
Di suatu tempat yang sepi di Pulau Samui. Tempat yang dipenuhi pepohonan menjadi tempat latihan Iris bersama Shirayuki selama beberapa tahun terakhir, Iris semakin mahir dalam mengendalikan kekuatan dewi salju miliknya.
Rambut panjang hitamnya basah ketika Iris terus mencoba untuk mengendalikan aura tubuhnya, keringat yang membasahi wajah dan rambut gadis muda berparas cantik itu terlihat menggoda.
"Aku akan memberi kejutan padamu Naga." batin Iris ketika membekukan seluruh pohon di sekitarnya. Tujuh tahun lamanya tidak bertemu dengan Nagato, pemuda yang dijodohkan dengannya. Perasaan Iris masih sama pada Nagato.
Iris selalu mengikuti perkataan Shirayuki sebagai anak dari Putri Salju tersebut, dia telah membuat ibunya bangga. Iris juga tidak pernah membantah perkataan neneknya.
Fuyumi Iris telah berusia genap dua belas tahun, kecantikannya semakin terlihat dengan tatapan sedingin es di kedua matanya yang indah.
Kemampuan Iris sebagai pendekar muda cantik dari Klan Fuyumi semakin dikenal di Kekaisaran Kai selama beberapa tahun terakhir, demi mengejar Nagato dan tidak ingin menjadi beban bagi orang yang ia cintai, Iris membulatkan tekadnya untuk membuat Nagato menceritakan masa lalu pemuda tersebut kepada dirinya.
Iris bisa melihat tatapan mata Nagato yang penuh kebencian, dan Iris juga tahu Nagato menyembunyikan perasaan gelapnya. Nagato adalah tipe pemuda yang mampu membuka hatinya, Iris sangat beruntung karena terlahir ke dunia untuk bertemu dengan Nagato walau dirinya tidak memiliki seorang ayah.
Dua tahun lalu di Pulau Samui. Shirayuki memberitahu kepada Iris tentang kisah masa lalu dirinya, reaksi pertama yang Iris tunjukkan pada Shirayuki adalah tersenyum dan memeluk ibunya. Iris juga sadar jika dirinya merupakan jelmaan dewi salju, kekuatan yang diwariskan ibunya akan menjadi kebanggaannya.
Iris memejamkan matanya dan mencoba membuat puluhan pedang dari es yang dia ciptakan dengan tenaga dalamnya, konsentrasinya begitu luar biasa. Ketenangannya terlihat jelas, puluhan pedang es bercorak bunga mawar tercipta dari tenaga dalam Iris.
"Iris!" suara Tika dan Hika membuyarkan konsentrasinya, matanya terbuka pelan - pelan dan menoleh ke arah sumber suara yang memanggil namanya.
Mata Iris melebar melihat sosok pemuda yang semakin terlihat ketampanannya dengan tatapan tajam yang dingin pura - pura tidak melihatnya, Iris menyembunyikan senyumannya karena melihat Nagato yang datang ke Klan Fuyumi.
"Iris, lihat Nagato semakin tampan, bukan?" bisik Tika di telinga Iris.
Litha dan Hika menghampiri Iris yang sedang bersama Tika, pelukan hangat antara Litha dan Iris terlihat di mata Nagato.
Iris dan Litha berpelukan setelah lama tidak berjumpa, kedua gadis muda itu terlihat begitu akrab.
"Lama tidak berjumpa, Litha." Iris tersenyum manis melihat Litha dan melepaskan pelukan Litha.
"Sepertinya kamu semakin cantik, Iris." Litha menatap Iris dalam - dalam.
Iris memalingkan wajahnya karena malu, matanya bertemu dengan mata Nagato selama beberapa detik. Keduanya tidak menyapa dan mereka berdua hanya saling menatap satu sama lain.
Nagato menyipitkan matanya dan sengaja tersenyum tipis melihat Iris. Melihat itu reflek Iris merapatkan giginya berdecak kesal.
"Naga!" batin Iris menatap Nagato tajam.
