Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 80 - Menuju Kota Helai


__ADS_3

Nagato menangkis tebasan pedang yang diayunkan pria yang tak asing dimatanya.


"Jadi kau rupanya?!" Nagato tersenyum tipis kemudian menendang perut pria tersebut.


ST 1 terkejut karena anak muda yang diremehkannya ternyata sudah menyadari pergerakannya dari awal. Nagato menatap tajam ST 1 sambil memainkan pedangnya.


'Suasana hatiku sedang buruk!' Nagato maju melayangkan serangan tetapi serangan tebasannya dapat ditahan dengan mudah oleh ST 1.


Kakek Hyogoro menatap Nagato kemudian menurunkan tubuh Yoshimitsu dan menyuruh Tsutomu untuk memegang tubuh Yoshimitsu.


"Kudengar dari Kuina dulu kau tidak seperti ini setelah kau tenggelam dalam kebencian karena takut kehilangan seseorang lagi membuatmu tidak peduli menjadi pembunuh berdarah dingin demi melindungi orang yang berharga dihidupmu!" Kakek Hyogoro menggumam pelan sambil melangkahkan kakinya pelan untuk menenangkan Nagato.


Nagato kesal karena ST 1 dapat menahan setiap tebasan pedangnya.


"Sirih." Nagato menghirup udara disekelilingnya dalam satu tarikan nafasnya.


"Putaran Jarum Api!" Nagato mengayunkam pedangnya dari kiri ke kanan dan mencari celah untuk membunuh ST 1 ketika melihat musuhnya mundur beberapa langkah kebelakang kemudian Nagato memutarkan tubuhnya hingga lintasan kobaran api padat membentuh jarum api kecil melesat kearah ST 1.


"Anak ini!" ST 1 mengerutkan dahinya karena melihat teknik pedang yang digunakan Nagato kemudian dia menghindari serangan Nagato tetapi tubuhnya terluka parah setelah terkena serangan teknik pedang yang digunakan Nagato.


Nagato mengolah pernafasan kemudian menghilang dalam pandangan ST 1, dengan bilah pedang yang dilapisi api dia hendak menebas kepala ST 1 tetapi Kakek Hyogoro datang dan menendang Nagato hingga terpental jatuh ketanah.


Kakek Hyogoro menebas kepala ST 1 dalam satu tebasan pedangnya kemudian dia berjalan kearah Nagato dengan raut wajah yang geram.


"Nagato, jika kau bertindak sesuai emosimu lagi maka kakek tidak akan menganggapmu sebagai murid lagi!" Kakek Hyogoro menatap dingin Nagato yang sedang tersungkur ditanah.


Mendengar perkataan Kakek Hyogoro membuat seluruh indera Nagato berhenti.


"Kakek Hyo, jika kau tidak menganggapku sebagai muridmu lagi aku tidak peduli dan mulai saat ini aku akan mencari orang yang bisa memberi kekuatan padaku lebih besar dari ini karena keinginan hidupku hanya satu yaitu membunuh seluruh anggota Organisasi Disaster dan aku tidak peduli dengan yang lainnya!" Nagato berdiri dengan senyuman dingin yang menyungging diwajahnya dia hendak menyerang Kakek Hyogoro.


Kakek Hyogoro terdiam mendengar perkataan Nagato.

__ADS_1


'Nagato adalah korban dari tindakan orang tuanya yang terlalu baik bahkan jika seluruh Klan Kagutsuchi masih hidup sampai sekarang mungkin Nagato akan melihat insiden berdarah yang membunuh seluruh Klan Kagutsuchi dan itu akan membuatnya menjadi seorang pendendam, sungguh ironis!' Kakek Hyogoro menghilang dari dalam pandangan mata Nagato kemudian dia memukul Nagato tepat di ulu hatinya.


"Jangan sombong dulu bocah tengik, memangnya kau bisa membunuh Kazan dengan kekuatanmu yang sekarang ini?!" Kakek Hyogoro mengangkat tubuh Nagato kemudian melemparnya tepat didepan Litha.


"Litha, tenangkan anak nakal ini." Kakek Hyogoro berjalan mendekati Amaga kemudian dia melepaskan aura intimidasi kearah Amaga.


Litha memegang tubuh Nagato yang hampir pingsan.


"Sialan, Kakek Hyo!" Nagato mencoba berdiri tetapi Litha menahan tubuh Nagato.


"Sudah Nagato ... " Litha mencoba menenangkan Nagato yang masih terlihat emosi.


Setelah beberapa menit Nagato diam dan menyandarkan kepalanya dipangkuan paha Litha. Sementara itu Kakek Hyogoro menyuruh Yoshimitsu untuk menjelaskan kepada penduduk desa yang terlalu percaya pada Amaga.


Yoshimitsu mengangguk pelan kemudian menjelaskan apa yang terjadi padanya bahkan pria itu merasa menyesal telah menyelamatkan Amaga saat itu.


