Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 228 — Air Dan Hujan...


__ADS_3

“Selamat Nagato...” Litha memberi ucapan selamat pada Nagato dengan wajah yang bahagia.


Nagato duduk di samping Litha dan menghela napas panjang, “Aku tertarik melawan Himuro. Semoga saja di babak 8 besar nanti, aku akan melawannya...”


“Jangan sombong, Naga. Jika kita berdua bertemu, aku akan mengalahkanmu...” Iris menanggapi perkataan Nagato.


Tak lama Gyuki kembali memanggil dua nama peserta yang akan bertanding di pertandingan selanjutnya. Dua nama tersebut tak lain adalah Hika dan Satha.


“Fuyumi Tika dan Satha. Dua nama yang kupanggil silahkan maju ke depan!” Tak lama Tika dan Satha berjalan ke tengah lapangan setelah Gyuki memanggil nama mereka.


“Apa kalian berdua masih mengingat peraturannya?” Gyuki bertanya pada Tika dan Satha untuk memastikan. Setelah melihat kedua peserta menganggukkan kepalanya, “Baiklah, kalian berdua ambil jarak...” Gyuki melanjutkan perkataannya.


Tika dan Satha mundur tiga langkah ke belakang. Kemudian mereka saling berpandangan dan saling menatap satu sama lain.


“Baiklah, pertandingan kelima babak 16 besar Turnamen Harimau Kai antara Fuyumi Tika melawan Satha dimulai!” Gyuki tersenyum lembut ke arah Tika yang langsung mengibaskan kipasnya.


“Teknik Kipas Air Pertama : Hembusan Air Terjun Mengalir!”


Sebuah air keluar dengan derasnya dari kipas Tika. Sambil berjalan mendekati Satha yang masih diam, Tika mengarahkan air yang keluar dari kipasnya ke arah Satha.


“Gadis kembar ini boleh juga, aku sedikit tertarik padamu, tapi tunggu kita dewasa sedikit, Fuyumi!” Satha menarik pedangnya dan memainkan dengan lihai.


Tebasan pedang Satha memotong aliran air yang keluar dari kipas Tika. Penonton berdecak kagum melihatnya. Namun ayunan pedang Satha sangat cepat membuat Tika menjaga jarak dengan pemuda tersebut.


Gerakan Satha kali ini lebih cepat, “Putaran Cambuk Api!” Lalu Satha melepaskan serangan tebasan pedangnya yang membentuk lintasan api seperti cambuk ke arah Tika.


Secara mengejutkan Tika menghindari tebasan pedang Satha. Rambut gadis manis kembar itu terkena percikan api.


Tika mendengus kesal, “Perlakukan perempuan dengan lembut...”


Satha tersenyum tipis dan semakin tertarik pada Tika. Permainan pedangnya cepat dan gesit, setiap gerakannya terisi dan mampu membuat Tika terdesak dan lebih memilih menjaga jarak dari Satha.


Sambil menjaga jarak dari Satha yang terus-menerus mengayunkan pedangnya, Tika mengibaskan kipasnya menciptakan ratusan jarum air yang melesat cepat ke arah Satha.


Sementara itu Satha dapat menghindari setiap jarum air yang datang sambil tetap mengayunkan pedangnya. Tika diam-diam terus menyerang dan mendekati Satha sehingga jarak anatara gadis manis kembar dengan pemuda itu sudah saling berhadapan.


“Teknik Kipas Air Kedua : Aliran Air Musim Dingin.”


Tanpa sadar Satha tidak memperkirakan Tika yang sudah berada dihadapannya, aliran air yang mengalir di udara menyerang Satha ketika Tika memutarkan tubuhnya.


Tubuh Satha tersungkur ke tanah, kemudian Tika membekukan air yang mengenai tubuh Satha. Wajah Tika terlihat semakin waspada terhadap Satha yang kembali berdiri tegak dari tempat pemuda itu terjatuh.


Satha menatap Tika, kali ini gerakannya berubah menjadi agresif dalam ketika menyerang Tika. Tebasan pedangnya dalam dan berisi membuat Tika kesulitan untuk menghindari.


Kimono putih yang dikenakan Tika terkena sayatan pedang Satha dan memperlihatkan kulit mulut Tika bagian lengan dan dadanya.


