Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 199 - Ashiya Giyumaru vs Kitakaze Kenji


__ADS_3

Hanabi berlari ke arah kedua beruang tanah yang juga mendekati dirinya, gadis berambut hitam kemerah-mudaan itu berhenti tepat ditengah-tengah kedua beruang tanah tersebut.


Dua pukulan tangan beruang tanah langsung mengarah padanya, Hanabi dapat menghindari kedua pukulan tersebut.


Jaisetsu sedikit kesal ketika melihat Hanabi yang seakan-akan menantangnya untuk terus melancarkan serangan padanya. Pemuda itu mengerakkan kedua beruang tanah agar menghimpit tubuh Hanabi dan melepaskan pukulan terkuatnya.


Hanabi tersenyum tipis melihat Jaisetsu yang terpancing dalam permainannya, gadis berambut hitam kemerah-mudaan itu menatap dua pukulan yang bertenaga mengarah padanya. Matanya sangat fokus dan tajam sekarang.


Jarak kedua beruang tanah sangat dekat dengan Hanabi. Semua orang keheranan melihat Hanabi yang melompat dengan cepat, tidak berapa lama pukulan tangan beruang tanah mengarah ke tengah.


Penonton yang melihat dari tribun bisa mengetahui jika Jaisetsu telah terpancing amarahnya sehingga dia tidak menyadari rencana Hanabi.


Mata Hanabi melihat sekilas arah pukulan beruang tanah, di tengah-tengah udara dia memutarkan tubuhnya, semua orang kembali dibuat berdecak kagum oleh Hanabi.


Jaisetsu mengerutkan dahinya ketika melihat dua pukulan beruang tanah yang dia ciptakan justru saling menghancurkan satu sama lain. Dua beruang tanah telah hancur karena mereka mengarahkan pukulannya mengarah lurus ke depan tepat dimana jarak kedua beruang tanah itu sangat dekat.


Hanabi menarik napas dalam-dalam dan mengatur aliran napasnya yang tidak teratur itu, dia mempertaruhkan kemenangannya pada emosi Jaisetsu. Jika pemuda itu tetap tenang maka Hanabi akan terkena telak kedua pukulan beruang tanah, tetapi Jaisetsu tidak bisa mengontrol emosinya yang menggebu-gebu sehingga itu menjadi kelemahannya.


Setelah aliran napasnya stabil, dengan cepat Hanabi kembali melakukan serangan bertubi-tubi pada Jaisetsu. Pukulan tangannya dan tendangan kakinya terus mendarat di badan Jaisetsu.


"Sialan! Kenapa aku bisa lengah! Padahal itu tadi kesempatan terbesarku untuk memenangkan pertandingan ini!" Jaisetsu membatin penuh penyesalan karena terpancing permainan Hanabi dan tenggelam dalam amarahnya.


Melihat Jaisetsu yang mengerutkan dahi dan terlihat seperti sedang emosi, Hanabi mundur ke belakang untuk mendaratkan serangan pukulannya yang dialiri tenaga dalam beserta aura tubuhnya.


"Kehalusan Sakura Bersemi."


Hanabi memukul Yugo dari jarak yang dibilang cukup dekat, terlihat sebuah pukulan tangan besar dari daun-daun sakura membentuk kepalan tangan. Gadis berambut hitam kemerah-mudaan itu melakukan sesuatu dengan tangan kanannya yang terlihat sedang mengepal.

__ADS_1


Jaisetsu sebenarnya menyadari serangan ini tetapi tubuhnya tidak bisa mengikuti pikirannya, dan tubuhnya enggan berjalan searah dengan pikirannya. Sekarang Jaisetsu membatin penuh kekesalan, "Sial! Aku tidak akan kalah disini!" Terlihat aura berwarna coklat melapisi seluruh tubuhnya.


Jaisetsu membentuk sebuah tembok pelindung tanah tepat didepannya, dia gunakan tembok pelindung tanah tersebut untuk mengulur waktu. Langkahnya terus mundur ke belakang menjauh dari Hanabi.


Pukulan tangan besar yang terbentuk dari kumpulan bunga sakura terpecah melewati tembok pelindung tanah milik Jaisetsu. Semua penonton berdecak kagum karena Hanabi dapat memanipulasi bunga sakura dengan sesuka hatinya, aura tubuhnya dapat dia kontrol di usia yang masih begitu muda.


Hanabi menatap tajam Jaisetsu yang terlihat pucat pasi wajahnya, dalam hatinya dia membatin lirih meneriakkan nama jurusnya. "Layu Dalam Kesenduan Di Musim Semi." Pukulan tangan besar yang terbentuk dari kumpulan bunga sakura itu berubah menjadi daun-daun sakura yang tajam.


Nama jurus Hanabi sangat berbeda dengan jurus yang terlihat, seribu daun sakura yang terbang di udara itu bagaikan pisau kecil yang siap melesat cepat ke arah Jaisetsu dengan kecepatan penuh.


Jaisetsu menelan ludah melihat serangan Hanabi. Pemuda itu sadar jika dirinya masih harus belajar banyak dari pertandingan kali ini.


Hanabi mengarahkan seribu daun-daun bunga sakura yang tajam itu ke arah Jaisetsu. Tepat ketika tangan Hanabi menjetikkan jarinya, seribu daun-daun bunga sakura langsung terbang melesat dengan cepat ke arah Jaisetsu.


