Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 49 - Latihan Sambung


__ADS_3

Nagato dan Litha terlihat antusias ketika melihat Azai, Kuina dan Serlin akan bertarung satu sama lain. Kakek Hyogoro yang menjadi wasit dalam latihan sparring.


Kakek Hyogoro berdoa kepada sang pencipta sebelum mereka memulai latihan sparring ini, Azai, Kuina dan Serlin juga berdoa. Setelah selesai berdoa Kakek Hyogoro menjelaskan aturan dan mengingatkan bahwa ini hanyalah latihan, kemudian menyuruh dua orang untuk maju.


Kuina maju secara bersamaan dengan Azai, gadis itu menggunakan pedang kesayangannya sedangkan Azai juga menggunakan pedangnya.


"Mendekat!" Kakek Hyogoro berada ditengah halaman depan rumahnya dan menyuruh mereka berdua mendekat.


"Ingat, peraturannya dan kamu ingat Azai jangan terlalu keras kepada Kuina!" Kakek Hyogoro sengaja berkata seperti itu agar Kuina melepaskan seluruh kekuatannya.


"Azai, jangan ragu untuk menyerangku jika kau menahan diri hanya karena aku seorang perempuan aku tidak akan memaafkanmu!" Kuina tersenyum sinis pada Azai dengan nada yang sedikit jenaka.


Azai hanya mengangguk pelan setelah itu mereka berdua memberi hormat pada Kakek Hyogoro kemudian mengambil jarak. Kakek Hyogoro memperhatikan mereka setelah jarak dari keduanya lumayan jauh, Kakek Hyogoro memejamkan matanya sambil megolah pernafasannya kemudian kaki kanan Kakek Hyogoro melakuan tendangan dengan menggunakan pisau kakinya.


"Mulai ... "


Ketika aba - aba dari Kakek Hyogoro terdengar, Azai menatap Kuina dan tidak menurunkan kewaspadaan sedikitpun.


Disisi lain Kuina, maju secara perlahan setiap gerakan pasang seni yang Kuina lakuakan terlihat indah dan terisi, bahkan gadis itu terlihat seperti sedang menari.


"Sirih." Kuina mengolah pernafasan sambil memejamkan matanya sedangkan tangannya memegang pedang kesayangannya yang masih tersarung dipinggannya.


Azai yang melihat dan merasakan udara disekeliling Kuina berubah, dirinya menggunakan pasang untuk bertahan sambil tangannya memegang pedang yang masih tersarung dipinggangnya.


"Sirih." Azai juga mengolah pernafasan dan memejamkan matanya sambil mencoba merasakan hawa keberadaan disekitarnya agar dirinya bisa mendeteksi pergerakan Kuina.


"Tarian Sang Mawar Merah."


Kuina bergerak dengan cepat hingga gadis itu berada dibelakang Azai, aroma bunga mawar tercium disekeliling Azai dan terlihat daun bunga mawar berterbangan disekitar Azai, ketika Kuina hendak memutarkan tubuhnya, Azai membuka matanya dengan cepat.


Kuina melesat maju kearah Azai dan dengan cepat mengayunkan pedangnya dari kiri ke kanan, terkadang Kuina juga melakukan tebasan tipuan yang membuat tangan Azai tergores sedikit, sadar akan dirinya berada dalam posisi yang tidak menguntungkan Azai langsung melompat dan mundur kebelakang beberapa langkah.


"Jurus Dasar 16 A2 : Amarah Sang Hijau."


Azai menatap daun bunga mawar yang masih berterbangan disekeliling Kuina, daun bunga mawar itu seperti pelindung bagi gadis itu bahkan jika mengenai tubuh Azai, terlihat goresan luka karena terkena daun bunga mawar yang seperti silet itu.


Azai dengan cepat menebas setiap bunga mawar yang terbang mengarah kearahnya, setelah itu Azai memutarkan tubuhnya menahan tebasan pedang Kuina. Suara pedang yang saling bersentuhan satu sama lain terdengar begitu keras hingga hewan - hewan yang tinggal di sekitar rumah Kakek Hyogoro datang melihat mereka berdua yang sedang bertarung.


