
Satu hari setelah hari dimana Nagato berhasil membuka kedok Amaga kini mereka bertiga sedang mengawasi bandit yang ada di Kota Helai.
Nagato, Litha dan Kakek Hyogoro mereka bertiga sedang mengintai bandit yang sedang menguasai Kota Helai.
Kakek Hyogoro yang membuat rencana untuk membasmi bandit yang sudah menguasai Kota Helai selama 5 bulan.
Nagato dan Litha hanya diberi tugas untuk membebaskan sandera penduduk kota yang disuruh melakukan kerja paksa.
Kakek Hyogoro menuruni bukit dan langsung berlari menuju kediaman rumah wali kota yang dikuasai kelompok bandit.
"Sirih." Kakek Hyogoro menarik nafas panjang dalam satu tarikan nafasnya kemudian dia memotong pintu rumah wali kota yang dibuat dari kayu. Disana terlihat ratusan bandit yang sedang mabuk arak dan menatap Kakek Hyogoro yang baru saja memotong pintu dengan pedangnya.
Kakek Hyogoro menebas kepala setiap bandit dalam satu tebasan pedangnya bahkan pertarungan ini baginya sangat tidak berarti karena selama satu hari dirinya mengawasi setiap gerak - gerik bandit dan semua sudah sesuai perkiraannya.
"Aku tidak menyangka jika penjaga kota juga bagian dari bandit ini!" Kakek Hyogoro melihat pria yang telah mati karena tebasan pedangnya memakai pakaian yang dipakai penjaga kota.
Kakek Hyogoro terus memasuki ruangan demi ruangan setiap bertemu bandit dia dapat dengan mudah mengalahkannya tidak lama dia melihat seorang pria dikamar sedang duduk ditepi ranjang habis menggagahi seorang gadis kota.
"Usia Membabat Masa Muda!" Kakek Hyogoro menatap dingin pria tersebut kemudiam dia berlari menebas kedua tangan pria tersebut membuat perempuan yang terbaring lengas dan menangis terkejut bahkan pria paruh baya yang terlihat seperti bawahan yang paling dekat dengan Amaga itu tidak sempat bereaksi.
"Argh!" Pria tersebut meringis kesakitan ketika merasakan sakit yang luar biasa dari kedua tangannya yang telah terputus karena tebasan pedang Kakek Hyogoro.
"Nona, maaf aku datang terlambat pasti menyakitkan ..., sungguh maafkan aku." Kakek Hyogoro bersedih karena semenjak Klan Kagutsuchi dan kematian Pandu membuat Kekaisaran Kai semakin kacau.
"Ikut aku!" Kakek Hyogoro menjambak rambut pria tersebut dan melemparnya keluar rumah hingga kaca rumah kediaman wali kota pecah.
"Kalian bunuh tua bangka ini!" teriak pria tersebut memanggil anggotanya tetapi tidak ada satupun yang keluar. Dengan wajah yang pucat pria tersebut ingin berteriak tetapi Kakek Hyogoro mencekik lehernya hingga pria tersebut tidak dapat mengeluarkan suara.
__ADS_1
Kakek Hyogoro mengolah pernafasan kasar dan berlari menuju tengah kota kemudian menjatuhkan tubuh pria bandit tersebut.
Seluruh penduduk kota yang melihat dari jendela rumah mereka terkejut dan beberapa dari mereka keluar melihat pemimpin bandit dari salah satu kelompok Amaga telah sekarat tetapi wajah penduduk kota kembali pucat ketika melihat ratusan bandit mengejar anak muda yang tak lain adalah Nagato yang berlari menuju tempat Kakek Hyogoro.
Nagato tersenyum ketika melihat raut wajah Kakek Hyogoro yang tidak percaya jika masih ada ratusan bandit pabrik senjata yang menjaga tempat tersebut.
"Kakek Hyo! Ini yang terakhir!" teriak Nagato ketika ratusan bandit semakin dekat dengannya.
Kakek Hyogoro mengelus dagunya melihat Nagato yang tidak membunuh bandit tersebut dan memilih mengikuti perkataannya.
"Pusaran Air!" Kakek Hyogoro melakukan pasang kuda - kuda depan dengan tangan yang memegang pedang yang tersarung dipinggangnya dia membuat pusaran air yang menghempaskan ratusan bandit.