"Aku bertanding dengan gagah berani. Jika aku kalah, maka aku harus kalah dengan keadaan gagah berani." Jaisetsu membatin penuh kepercayaan diri, tetapi tetap saja seluruh wajahnya berkeringat dingin dan tidak bisa menyembunyikan ketakutannya.


Jaisetsu yang menyadari hal tersebut menelan ludah, pemuda itu sulit untuk mengatur napasnya yang memburu dan tidak teratur karena seribu daun-daun bunga sakura yang tajam tepat berada di bagian seluruh tubuhnya.


Hanabi menggerakkan seribu daun-daun bunga sakura yang tajam sedikit ke depan, darah mengalir di pipi dan leher pemuda yang menjadi lawannya itu, bahkan jubah yang dikenakan Jaisetsu sobek dan memperlihatkan bagian tubuhnya yang terkena goresan daun-daun bunga dan sakura.


Wajah Jaisetsu pucat pasi, tidak berapa lama dia mengatakan hal yang tidak ingin dia katakan. Dengan sangat pelan pemuda itu berkata, "Aku menyerah..." Wajah Jaisetsu pucat pasi bercampur merah padam karena menahan malu.


Gyuki yang menyadari hal tersebut langsung mengangkat tangannya, mulutnya terbuka dan bersuara lantang. "Berhenti!" Hanabi langsung menjatuhkan seribu daun-daun bunga sakura yang berterbangan. Kemudian dia menekan seluruh aura tubuhnya hingga akhirnya semua aura tubuh Hanabi masuk kembali ke dalam tubuhnya.


"Dikarenakan Jaisetsu Kadowaki telah menyerah, maka pemenangnya adalah Misuzawa Hanabi!" Gyuki mengakhiri pertandingan ketiga babak 32 besar Turnamen Harimau Kai yang dimenangkan oleh Misuzawa Hanabi.


Tubuh Jaisetsu terduduk di tanah, pemuda itu menahan malu yang luar biasa. Pandangan matanya menatap tanah. Dengan mengumpulkan seluruh tenaganya, Jaisetsu berdiri dan menghela napas panjang.

__ADS_1


"Aku ... kalah..." Jaisetsu menggumam pelan. Setelah dia merasa tenang, barulah Jaisetsu kembali ke bangku penonton tempat pendekar dari Ikatan Darah Tunggal menontonnya bertarung dari atas tribun.


Hanabi diam menatap Jaisetsu tanpa ekspresi apapun, tatapan matanya hanya tetap menunjukkan dia tidak tertarik sama sekali pada Jaisetsu.


Hanabi kembali ke bangku penonton tempat Klan Misuzawa duduk menonton dengan langkah yang tenang, parasnya yang cantik dan anggun membuat penonton memberi tepuk tangan pada Hanabi.


Sesampainya di bangku penonton, Hanabi duduk disamping Hana dan berkata, "Ibu Hana, apa tadi aku berlebihan?" Mata Hanabi menatap Hana dengan rasa penasaran.


Hana menggelengkan kepalanya dan menjawab, "Tidak, Hanabi. Lawanmu meremehkanmu, serangan variasi kalian sebenarnya tidak sama. Seranganmu lebih mendominasi dibanding lawanmu, hanya saja kamu butuh sedikit sesuatu selain ambisimu itu." Hanabi memiringkan kepalanya dan kebingungan.


"Sesuatu? Apa itu, Ibu Hana?" Hanabi bertanya kembali pada Hana.


"Hanabi, jika kamu jatuh cinta pada seseorang, maka apa yang kamu tatap sekarang akan berbeda." Hana menjawab pertanyaan Hanabi dengan lirih.


"Aku tidak mengerti. Apa maksud, Ibu Hana?" Hanabi kembali bertanya karena dirinya belum paham sepenuhnya dengan maksud perkataan Hana.


"Coba kamu lihat langit atau apapun itu." Hana menoleh melihat Hanabi yang mengikuti perkataannya, setelah itu pada bertanya pada anak keduanya itu, "Apa yang kamu rasakan?" Hanabi hanya menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak merasakan apa-apa, Ibu Hana. Semua tampak biasa saja." Hanabi kebingungan dengan perkataan Hana. Gadis berambut hitam kemerah-mudaan itu masih mencoba mencerna perkataan Hana.


"Kelak jika kamu jatuh cinta pada seseorang, maka langit yang tampak biasa saja itu akan menjadi berwarna." Hana tersenyum lembut pada Hanabi sambil mengelus rambut anaknya itu.


"Jatuh cinta? Tidak ada orang yang aku suka." Hanabi menanggapi perkataan Hana sambil memejamkan matanya.


Bersamaan dengan Hana dan Hanabi yang sedang berbincang, Gyuki terlihat sedang membaca nama peserta yang akan bertanding selanjutnya. Tangannya memegang kertas, tidak berapa lama suaranya yang lantang menggema di Arena Lingkaran Harimau.


"Ashiya Giyumaru dan Kitakaze Kenji! Untuk dua nama yang barusan kusebut, silahkan maju ke depan!" Gyuki memejamkan matanya setelah bersuara lantang, pria itu menunggu kedatangan dua peserta ke tengah lapangan Arena Lingkaran Harimau.

__ADS_1


__ADS_2