Wajah Tika merah padam bercampur antara malu dan menahan amarah. Tak ingin dipermalukan di depan banyak orang, Tika terus mengibaskan kipasnya sambil menghindari serangan Satha.


Keduanya kini mulai semakin sengit bertarung, Satha terus menyeringai melihat kimono putih Tika terus terkena sayatan pedangnya.


Tika dan Satha bertukar sepuluh jurus, serangan Satha sangat brutal namun sengaja mengenai kimono putih Tika untuk mempermalukan gadis manis kembar tersebut.


Setelah keduanya bertukar serangan selama dua puluh menit, kimono putih yang dikenakan Tika mendapat banyak bekas robekan karena terkena tebasan pedang Satha, luka goresan di kulit Tika juga tidak sedikit.


Tika terlihat tidak leluasa dalam melakukan pergerakan, sehingga pertahanannya semakin melemah. Serangan Satha semakin brutal ketika Tika melemahkan pertahanannya.


Dengan wajah yang menyeringai, Satha berniat memotong kain putih yang mengikat pinggang kiri Tika, namun tangannya di pegang oleh Gyuki.


“Cukup, pemenangnya adalah Satha!" Dengan wajah yang geram, Gyuki mencengkeram tangan Satha sangat erat hingga pemuda itu memekik.


“Ahk!” Satha menarik tangannya yang digenggam Gyuki kemudian dia berbalik sambil mengumpat kesal dalam hatinya, “Selalu saja mengganggu kesenanganku!”


Gyuki tersenyum lembut pada Tika dan menyentuh rambut gadis manis kembar tersebut, “Kamu sudah berjuang, Fuyumi Tika. Aku bangga memiliki seorang anak sepertimu. Ambil pelajaran dari pertandingan ini, dan kalian berdua harus saling melindungi...”

__ADS_1


Tika yang ingin menangis justru terkejut mendengar perkataan Gyuki, “Apa Paman Gyuki...” Tika menelan ludah dan sulit untuk melanjutkan perkataannya.


Namun satu hal yang Tika sadari, saat melihat dan mendengar perkataan Gyuki, dirinya sama sekali tidak takut dan merasa senang.


“Ayah?” Tika menatap wajah Gyuki dan ingin memastikan.


“Kembalilah, aku tidak ada untuk kalian bertiga karena suatu alasan. Tetapi aku akan melindungi kalian bertiga yang menjadi kebanggaanku...” Gyuki menyentuh pipi Tika dan langsung memanggil dua nama peserta selanjutnya.


Tika ingin memeluk Gyuki namun saat ini dia ingin memberitahu Ichiba dan Hika tentang identitas dari Gyuki yang sebenarnya.


“Ayah, kenapa selama kamu tidak ada untuk Tika dan Hika...” Tika membatin lirih dalam hatinya dan kembali ke bangku penonton yang ditempati Klan Fuyumi.


“Setidaknya aku bisa melihat kalian bertiga baik-baik saja. Saat ini kami akan menarik pedang untuk memastikan iblis itu mati!” Gyuki berteriak dalam hatinya sambil memejamkan matanya.


“Baiklah, selanjutnya, Fuyumi Litha dari Klan Fuyumi dan Masayu dari Perguruan Gunung Menangis...” Gyuki membuka matanya pelan-pelan dan menatap ke arah bangku penonton yang ditempati 16 peserta babak 16 besar Turnamen Harimau Kai, “Dua nama yang kupanggil silahkan maju ke depan!”


Terlihat Litha dan Masayu saling menatap satu sama lain di bangku penonton, sedangkan Nagato dan Iris menyadari ada pembicaraan mendalam antara Gyuki dan Tika.


Iris baru pertama kali melihat ekspresi wajah Tika yang terlihat begitu bahagia karena terlihat seperti bertemu orang yang paling berharga dalam hidupnya.


“Naga, bagaimana menurutmu?” Iris menatap Nagato yang duduk disampingnya.


“Kemungkinan besar wasit yang bernama Gyuki adalah orang yang Tika kenal. Entah Gyuki itu siapa.... Tetapi aku rasa hubungan Tika dan wasit itu lebih dari yang kita kira...” Nagato menjawab sembari menatap ke arah Iris, kemudian dia mengalihkan pandangannya menatap Litha yang tersenyum lembut padanya.


Iris terlihat sedang memikirkan Tika, sementara itu Litha dan Masayu sedang berjalan menuju tengah lapangan Arena Lingkaran Harimau.