Penduduk kota terkejut karena ada orang yang menyelamatkan mereka. Ratusan bandit melayang diudara dengan raut wajah yang ketakutan mereka melihat Kakek Hyogoro sedang memegang pedangnya dan bersiap menebas mereka yang terjatuh kebawah.
"Mengalir Seperti Air!" Kakek Hyogoro melangkahkan kakinya kedepan kemudian dia menebas dengan cepat setiap bandit yang terjatuh kebawah kemudian sebelum mereka jatuh Kakek Hyogoro menyarungkan pedangnya dengan secara perlahan.
"Tangisan Hujan." Ketika pedangnya tersarung cipratan darah bak air hujan dari tubuh bandit membuat jalanan tengah kota menjadi merah darah.
"Kakek Hyo, tidak ingin aku seperti dirinya tetapi aku selalu melihat jurus sadis ini ketika bersama Kakek Hyo!" Nagato bergumam pelan dan tak lama Litha datang bersama ratusan pria yang dipaksa bekerja di pabrik senjata.
Litha terkejut melihat darah yang membasahi jalanan kota kemudian dia bersembunyi dari Nagato karena gadis kecil itu masih belum terbiasa dengan semua ini walau berusaha terlihat biasa.
Nagato menghampiri Litha kemudian dia mengelus rambut halus Litha.
"Litha, aku ingin kamu hidup biasa agar tidak melihat hal seperti ini lagi." entah mengapa Nagato melihat gadis kecil yang bersamanya itu membuatnya ingin melindunginya tetapi dirinya tidak ingin melihat Litha masuk kedalam dunia yang kejam ini.
Litha memegang tangan Nagato yang mengelus rambutnya kemudian dia menatap tajam Nagato.
__ADS_1
"Aku punya impian! Aku ingin keluar melihat dunia luar dan berpetualang keliling dunia!" Litha menatap tajam Nagato perkataannya membuat Nagato terdiam.
"Aku ingin melihat paus terbang yang selalu diceritakan oleh ibuku!" Litha tersenyum manis pada Nagato.
Nagato terbius mendengar perkataan Litha dan wajahnya sedikit memerah melihat senyuman gadis kecil didepannya.
'Litha, jika saat itu tiba aku akan menemani perjalananmu dan melindungimu.' Nagato berkata dalam hati dan merasa hatinya begitu hangat ketika melihat senyuman Litha.
Waktu terus berlalu membuat cahaya terang sinar matahari berganti menjadi langit malam yang berbintang diatas Kota Helai.
Beberapa jam setelah membanti menguburkan mayat bandit bersama penduduk kota membuat Nagato ingin mengistirahatkan tubuhnya.
Nagato memikirkan perkataan Litha yang membuatnya ingin mempunyai mimpi tetapi ketika dia berusaha memikirkannya yang ada dikepalanya hanyalah wajah Kazan dan Petinggi Disaster yang membuatnya mengingat kembali kebenciannya.
"Paus terbang? Apa aku yang salah dengar?" Nagato bergumam memikirkan perkataan Litha kemudian dia tertidur.
Litha yang berada diruangan kamar sebelah sedang memberi makan Chibi dengan ikan kesukaannya.
Ketika Litha memejamkan matanya teringat wajah marah Nagato ketika memukul Amaga karena pria itu telah menuduh dirinya membunuh salah satu penjaga yang mirip dengan Amaga.
Litha memeluk guling dan senyum - senyum sendiri sebelum dirinya tertidur.
Sedangkan diruang tengah penginapan terbesar di Kota Helai sedang diadakan pesta oleh para penduduk kota karena telah bebas dari cengkeraman kelompok bandit.
Kakek Hyogoro meminum arak sepuasnya dan memakan daging yang tersaji dihadapannya.
'Aku ingin lepas dari penyesalanku!' Kakek Hyogoro meminum araknya kembali bahkan sudah 5 gentong lebih dia menghabisi arak yang ada di ruang tengah penginapan.
__ADS_1
Tidak lama Kakek Hyogoro bersama penduduk kota terbaring diatas lantai penginapan dan menikmati suasana malam hari yang kembali damai di Kota Helai walau sungguh disayangkan karena wali kota telah mati 5 bulan yang lalu sejak penyerangan yang dilakukan kelompok bandit Amaga.
"Kenapa 5 bulan tidak ada respon dari kekaisaran?" Kakek Hyogoro bergumam ketika dirinya sedang tertidur memeluk gentong arak. Didalam pikirannya ada orang yang berkuasa dibalik semua kejadian ini.