
“Kakak Tampan!” Hisui terus mengejar Nagato yang sedang berdiri mematung di dekat Danau Sakura.
”Kakak Iris, Kakak Litha...” Hisui melihat Iris yang memeluk Litha dan bersandar di dekat pohon sakura yang berguguran.
Nagato berjalan mendekati Litha dan ikut memeluk tubuh gadis muda tersebut.
“Litha...” Nagato menyeka air mata Litha dan memegang tangan Litha.
Iris baru menyadari keberadaan Nagato yang duduk di samping Litha bersamaan dengan Hisui yang duduk di sampingnya.
“Nagato, Hisui...” Iris masih dalam posisi memeluk tubuh Litha, kemudian dia menatap Nagato yang ikut memeluk Litha.
Terlihat kesedihan di wajah Nagato namun pemuda itu tidak mengeluarkan air mata setetes pun.
Hisui menjadi canggung melihat Nagato dan Iris yang memeluk tubuh Litha. Gadis bermata sayu itu bisa mengetahui Litha dan Nagato baru saja kehilangan orang yang berharga dalam hidup mereka.
“Litha...” Nagato bergumam ketika melihat Litha memeluk tubuhnya dengan sangat erat. Iris membiarkan Litha memeluk Nagato karena dia sendiri tidak merasa cemburu ketika Nagato dekat dengan Hisui dan Litha.
”Nagato... Kakek! Kakek Hyogoro!” Litha beteriak histeris di pelukan Nagato. Sudah lama Nagato tidak melihat Litha menangis, tetapi setiap deraian air mata yang keluar dari pelupuk mata Litha membuat hati Nagato teriris.
“Litha, kita harus tetap tabah. Aku ada disini, dan kita berdua harus hidup...” Nagato berkata lirih dan memeluk Litha sangat erat, “Untuk saat ini menangis lah, keluarkan seluruh kesedihanmu...”
Nagato menyatukan keningnya dengan kening Litha. Kedua tangannya menyeka air mata Litha. Terlihat mata bulat Litha yang indah tidak henti-hentinya mengeluarkan air mata.
Iris dan Hisui menemani Nagato dan Litha yang sedang saling memberi semangat, kedua gadis muda itu sadar jika dari semua orang hanya Nagato yang bisa mengerti perasaan Litha, begitu juga dengan sebaliknya.
“Nagato, kamu harus tetap hidup. Jangan tinggalkan aku!” Litha kembali menangis dan memeluk tubuh Nagato lebih erat dari sebelumnya.
“Aku janji, aku akan hidup. Aku akan mencari obat untuk penyakit jantungku ini dan hidup sampai aku menemukan mimpiku sendiri!” Nagato memeluk Litha dan menyandarkan gadis tersebut ke dadanya. Sementara itu dirinya bersandar pada pohon sakura.
Litha terus menangis hingga malam berlalu dengan tenang, Nagato mengusap rambut Litha, matanya menatap Litha yang sudah tertidur di dadanya.
Walau dalam keadaan yang berkabung dipenuhi kesedihan, dunia tetap berjalan seperti seharusnya. Malam yang berbintang yang berwarna itu bagi Nagato dan Litha hanyalah pekat malam Kegelapan yang memilukan.
“Iris, terimakasih sudah menjaga Litha...” Nagato tersenyum pada Iris. Kemudian dia memejamkan matanya, namun sulit untuk menyembunyikan kesedihannya.
“Aku harap ini mimpi...” Nagato menggumam pelan dan meneteskan air mata yang berlinang. Litha terbangun dan melihat Nagato yang menangis.
Nagato menutup wajahnya, dia tidak ingin Hisui, Iris dan Litha melihatnya yang sedang menangis, namun tangan Litha menahan tangan Nagato.
“Nagato...” Litha membenamkan wajah Nagato ke dadanya dan membiarkan pemuda itu menumpahkan seluruh kesedihannya. Di tengah malam yang tenang itu, Litha kembali menangis.
Iris dan Hisui ikut memeluk tubuh Nagato dan Litha. Mereka berempat saling berpelukan, mendengar tangisan Nagato dan Litha yang memilukan, Iris dan Hisui juga ikut menangis. Mereka berdua menangis karena secara tidak sadar Nagato dan Litha masih saudara bahkan bagian keluarga mereka berdua.
