Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 284 — Memilukan! Perpisahan Yang Menyakitkan!


__ADS_3

Hawk, Tsumasaki dan Budou telah terkapar karena menghirup gas beracun dari gas belerang. Terlihat Karakurt menusuk perut prajurit militer Kekaisaran Kai dan memotong kaki ataupun tangan mereka.


“Kalian bertiga adalah Jendral Kekaisaran Kai. Aku akan menyiksa kalian sebelum membunuh kalian bertiga dengan pedang kalian ini...” Karakurt tersenyum sinis menatap Budou.


“Hentikan tindakan gila kalian ini... Tidak ada satupun orang di negeri yang mengetahui pendekar silat yang kau bicarakan itu... Walau kau bertanya pada orang-orang dari Rakuza dan Kinai. Mereka akan memberikan jawaban yang sama...”


Budou dengan tubuh yang disalib menatap tajam Karakurt yang tersenyum sinis. Dia tidak mengedipkan matanya sedikitpun ketika Karakurt memotong kakinya.


“Aku hanya perlu membunuhmu. Tidak ada alasan yang lainnya. Semua yang berhubungan dengan orang-orang bermarga Kagutsuchi ataupun Prabu harus mati!” Karakurt memotong tangan kanan Budou.


Senyuman lebar menghiasi wajah Budou walau sekujur tubuhnya merasa kesakitan. Tapi saat ini dia tidak punya waktu untuk mengeluh ataupun meringis kesakitan.


“Kuharap ada orang yang membalas perbuatan keji kalian ini!” Budou berteriak dan tersenyum puas sebelum menghembuskan napas terakhirnya.


“Melawan kami? Jangan bercanda! Kekuatan militer Kekaisaran Bahamut adalah yang terkuat di dunia ini! Kalian tidak akan mengerti betapa mengerikannya dunia luar!” Karakurt membuang pedang yang dia gunakan untuk membunuh Budou. Lalu Karakurt mengambil pedang yang lainnya. Begitu banyak pedang yang berserakan di tanah, sehingga Karakurt dapat mengambilnya dengan mudah. Tanpa perlawanan dari orang-orang yang telah kehabisan darah ataupun mati karena tidak dapat menahan rasa sakit.


“Meskipun aku mati, aku tidak akan pernah melupakan wajahmu itu. Api tidak akan pernah padam walau kalian mencoba memadamkannya. Semua orang-orang dari Kekaisaran Kai yang mati disini ataupun yang bertarung disini adalah orang Kai yang sesungguhnya! Kau akan mendapatkan balasan dari perbuatanmu ini!” Tsumasaki menggoyangkan tangannya yang disalib.


Karakurt hanya tersenyum mendengar perkataan Tsumasaki. “Alasan itu sudah cukup bagiku untuk membunuh kalian!” Karakurt dengan cepat mengayunkan pedangnya pada kedua tangan Tsumasaki.


Terlihat Karakurt begitu menikmati saat menyiksa tubuh Tsumasaki. Pada akhirnya Tsumasaki mati karena ditusuk tepat di jantungnya.


“Oi, Karakurt! Sepertinya kita mendapatkan masalah!” Suara Black Rhino yang terkejut terdengar.


Karakurt menoleh melihat Black Rhino yang tersenyum lebar. Kemudian dia menatap Ignist yang berada di kota bagian selatan, tempat dimana dia telah menyiksa pendekar dari Kekaisaran Kai.


Tidak lama tubuh Karakurt bergemetar hebat. Matanya mendongak ke atas. “Hah? Tidak mungkin!”


___


Di sisi lain Raido yang bergerak dengan kecepatan tinggi langsung menyerang Nagato secara mendadak. Telapak tangannya membuka. Sebuah bola petir berwarna ungu dia arahkan pada perut Nagato.


Mulut Nagato memuntahkan darah segar. Beruntung Litha melapisi sekujur tubuh Nagato dengan aura.


‘Jika aku menggunakan kekuatan sihir lebih dari ini. Aku takut akan kehilangan ingatan. Tetapi aku lebih takut lagi jika harus kehilangan kalian berdua, Nagato, Iris...’ Litha membatin dalam hatinya dan memanipulasi mana disekitarnya.


“Bagus. Sepertinya gadis kecil itu yang memiliki kekuatan sihir pendukung. Aku akan membunuhnya!” Raido membentuk sebuah pedang dan langsung menusuk perut Litha. Tetapi suatu yang mengejutkan terjadi karena Iris memegang pedang petir tersebut dan melindungi Litha.


‘Aku selalu dilindungi oleh Litha dan Naga. Mereka berdua adalah orang yang sangat berharga dihidupku. Aku tidak ingin kehilangan siapapun lagi!’ Iris berteriak dalam hatinya.