“Tidak kusangka, di babak ini aku akan bertemu denganmu, Litha...” Masayu tersenyum tipis melirik Litha yang berjalan disampingnya.


Litha melirik Masayu sambil mengepalkan tangannya, “Aku juga tidak menyangka akan bertemu denganmu di pertandingan ini Kakak Masayu...”


Lalu Masayu dan Litha terus berjalan menuju tengah lapangan dan sampai di depan Gyuki yang sudah menunggu kedatangan mereka berdua.


“Fuyumi Litha, Masayu, apa kalian berdua masih ingat dengan peraturannya?” Gyuki langsung bertanya pada Litha dan Masayu yang baru saja sampai di tengah lapangan Arena Lingkaran Harimau.


“Aku masih mengingatnya,” jawab Masayu singkat, sedangkan Litha hanya menganggukkan kepalanya pelan.


Litha dan Masayu saling menatap tajam satu sama lain. Angin berhembus di sekitar mereka menandakan ketegangan yang terjadi di antara Litha dan Masayu.


“Baiklah, pertandingan keenam babak 18 besar Turnamen Harimau Kai antara Fuyumi Litha dari Klan Fuyumi melawan Masayu dari Perguruan Gunung Menangis dimulai!” Gyuki mengambil langkah melompat ke belakang dan mengamati jalannya pertandingan.


“Pernapasan Sirih...”


“Pernapasan Hujan...”


Litha dan Masayu mengolah pernapasan ketika aba-aba dari Gyuki terdengar di telinga kedua gadis muda itu.


“Litha, walau teman, aku tidak akan menahan diri...” Masayu tersenyum tipis dan menyapa Litha dalam pertandingan.


“Hmph! Aku juga tidak akan menahan diri, Kakak Masayu!” Litha membalas sapaan Masayu.


Lalu Litha dan Masayu bergerak hampir secara bersamaan setelah Gyuki memulai aba-aba pertandingan. Dari awal Litha dan Masayu sudah mengolah pernapasan dan serius sejak awal pertandingan.


Litha mencabut pedangnya, dia paham Masayu adalah seseorang yang memiliki pernapasan yang pengolahannya sama dengan pernapasan yang diajarkan Kakek Hyogoro, sehingga Litha ingin menggunakan segenap kekuatannya sejak awal pertandingan.


Sambil mengolah pernapasan, Litha dan Masayu saling menebaskan pedang mereka. Pedang Litha dan Masayu bertemu, keduanya saling menatap sengit satu sama lain dan tersenyum tipis, setelah itu Litha dan Masayu bertukar serangan.


Bunyi nyaring dari pedang yang berbenturan terus menggema di Arena Lingkaran Harimau. Banyak penonton yang berdecak kagum melihat permainan pedang mereka berdua, baik itu Litha maupun Masayu.


“Tangisan 1000 Kata...”


“Pusaran Air...”


Bentrokan antar kedua teknik pedang membuat pusaran air yang memutar di tengah lapangan. Masayu menjaga jarak dari Litha sambil mengaliri pedangnya dengan tenaga dalam.

__ADS_1


“Tangisan 1500 Kata...”


Tebasan pedangnya membentur pusaran air milik Litha. Ketika pusaran air yang terus memutar di tengah lapangan meledak, rintik-rintik air seperti gerimis hujan membasahi Gyuki, Litha dan Masayu yang berada di tengah lapangan, bahkan sebagian penonton yang duduk di tribun tengah juga terkena rintikan air.


“Pernapasan Hujan...”


Masayu kembali mengolah pernapasan dan menyerang Litha dengan puluhan serangan beruntun beserta puluhan teknik pedangnya. Sementara itu Litha terus memainkan pedangnya dan menangkis setiap tebasan pedang Masayu.


“Hujan Membasahi Jiwa Kekeringan!”


Masayu dengan cukup agresif menghindari tebasan pedang Litha dan menggunakan teknik pedangnya untuk melakukan serangan kejutan.


“Gelombang Air Menggerakkan Jiwa!”


Benturan dua tebasan pedang yang dialiri air saling bertabrakan dan gelombang air dari kedua teknik pedang saling menghantam membuat Litha dan Masayu sama-sama terpental jauh ke belakang.


