Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 146 - Tangisan Kepedihan Litha


__ADS_3

Beberapa saat sebelum Iris datang menghampiri Nagato dan Hisui. Dalam kehangatan karena pangkuan Hisui dan kesejukkan karena hembusan angin, Nagato perlahan membuka matanya dan mendapati seorang gadis bermata sayu hendak mencium keningnya untuk kedua kalinya.


Jari telunjuk Nagato menyentuh bibir tipis Hisui dan perlahan dirinya mencoba untuk berdiri, wajah Hisui meroh merona melihat Nagato yang sedang menatap datar dirinya.


"Apa kau ingin cari kesempatan ketika aku tertidur?" Nagato menaikan alisnya dan berdiri untuk kembali duduk. Perlahan dia menghela napas panjang sebelum kembali menatap Hisui.


Hisui salah tingkah karena tidak menyangka Nagato melihat dirinya yang hendak mencium kening Nagato.


"A-Aku hanya ingin mengusap keningmu saja!" Hisui menatap tajam Nagato dengan tatapan mata sayunya.


Nagato berdiri dan menjaga jarak dengan Hisui yang mengikutinya berdiri.


"Mengusap? Jelas - jelas aku melihat bibir-" belum selesai Nagato berbicara, tangan Hisui menutup mulut Nagato dengan tangannya secara paksa.


"Jangan katakan hal yang memalukan!" jerit Hisui sambil terus menutup mulut Nagato.


Nagato memegang tangan Hisui dan sekarang dirinya sangat kesal dengan gadis bermata sayu tersebut.


"Beraninya kau menutup mulutku!" Nagato melepas tangan Hisui dan kembali menjaga jarak dengannya, tetapi Hisui masih tetap mengikutinya.


"Aku bilang jangan ikuti aku!" tegur Nagato dengan nada penuh emosi.


"Aku adalah tuan putri, kau harus lebih sopan kepadaku!" Hisui merengek memegang tangan Nagato kembali.


Nagato kewalahan dengan sikap manja Hisui yang terus memaksanya, mereka berdua tidak sadar dengan kehadiran Iris yang sedang melihat mereka.


"Naga?!" Iris sengaja menghampiri Nagato dan menyapanya.


Nagato dan Hisui menoleh melihat Iris yang datang sendirian menghampiri mereka berdua.


Hisui langsung diam dan tidak memegang tangan Nagato. Tatapan Iris yang dingin membuatnya bersembunyi di balik punggung Nagato.


"Hei, apa yang kau lakukan?" tanya Nagato melihat Hisui yang bersembunyi di balik punggungnya.


"Aku hanya ingin bersembunyi..." jawab Hisui pelan sambil tangannya memegang baju Nagato.


Iris mencoba bersikap tenang dan perlahan dia menghampiri Nagato.


"Apa yang kalian berdua lakukan?" tanya Iris menatap Nagato tajam dan dingin. Tatapannya begitu menusuk seperti saat mereka berdua baru pertama kali bertemu.


"Itu bukan urusanmu!" jawab Nagato dengan nada penuh kekesalan, mendengar jawaban Nagato yang terlihat tidak peduli dengan Iris, gadis yang sedang bersembunyi di balik punggung Nagato merasa begitu senang.

__ADS_1


Iris terkejut melihat tatapan Nagato yang terlihat tidak peduli dengannya, reflek tangan Iris menampar pipi Nagato.


"Naga ... aku sangat mencintaimu," air mata menetes dari kedua bola mata indah Iris,"Ternyata selama ini aku salah menilaimu!" Iris berlari meninggalkan Nagato tetapi tangannya dipegang Nagato.


Nagato mengusap air mata Iris dan menenangkan gadis tersebut.


"Aku bukanlah laki - laki yang baik. Kamu belum pernah melihat sosokku yang sebenarnya," Nagato merapatkan giginya dan tangannya menghapus air mata Iris yang membasahi wajah gadis tersebut, "Aku hanya memiliki ambisi. Ambisi terbesarku hanya untuk membunuh seseorang!" ungkap Nagato setelah menghapus seluruh air mata yang keluar dari mata Iris.


Iris tidak menangis lagi dan matanya menatap Nagato penuh makna, tidak berapa lama gadis bermata sayu keluar menatap tajam Nagato dan Iris yang terlihat begitu dekat.


"Kita tumbuh dengan cara yang berbeda, aku tumbuh dengan rasa sakit dan penderitaan." ucap Nagato sendu dan berjalan pelan meninggalkan Hisui dan Iris.


"Membunuh?" Iris menaikan alisnya mendengar perkataan Nagato yang membuatnya kebingungan, "Apa kau harus membunuh orang itu? Dan mewujudkan ambisimu itu?!" teriak Iris pada Nagato.


Langkah kaki Nagato berhenti, tak berapa lama Nagato menoleh melihat Iris.


"Ya," balas Nagato dengan singkat.


Hembusan angin menerpa tubuh Nagato, Iris dan Hisui. Suara dan tatapan Nagato sangat dingin, menusuk dan terlihat kebencian di mata Nagato.


Iris dan Hisui terdiam tanpa berbicara sepatah kata pun untuk menghentikan Nagato. Terlihat di mata mereka berdua, jika Nagato memiliki masa lalu yang membuatnya bersikap sedemikian rupa.