Raido tersentuh melihat perjuangan ketiga anak muda yang saling melindungi. Dengan cepat dia menarik pedangnya dan menahan pukulan tangan Nagato.


“Beraninya kau menyentuh mereka!” Nagato melancarkan pukulan pada Raido. Namun hanya dalam satu kali pukulan petir Raido, tubuh Nagato terhempas ke belakang.


“Kekuatanmu itu masih belum dapat membunuhku!” Raido berkata dengan penuh emosi menatap Nagato yang tidak padam sedikitpun kemarahan di matanya itu.


Raido menendang tubuh Iris. Kemudian berniat membunuh Litha. Namun hal yang dia rencanakan adalah melihat tindakan Nagato. Saat ini Raido berpikir jika Nagato akan melindungi Litha sama seperti Iris yang melindungi Litha.


Benar saja. Nagato sama sekali tidak takut dan melindungi Litha dengan segenap jiwa dan raganya. Raido tertawa cukup keras saat pedang petir miliknya menembus perut Nagato.


“Menarik! Persahabatan kalian sangat menarik! Di dunia tidak ada yang namanya kepercayaan! Yang ada hanya saling memanfaatkan!” Raido menebas dada Nagato hingga bersimbah darah.


“Kakak Soren!” Litha berdiri dan mendorong tubuh Nagato ketika Raido berniat membunuh Nagato dengan tebasan pedangnya.


Mata Nagato dan Iris mendelik ketika melihat pedang Raido menusuk bagian depan tubuh Litha. Tepat di bekas luka lamanya saat gadis manis tertusuk pedang oleh penyusup yang menyusup di Hutan Cakrawyuha.


“Matilah dengan penuh penderitaan!” Raido tersenyum menyeringai namun dia merasakan aura yang mencekam. Lalu dia menatap ke arah langit. Matanya melebar.


“Jadi dia datang...” Raido langsung pergi begitu saja meninggalkan Nagato, Iris dan Litha yang tergeletak di tanah.

__ADS_1


“Litha!” Nagato memegang tubuh Litha dan memeluknya.


“Litha, bertahanlah...” Iris memegang tangan Litha.


“Aku akan menghentikan pendarahan kalian berdua...” Litha menggunakan sihir penyembuh pada Nagato dan Iris. Pendarahan keduanya berhenti, namun tidak dengan dirinya.


Litha memuntahkan darah segar dalam jumlah banyak. Gadis manis itu batuk berkepanjangan. Perlahan matanya buram dan ingatannya kacau.


”Kakak Soren! Iris! Aku menyayangi kalian! Aku tidak ingin kehilangan ingatan! Aku takut!” Tidak ada yang sadar. Nagato dan Iris tidak menyadari jika Litha telah menggunakan kekuatan terlarang dari kemampuan sihirnya dengan ganti kehilangan ingatannya.


Saat dia menolong Shirayuki ataupun saat dia menolong Nagato dan Iris. Kini Litha merasakan efek yang sangat menyiksa batinnya. Ingatannya berkecamuk. Sebisa mungkin dia ingin mengingat Nagato dan Iris. Sebisa mungkin dia menyebut dua nama itu dala hatinya.


“Litha cepat sembuhkan pendarahanmu ini dengan sihirmu...” Iris panik. Sementara Nagato gemetaran memegang tubuh Litha.


“Jangan takut! Aku akan menyelamatkanmu! Bertahanlah! Kita bertiga harus hidup! Kumohon Litha, bertahanlah!" Nagato berteriak histeris karena tangannya penuh dengan darah ketika menyentuh perut Litha. Kemudian dia mencoba mencari keberadaan Hana.


“Jadi kalian yang membunuh Akuyaku...” Suara pria terdengar. Nagato dan Iris langsung menoleh ke sumber suara.


Seorang tangan kanan dari Gore yang bernama Wrath memegang pedang yang berbentuk seperti jarum di tangan kanannya.


“Mati!” Wrath hendak menusuk Iris. Namun Nagato menahan pedang tersebut.


“Jangan sentuh mereka!” Nagato memukul wajah Wrath.


“Masih dapat bergerak dengan luka seperti itu? Apa kau tidak takut kehilangan kekuatanmu? Ironis, percuma saja kau hidup jika kekuatannmu tersegel karena kau terlalu memaksanya!” Wrath menatap tajam Nagato yang bersimbah darah. Kimono putih yang dikenakan Nagato berubah menjadi merah darah seutuhnya.


“Aku tidak keberatan kehilangan kekuatanku jika aku tetap hidup bersama mereka berdua...” Nagato mencoba melepaskan aura tubuhnya namun tidak ada satupun aura yang keluar.


Wrath tersenyum menyeringai dan menebaskan pedangnya pada Nagato. Dia menusuk bekas luka tusukan pedang di perut Nagato.