“Litha, seranganmu berbahaya...” Masayu tersenyum tipis dan berusaha memperoleh kembali keseimbangannya.


Litha tersenyum tipis menatap Masayu yang telah kembali berdiri tegak, “Serangan Kakak Masayu juga berbahaya...”


Kemudian Litha dan Masayu kembali bertukar serangan sambil terus mengolah pernapasan. Setiap ayunan pedang mereka berdua sangat bertenaga.


“Tangisan 2000 Kata...”


Masayu berniat melakukan serangan beruntun menggunakan teknik pedangnya. Kali ini dia ingin melancarkan serangan yang tidak ada hentinya kepada Litha.


Tebasan pedang Masayu yang dilapisi air berbenturan dengan pedang Litha. Teknik pedangnya belum mampu menembus pertahanan Litha yang kokoh dan tenang layaknya air yang mengalir itu.


“Hujan Deras Terbit!”


Litha terkejut melihat tebasan pedang Masayu yang bercahaya berwarna biru, tangannya terkena sayatan tebasan pedang Masayu.


“Hngh!” Litha melenguh sesaat namun dia kembali melancarkan serangan balik, “Tarian Peri Air!”


Baik Litha maupun Masayu terus bertukar jurus hingga pertandingan di tengah lapangan semakin menarik. Penonton berdecak kagum melihat permainan pedang Litha dan Masayu yang sama-sama anggun.


“Hujan Deras Terbenam!”


Masayu kembali melanjutkan serangan beruntunnya, kali ini dia mengeluarkan aura tubuhnya dalam jumlah besar begitu juga dengan tenaga dalam yang dia aliri pada bilah pedangnya.


“Mengalir Seperti Air!”


Sementara itu Litha menyadari Masayu yang sedang melakukan serangan beruntun pada dirinya sehingga Litha memperlambat tempo kecepatannya, “Pernapasan Pelangi Surgawi : Bentuk Biru...”


“Lautan Air!”


Litha mengikuti gerakan Nagato beserta permainan pedang dari pemuda tersebut. Sebuah tebasan pedang yang menciptakan aliran air yang seperti gelombang air laut itu membuat Masayu terlambat bereaksi.


Benturan dua pedang antara Litha dan Masayu menjadi penentu. Litha terus memainkan pedangnya dan bergerak dengan lincah mengikuti pola langkah yang digunakan Nagato.


“Ini...” Masayu menelan ludah karena merasa melihat Nagato di dalam diri Litha, “Kenapa mereka berdua dapat meniru gerakan orang lain?”


Litha berhasil mendaratkan tebasan pedang di tangan Masayu kemudian menendang perut gadis dari Perguruan Gunung Menangis tersebut.


“Ugh!” Masayu tersungkur ke tanah dan berusaha untuk kembali berdiri namun Litha sudah siap menyerangnya.


“Kita impas!” Litha memperhatikan tangannya yang terkena goresan sayatan pedang Masayu.


Melihat Litha yang masih bisa tersenyum walau gadis muda itu mengintimidasinya, Masayu tertawa lirih dan berusaha mencari celah namun aura intimidasi yang dikeluarkan Litha membuatnya sadar jika tidak ada celah untuk dirinya kembali berdiri.


Gyuki memberi tanda pada Litha dan Masayu jika pertandingan telah berakhir. Kemudian pria itu mengumumkan Litha sebagai pemanangnya.


”Pemenangnya Fuyumi Litha dari Klan Fuyumi!” Gyuki menatap Litha yang sedang menatik tangan Masayu, kemudian dia melihat kedua gadis muda itu melemparkan senyum padanya sebelum kembali ke bangku penonton.

__ADS_1


“Fuyumi Litha dan Fuyumi Nagato. Aku rasa mereka berdua kakak beradik, tetapi anak siapa?” Gyuki justru sedang memikirkan permainan pedang Litha yang sama persis dengan Nagato bahkan gadis muda itu terlihat memiliki aura intimidasi yang sama dengan Nagato walau wajahnya selalu tersenyum berbeda dengan Nagato yang tidak stabil dalam mengendalikan emosinya.


“Baiklah, selanjutnya Misuzawa Hanabi dari Klan Misuzawa dan Kitakaze Yuri dari Klan Kitakaze...” Gyuki kembali menatap ke arah bangku penonton, “Dua nama yang kupanggil silahkan maju ke depan!”


__ADS_2