
Hana dan Reto terkejut melihat puluhan manusia buas berlari ke arah mereka dengan langkah yang cepat.
"Mampu berlari dengan cepat? Tapi yang lainnya hanya berjalan lambat? Apa yang sebenarnya terjadi?" batin Hana sambil melompat menjauhi gerbang kota dan tembok.
Ketika mereka menjauhi gerbang kota, manusia buas menghancurkan gerbang dan tembok kota sehingga terdengar gemuruh suara yang begitu keras.
Manusia buas yang berjalan dengan lambat memukul tembok, tanah dan seluruh bangunan disekeliling mereka sedangkan manusia buas yang berlari dengan cepat mengincar para pendekar maupun penjaga kota.
Gemuruh suara yang dibuat oleh manusia buas karena mengamuk di gerbang kota terdengar begitu keras bahkan suaranya terdengar hingga ke pelosok Kota Yasai.
Para pendekar dan penjaga kota, merasakan aura negatif membuat tubuh mereka bergemetar hebat karena melihat monster yang mengerikan sedang berlari kearah mereka.
Hana mengerutkan dahinya kemudian dia menoleh kearah Tsubomi dan Kafun untuk memberi kode melakukan penyerangan kepada manusia buas yang berlari lambat.
"Serang!" Teriak Hana sambil melangkahkan kakinya dengan cepat ke arah manusia buas yang berlari dengan cepat ke arah mereka.
Tsubomi dan Kafun mengikuti Hana, melihat ketiga pendekar perempuan maju menyerang, seluruh pendekar dan penjaga kota juga ikut maju menyerang manusia buas.
Tangan kanan Hana memainkan selendangnya, kemudian perempuan itu tersenyum tipis.
"Aku akan mengikat makhluk ini dan kalian yang menyelesaikannya!" perintah Hana kepada Tsubomi dan Kafun.
Mendengar tindakan Hana yang tidak sejalan dengannya, Reto mengerutkan dahinya dan melangkahkan kakinya dengan cepat mengejar Hana.
"Senior Hana, walau wujud mereka seperti itu tetapi mereka adalah penduduk biasa yang menjadi korban, pasti ada cara untuk mengembalikan mereka kembali menjadi manusia!" Teriak Reto dengan lantang kepada Hana.
Ketika Hana hendak menggunakan jurus selendangnya, dia menjadi ragu karena mendengar perkataan Reto, kemudian dia menghindari pukulan manusia buas yang mengincarnya, Tsubomi dan Kafun juga menghindari amukan pukulan dari puluhan tangan manusia buas.
Karena perkataan Reto seluruh pendekar dan penjaga kota yang hendak menyerang manusia buas menjadi ragu dan bimbang, yang mereka lakukan hanya menghindari amukan pukulan manusia buas.
Keraguan mulai melanda perasaan masing - masing pendekar dan penjaga kota karena mengetahui monster yang terlihat mengerikan didepan mereka adalah penduduk biasa yang tidak tahu apa - apa dan hanya sebagai korban sehingga mereka tidak sanggup untuk menyerangnya.
Hana menatap Reto dengan tajam, kemudian Hana menghampirinya.
"Jadi sekarang bagaimana? Mereka menyerang secara membabi buta, apa kita harus membiarkan mereka mengamuk di kota dan menunggu seseorang yang mampu mengembalikkan mereka menjadi manusia! Tapi orang itu siapa?" ucap Hana dengan kesal sambil menatap tajam Reto karena pria paruh baya itu yang membuat semangat bertarung para pendekar dan penjaga kota menjadi goyah.
__ADS_1
Hati Reto bimbang dan tidak tahu harus berbuat seperti apa, pria paruh baya itu memiliki keraguan besar didalam hatinya.
Melihat Reto yang bertingkah seperti itu, emosi Hana meledak, ketika Hana berniat hendak memukul Reto, manusia buas setinggi tujuh meter melempar batu besar kearah Hana dan Reto.
Hana terkejut melihat batu besar yang melesat dengan cepat kearahnya.
"Sial! Pria ini tidak berguna sama sekali." batin Hana kesal dengan sikap Reto yang bersikap setengah - setengah.
Hana melompat kebelakang beberapa langkah untuk menghindari batu besar yang melesat ke arahnya.
"Seluruh pendekar dari Klan Misuzawa dengarkan perkataanku! Ini adalah sebuah perintah, kita harus membunuh monster itu dan jangan biarkan mereka mengamuk sesuka hati mereka!" Teriak Hana dengan lantang sambil tangannya menunjuk gerombolan manusia buas yang mengamuk dihadapannya itu.
Mendengar perkataan Hana, para pendekar perempuan dari Klan Misuzawa kembali bersemangat dan keraguan di hati mereka mulai hilang secara perlahan.
Para pendekar dari Klan Kitakaze yang merupakan anggota dari kelompok Reto dan penjaga Kota Yasai hanya terdiam ragu untuk menyerang manusia buas dihadapan mereka setelah tahu manusia buas dihadapan mereka merupakan penduduk biasa.
Reto menatap tajam Hana, pria paruh baya itu masih percaya bahwa kemungkinan kecil ada seseorang yang bisa mengembalikan manusia buas yang mengamuk didepan mereka menjadi manusia biasa kembali.
"Senior Hana, bukankah sudah ke
"Jangan bertindak setengah - setengah, jika kau tidak mampu menanggung, tanggung jawab itu!" balas Hana memotong perkataan Reto, Hana terlihat begitu emosi karena melihat tingkah Reto yang berlagak seperti pahlawan kebenaran.
"lelaki pecundang, apa mereka benar - benar seorang pendekar!" salah satu pendekar perempuan Klan Misuzawa tersenyum sinis menatap pendekar dari Klan Kitakaze.
