
Seminggu telah berlalu semenjak Kakek Hyogoro, Litha dan Nagato menginap di kediaman Bangsawan Minami. Hari ini mereka akan menjadi pengawal Bangsawan Minami berkunjung ke Kota Kumori.
Kereta kuda mewah yang di naiki Kazuo bersama keluarganya memiliki kuda yang terlihat kuat. Istri dari Kazuo terlihat manis dengan mata yang sipit, dia memiliki dua orang anak. Anak pertamanya laki - laki dan anak keduanya seorang perempuan.
"Sayang, apa kita akan baik - baik saja, Kota Kumori selama satu tahun terakhir memiliki rumor yang aneh." ucap perempuan berwajah keibuan dengan mata yang sipit itu, dia adalah istri dari Kazuo yang bernama Minami Aiko.
Minami Aiko memiliki dua orang anak, anak laki - lakinya bernama Minami Kazue dan anak perempuannya bernama Minami Eiko. Minami Kazue berumur empat belas tahun dan berwajah tampan, bersih selayakanya seorang bangsawan. Sedangkan Minami Eiko memiliki wajah yang mirip dengan ibunya, dia memiliki mata yang sipit dan umurnya sama seperti Nagato dan Litha yang masih sepuluh tahun.
"Aku sudah memiliki rencana, apalagi aku telah menyewa tiga pendekar." jawab Kazuo menyentuh pinggang istrinya dan menenangkannya.
"Dua anak muda? Mereka masih seperti Eiko?" gumam Aiko memandang Nagato dan Litha yang memakai topenh rubah putih.
"Lihat saja nanti, aku akan menghentikan rencana wali kota itu. Karena aku sudah menebak jika dia ingin menguasai Provinsi Selatan, mengundang Keluarga Minami dan menghabisinya adalah cara yang tepat." batin Kazuo sambil menghela napas panjang.
"Apa mereka berdua masih anak - anak?" tanya Aiko menatap Kazuo yang melamun.
"Oh, mereka berdua memang masih anak - anak." jawab Kazuo menoleh kebelakang melihat Nagato dan Litha.
Aiko menatap tajam Nagato, dia terlihat begitu penasaran dengan wajah Nagato. Walaupun tertutup topeng rubag putih, tetapi bentuk tubuh dan rambutnya memancarkan ketampanan Nagato.
Nagato dan Litha berjalan di samping kereta kuda mewah milik Bangsawan Minami. Sebuah kereta kuda yang mewah tersebut ditarik oleh tiga kuda yang terlihat kuat. Tidak ada penjaga lain yang mengawal Bangsawan Minami, sangat terlihat alasan Kazuo menyewa Kakek Hyogoro. Karena dia ingin menghentikan rencana wali kota dari Kota Kumori, jika melihat hal tersebut Kazuo sangat mempercayai kekuatan Kakek Hyogoro.
Anak pertama Kazuo dan Aiko yang bernama Kazue terus menatap Litha, sedangkan anak kedua mereka yang bernama Eiko terus menatap Nagato.
Nagato yang sadar dirinya terus dilihat oleh Eiko, sehingga dia merasa sedikit risih, tetapi Nagato memilih terlihat tidak peduli dan terus berjalan mengikuti kecepatan kereta kuda yang Bangsawan Minami naiki.
Bangsawan Minami adalah bangsawan besar seperti Kita, Kochi, dan Seifu. Mereka memiliki pengaruh yang sangat besar di setiap provinsi yang ada di Kekaisaran Kai.
Waktu terus berlalu dan perlahan matahari terbenam pelan - pelan, rombongan kereta kuda mewah Bangsawam Minami berhenti. Nagato dan Litha mengolah pernapasan mereka agar aliran napasnya tetap teratur.
__ADS_1
"Nagato, apa kau merasa lelah?" tanya Litha yang terengah - rengah karena terus berlari berusaha mengikuti ritme kecepatan Nagato.
"Lumayan." jawab Nagato singkat setelah itu dia menghela napas panjang.
Kakek Hyogoro mengajak Nagato dan Litha untuk membuat api unggun seperti biasanya. Kazuo dan Aiko kagum dengan Nagato dan Litha yang dapat membuat api unggun dengan mudah, bahkan mereka berdua juga membakar daging ayam dan kelinci. Kakek Hyogoro menangkap kedua hewan tersebut untuk makan sore.
Mereka bertiga tetap memakai topeng rubah putih, demi menjaga identitas mereka. Karena Kakek Hyogoro khawatir jika Nagato dan Litha tidak memakai topeng, maka banyak orang yang menghafal dan mengingat wajah mereka berdua.