Tidak lama Shirayuki mengajak mereka semua untuk masuk ke dalam Asrama Salju Rembulan, tetapi Kakek Hyogoro tidak berniat berlama - lama di Pulau Samui.
"Nagato, Litha. Kakek pergi dulu." ucapan Kakek Hyogoro membuat Nagato dan Litha sedikit sedih karena suara Kakek Hyogoro terdengar seperti mengucapkan sebuah kalimat perpisahan.
__ADS_1
Litha yang sedang bersama Iris langsung memeluk Kakek Hyogoro erat. Air mata membasahi wajah Litha karena dirinya sangat bersyukur telah ditolong Kakek Hyogoro.
"Kakek. Terimakasih telah menjadi kakek dari Litha," tangisan terus keluar dari kedua mata Litha walau gadis muda itu berusaha menahannya, "Litha belum mampu membalas jasa kakek..." Litha menggertakan giginya menahan tangisannya.
Kakek Hyogoro mengelus rambut Litha penuh kasih sayang kemudian berjongkok menatap dan mengusap air mata Litha.
"Kalian berdua adalah cucu kakek yang berharga. Kakek juga bersyukur mempunyai keluarga seperti kalian." Kakek Hyogoro tersenyum sambil mencoba menenangkan Litha.
Sampai detik ini Nagato belum menyadari bagaimana Kakek Hyogoro menganggap dirinya dan Litha sebagai cucunya sendiri. Nagato merapatkan giginya, seketika perasaan gelisah bercampur sedih mulai berbisik di sela - sela tulangnya.
Litha berhenti menangis setelah Kakek Hyogoro menenangkannya, kemudian dia membulatkan tekadnya untuk tidak menangis lagi karena ditinggal Kakek Hyogoro.
"Nagato. Apa tidak ada yang ingin kau katakan pada kakekmu ini?" Kakek Hyogoro tersenyum melihat Nagato yang sedang berdiri di samping Shirayuki.
"Tidak. Aku benci sebuah perpisahan." jawab Nagato singkat dan terlihat tidak peduli.
Kakek Hyogoro tertawa mendengar jawaban Nagato. Litha dan Iris menatap tajam Nagato yang tidak sopan pada Kakek Hyogoro.
Kakek Hyogoro berdiri dan membalikkan badannya berjalan meninggalkan Nagato dan Litha.
"Tolong jagalah kedua muridku ini." pinta Kakek Hyogoro pada Shirayuki dengan sangat memohon.
"Aku akan menjaga mereka dengan baik." Shirayuki sedikit mengerti tujuan Kakek Hyogoro yang pergi menitipkan Nagato dan Litha.
Kakek Hyogoro semakin menjauh dari pandangan Nagato dan Litha maupun Shirayuki dan yang lainnya. Shirayuki menatap Nagato dan Litha yang terlihat sedih, bahkan Iris, Hika dan Tika juga tersentuh hatinya melihat perpisahan Kakek Hyogoro dengan Nagato dan Litha.
Shirayuki mengajak Nagato dan yang lainnya pergi ke Asrama Salju Rembulan. Litha jalan berdampingan bersama Iris yang menggandeng tangannya, sedangkan Nagato masih tidak bergeming dari tempatnya.
"Aku akan menyendiri dulu." ucap Nagato dengan nada yang dingin dan berjalan ke arah yang sama dengan Kakek Hyogoro.
"Nag-" belum selesai Litha berbicara pundaknya dipegang Shirayuki.
"Biarkan dia sendirian." Shirayuki menenangkan Litha.
Iris menatap punggung Nagato yang menjauh dari pandangannya, langkah kaki Nagato terlihat begitu sedih. Hentakan kakinya yang begitu tenang dan sunyi tak terdengar membuat Nagato menyembunyikan perasaannya.
"Naga..." batin Iris ketika melihat Nagato yang semakin menjauh.
Di pinggiran pantai Pulau Samui yang penuh dengan pasir membuat Kakek Hyogoro menatap Pulau Samui penuh makna sebelum naik ke perahu.