Kuina tersenyum ketika tebasannya ditahan oleh Azai, gadis itu mengolah pernafasan sambil mencoba mengeluarkan aura di dalam tubuhnya, secara perlahan, seluruh tubuh Kuina terlihat ada yang membungkus tubuhnya seperti asap, namun aura itu terlihat belum cukup besar dan padat, aura milik Kuina berwarna merah muda. Azai mengerutkan dahinya melihat hal itu bahkan Serlin dan Kakek Hyogoro pun sedikit terkejut.


Kuina menyalurkan auranya pada pedangnya, sehingga pedang kesayangannya itu mengeluarkan cahaya berwarna merah muda yang melapisi bilah pedangnya.


"Tanpa Nafsu Tanpa Nafas!"


Kuina mengolah pernafasan, kemudian dia bergerak dengan cepat untuk menebaskan pedangnya kearah Azai, gadis itu mengayunkan pedangnya dari kanan ke kiri bahkan beberapa kali Kuina melakukan gerakan memutarkan tubuhnya yang membuat pusaran angin kecil yang berwarna merah muda namun setiap tebasan Kuina mampu ditahan dengan baik oleh Azai.


"Sial! Kuina sangat serius, apa dia ingin membunuhku!" batin Azai yang mencoba terus menahan ayunan pedang Kuina. Bahkan pertarungan mereka berdua membuat angin berhembus disekeliling mereka hingga membuat debu yang menyebar dengan cepat keseluruh halaman rumah Kakek Hyogoro.


"Harimau Menanti : Pemangsa Kehidupan."


Kali ini Azai mencoba menyerang, keduanya bertarung dengan cukup sengit ketika Kuina dan Azai hendak menggunakan jurus terkuat mereka, Kakek Hyogoro menyadarinya kemudian menyuruh mereka berdua untuk berhenti.

__ADS_1


Azai dan Kuina mengatur nafas mereka yang terengah - rengah, setelah nafas mereka kembali normal, Azai dan Kuina memberi hormat pada Kakek Hyogoro kemudian mereka berdua bersalaman.


Setelah beberapa menit kemudian Kakek Hyogoro menyuruh Serlin dan Kuina untuk maju, kini kedua gadis itu akan saling bertarung.


Kuina dan Serlin memberi hormat pada Kakek Hyogoro setelah itu mereka berdua mundur mengambil jarak, ketika melangkah mundur Serlin sudah merapalkan mantra sihirnya.


"Mulai ... "


"Sirih." Serlin mengolah pernafasan.


"Wahai leluhur hutan suci, Sang pembawa takdir, salju putih seputih pegunungan di utara, pinjamkan aku kekuatan sang roh angin, suara dari angin utara, suara yang membawa badai, menghembuskan dan menghancurkan, Musnahkan mereka semua!"


"Cincin Angin Suci."


"Holy Wind Arrow"


Ketika puluhan panah muncul diatas Serlin dan mengarah pada dirinya, Kuina juga mengolah pernafasan dan menyalurkan auranya pada bilah pedangnya.


"Sirih." Kuina mengolah pernafasan sambil memejamkan matanya sebentar kemudian membuka matanya menatap tajam Serlin.


Puluhan panah yang Serlin keluarkan melesat dengan cepat kearahnya, Kuina tersenyum tipis kemudian gadis itu menebas seluruh anak panah Serlin hingga patah menjadi dua.


"Seperti yang kuduga itu tidak akan berpengaruh terhadapmu, Kuina!" gumam Serlin kemudian gadis penyihir itu mengeluarkan sihir bola api yang diarahkan ke Kuina.