Melihat punggung Nagato yang semakin menjauh dari pandangan matanya, kesedihan mulai merayapi seluruh tubuh Iris. Teringat perkataan Nagato ketika mereka berdua sedang bersama.


Perkataan Nagato terus terngiang di telinga Iris dan itu membuatnya semakin merasa bersalah, seharusnya dia tidak membiarkan Nagato sendirian.


Iris merapatkan giginya dan mengikuti Nagato yang pergi ke arah Asrama Salju Rembulan. Hisui yang masih kebingungan juga pergi mengikuti Iris dari belakang.


Nagato terus melangkahkan kakinya dan perasaan hatinya hari ini begitu buruk, entah mengapa semenjak mendengar perjodohan Iris dan Hiragi seluruh perasaannya sangat hancur.


Perasaan muak ketika melihat Iris dan Hiragi berdua juga membuat Nagato semakin tenggelam dalam kesepian tak berujung. Hari ini adalah puncak dari segalanya, kesedihan dan perasaannya yang hancur semakin terlihat ketika matanya melihat ada Kaisar Hizen, Yuki dan Hiragi berada di depan pintu Asrama Salju Rembulan bersama Emi dan Shirayuki.


Nagato menabrak Hiragi dan sama sekali tidak menyapa Kaisar Hizen. Detak jantungnya memainkan melodi penuh kebencian yang gelap, langkah kakinya menghentakkan suara penuh amarah.


Hiragi berdecak kesal melihat seorang pemuda yang menabraknya.


"Beraninya kau menabrakku!" Hiragi memegang pundak Nagato dengan kasar. Tidak berapa lama Kaisar Hizen dan Yuki menoleh melihat anaknya yang sedang menatap Nagato penuh kemarahan.


Mata Kaisar Hizen dan Yuki melebar melihat sosok pemuda berparas tampan yang begitu mirip dengan Pandu. Hanya saja tatapan mata Nagato yang dingin dan begitu tajam membuatnya berbeda dengan Pandu yang selalu ramah senyum kepada orang lain.


Kaisar Hizen penasaran dengan identitas Nagato karena tidak dia sangka akan melihat pemuda yang mengingatkannya pada sosok adiknya.

__ADS_1


"Lepaskan tanganmu!" tegur Nagato menatap dingin Hiragi.


"Beraninya kau-" belum selesai Hiragi berbicara, sebuah pukulan tangan Nagato tepat mengenai wajahnya.


"Aku bilang lepaskan!" teriak Nagato berdiri dengan mengeluarkan seluruh auranya yang berwarna emas dan putih.


Kaisar Hizen dan Yuki tidak bisa bergerak, sedangkan Emi dan Shirayuki terkejut melihat Nagato yang memukul Hiragi yang merupakan anak dari Kaisar Hizen.


"Ada apa dengan tatapanmu itu?" Nagato menatap dingin Hiragi yang tersungkur di tanah bersalju, "Berdiri! Jika kau ingin membalasku!" tegas Nagato dengan senyuman sinis di wajahnya.


Iris dan Hisui mematung melihat Nagato yang memukul Hiragi. Aura keluar dari tubuh Nagato begitu besar dan sangat berbeda dengan anak - anak seusianya.


"Nagato!" suara yang tidak asing membuat Nagato tenang, matanya menoleh melihat Dorobo yang datang bersama Celes dan Kuas dari arah kamarnya yang ada di Asrama Salju Rembulan.


Melihat Litha yang menangis, membuat Nagato merasakan firasat buruk.


"Hoi, Litha!" Nagato berlari memegang pundak Litha, "Katakan padaku! Apa yang terjadi?!" Nagato masih tetap memegang pundak Litha.


Dorobo menyentuh pundak Nagato dan memberi isyarat agar tidak bertanya pada Litha.


"Nagato, sebenarnya-" perkataan Dorobo dipotong oleh Kuas.


"Biar aku yang menjelaskannya bos!" potong Kuas dengan kedua tangannya yang mengepal erat.


Kuas merapatkan giginya dan membulatkan tekadnya sebelum menjelaskan tentang kematian Asha pada Nagato.


"Nagato ... dengarkan perkataanku," Kuas menatap Nagato tajam, "Asha telah mati."


Perkataan Kuas membuat Nagato terdiam, seluruh inderanya terasa berhenti. Waktu di sekitarnya terasa telah mati.


"Apa katamu?" Nagato masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan Kuas.


"Biar aku jelaskan..." Kuas mengerti kenapa Nagato masih tidak percaya, tidak ada pilihan lain baginya untuk menjelaskan semuanya kepada Nagato.


Di luar Asrama Salju Rembulan berkumpul seluruh Keluarga Kaisar Hizen yang sedang membantu Hiragi berdiri, sedangkan Shirayuki dan Iris bisa melihat jika ketiga orang pencuri yang datang bersama Oichi sangat mengenal Nagato.


Emi menyuruh Oichi, Tika dan Hika mengambil obat - obatan untuk segera mengobati Hiragi.


"Siapa anak muda ini? Dia berani memukul anak kaisar, apa dia yang dijodohkan dengan Iris?" batin Emi menatap Nagato dengan tajam.


___

__ADS_1


IG : pena_bulu_merah


__ADS_2