Mereka berempat menangis bersama di bawah sinar rembulan yang dengan lembut menyinari perairan Danau Sakura.
“Nagato...” Litha melepaskan pelukannya dan menatap Nagato, “Aku tidak sempat menceritakan pada Kakek tentang namaku yang sebenarnya... Tetapi, aku ingin kamu mulai sekarang mengingatku tidak hanya sebagai Novelitha, melainkan Novelitha Von Azbec...”
Nagato membuka wajahnya yang dia tutupi dengan kedua telapak tangannya, kemudian dia memegang tangan Litha.
“Jadi selama ini kamu adalah adik sepupuku...” Nagato tak habis pikir, dalam kesedihannya yang masih tersisa, dia masih bisa menemukan secercah kebahagiaan, “Litha, jangan pergi dariku...”
Baru pertama kali Litha, Iris dan Hisui melihat Nagato yang memiliki kepribadian begitu lemah.
“Aku ingin kalian bertiga tetap hidup, dan kalian semua yang telah menjadi temanku. Aku ingin kalian semua tetap hidup. Aku tidak ingin kehilangan siapapun lagi...” Nagato tanpa sadar memeluk ketiga gadis yang masih memeluk tubuhnya.
__ADS_1
Mereka bertiga membalas pelukan Nagato. Kini mereka berempat kembali menangis lirih di bawah sinar rembulan dan hembusan angin malam yang berhembus membawakan senandung kesedihan.
Kemudian Nagato melepaskan pelukannya dan mengusap wajahnya. Lalu pandangan matanya menatap Hisui, Iris dan Litha yang melakukan hal yang sama dengannya.
“Litha, namaku dan namamu sangat mirip. Mendiang ibuku memberiku nama Soren Von Azbec, sedangkan Mendiang ayahku memberiku nama Kagutsuchi Nagato...” Senyuman kesedihan menghiasi wajah Nagato.
“Maaf, Nagato. Maaf, selama ini aku menyembunyikan tentang ini padamu.” Litha mencoba tersenyum sambil melirik Iris dan Hisui yang mendengarkan pembicaraan mereka.
“Terimakasih Iris, Hisui. Kalian berdua telah menemani kami berdua...” Litha kembali tersenyum. Iris dan Hisui ikut tersenyum melihat Litha yang sudah kembali tenang.
“Aku adalah adik sepupu Nagato. Kalian pasti tahu sebuah kerajaan yang bernama Azbec. Mendiang ibuku lahir di sana, dia memiliki dua orang kakak perempuan. Kakak kedua yang bernama Sarah adalah ibu Nagato yang bernama lengkap Sarah Von Azbec, dan kakak pertamanya bernama Selina Von Azbec. Sedangkan nama mendiang ibuku adalah Sara Von Azbec...” Litha memberitahu identitasnya pada Iris dan Hisui.
“Aku juga pernah diceritakan ibu tentang kakak dan adiknya, tetapi aku tidak menyangka jika adik sepupuku sudah lama bersamaku...” Nagato tersenyum menatap Litha penuh makna dan memegang tangan Litha erat.
“Kakak Tampan, jadi kamu adalah anak dari adik ayahku?” Hisui menatap Nagato. Sedangkan Nagato mengangguk pelan dan tersenyum Hisui.
“Hisui, namaku Kagutsuchi Nagato dan Soren Von Azbec. Sejak umur empat tahun, ibuku menyuruhku untuk tidak memberitahu siapapun tentang nama pemberian ibuku, Soren Von Azbec...” Nagato menatap tanah dan memejamkan matanya, “Tetapi, aku rasa tidak apa memberitahu tentang ini pada kalian. Lagipula kita masih memiliki hubungan saudara...”
Hisui justru menangis, “Kakak Tampan, Kakak Litha!” Sementara Iris tersenyum karena dia sendiri tidak menyangka Nagato dan Litha adalah sepupu yang selama ini sudah bersama namun mereka berdua tidak menyadarinya karena Litha menyembunyikan identitasnya.
