
Beberapa jam setelah Kakek Hyogoro berhasil menyelamatkan Cika dan membawa gadis itu ke hutan yang dekat permukiman penduduk untuk bertemu dengan Yoshimitsu.
Di waktu yang sama puluhan penjaga rumah yang berubah menjadi manusia buas mengamuk menghancurkan dan memporak - porandakan rumah kediaman Bangsawan Kochi.
Amaga yang sedang bersama penduduk desa juga terkejut melihat pemandangan yang mengerikan tersebut dengan penuh siasat pria itu berkata pada penduduk desa jika dia akan menghentikan amukan manusia buas tersebut.
Penduduk desa khawatir dengan Amaga sehingga memilih mendekat dan melihat perjuangan Amaga melawan penjaga rumah yang telah berubah menjadi manusia buas karena perbuatannya.
Penduduk desa melihat Amaga bisa menggunakan pedang bahkan pria itu terlihat seperti sudah biasa memegang senjata tajam. Penampilannya yang sopan dan baik membuat mereka tidak percaya melihat kehebatan Amaga yang memutuskan tangan manusia buas yang sedang mengamuk dikediaman Bangsawan Kochi.
Amaga berhasil membunuh satu manusia buas tetapi pria itu tidak dapat bertahan lebih lama lagi karena masih ada puluhan manusia buas yang mengamuk dihadapannya.
"Sialan! Aku tidak menyangka mereka akan sekuat ini!" Amaga menatap tajam manusia buas dari balik kacamatanya.
Sementara itu Nagato yang sedang melihat pertarungan itu dari hutan hanya tersenyum sinis.
"Kakek Hyo, aku pikir masalah ini ada kaitannya dengan Sekte Pemuja Iblis dan aku sangat yakin orang yang memberi air terlarang itu akan muncul setelah ada orang yang membunuh seluruh manusia buas itu!" Nagato menunjuk manusia buas yang sedang dia tatap. Mendengar perkataan Nagato membuat Kakek Hyogoro semakin kagum dengan muridnya itu.
"Jadi maksudmu, Sekte Pemuja Iblis ingin menjebakku masuk kedalam perangkap mereka?!" Kakek Hyogoro mengelus dagunya karena menurut penjelasan Nenek Beo ada beberapa organisasi bawah tanah yang mengincar dirinya dan salah satunya adalah Sekte Pemuja Iblis.
Nagato mengangguk pelan sambil menjelaskan rencananya pada mereka. Setiap perkataan dan setiap tindakan Nagato membuat Litha kagum dengan pemuda itu bahkan dengan mendengar suaranya saja membuat gadis kecil itu merasa senang.
Amaga terdesak oleh serangan manusia buas ketika dirinya hendak diremas oleh remasan tangan manusia buas dengan wajah yang berkeringat dingin dan ketakutan pria itu berharap ada orang yang menolongnya karena ambisinya untuk menguasai harta kekayaan Bangsawan Kochi tidak akan seperti ini.
"Sirih." Nagato mengolah pernafasan sambil melompat kemudian dia memutarkan tubuhnya.
"Lintasan Jingga!" Nagato memotong tangan manusia buas yang meremas Amaga.
Penduduk desa dan Amaga terkejut melihat kedatangan Nagato yang menyelamatkan Amaga.
"Pe-Pembunuh!" teriak salah satu penduduk desa menunjuk Nagato.
__ADS_1
Nagato diam dan membunuh manusia buas dihadapnnya dengan tebasan api yang menyala dibilah pedangnya.
Seluruh tubuh manusia buas yang mati menguap kemudian menghilang pelan - pelan.
"Aku ingin tahu rasanya membunuh manusia itu seperti apa?" Nagato menatap dingin Amaga sambil mengibaskan pedangnya.
Amaga ketakutan melihat Nagato sedangkan penduduk desa melempari Nagato dengan batu tetapi pemuda dengan mudah menangkis semua lemparan batu yang mengarah padanya.
Nagato memejamkan matanya karena merasa dirinya sedang diawasi dari kejauhan.
Amaga kemudian berteriak jika Nagato adalah orang yang merubah penjaga rumah menjadi manusia buas bahkan pria itu menyuruh penduduk desa untuk membunuh Nagato.
"Masih kecil sudah menjadi pembunuh!" salah satu penduduk pria melempar batu dan mengenai kepala Nagato hingga berdarah.
"Lempar anak itu dan jangan biarkan dia mendekati Tuan Amaga!" seorang penduduk mengajak penduduk yang lainnya untuk melempari Nagato dengan batu.