Penduduk desa terdiam dan merasa bersalah pada Nagato dan Litha setelah mendengar perkataan Yoshimitsu.


Kakek Hyogoro menghela nafas panjang kemudian dia bertanya pada penduduk desa apakah mereka akan melindungi pria bail dan sopan yang berada didepannya.


Sindirian Kakek Hyogoro membuat mereka diam dan merenungkan perbuatan mereka.


"Apa ada kata terakhir yang ingin kau ucapkan?" Kakek Hyogoro tersenyum ramah dan berkata sopan seperti yang Amaga lakukan terhadap orang - orang disekitarnya.


Amaga menelan ludah dan berkeringat dingin melihat Kakek Hyogoro yang sudah siap untuk membunuhnya bahkan pria itu sadar jika dirinya tidak akan selamat lagi.


"Ka-Kakek bukankah aku yang menyewamu!" Amaga menunjuk Kakek Hyogoro dengan jarinya.


"Kau tidak boleh membunuhku dan kau harus membantuku membunuh tua bangka itu agar aku dapat menguasai seluruh harta kekayaannya!" Amaga tertawa dan menatap tajam Kakek Hyogoro.


Kakek Hyogoro tersenyum dingin setelah mendengar perkataan Amaga.

__ADS_1


"Uang yang kau berikan padaku itu milik Tuan Yoshimitsu!" Kakek Hyogoro menodongkan pedangnya pada leher Amaga membuat pria kacamata itu terdiam seribu bahasa.


"Ada dua misi yang diberikan padaku dari Bangsawan Kochi yang pertama menyelidiki apa yang sedang terjadi disini dan disurat itu aku diperintahkan untuk membunuhmu karena orang yang menulis surat tersebut adalah Tsutomu!" Kakek Hyogoro tersenyum melihat raut wajah Amaga yang berkeringat dingin dihadapannya.


"Dan yang kedua aku diperintahkan untuk membasmi kumpulan bandit yang sekarang masih menguasai Kota Helai, bukankah mereka semua itu anggotamu?" Kakek Hyogoro menambahkan.


Amaga terdiam mendengar perkataan Kakek Hyogoro karena rencana yang telah dia bangun selama 5 tahun gagal berantakan.


"Misi darimu itu cukup aneh karena aku hanya diperintahkan untuk datang ke rumah ini dan kemarin kau langsung memberikan peta lokasi bandit kelompokmu, bukankah itu cukup aneh, adik dari Amasa?!" Kakek Hyogoro terdiam melihat raut wajah Amaga setelah mendengar nama Amasa.


"Bagaimana kau tahu nama itu?" Amaga terkejut karena tidak banyak orang yang mengetahui masa lalunya sebagai anggota kelompok peramapok Serigala Hitam.


"Orang itu sudah kubunuh karena merampok dan menyandera penduduk desa." Kakek Hyogoro menatap Amaga yang terlihat emosi setelah mendengar jawabannya.


"Dasar iblis kau!" Amaga hendak memukul Kakek Hyogoro tetapi dirinya kembali tersungkur ditanah ketika seluruh tubuhnya terasa sakit dan tidak bisa bergerak karena tubuhnya telah melewati batasntya ketika melawan manusia buas bahkan setelah itu Nagato juga menghajarnya.


Kakek Hyogoro tersenyum mendengar perkataan Amaga kemudian dia menenbas kepala Amaga hingga terpisah dari tubuhhya.


Semua orang yang melihat itu memalingkan wajahnya kesamping karena tidak tahan melihat hal tersebut.


"Jika orang sepertiku iblis maka orang sepertimu yang telah merampok, membunuh, menculik gadis desa bahkan kau berusaha membunuh orang yang telah menyelamatkanmu, apakah itu yang disebut manusia?!" Kakek Hyogoro mengibaskan pedangnya sebelum mneyarungkannya kembali.


Rencana Amaga telah sirna dan Bangsawan Kochi berhasil diselamatkan. Beberapa hari setelah hari itu Kakek Hyogoro bersama Litha dan Nagato hendak pergi ke Kota Helai untuk membasmi bandit yang menguasai kota tersebut.


Yoshimitsu berterimakasih kepada mereka bertiga bahkan pria paruh baya tersebut memberikan imbalan lagi kepada Kakek Hyogoro. Sedangkan Cika terus menatap Nagato yang tetap bersikap dingin padanya walau dia adalah seorang putri bangsawan.


'Andai Nagato umurnya sama denganku.' Cika menghela nafas panjang melihat Nagato yang kian menjauh dari pandangan matanya.


Penduduk desa mengantarkan mereka bertiga bahkan beberapa dari penduduk desa meminta maaf karena telah melukai perasaan mereka bertiga.


Nagato tidak peduli dan hanya terus melangkahkan kakinya menjauh dari penduduk desa.

__ADS_1


Kakek Hyogoro menepuk pundak Nagato kemudian dia tertawa kecil karena melihat Nagato yang kembali bersikap seperti biasanya.


__ADS_2