihat Nagato yang memiliki harga diri tinggi, bahkan Nagato juga tidak suka jika pertarungannya ternodai seperti ini. Tetapi bagaimanapun kondisi fisik dan kesehatan Nagato terlihat memprihatinkan sekarang.


Devon menelan ludah melihat tatapan tajam Nagato, baru kali ini dia melihat orang yang hendak dia bunuh dan dikasihani justru memarahinya.


"Baiklah, aku akan menggunakan kekuatanku yang sebenarnya dan aku minta maaf karena telah menyinggung perasaanmu..." Devon tersenyum canggung bahkan dia menganggap ada yang salah dengan dirinya.


"Aku yang mengintimidasinya, tetapi kenapa justru aku yang merasa terintimidasi olehnya..." batin Devon menatap Nagato tajam.


Nagato menutup mulutnya ketika batuk dengan telapak tangannya.


"Sial! Kenapa aku seperti ini?!" Nagato berdecak kesal kemudian dia mengatur napasnya kembali sambil mengelap mimisannya dengan telapak tangannya.


Nagato mengolah pernapasannya sambil menyerang Devon kembali, keduanya kali ini bertarung dengan sengit.


"Sirih!" hati Nagato menarik napas panjang dalam satu tarikan napasnya. Dengan sekuat tenaga dia terus mengayunkan pedangnya pada Devon.


Devon lagi - lagi dapat menangkis setiap tebasan Nagato dengan mudah. Bahkan dia sudah melukai tubuh Nagato dengan tusukan - tusukan pedangnya. Walaupun itu hanya goresan kecil, tetapi Nagato sudah cukup terkuras staminanya dan kulit tubuhnya begitu tipis.


"Sirih." hati Nagato kembali menarik napas panjang dalam satu tarikan napasnya, kemudian dia menyalurkannya pada kedua tangannya.


"Lintasan Jingga!" Nagato menebaskan pedangnya secara horizontal, kemudian dia melangkahkan kakinya dengan cepat dan melakukan beberapa gerakan tipuan untuk mengecoh Devon.


"Ruang Hampa." hati Nagato yang kini berada di samping Devon, dengan cepat dia menebas dada Devon dan menendangmya cukup kuat.


"Argh!" Devon mengerang kesakitan, belum sempat dirinya mencerna apa yang sebenarnya terjadi, dia melihat dadanya bersimbah darah dan terasa sangat menyakitkan.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Dimana dia?" Devon mencari keberadaan Nagato, kemudian dia melirik ke arah Demet yang sedang menonton pertarungannya bersama Kakek Hyogoro dan Litha.


"Anak ini sungguh luar biasa..." Devon tersenyum sebelum tersungkur ke tanah.

__ADS_1


Nagato menodongkan pedangnya pada leher Devon. Sebenarnya dia ingin mengatakan sesuatu tetapi mulutnya kembali batuk darah.


__ADS_2