“Apa yang akan terjadi jika Fuyumi Iris kehilangan ingatan?” Wrath menarik pedangnya lalu mengayunkan pedangnya dengan cepat dari atas ke bawah.


“Senjata Kuno Tipe Langka : Pedang Penghilang Ingatan...” Wrath tersenyum menyeringai ketika melihat Iris ambruk ke tanah. “Itulah senjataku! Seumur hidup kau akan menderita, Kagutsuchi Nagato! Tapi tenang saja, aku juga akan membuatmu kehilangan ingatan. Karena ini perintah dari beliau!”


Wrath memang telah mengawasi anggota Akuyaku dari kejauhan. Namun dia tidak menyangka akan sekacau ini keadaannya. Dengan bersembunyi di tumpukan mayat, Wrath akhirnya menemukan keberadaan Nagato.


“Ikutlah denganku!” Wrath menarik tangan Nagato. Namun sesuatu yang mengejutkan terjadi. Aura hitam pekat menyebar disekitar tubuh Nagato.


Tangan kiri Wrath yang terkena aura tersebut mengering sebelum menjadi tulang seutuhnya. Wrath dengan cepat memotong tangan kirinya.


“Dasar iblis!” Mata Wrath terbelalak melihat kekuatan Nagato.


Sekarang Wrath mengerti kenapa Gore, Reptile dan Brusca menginginkan Nagato. Karena Nagato memiliki kekuatan yang sama dengan Kagutsuchi Mugen. Kekuatan yang membawa malapetaka yang mengerikan. Sosok kebencian sesungguhnya dan orang yang menanggung takdir karma.


“Kakak Soren! Jangan gunakan kekuatan itu! Umurmu akan berkurang dan penyakit jantungmu...” Litha menangis melihat Nagato despresi ketika melihat Iris tergeletak di tanah.


Nagato meneteskan air matanya. Tak lama bayangan Roh Dewa Kematian, Shinigami, muncul di belakang Nagato.


“Hei, serangga! Umur bocah ini tidak akan bertahan lama! Tetapi dia adalah wadahku! Kau menyentuhnya sama saja kau berurusan denganku!” Roh Dewa Kematian, Shinigami, berbicara kepada Wrath.


Tubuh Wrath gemetaran. “Tidak mungkin!” Dengan cepat Wrath menjaga jarak dari Nagato.


“Mengamuklah! Hanya dengan keputusasaan lah kau dapat membiarkanku mengambil alih tubuhmu! Kau selalu meminta bantuan padaku seperti saat itu bukan?! Cepat! Mengamuk dan bunuh manusia sebanyak mungkin!” Roh Dewa Kematian, Shinigami, menyinggung saat Nagato meminta bantuan pada dirinya di Kota Yasai.


Nagato tenggelam dalam keputusasaan dan berteriak hendak membiarkan Shinigami mengambil alih tubuhnya.


‘Pada akhirnya penyakitku ini akan membunuhku. Lagipula dunia ini adalah neraka. Selama mereka berdua hidup. Aku akan membunuh siapapun yang mengusikku. Aku akan membunuh mereka semua!’ Nagato berteriak dalam hatinya.


Litha memaksakan dirinya untuk berdiri dan kembali menggunakan kekuatan dari Dewi Pengobatan untuk menenangkan Nagato.

__ADS_1


“Kakak Soren... Penyakitmu pasti akan sembuh. Kau memiliki Iris yang mencintaimu...” Litha mencium bibir Nagato. Perlahan aura hitam pekat menghilang dari tubuh Nagato.


Mata Nagato terbelalak melihat Litha yang menciumnya. Perlahan tubuh Litha terjatuh ke dalam pelukan Nagato.


“Akhirnya aku dapat menenangkanmu. Kakak Soren, mulai saat ini aku ingin memanggilmu Kakak Soren...” Litha dan Nagato terjatuh.


Nagato merasakan badan Litha begitu panas. “Litha, maafkan aku...”


Litha menangis karena dirinya sekarang benar-benar akan kehilangan ingatannya. Semenjak mengetahui Nagato sebagai kakak sepupunya yang telah menjalin hubungan khusus dengan Iris. Saat itu Litha ingin tidak menganggap pemuda yang sedang dia peluk sebagai Nagato. Akhirnya semuanya terkabul karena dia memanggil pemuda yang memeluknya dengan nama Soren. Sebuah pemberian nama dari mendiang Ibu Nagato sama seperti dirinya sendiri.


“Maafkan aku, Kakak Soren...” Litha dengan napas yang pelan berusaha berbicara. “Aku tidak dapat menepati janji yang kita buat...”


Nagato memegang tangan Litha dengan erat. Terlihat adik sepupunya itu bersusah payah bernapas dan berbicara.


“Andai ada di kehidupan selanjutnya kita tidak mempunyai hubungan darah. Aku ingin menjadi kekasihmu...” Litha menangis. “Kakak Soren, aku mencintaimu...”