Nagato mengusap kepalanya yang berdarah dan meringis karena menahan sakit kemudian dia mengambil nafas panjang sambil berusaha untuk tetap bersabar.
"Sudah 3 kali lebih mereka menuduhku!" Nagato tersenyum sinis tidak bisa mengontrol emosinya dengan bilah pedangnya yang mengeluarkan api dia hampir mengayunkan pedangnya membunuh Amaga dan penduduk yang menuduhnya tetapi teriakan Kakek Hyogoro dan Yoshimitsu membuyarkan emosinya.
"Nagato, dinginkan kepalamu aku tidak ingin kau membunuh orang!" Kakek Hyogoro geram melihat Nagato yang tidak bisa mengontrol emosi.
Penduduk desa terkejut dan terdiam ketika melihat Yoshimitsu digendong Kakek Hyogoro datang bersama Cika, Tsutomu dan Litha.
Amaga berkeringat dingin karena melihat Cika masih hidup bahkan didepan matanya Yoshimitsu juga masih hidup.
"Tidak mungkin! Seharusnya tua bangka itu sudah mati!" Amaga bergumam pelan dengan mata yang melebar dia menatap Yoshimitsu dan Cika.
Tsutomu berdiri disamping Nagato dan menyapa Amaga.
"Lama tidak berjumpa manusia yang baik hati dan sopan?" Tsutomu berbicara dengan nada yang sengaja untuk membuat Amaga kesal.
__ADS_1
Penduduk desa dalam kebingungan melihat Yoshimitsu yang terlihat begitu memprihatinkan bahkan seorang pria yang seharusnya sudah dipecat datang bersama Nagato dan yang lainnya.
Amaga merasa direndahkan oleh Tsutomu dan mengayunkan pedangnya pada pria itu tetapi tebasan pedangnya ditangkis Nagato.
"Orang baik tidak boleh membunuh orang betul tidak?!" Nagato menjatuhkan pedang Amaga kemudian mencekik leher pria itu.
Penduduk desa terkejut melihat Nagato yang hendak membunuh Amaga bahkan tindakan Nagato membuat Kakek Hyogoro dan Litha terkejut.
Nagato menatap dingin Amaga dan menendang pria itu hingga tersungkur jatuh ketanah.
Dengan suasana hatinya yang sedang buruk tendangan demi tendangan dilesatkan Nagato tepat diwajah Amaga hingga kacamata miliknya pecah dan wajah pria itu berdarah.
"Kemarin kau menuduh Litha sebagai pembunuhnya, kan?!" Nagato menarik leher baju Amaga kemudian dia memukul wajah Amaga dengan tangan yang dialiri tenaga dalam.
"Tuduhanmu itu membuat Litha dalam bahaya dan jika kemarin Litha terluka mungkin aku sudah membunuh para orang bodoh ini!" Nagato melirik ratusan penduduk desa yang terdiam dan hanya menelan ludah melihat pemuda yang berumur 6 tahun terus memukuli wajah Amaga.
Litha ingin menangis mendengar perkataan Nagato dengan langkah kaki yang pelan gadis kecil itu menghampiri Nagato kemudian memegang tangannya.
"Sudah cukup! Aku tidak ingin kamu membunuh orang hanya karena aku!" suara sendu Litha dan mata gadis kecil yang berkaca - kaca melihat dirinya membuat hati Nagato luluh.
Nagato berdiri kemudian dia menghela nafas panjang.
"Maaf ... entah kenapa tubuhku bergerak sendiri seperti ini." Nagato memejamkan matanya sambil kepalanya menghadap langit.
Kakek Hyogoro yang melihat tindakan Nagato dan mendengar perkataannya ingin menangis karena Nagato mengingatnya pada seseorang.
'Guru Besar, aku melihatmu didalam diri Nagato.' Kakek Hyogoro tidak menyangka Nagato memiliki sifat yang seperti itu.
Yoshimitsu terdiam melihat tindakan Nagato bahkan Cika dan Tsutomu menelan ludah melihat Nagato yang tidak segan - segan hendak menghabisi Amaga karena pria itu telah menuduh dan membahayakan Litha.
Nagato tersenyum sinis ketika merasakan rasa haus darah yang mendekat padanya.
__ADS_1
"Sirih." Nagato memegang pedangnya sambil mengambil nafas panjang dalam satu tarikan nafasnya.
"Lintasan Jingga!" suara pedang yang saling berbenturan membuat semua orang terkejut melihat Nagato yang menghilang dan sedang menangkis pedang seorang pria berjubah hitam yang hendak membunuh Yoshimitsu.