"Lelaki memang bodoh!" sahut salah satu pendekar Klan Misuzawa yang memakai senjata tombak.
"Pendekar macam apa? Mereka hanya manusia yang bertindak setengah - setengah!" Pendekar perempuan dari Klan Misuzawa menatap para pendekar dari Klan Kitakaze dan penjaga kota yang masih ragu untuk menyerang manusia buas.
Reto dan pendekar dari Klan Kitakaze hanya menundukkan kepalanya sambil mencoba menghindari setiap serangan pukulan dan tendangan dari manusia buas.
Hana maju menyerang manusia buas, dia melemparkan selendangnya yang berwarna merah muda ke arah tiga manusia buas yang mencoba untuk menyerangnya, ketika selendang miliknya memanjang dan memutar di sekeliling tubuh tiga manusia buas itu, selendang miliknya perlahan mulai melingkar dan melilit ketiga tubuh manusia buas.
Manusia buas mencoba untuk menggerakkan tubuhnya namun semakin mereka bergerak semakin besar selendang Hana dan lilitannya juga semakin kencang.
"Jurus Selendang Bunga : Pengikat Amarah."
__ADS_1
Manusia buas terus berteriak dan menggunakan seluruh tenaga mereka untuk melepaskan diri dari lilitan selandang Hana.
Namun semakin mereka membiarkan amarah menguasai diri mereka maka semakin kencang lilitan selendangnya hingga membuat tubuh ketiga manusia buas itu hancur karena lilitan selendang milik Hana.
Semua orang berdecak kagum melihat pertarungan dan jurus yang digunakan oleh seorang perempuan yang memiliki julukan Selendang Bunga itu.
Reto mengerutkan dahinya ketika melihat Hana dan para pendekar perempuan dari Klan Misuzawa membunuh manusia buas tanpa keraguan sedikitpun.
"Wanita sialan itu." batin Reto kesal melihat sikap Hana.
Ketika dirinya merasa kesal, Reto terkejut melihat para penjaga kota dan beberapa pendekar dari Klan Kitakaze terbunuh oleh manusia buas, mereka dibunuh dengan cara yang mengerikan ada yang diremas tubuhnya hingga pecah, ada yang dicabut tangan, kaki, dan kepalanya dengan jari yang dimiliki oleh manusia buas yang besar itu, ketika manusia buas menggenggan para penjaga kota dan pendekar yang memiliki keraguan, mereka semua hanya menahan dan tidak mencoba menyerang balik karena keraguan dihati mereka, genggaman tangan yang kuat dari manusia buas membunuh mereka dalam sekejap.
Mata Reto melebar melihat para anggotanya mati dengan cara yang mengenaskan bahkan kebanyakan dari mereka adalah pendekar muda.
Hana menoleh kebelakang dan melihat raut wajah Reto yang terlihat syok dan begitu pucat.
"Dasar! Manusia setengah - setengah!" gumam Hana sambil terus melawan manusia buas.
Hana mengikatkan selendangnya pada beberapa manusia buas, untuk menahan gerakan manusia buas selama beberapa detik, kemudian dia menyuruh Kafun dan Tsubomi untuk menyelesaikannya.
Korban terus berjatuhan dan semakin banyak, ketika Reto terlihat syok dan tidak bergerak sedikitpun dari tempat yang dipijaknya, manusia buas mulai berlari ke arah Reto dengan begitu cepat.
Ketika tubuh Reto hendak diremas oleh manusia buas, Kakek Hyogoro datang dan memukul kepala manusia buas yang menggenggam Reto hingga pecah.
Mata Reto terbelalak melihat Kakek Hyogoro yang menyelamatkannya.
"Buang keraguan dihatimu, jangan berlagak seperti seorang pahlawan, lihat mata mereka dan dengar suara mereka, kita harus membebaskan para korban itu secepatnya agar mereka tidak merasakan penderitaan lebih lama lagi !" Kakek Hyogoro memandang Reto yang terlihat pucat dan terduduk di tanah mengajaknya untuk menghabisi manusia buas yang mengamuk secepatnya.
Ketika seluruh manusia buas sudah masuk kedalam Kota Yasai, Hana dan seluruh pendekar dari Klan Misuzawa terkejut dan merasa cemas karena kekurangan bala bantuan dari seorang pendekar, namun semua itu sirna dalam sekejap ketika hawa disekitar mereka berubah menjadi lebih dingin dan salju - salju kecil mulai berjatuhan diatas kepala mereka.
"Membekulah! Wahai makhluk yang menjijikan!" ucap Shirayuki sambil mengembuskan nafasnya yang dingin itu untuk membekukan manusia buas sampai mati, perempuan cantik yang memiliki julukan Putri Salju itu baru sampai di gerbang selatan dan berdiri disamping Hana. Tubuh Shirayuki terlihat seperti melayang diantara salju - salju yang berada disekelilingnya, dirinya terlihat begitu cantik dan anggun.
Puluhan manusia buas membeku karena Shirayuki membekukan mereka yang hendak menyerang Hana dan anggotanya, seluruh orang yang melihat itu hanya tertegun dan berdecak kagum karena jurus yang digunakan Shirayuki maupun parasnya yang terlihat cantik dan menggiurkan dimata para pendekar laki - laki, meski Shirayuki tampak cantik, tatapan matanya yang dingin itu seperti meneror mereka yang melihatnya.
"Ini bukan saatnya untuk ragu menyerang mereka! Bunuh rasa ragumu, dasar lelaki menyedihkan!" Shirayuki tersenyum sinis sambil memandang rendah pendekar lelaki dan penjaga kota yang hanya menghindar dan tidak mencoba menyerang manusia buas.
__ADS_1