Iris mendengar perkataan Litha. Matanya menatap ke arah langit dan mencoba bergerak. Ingatannya sebagai terasa terkunci. Ketika menatap Nagato, gadis cantik itu tidak terlalu mempedulikannya dan langsung mengkhawatirkan kondisi Litha.


Iris memegang tangan Litha dan mencoba bergerak. Gadis cantik itu duduk dan menangis ketika melihat perut Litha bersimbah darah.


“Iris, tolong jaga Nagato. Dia adalah orang yang ceroboh. Setidaknya aku ingin melihat kalian berdua menikah ketika dewasa nanti...” Air mata berlinang membasahi wajah Litha. Seketika kepalanya terasa seperti pecah. Litha menahan rasa sakitnya dan meneteskan air mata.


Tak lama mata Litha terpejam setelah mengatakan hal tersebut.


‘Kumohon Tuhan jangan ambil ingatanku. Aku tidak ingin kehilangan kenangan saat bersama mereka!’ Litha berusaha berbicara namun tubuhnya terasa begitu lemah.


“Litha..., jawablah! Kumohon jangan pergi!” Nagato menggoyangkan tubuh Litha. Namun gadis manis itu tidak menjawab perkataannya.


“Litha...” Iris melebar matanya dan memeluk tubuh Litha. Gadis cantik itu menangis sejadi-jadinya hingga mentalnya goyah dan karena syok.


Nagato menatap Wrath yang menjaga jarak darinya. “Kubunuh kau!”


“Jangan lakukan hal yang bodoh!” Suara teriakan dari Hound membuat Nagato tersadar akan kemarahannya.


Hound memukul dari jarak jauh dengan pukulan beruntun. Wrath menghindarinya dan merasa keadaan semakin kacau karena dia melihat di langit ada sebuah bayangan di malam yang berapi-api itu.


Hound menatap tajam Wrath yang telah melarikan diri. ‘Ophys mengincar Kagutsuchi Nagato. Kenapa harus dia yang menanggung penderitaan ini!’ Hound berdiri di samping Nagato dan melihat Litha dan Iris yang tergeletak di jalanan dengan tubuh yang berpelukan.


“Kagutsuchi Nagato! Ikut aku! Aku adalah Hound. Pahlawan Bintang Tiga dari Hero!” Hound berbicara pada Nagato yang sedang menatap Litha dan Iris.


“Ophys mencarimu. Entah karena alasan apa, tetapi aku rasa kau harus ikut bersamaku. Aku akan membantumu.” Hound menambahkan.


Nagato menghiraukan perkataan Hound. Kesedihan yang teramat dalam membuat Nagato meneteskan air matanya. Dia bisa melihat Iris telah melupakannya dan Litha telah meninggalkannya.


‘Aku tidak akan pernah menerima semua ini! Tempat aku tumbuh dan hidup selama ini adalah neraka!’ Nagato mengepalkan kedua tangannya.


Nagato mencium kening Litha dan memeluk tubuhnya, begitu juga dengan Iris. Sekarang mentalnya benar-benar telah hancur. Dia menangis dan berteriak hingga mentalnya hancur karena tidak menerima kenyataan.


“Bahaya! Anak ini!” Hound menyadari mental Nagato sudah hancur. Sudah pasti nyawa pemuda itu akan melayang jika tidak mempunyai keinginan untuk hidup.


Namun suatu yang mengejutkan terjadi. Nagato yang telah pingsan dibungkus sebuah aura berwarna biru membungkus tubuh Nagato.


Hound menoleh melihat Litha dan memeriksa denyut nadi Litha. “Tidak mungkin! Gadis kecil yang manis ini...” Hound tidak merasakan denyut nadi Litha bahkan napasnya.


“Aku bersumpah akan menyembuhkan penyakit Nagato walau nyawaku sebagai gantinya. Aku akan menjaga kakakmu ini.” Hound tersenyum dan meneteskan air matanya. Kemudian dia menggendong tubuh Nagato.


Hound langsung menekan seluruh auranya dan bergerak dengan kecepatan tinggi meninggalkan Ibukota Daifuzen karena melihat Ophys dan Ignist saling berhadapan.


Hound mengira Ophys akan membunuh Nagato sehingga dia memilih untuk pergi jauh meninggalkan Ibukota Daifuzen. Tentu saja dia tidak akan kembali ke Kerajaan Sihir Azbec. Saat ini dia akan mencari Air Suci Tipe Langka : Jenis Penyembuh Air Mata Phoenix yang dicari-cari oleh Organisasi Disaster untuk menyembuhkan Nagato.

__ADS_1


“Bertahanlah hidup, Nagato...” Hound hampir tidak merasakan denyut nadi Nagato. Detak jantungnya begitu lemah.


__ADS_2