
Hari demi hari telah berlalu, dua minggu setelah pertarungan dengan dua pembunuh bayaran suruhan Black Madia dan Pemimpin Sekte Pemuja Iblis. Nagato sudah kembali sehat seperti biasanya karena di malam itu, Litha membiarkan Nagato mengigit lehernya dan menghisap darahnya.
Sementara itu, Demet dan Devon juga sudah pulih kembali, mereka berdua menetap bersama di rumah Kakek Hyogoro selama 2 minggu ini.
Luka tebasan Nagato di dada mereka berdua akan menjadi sebuah kebanggan bagi mereka, bahkan Demet menganggap luka bakar di dadanya yang berbentuk bulan sabit itu menurut dirinya luka itu cukup keren.
Di ruangan kamar, Nagato sedang kembali menghisap darah Litha. Kali ini Nagato dengan sadar melakukannya bahkan dia merasa bersalah pada Litha.
"Sial! Jika aku kuat maka aku tidak akan seperti ini!" kata Nagato ketika melihat bekas gigitan di leher Litha.
"Kamu seharusnya berterimakasih padaku..." sahut Litha sambil menatap Nagato.
Nagato menyentuh bekas gigitan Litha dan mengusapnya.
"Terimakasih..." guman Nagato yang suaranya terdengar begitu pelan. Mendengar suaranya saja, membuat Litha tertawa kecil sambil menyentuh pipi Nagato.
"Nagato, hanya ini yang bisa kulakukan untukmu," balas Litha mengusap pipi Nagato dan menatapnya penuh makna.
Nagato tersenyum tipis kemudian dia berdiri dan hendak keluar kamar, tetapi Litha menarik tangan Nagato hingga tubuh Nagato berada di atas Litha.
"Eh... maaf, aku tadi hanya ingin bercanda... tetapi aku..." Litha memerah wajahnya dan dia memalingkan wajahnya kesamping kiri. Karena melihat wajah Nagato yang begitu dekat dengannya.
Nagato hanya diam dengan ekspresi wajah datarnya yang terlihat dingin, dia membenamkan wajahnya pada leher Litha.
Kali ini Litha sangat malu karena hembusan nafas Nagato begitu terasa dikulit lehernya.
"Nagato, kamu kenapa...?" tanya Litha ketika melihat bekas cakaran di tangan Nagato.
"Jangan - jangan Nagato terkena efek halusinasi dari cakar kuku Chibi..." batin Litha karena melihat Nagato hendak mendekap tubuhnya.
"Nagato, sadarkan dirimu kamu tidak cocok berbuat seperti ini..." ucap Litha sambil mencoba mendorong tubuh Nagato tetapi tenaga Nagato cukup kuat.
Nagato mengecup dahi Litha tanpa sadar, dirinya sudah terkena efek halusinasi cakaran kucing manis. Wajah Litha merah merona karena Nagato mengecup dahinya.
"Mmm..." gumam Nagato ketika hendak mencium pipi Litha, tetapi Litha menahan wajah Nagato dengan telapak tangannya.
Litha berdecak kesal karena dia tadi pagi juga melihat Chibi bermain bersama Nagato, keduanya tidak akrab ketika bermain bersama. Chibi mencakar tangan Nagato, karena Nagato tidak mau memancing ikan untuknya.
Nagato merebahkan tubuhnya di samping Litha, kemudian dia memeluk tubuh Litha dengan erat. Dan, tidak berapa lama Nagato tertidur.
__ADS_1
"Bahaya, aku hampir kehilangan ciuman pertamaku karena situasi konyol seperti ini..." gumam Litha mencoba melepaskan tangan Nagato yang mendekap tubuhnya.
"Litha..." Nagato membenamkan wajahnya kembali pada leher Litha.
Litha melirik ruangan kamarnya yang terlihat sepi kemudian dia mengecup kening Nagato. Karena Nagato sudah tertidur diranjangnya jadi dia juga sudah tidak sadar.
"Aku melakukannya..." ucap Litha menyentuh bibir tipisnya. Kemudian dia beranjak pergi keluar kamar mencari Chibi.
Di teras depam rumah, Kakek Hyogoro sedang meminum arak di temani Demet dan Devon.
"Sepertinya aku harus rajin berlatih lagi, apa kata dunia... jika pembunuh bayaran malah terbunuh oleh targetnya..." seru Demet yang sudah mabuk arak.
"Sialan raja palsu itu, dia ingin menjadi penguasa Azbec... tetapi masih takut dengan kata - kata terakhir Nona Sarah..." sahut Devon meneteskan air mata, dia juga telah mabuk arak.
Kakek Hyogoro masih dalam keadaan tersadar, dan mendengar ocehan mereka berdua.
"Aku juga tidak menyangka kalau anggota Tujuh Dosa Besar Mematikan, mempunyai nyawa tujuh... atau delapan, berapa nyawa orang itu Demet?" Devon memukul kepala Demet, dia tidak sadar sekarang. Pikirannya menari - menari di dalam khayalannya.
"Siapa peduli dengan itu, yang penting kita sudah mendapatkan bayarannya. Lebih baik aku tinggal bersama Kakek Hyogoro ini..." sahut Demet membalas memukul kepala Devon.
Kakek Hyogoro menunggu kedatangan burung elang emasnya yang bernama Kin.