"Kalian berdua telah tumbuh besar. Aku yakin semua akan baik - baik saja..." gumam Kakek Hyogoro sambil memejamkan matanya.
__ADS_1
Ketika Kakek Hyogoro membuka matanya dan melihat Nagato yang sedang berjalan menghampirinya, perlahan Kakek Hyogoro berbalik dan melangkahkan kakinya kembali.
"Dinding Api!"
Nagato berteriak dan membuat api yang membentuk sebuah dinding penghalang dengan tangannya, Nagato perlahan semakin mahir menguasai kekuatan dewa api.
Kakek Hyogoro tersenyum tipis dan melirik Nagato yang sudah semakin bertambah kuat, sebuah kebanggan sebagai guru karena memliki murid yang berbakat.
Nagato bersujud dan menundukkan kepalanya ke pasir menghadap gurunya yang telah menyelamatkannya berkali - kali, mengajarinya cara bertahan hidup dan tentang sebuah arti hidup. Nagato menggertakkan giginya agar tidak menangis, tetapi luapan emosinya yang tertahan mulai keluar dengan perlahan.
"Bukankah kau membenci kata - kata perpisahan, Nagato?" Kakek Hyogoro melirik Nagato yang sedang bersujud padanya, "Aku tidak memaksamu untuk mengucapkan kata terimakasih padaku." Kakek Hyogoro melihat Nagato yang menahan tangisannya.
Nagato menggertakkan giginya, menguatkan perasaannya, tangannya menggenggam pasir dengan begitu erat, seolah - olah dia tidak ingin membiarkan air matanya tumpah.
"Nagato. Apa kau bahagia ketika aku menganggapmu sebagai cucuku?" Kakek Hyogoro menatap bara api yang berkobar mengurung dirinya.
Nagato memejamkan matanya dan air matanya tumpah, kedua tangannya menggenggam pasir pantai semakin erat, suara gertakkan giginya terdengar. Hati Nagato semakin pedih dan bahagia mengingat saat - saat dirinya berlatih bersama Kakek Hyogoro. Satu hal yang Nagato rasakan saat ini, dia sangat bersyukur mempunyai guru sekaligus kakek seperti Kakek Hyogoro.
"Aku sangat bahagia! Kau adalah kakekku sekaligus guru yang sangat berjasa di dalam hidupku!" Nagato berteriak dan menangis, dahinya dia benturkan ke pasir sebelum meneriakkan seluruh perasaannya pada Kakek Hyogoro, "Aku akan membalas jasamu suatu hari nanti!" Nagato menggigit bibirnya karena mencoba menahan tangisannya, tetapi kesedihan yang merayapi tubuhnya tidak terbendung lagi.
Kakek Hyogoro tertawa bahagia mendengar perkataan Nagato yang sejujurnya, tidak pernah dia merasa sebahagia ini setelah istri, anak dan muridnya telah tiada.
Nagato memadamkan api yang dia buat, perlahan suara langkah kaki Kakek Hyogoro terdengar di telinganya. Dayungan perahu dan suara air membuat Nagato tidak mampu melihat Kakek Hyogoro yang pergi meninggalkannya, kepalanya masih menyentuh pasir pantai dan tangannya lebih erat lagi menggenggam pasir pantai dan bebatuan.
"Terimakasih Kakek Hyo. Aku sangat bahagia menjadi cucumu." jeritan hati Nagato setelah mendengar suara dayungan perahu semakin tidak terdengar di telinganya.
___
**Hai Sahabat Pena Bulu Merah. Ada sedikit catatan dari author nih.
50 komentar : Bonus 1 chapter.
300 Like : Bonus 1 chapter.
1000 vote : Bonus 2 chapter.
#Kalau mood author bagus, crazy up bisa lebih.
Note : Author hitung dari periode mingguan ini ya sahabatπ€ 50 komen bonus 1 chapter loh. Setiap periode mingguan selesai, nanti author crazy up kalau target di atas tercapai. Akan banyak kejutan di Arc CINTAπ.
IG : Pena_Bulu_Merah
__ADS_1
WA : π**