
Hanabi, Iris dan Litha tidak mengalami masalah saat menghadapi prajurit militer Kekaisaran Kinai. Sekarang mereka bertiga berhadapan langsung dengan dua dari anggota Akuyaku.
Hanabi bergerak melawan Ren. Putaran tebasan serta ayunan tebasannya berganti-ganti. Hanabi mengayunkan pedangnya dari samping, namun tetap masih dapat ditahan oleh Ren.
“Hanabi, jangan berhenti bergerak!” Litha menyerang Ren, sembari sesekali melepaskan tebasan jarak jauh mengincar Hyuga. Gadis manis itu melawan Ren dan Hyuga dari jarak jauh.
Hanabi mengangguk lirih mendengar perkataan Litha dan mulai memainkan pedangnya lebih lincah lagi. Hembusan angin yang selalu keluar dari tebasan pedang Ren membuat daun-daun sakura milik Hanabi terhempas.
Ketika Hanabi dan Ren bertarung dengan sengit, sebuah tebasan kapak yang meretakkan tanah mereka hindari. Hyuga menggunakan kekuatan dari Kapak Angin miliknya dan membuat Hanabi menjaga jarak.
Iris dan Litha juga menjaga jarak. Mereka bertiga kini mengamati terlebih dahulu sebelum menyerang kembali. Iris memanipulasi aura tubuhnya dan membentuk puluhan pedang es sebagai senjatanya. Sementara Litha berhadapan langsung dengan Hyuga, dengan bantuan Iris di belakang.
Hanabi menyerang Ren dengan permainan pedangnya yang lincah. Serangan Hanabi, Iris dan Litha berganti-gantian. Semakin lama, serangan kombinasi yang mereka lakukan membuat Ren dan Hyuga mendadak menjadi lebih serius.
Hanabi tidak hanya menyerang Ren saja, tetapi dia juga menyerang Hyuga, begitu juga dengan Litha. Sedangkan Iris membantu mereka berdua dari belakang. Serangan mereka bertiga memang telah searah dan semakin serasi, namun Hyuga mematahkan serangan tersebut dengan ayunan kapaknya.
“Ledakan Penghancur Udara!”
Kapak Hyuga menghancurkan puluhan pedang es milik Iris. Angin disekitar Hyuga mulai memadat dan membentuk tebasan kapak berbentuk sabit.
“Lautan Sakura Musim Semi!”
Hanabi mencoba menahannya dan membiarkan Iris menyerang Hyuga, sedangkan Litha menyerang Ren. Benturan kedua teknik itu membuat ledakan yang cukup besar. Tubuh Hanabi terhuyung sesaat, namun setelahnya dia kembali membantu serangan.
“Keindahan Alam Salju Tak Terbatas!”
Iris menggunakan teknik milik Hisui. Tumbuhan es keluar dari tanah dan merambat ke atas. Perlahan tapi pasti tumbuhan es itu mengincar Hyuga dan Ren. Ketika tangan Iris meremas, tumbuhan es tersebut langsung melilit tubuh Ren dan Hyuga.
__ADS_1
“Sial! Tidak sempat!” Ren mengumpat karena tidak sempat menggunakan jarum suntik untuk mengubah wujudnya menjadi Hewan Buas.
“Siren!” Tebasan pedang Litha bagai nyanyian di tengah lautan. Air yang mengalir bagaikan ketenangan yang membawa Ren menuju kematian. Setelah melihat Ren menghembuskan napas terakhirnya, Litha mengibaskan pedangnya dan menatap Hanabi yang sedang berlari menebaskan pedangnya kepada Hyuga.
“Tarian Pedang Sakura!”
Hanabi memainkan pedangnya dengan indah. Tebasannya menciptakan daun-daun sakura yang berterbangan dan membentuk putaran. Sebuah putaran yang memutari tubuh Hanabi. Bilah pedangnya yang tajam menebas dada Hyuga dalam. Serangan gabungan mereka bertiga berhasil. Tetapi ilusi Hutan Cakrawyuha belum juga berakhir.
“Kita bertiga harus mencari orang yang meniup serulingnya. Aku bersama Kakak Masayu pernah bertemu dengan pemilik seruling ini saat di Gunung Menangis...” Ucap Litha kepada Hanabi dan Iris. Mata Litha memejam sambil merasakan hawa keberadaan disekitarnya. Samar-samar aura yang terasa panas namun bagi dirinya itu adalah aura yang hangat. Sebuah aura yang sangat dia kenal.
“Kakak So—” Litha tersenyum canggung, “Nagato!” Tangan Litha melambai ketika melihat Nagato sedang berlari ke arahnya.
Nagato menjelaskan kepada Hanabi, Iris dan Litha jika untuk menghancurkan ilusi Hutan Cakrawyuha adalah dengan membunuh orang yang memainkan serulingnya. Namun ketiga gadis muda itu telah mengetahuinya.
