Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 217 - Lampion Menghiasi Langit Malam Danau Sakura!


__ADS_3

Wajah Nagato kembali memerah. Tangan kirinya menahan tangan kanan Iris yang mencolek wajahnya untuk membersihkan sambal yang menempel di pipinya.


Nagato mengemut jari telunjuk Iris dan menghisapnya. "Hah? Kenapa aku melakukan ini?" Nagato membatin. Dia sendiri tidak percaya akan bertindak sedemikian rupa karena menahan rasa malu yang luar biasa.


Iris dengan perlahan menarik jari telunjuknya. "Naga, apa yang kamu lakukan?" Protes Iris sambil memasang wajah keheranan namun dirinya merasa senang di saat yang bersamaan.


Nagato lebih memilih diam dan tidak menjawab. Namun tindakannya tersebut membuat Iris kembali memanyunkan wajahnya cemberut sambil mengembungkan pipinya.


Nagato dan Iris saling diam sampai satu jam kemudian, dan tidak berapa lama Ayah Okiayu dan Ibu Okiayu datang membawa daging yang dipenuhi sambal bersama nasi yang putih yang terlihat nikmat untuk disantap itu.


Iris menggeleng tidak percaya. "Naga, aku menjadi gemas melihatmu seperti ini." Keluh Iris sambil menatap wajah Nagato yang terlihat tidak sabar untuk melahap makanan pedas yang ada dihadapannya itu.


"Silahkan dinikmati Tuan Muda, Nona Muda." Ibu Okiayu menaruh makanan pedas di meja makan. Daging ayam utuh yang berwarna merah karena sambal itu membuat Iris bergidik melihatnya, sedangkan Nagato memasang wajah tenang yang menyembunyikan kekagumannya.


"Selamat makan..." Nagato kembali memakan makanan pedas yang telah dihidangkan Rumah Makan Hono dengan lahap.


Iris tersenyum lembut melihat Nagato yang makan dengan lahap. "Saat seperti ini, Naga terlihat begitu lucu. Aku jadi semakin menyukainya." Iris membatin penuh makna.


Ibu Okiayu tersenyum melihat Nagato yang dengan santainya memakan daging ayam dan sapi yang berlumuran sambal itu. "20 tahun lalu seorang perempuan cantik juga memakan makanan pedas tahap sembilan tingkat tiga ini." Nagato menelan daging sapi, kemudian dia meminum air putih.


"Perempuan? 20 tahun lalu? Siapa dia?" Nagato membatin penuh pertanyaan. Selang dua menit kemudian dia kembali menyantap makanan pedas yang telah disajikan.


Tidak berapa lama Ibu Okiayu dan Ayah Okiyau pergi meninggalkan Nagato yang duduk berdua dengan Iris.


"Kamu lahap sekali makannya, Naga..." Iris tertawa lirih sambil menatap Nagato.


"Kamu mau mencobanya?" Nagato menatap Iris sembari menusuk daging ayam dengan garpu.


Iris menggelengkan kepalanya lirih. "Aku tidak mau. Aku lebih suka melihatmu makan. Hanya dengan melihatmu makan saja aku jadi ikutan kenyang." Ledek Iris sambil tertawa lirih.


Nagato memakan daging ayam dengan lahapnya. Cara makan Nagato di mata Iris sangat tenang, namun pemuda itu terlihat sangat menghargai makanan karena piring yang berisi daging ayam dan sapi yang dilumuri sambal itu hanya tersisa tulang-tulang yang menjadi penghias piring tersebut.


"Malam ini aku puas sekali." Nagato membatin. Kemudian dia meminum air putih dan duduk bersantai selama lima menitan.


"Astaga Tuan Muda..." Okiayu datang membawa kertas dan duduk di dekat Nagato dan Iris. Gadis itu duduk bersama Nagato dan Iris di meja nomor satu.


"Aku terkejut Tuan Muda mampu menghabiskan makanan sepedas ini. Apa tidak pedas?" Tanya Okiayu sembari menaruh kertas yang dia pegang di atas lantai. Kemudian gadis tersebut mengambil piring-piring kotor yang ada di meja makan.


"Rasanya lumayan pedas." Nagato menjawab. Setelah itu dia meminum air putih kembali.


"Lumayan!" Iris dan Okiayu sama-sama terkejut.


Kemudian Nagato menatap wajah Iris yang terkejut. "Kamu kenapa? Aku menyukai makanan pedas seperti ini. Apa ada masalah?" Nagato merasa heran dengan Iris.


"Tidak. Hanya saja aku tidak menduga kamu sangat tahan dengan makanan pedas seperti ini." Iris memejamkan matanya ketika menjawab perkataan Nagato.


Okiayu menaruh piring-piring kotor di tempat cucian. Setelah itu gadis tersebut kembali duduk bersama Nagato dan Iris.

__ADS_1


"Sebelum Tuan Muda Nagato dan Nona Muda Iris pergi meninggalkan Rumah Makan Hono. Saya akan mengadakan sebuah permainan untuk menguji keserasian kalian." Okiayu tersenyum tipis melihat raut wajah Nagato dan Iris yang tertarik bermain dengannya.


"Naga, aku ingin mencoba permainan ini." Iris menatap Nagato penuh harap.