"Serlin ... " gumam Kuina ketika melihat puluhan bola api melesat dengan cepat kearahnya. Kuina memfokuskan dan menyalurkan tenaga dalamnya pada kedua kakinya kemudian gadis itu menghindari setiap serangan bola api dengan langkah yang dipenuhi gerakan seni sehingga terlihat indah ketika gadis itu melompat kesana kemari menghindari sihir bola api milik Serlin, pertarungan antara kedua gadis itu bisa dibilang cukup sengit, tidak lama Kuina berada tepat dihadapan Serlin. Ketika Kuina berada dihadapannya dan hendak mengayunkan pedangnya, Serlin hanya tersenyum tipis melihat lawannya itu.


"Magic : Storm." Serlin mengeluarkan jurus sihir badainya, mata Kuina melebar melihat jurus sihir Serlin, gadis itu merapatkan giginya ketika dirinya terbawa dan tertelan pusaran angin itu.


'Maaf Kucing manisku, aku tidak akan kalah semudah yang kau pikirkan!' Serlin menatap tajam Kuina yang berada diatas karena tertelan badai sihirnya.


"Sirih." Kuina mengolah pernafasannya ketika masih berada diatas.


"Aroma Bunga Melati."


Kuina mengeluarkan jurus pedangnya yang dikombinasikan dengan pernafasan, permainan pedang gadis itu terlihat indah tetapi Serlin mampu menahan tebasan pedang Kuina karena dirinya menggunakan sihir pelindungnya.


"Protection!"


Sihir pelindung Serlin melapisi tubuhnya membentuk sebuah lingkaran pelindung yang membuat Kuina tidak bisa menebas gadis itu.


"Cukup, hentikan!" Kakek Hyogoro menyuruh mereka berdua berhenti.


Kuina dan Serlin tersenyum satu sama lain, kedua gadis itu berjalan mendekati Kakek Hyogoro dan memberikan hormat kemudian kedua gadis itu bersalaman saling memaafkan karena yang mereka lakukan barusan hanyalah sebuah latih tanding.


"Kuina, kamu berniat membunuhku!" Serlin memeluk tubuh temannya itu.


"Huuuh? Kuakui kamu sulit untuk dikalahkan penyihir aneh!" Kuina mencoba melepaskan pelukan Serlin.


"Itulah kehebatanku ku .. cing .. manisku!" bisik Serlin lirih ditelinga Kuina kemudian gadis itu menggigit telinga Kuina dengan pelan.


Kuina memerah wajahnya namun dalam hatinya dirinya merasa kesal dengan Serlin, kemudian muncul niat jahat Kuina pada Serlin.

__ADS_1


"Hmmm ... " Kuina balas menggigit telinga Serlin sambil bergumam pelan, membuat Serlin menjadi malu bahkan wajah gadis itu memerah karena Kuina membalas perbuatannya.


Kuina tersenyum jahat melihat Serlin, kemudian gadis itu beranjak menjauh dari halaman rumah yang mereka gunakan untuk sparring barusan.


Kali ini giliran Kuina yang menjadi wasit ketika Azai akan berhadapan dengan Kakek Hyogoro.


"Azai, Kakek, ingat peraturannya, bukan?" ucap Kuina kepada Azai dan Kakek Hyogoro.


Kakek Hyogoro dan Azai mengangguk pelan setelah itu mereka berdua memberi hormat pada Kuina kemudian mengambil jarak, mata Azai tertuju pada pedang yang tersarung di pinggang Kakek Hyogoro.


"Pedang itu sepertinya bukan pedang sembarangan!" batin Azai sambil menatap Kakek Hyogoro penuh kewaspadaan.


"Mulai ... "


Ketika aba - aba dari Kuina dimulai, Azai maju secara perlahan sambil mengolah pernafasannya. Kakek Hyogoro mencabut pedangnya terlihat bilah pedang miliknya berwarna biru muda yang terang.


"Sirih." Azai mengolah pernafasan kemudian dia memfokuskan tenaga dalamnya pada kedua kakinya.


"Harimau Menanti : Pemangsa Kehidupan."