Selesai makan sore, Nagato menyendiri dan berlatih mengolah pernapasan. Dia ingin terus berlatih hingga dia cukup bertarung tanpa membuat tubuhnya melemah. Karena penyakitnya tidak bisa disembuhkan, dia sadar jika dirinya tidak akan berumur panjang.
"Selagi hidup, aku harus hidup tanpa penyesalan, agar kematianku suatu saat tidak menyisakan penyesalan." batin Nagato sambil terus melatih pernapasannya.
Eiko memandang punggung Nagato dari kejauhan, ingin menghampirinya tetapi dirinya sadar jika Nagato sedang fokus berlatih.
"Siapa dia? Aku ingin berkenalan dengannya?" gumam Eiko lirih, matanya terus memandang Nagato sebelum dia tertidur.
Hari sudah semakin malam, sinar rembulan bersinar dengan terangnya. Kakek Hyogoro tidak bisa tidur sehingga dia lebih memilih berjaga disamping kereta kuda. Sedangkan Litha sudah tertidur di samping Nagato yang sedang mengolah pernapasan.
Nagato duduk bersila dengan posisi yang nyaman menurut dirinya, dia terus berlatih pernapasan hingga pagi tiba. Perlahan ketika Nagato membuka matanya cahaya matahari begitu terasa diwajahnya.
"Aku berlatih semalaman..." gumam Nagato pelan kemudian dia membaringkan tubuhnya.
Litha bangun dan melihat Nagato yang sedang menikmati kehangatan cahaya matahari pagi.
"Apa kamu berlatih semalaman?" tanya Litha penasaran menatap Nagato.
"Ya." jawab Nagato singkat kemudian dia bangkit berdiri.
Nagato kembali mengawal Bangsawan Minami, dalam perjalanan Nagato sedikit mengantuk karena dia berlatih semalaman. Bahkan dia berlari sambil menggelengkan kepalanya berkali - kali, karena rasa kantuknya yang semakin besar.
__ADS_1
"Sial! Mataku buram dan pandanganku kabur..." batin Nagato ketika berhenti berjalan dan melihat kereta kuda mewah dengan tidak jelas.
Litha menoleh kebelakang karena melihat Nagato berhenti berjalan, kemudian dia menghampiri Nagato.
"Nagato, kamu kenapa?" tanya Litha pada Nagato dengan penuh kekhawatiran.
Nagato ingin menyentuh Litha tapi dia tidak mendapati pundak Litha.
"Litha, mataku tidak bisa melihat." jawab Nagato panik karena dia tidak menyangka dia akan mengalami hal seperti ini.
Kakek Hyogoro juga berhenti dan menghampiri Nagato.
"Nagato tubuhmu itu terlalu rapuh, kau tidak boleh memaksakan tubuhmu lebih dari porsi latihan yang diberikan kakekmu ini." saran Kakek Hyogoro memandang wajah Nagato yang pucat.
Nagato terdiam sebentar, dia merenung mengingat ibunya. Sarah di mata Nagato memiliki senyuman yang membuat dirinya merasa hangat, tetapi Nagato saat itu sadar jika ibunya memiliki suatu penyakit. Penyakit itulah yang membuatnya lebih memilih mati bersama Pandu dibanding hidup bersama dirinya.
"Litha..." ucap Nagato lirih, sudah lama Nagato tidak memasang wajah murung seperti ini.
Litha yang mengerti maksud Nagato membuka pakaian atasnya dan menyuruh Nagato menggigit lehernya.
Nagato mengigit leher Litha dan menghisap darahnya, perlahan kesadarannya kembali dan dia dapat melihat dengan jelas.
"Terimakasih Litha." ungkap Nagato dengan tulus mengatakannya.
"Sama - sama..." balas Litha sambil tersenyum manis pada Nagato.
"Aku akan menolongmu setiap waktu, karena kau akan melindungiku." bisik Litha ditelinga Nagato. Kemudian mereka berdua menatap satu sama lain sebelum melanjutkan perjalanan.
Kakek Hyogoro khawatir dengan kondisi Nagato, dia tidak menyangka penyakit Nagato akan muncul di usianya yang masih muda.
__ADS_1
"Satu - satunya yang dapat menyelamatkan Nagato adalah kekuatan misterius yang ada ditubuhnya..." batin Kakek Hyogoro sambil mengelus dagunya.
"Kemungkinan Litha dan anak perempuan Shirayuki juga dapat membuat Nagato sembuh..." batin Kakek Hyogoro menambahkan.