“Bukankah aku yang memberitahumu...” Litha tertawa renyah dan menatap wajah Nagato yang sedikit berbeda.
“Benar juga...” Nagato menjawab sambil menatap mayat Ren dan Hyuga yang tergeletak di tanah.
‘Warna hitam ditubuhnya itu apa. Apakah penyakit kulit atau hanya kutukan...’ Hanabi justru memikirkan hal yang aneh dalam hatinya ketika melihat Nagato.
***
Sementara itu Shirayuki yang berada di tanah yang kering. Bahkan air di dalam sungai juga ikut mengering. Saat ini Shirayuki berada di salah satu lapisan ilusi Hutan Cakrawyuha.
Dua anggota Spider yang bernama Flock dan Windcloud menjadi lawannya. Serangan gabungan dari angin dan api membuat Shirayuki tidak diuntungkan. Serangan es yang dia lancarkan selalu mencair.
Shirayuki menggunakan auranya sebaik mungkin dan tidak ingin membuang-buangnya secara tidak perlu. Karena serangannya selalu dimentahkan, Shirayuki memejamkan matanya dan mengolah pernapasan. Badannya menghindari pukulan dari Windcloud dan Flock.
__ADS_1
“Sial! Kenapa bisa ada wanita secantik ini?!” Flock memanipulasi aura tubuhnya menjadi api dan melepaskan ratusan pukulan api kepada Shirayuki.
“Aku belum pernah melihat wanita seperti dia sebelumnya. Pantas saja banyak laki-laki yang membicarakan namanya!” Windcloud menghembuskan angin padat dari mulutnya. Bola-bola angin itu memadat dan meledak di tanah ketika Shirayuki menangkisnya dengan pedang es.
Aura disekitar tubuh Shirayuki sekarang terasa sangat dingin dan membungkus tubuhnya. Shirayuki menciptakan pedang es di telapak tangan kanannya dan menyerang Windcloud dan Flock secara bersamaan.
Flock dan Shirayuki bertukar serangan. Walau api dari pukulan Flock dapat menahan bahkan menhancurkan pedang es milik Shirayuki. Tetapi kekuatan Shirayuki masih jauh diatas Flock walau perempuan berparas cantik itu telah menggunakan aura tubuhnya berlebihan.
Shirayuki hanya mengandalkan tekad dan kemauannya. Pertempuran ini sudah tidak menguntungkannya, dan tidak menguntungkan pihak Kekaisaran Kai juga. Tetapi bagaimanapun Shirayuki masih mempunyai sesuatu yang harus dia lindungi.
Setiap Flock menghancurkan pedang es miliknya, Shirayuki membentuknya kembali dan memainkan pedangnya lebih lincah lagi.
Shirayuki terus melancarkan serangan kepada Flock dan Windcloud tanpa henti. Permainan pedangnya sangat anggun dan indah. Bahkan sesekali Flock dan Windcloud terkagum-kagum, hingga lupa jika mereka berdua sedang bertarung.
“Jangan lengah!” Shirayuki menebas dada Flock cukup dalam. Teriakan Flock menggema ditelinganya, dalam satu kali putaran ketika Shirayuki menebaskan pedangnya kembali. Pusaran angin yang dingin itu memadat dan membunuh Flock dalam satu kali putarannya.
Windcloud menggigit bibir bawahnya hingga berdarah karena sadar dirinya terlalu bodoh dan lengah saat bertarung melawan Shirayuki. Sekarang serangan dari Windcloud mampu dihentikan Shirayuki dengan mudah.
“Membekulah dan mati!” Shirayuki melempar pedang es miliknya hingga menembus dada Windcloud. Telapak tangannya kirinya meremas ketika pedang es tersebut menancap dan menembus tubuh Windcloud.
Tubuh Windcloud membeku dan hancur menjadi serpihan karena mentalnya sudah terlalu takut melawan Shirayuki.
Mulut Shirayuki kembali memuntahkan darah. Bibir tipis Shirayuki merekah dan napasnya terengah-rengah.
”Fubuki, Yuki...” Tanpa sadar Shirayuki meneteskan air mata. Perempuan dengan rambut putih itu kembali melayang di udara dengan salju-salju yang berjatuhan disekitarnya.
“Aku bukanlah seorang kakak yang baik ..., aku tidak bisa melindungi dan menjaga adik-adikku...” Shirayuki menggumam pelan sambil menyeka air matanya ketika merasakan aura milik Matsuri.
__ADS_1
Shirayuki menoleh melihat Matsuri yang bertarung melawan salah satu anggota Spider. Perlahan ilusi Hutan Cakrawyuha mengalami perubahan. Shirayuki mengamati perubahan yang terjadi. Bisa dibilang ilusi Hutan Cakrawyuha semakin menyempit.
“Dimana mereka bertiga... jangan sampai aku kehilangan mereka bertiga...” Shirayuki menggumam lirih sambil mencoba mencari keberadaan Nagato, Iris dan Litha.