“Nagato, Iris, Hisui. Aku akan pergi dari Benua Ezzo suatu hari nanti, namun ada satu hal yang ingin aku lakukan. Aku akan giat berlatih dan membalaskan kematian Kakek Hyogoro dan orang tuaku. Aku akan membunuh semua orang yang mempunyai hubungan dengan Tujuh Dosa Besar Mematikan dan aku akan mencari orang yang membunuh Kakek Hyogoro!”
Untuk pertama kalinya Litha berteriak dan menunjukkan emosinya yang selama ini dia pendam. Gadis muda itu berdiri menatap sinar lembut rembulan di atas langit malam. Rasa sakit dan kebencian yang ada di hati Litha mulai menyeruak menjadi dendam.
“Aku akan membunuh Tujuh Dosa Besar Mematikan. Setelah itu aku akan membuktikan pada semua orang jika ada Paus Terbang di dunia ini!” Litha kembali berteriak. Nagato berdiri di samping Litha, kemudian disusul Iris dan Hisui.
“Bintang jatuh!” Hisui menunjuk langit malam yang berbintang.
“Aku akan menjadi seorang petualang yang membuktikan keberadaan Paus Terbang dan Pulau Kura-Kura Raksasa! Semoga permohonanku dikabulkan...” Litha membuat permohonan, kemudian gadis itu tertawa lirih diiringi tangisan kecilnya.
“Kalian buat permohonan. Kenapa diam?” Tindakan Litha membuat Hisui dan Iris tertawa lirih, kemudian mereka berdua membuat permohonan mengikuti Litha.
“Hisui ingin menikah dengan Kakak Tampan, walau permohonan Hisui mungkin tidak terkabulkan...” Hisui justru mengeluh dan tertawa lirih sendiri. Mendengar itu, Nagato, Iris dan Litha ikut tertawa lirih.
“Aku ingin menikah dengan orang yang kucintai dan menemani perjalanan Litha menjadi seorang petualang...”
Iris memegang tangan Litha dan mengutarakan perasaannya. Terlihat Litha membalas pegangan tangan Iris.
“Sepertinya kalian berdua mempunyai keinginan untuk menikah dengan Nagato?” Litha menatap Iris dan Hisui, “Jika kalian mencintai Nagato, jangan pernah tinggalkan dia sendirian. Walau Nagato terlihat kuat, sebenarnya dia hanyalah pemuda yang lemah...”
“Kenapa kamu malah jadi seperti orang tuaku, Litha?” Nagato memprotes perkataan Litha.
“Tapi itu kenyataan Nagato. Aku hanya ingin ada orang lain yang menyadari kelemahanmu itu selain aku. Karena kita tidak tahu sampai kapan kita akan bersama...” Litha menatap Nagato lama.
“Aku akan menemani perjalananmu, itulah permohonan dan mimpiku. Aku ingin melihat adik sepupuku ini hidup bahagia...” Nagato menyentuh kepala Litha.
“Hisui juga akan menemani perjalanan Kakak Litha!” Hisui mengangkat tangannya dan tersenyum ceria.
“Iya, iya. Sudah hampir pagi, lagipula pagi ini kita ada pertandingan babak 8 besar...” Litha membalikkan badannya dan berjalan pelan, “Ayo kembali.”
“Kakak Litha, saat kita dewasa nanti jangan lupa ajak Hisui pergi ya. Hisui akan menemani perjalanan kalian bertiga...” Hisui berlari menghampiri Litha.
Tak lama mereka berempat berjalan berdampingan, sebelum sampai di Penginapan Matahari Timur, mereka saling melingkarkan jari kelingkingnya dan mengucap janji.
“Ini adalah janji kita berempat. Kita akan pergi berpetualang bersama...” Litha tersenyum menatap Hisui, Iris dan Nagato.
__ADS_1
“Ya, Kakak Litha,” jawab Hisui. Kemudian Iris dan Nagato mengangguk.
Setelah itu Nagato berjalan memasuki Penginapan Matahari Timur, namun dia tidak sadar Hisui, Iris dan Litha membuat janji yang lainnya.
“Iris, Hisui, mungkin salah satu dari kita akan bersama Nagato dan menjadi pilihan Nagato. Aku ingin kita bertiga berjanji tidak akan meninggalkan Nagato sendirian jika saat itu tiba...” Litha berkata dengan tulus.