Azai dengan cepat berada didepan Kakek Hyogoro dan memutarkan tubuhnya kemudian dirinya menebaskan pedangnya dengan sekuat tenaga kearah Kakek Hyogoro.


Tebasan pedang Azai terlihat seperti cakar harimau yang melesat dengan cepat ke arah Kakek Hyogoro, namun dengan mudah tebasan itu ditepis oleh Kakek Hyogoro.


Azai terus melayangkan tebasan pada Kakek Hyogoro, mengayunkan pedangnya dari kiri ke kanan kemudian bergantian dari arah sebaliknya ketika tebasannya ditahan dengan baik oleh Kakek Hyogoro.


Bilah pedang milik Kakek Hyogoro dilapisi dengan air, Azai mengerutkan dahinya karena setiap tebasan pedangnya yang ditahan Kakek Hyogoro terlihat ada percikan air dari pedang milik Kakek Hyogoro.


"Senjata Kuno?!" gumam Azai sambil menatap Kakek Hyogoro dengan tatapan yang tajam.


Azai menyadari bahwa kekuatan Kakek Hyogoro berada diatasnya bahkan Kakek Hyogoro belum menggunakan pernafasan, tenaga dalam dan mengeluarkan aura tubuhnya.


Azai mengalirkan tenaga dalam pada pedang ditangannya dan bergerak maju, tanpa basa basi dia memberikan serangan telak pada Kakek Hyogoro


Namun Kakek Hyogoro menghindari setiap serangan Azai dan tidak melakulan gerakan percuma ketika menghindari serangan tersebut, dirinya mengolah pernafasan sambil menunggu kesempatan untuk menyerang.


"Ces ... ces ... ces ... ces!"


Mulut Kakek Hyogoro mendesis, seketika aura dan udara disekeliling Kakek Hyogoro berubah, Azai mundur beberapa langkah kebelakang karena merasakan udara disekeliling Kakek Hyogoro menjadi lebih panas.


Kakek Hyogoro menyalurkan tenaga dalamnya pada kedua kakinya sedangkan auranya dia salurkan pada pedangnya, Azai mengolah pernafasan dan hendak melakukan serangan kembali.


"Sirih." Azai mengolah pernafasan kemudian pemuda itu bergerak cepat untuk menggunakan jurus pedangnya, seketika pedang Azai berwarna hijau terang benderang, dengan cepat dia menebaskan pedangnya kearah tubuh Kakek Hyogoro sambil memutarkan tubuhnya tetapi serangan itu ditahan oleh Kakek Hyogoro, kemudian Azai mengayunkan pedangnya dari atas ke bawah untuk melayangkan serangan pada Kakek Hyogoro.


"Pusaran Air."


Kakek Hyogoro menghindari tebasan pedang dengan baik kemudian dia menangkis pedang Azai menggunakan pedangnya untuk melindungi kepalanya karena Azai melayangkan serangan pedangnya dari atas, kemudian Kakek Hyogoro memutarkan tubuhnya ketika Azai mencoba menekan pedangnya karena melihat Kakek Hyogoro dalam posisi bertahan, seketika keluar pusaran air yang berputar seperti badai sihir milik Serlin, Azai terseret pusaran air milik Kakek Hyogoro.


Kuina berdecak kagum melihat permainan pedang Kakek Hyogoro yang diluar nalar, karena dengan mudahnya dirinya terlihat seperti memanipulasi air.


"Berhenti!" teriak Kuina, kemudian Azai terjatuh kebawah tanah namun tubuhnya ditangkap Kakek Hyogoro.

__ADS_1


"Hahaha, aku terlalu berlebihan!" Kakek Hyogoro tertawa karena sudah lama dirinya tidak merasakan semangat yang seperti ini.


"Suatu saat aku pasti akan mengalahkan kakek!" Azai menundukkan kepalanya pada Kakek Hyogoro, kemudian mereka berdua memberi hormat pada Kuina setelah itu baik Azai maupun Kakek Hyogoro saling bersalaman dan merangkul satu sama lain.


__ADS_2