"Matahari yang tidak tahu caranya bersinar, ramalan Sarah seperti mengacu pada kebangkitan Klan Kagutsuchi... Nagato harus mencari lima temannya jika ingin membebaskan Azbec dan membuka Ezzo pada dunia luar... dan jika Nagato ingin membalikkan dunia, dia harus mempunyai tujuh orang yang menjadi rekannya." batin Kakek Hyogoro memejamkan matanya, dia berharap umurnya panjang karena dia ingin melihat Nagato di masa depan dengan mata kepalanya sendiri.
Di depan kamar, Litha memarahi Chibi yang telah mencakar Nagato, kemudian dia kembali ke kamarnya tetapi ada yang menarik tangannya dan menutup pintu kamar.
"Litha..." ucap Nagato yang masih terkena efek halusinasi, dia memeluk tubuh Litha dan mencium rambut halusnya.
Nagato mendorong tubuh Litha ke atas kasur, kemudian dia menindihnya.
"Na-Na-Nagato... kamu terkena efek halusinasi dari cakar Chibi, jadi sadarkan dirimu..." tegur Litha dengan terbata - bata dan memelankankan suaranya, karena dia juga takut ketahuan Kakek Hyogoro dan yang lainnya, karena akan sangat memalukan jika ada yang melihat Nagato dan dirinya dalam posisi yang seperti ini.
Nagato mendekatkan wajahnya pada Litha, dan menyentuhkan keningnya pada kening Litha.
"Kenapa kamu memejamkan matamu?" tanya Nagato yang melihat Litha memejamkan matanya.
"Minggir, apa kau sudah sadar kembali!" jawab Litha mendorong tubuh Nagato cukup keras.
"Litha, jadi kamu tidak menyukaiku..." suara Nagato terdengar sedih.
__ADS_1
Litha tidak ingin melihat sisi Nagato yang seperti ini, dalam benaknya dia berharap efek halusinasi Nagato cepat berakhir.
Nagato memeluk tubuh Litha kembali dan mengelus rambut halusnya.
"Litha, kita berdua telah bersama... aku sangat bersyukur bisa bertemu denganmu." bisik Nagato di telinga Litha sambil menyentuhkan pipinya pada pipi Litha.
"Apa ini benar Nagato? Bukankah dia biasanya dingin dan terlihat keren? Tetapi, sekarang dia terlihat seperti adik kecil yang manja terhadap kakaknya, apa efek halusinasi cakar Chibi bisa membuat seseorang sampai seperti ini?" Litha bertanya - tanya dalam hati karena Nagato terlihat lucu di matanya. Bahkan dia tidak pernah melihat Nagato bersikap manja sedikitpun.
Setelah empat jam, efek halusinasi dari cakar kuku kucing manis akan menghilang. Dan, kini telah empat jam Nagato terkena efek halusinasi cakar kucing manis. Perlahan - lahan kesadaran Nagato kembali.
"Nagato, jangan lakukan hal yang memalukan..." bisik Litha lirih karena Nagato berusaha mencium bibir tipisnya.
Nagato masih bingung dengan situasi ini, dan kenapa dia berada di atas tubuh Litha.
"Kenapa aku dalam posisi yang terlihat seperti anak kurang ajar ini? Dan, kenapa Litha wajahnya sangat merah merona, tetapi dia tetap terlihat cantik?" batin Nagato sambil memandang Litha yang sedang mengigit jari telunjuknya dan memalingkan wajahnya ke samping.
"Apa aku belum mengigit leher Litha? Jadi ini alasannya dia memalingkan wajahnya seperti itu?" batin Nagato sambil membenamkan wajahnya pada leher Litha. Karena Nagato kehilangan ingatan ketika dalam efek halusinasi cakar kucing manis, jadi dia tidak mengingat kejadian dimana dia hampir mencium Litha.
"Litha, maaf mungkin ini terasa sakit... tapi aku akan pelan - pelan dan lembut menggigitnya..." bisik Nagato di telinga Litha.
Litha terkejut mendengar perkataan Nagato kemudian dia memegang pundak Nagato dengan erat.
"Apa yang akan Nagato lakukan?" batin Litha melirik Nagato yang membenamkan wajahnya pada lehernya.
"Akh... mmm." desah Litha meringis kesakitan karena Nagato menghisap darah lehernya kembali.
"Maaf... apa aku terlalu kasar?" tanya Nagato sambil mengusap darah segar Litha yang sedikit keluar dari kulit lehernya yang putih kemudian dia mengecup bekas gigitannya di leher putih Litha.
Nagato berbaring di samping Litha sebentar, kemudian dia duduk di pinggir ranjang melirik Litha.
Litha memeluk gulingnya dia masih malu untuk menatap Nagato.
"Aku tahu Nagato terkena efek halusinasi, tetapi tetap saja aku sangat malu menatap wajah datarnya itu." batin Litha karena merasa Nagato telah sadar kembali.
Di sisi lain Nagato yang melihat Litha seperti itu, dirinya menjadi semakin merasa bersalah.
"Siapa juga yang mau digigit lehernya apalagi sampai meninggalkan bekas luka gigitan..." batin Nagato sambil memegang rambutnya.
Nagato beranjak keluar kamar Litha dengan murung walau wajahnya tetap kelihatan datar dan dingin.
__ADS_1
"Hah? Chibi... kucing sialan ini tadi pagi mencakarku!" teriak Nagato menatap Chibi yang sedang berjalan dihadapannya ketika dia membuka pintu kamar Litha.