“Aku berjanji tidak akan membiarkan Nagato sendirian, aku ingin menolongnya untuk kembali bangkit dari masa lalunya...” Iris menanggapi perkataan Litha.
“Hisui juga berjanji Kakak Litha...” Hisui menatap Litha dan Iris lama.
“Aku bersyukur kalian menyukai Nagato bukan karena penampilannya. Kita hanya bisa berjanji dan merencanakan, tapi jika suatu saat aku tidak ada di samping Nagato, tolong kalian jaga Nagato. Karena dia adalah kakak sepupuku...” Litha tersenyum kepada Iris dan Hisui.
“Nagato mungkin tampan dan mengagumkan, tapi sebenarnya dia hanya pecinta makanan pedas dan orang yang tidak peduli dengan nyawanya sendiri. Mungkin jika kita membiarkannya sendirian saat Nagato sedang despresi, Nagato bisa menghilang kapan saja karena dia terlalu rapuh...” Litha menambahkan.
Kemudian Litha berjalan memasuki Penginapan Matahari Timur disusul Iris dan Hisui dari belakang.
***
Hari ini Nagato, Litha, Iris dan Hisui tidak tidur semalaman, mereka berempat berbagi rasa dan mengikat janji persahabatan masa kecil untuk masa depan yang telah menanti.
Di dalam kamar Nagato terlihat Litha membaringkan tubuhnya di ranjang Nagato dan memeluk pemuda itu.
“Kakak Soren...” Untuk pertama kalinya Litha memanggil Nagato dengan sebutan ‘Kakak’. Gadis manis tersebut membenamkan wajahnya pada dada Nagato.
“Litha, aku tidak menyangka jika kamu adalah adik sepupuku. Jujur aku bingung harus bersikap seperti apa, tetapi kita berdua mempunyai tujuan yang sama...” Nagato memeluk Litha tanpa malu karena dia menganggap Litha sebagai adik kandungnya sendiri yang harus dia jaga, ”Aku akan membebaskan Azbec, tempat asal kita berdua...”
“Nagato?” Litha menatap wajah Nagato dengam mata yang berkaca-kaca.
“Hmmm...” Nagato menatap Litha dan memperbaiki posisi tidurnya.
“Kumohon jangan mati...” Litha memegang kerah baju Nagato dan menariknya.
“Tentu...”
“Kumohon jangan mati,” ucap Litha kembali.
“Tenang aku tidak akan mati. Pasti ada cara untuk menyembuhkan penyakit jantungku. Aku akan mencarinya dan berusaha untuk tetap hidup demi kamu, Litha...” Nagato mengecup kening Litha dan memeluk gadis itu kembali, “Kita berempat akan pergi dari Benua Ezzo suatu hari nanti. Kita harus melihat sendiri dunia ini... Terimakasih telah mengajariku untuk mencari mimpi dan memberiku semangat untuk menjalani hidup, Litha...”
“Kakak Soren...”Litha merah merona wajahnya dan mengecup pipi Nagato, “Aku akan memanggilmu Nagato. Aku tidak terbiasa dengan hubungan aneh ini...”
“Novelitha Von Azbec...” Nagato baru sadar alasannya menganggap Litha sebagai seseorang yang harus dia jaga selama ini.
“Kakak Soren...” Litha tersenyum tipis dan kembali membenamkan wajahnya pada dada Nagato, “Panggil aku adikku yang manis. Aku ingin mendengarkan walau hanya sekali...”
Nagato merah merona wajahnya dan menatap mata Litha yang meliriknya, “Litha, adikku yang manis...”
Litha tertawa lirih dan beranjak berdiri dari ranjang untuk bergegas mandi sebelum pergi ke Arena Lingkaran Harimau.
“Novelitha Von Azbec...” Nagato menggumam pelan dan beranjak dari tempat tidurnya. Kemudian dia bergegas untuk mandi pagi sebelum berangkat menuju Arena Lingkaran Harimau.
———
K_ _ _ N Von Azbec
Kuy tebak nama kakak sepupu Nagato dan Litha di kolem komentar?
__ADS_1
Soren Von Azbec dan Novelitha Von Azbec...