Nagato menganggukkan kepalanya. "Menguji keserasian?" Setelah itu Nagato tersenyum tipis dan bergumam pelan.


"Dari yang kulihat, Tuan Muda Nagato dan Nona Muda Iris masih belum sepenuhnya saling mengerti satu sama lain. Ini adalah kesempatan langka untuk melihat pendapat pribadi kalian." Okiayu menatap wajah Iris yang tertarik namun tidak dengan Nagato yang terlihat hanya mengikuti perkataan Iris.


"Kalau begitu, saatnya kita mulai tes keserasian." Okiayu melihat raut wajah Nagato dan Iris yang mendadak menjadi serius. "Pertanyaan pertama. Saat ada orang yang terjatuh di depanmu. Apa yang akan kamu lakukan?"


Nagato dan Iris saling menatap tajam satu sama lain. Senyuman tipis menghiasi wajah keduanya.


"Aku akan menolongnya." Iris yang menjawab pertama. Mendengar jawaban Iris, senyuman tipis semakin menghiasi wajah Nagato.


"Iris, kamu terlalu baik." Nagato menatap wajah Iris yang terlihat berbeda pendapat dengan dirinya.


"Jika orang yang jatuh tadi adalah anak kecil maka aku akan menolongnya. Tetapi itu tergantung dengan luka yang dialaminya. Jika lukanya tidak terlalu parah, dan dia tidak mampu berdiri sendiri maka anak kecil itu hanyalah anak manja yang tidak tahu rasa sakit dari sebuah kehidupan." Nagato memberi jawaban yang panjang. Iris menatap Nagato dan merasa kagum dengan jawaban Nagato namun dia juga merasa kesal di saat yang bersamaan.


"Jika orang yang terjatuh itu adalah kakek-kakek atau nenek-nenek, aku akan membantnya untuk kembali berdiri dan menuntunnya berjalan sampai ke rumahnya." Nagato menambahkan.


"Sudah cukup!" Okiayu tertawa melihat Nagato yang sangat serius walau tidak menunjukkan ketertarikan sama sekali. Sedangkan Iris menjawab pertanyaannya hanya mengikuti pelajaran sehari-hari yang diajarkan oleh Shirayuki sewaktu Iris kecil.


"Lanjut ke pertanyaan kedua." Nagato dan Iris saling menatap satu sama lain sembari tersenyum tipis.


"Saat ada orang yang iri padamu, sedangkan kamu tidak mengenal mereka sama sekali. Tapi mereka mengganggumu dan menjelek-jelekkan namamu di belakangmu. Apa yang akan kau lakukan di saat itu?" Okiayu menatap wajah Nagato dan Iris yang terlihat kebingungan untuk sesaat.


"Aku tidak peduli dengan orang seperti itu. Lagipula aku tidak mengenal mereka. Selama teman-temanku mengerti diriku yang sebenarnya, maka itu sudah cukup bagiku." Iris kembali menjawab dengan cepat, sedangkan Nagato menatap Iris cukup lama. Tidak berapa lama Nagato menjawab pertanyaan Okiayu.


"Satu hal lagi, jika mereka menghina nama baik orang yang aku kenal apalagi mereka menghina orang yang sudah berjasa dalam hidupku. Maka itu urusannya sudah berbeda." Nagato menambahkan.


"Selanjutnya pertanyaan ketiga." Okiayu menatap Nagato dan Iris yang sedang tertawa lirih. "Ini pertanyaan terakhir."


"Apakah kalian berdua akan datang ke Rumah Makan Hono lagi setelah ini? Itulah pertanyaan ketiganya!" Okiayu tertawa sambil berdiri secara perlahan.


"Sekalian promosi." Tambah Okiayu.


Nagato dan Iris menghela napas panjang. Kemudian mereka berdua langsung bergegas menuju tempat penjual kue.


"Berapa?" Nagato merogoh saku celana hitamnya.


"Karena saya sendiri adalah penggemar berat Tuan Muda Nagato dan Nona Muda Iris, jadi tiga keping emas untuk makanan pedas tahap sembilan tingkat tiga, sedangkan makanan pedas tahap tiga tingkat tiga berjumlah satu keping emas." Okiayu tersenyum ramah pada Nagato yang sedang mengeluarkan uang. "Total empat keping emas, Tuan Muda."


Kemudian Nagato membayar uang makan malamnya kepada Okiayu.


"Terimakasih. Semoga kalian berdua berkunjung kembali. Dan selamat menikmati suasana malam di Ibu Kota Daifuzen." Okiayu menerima empat keping emas dari Nagato dan membungkuk pada pemuda tersebut.


Nagato tersenyum tipis sebelum meninggalkan Rumah Makan Hono, sedangkan Iris melambaikan tangannya pada Okiayu.

__ADS_1


Setelah itu Iris menarik tangan Nagato menuju toko kue yang ada di tengah Ibu Kota Daifuzen. Tidak butuh waktu lama bagi mereka berdua untuk sampai di toko kue yang berada di tengah kota yang megah di Ibu Kota Daifuzen.


Iris membeli kue coklat dengan uang dua keping emas. Gadis cantik itu mendapatkan tiga kue coklat yang ditaruh di dalam kotak makanan.


Setelah membeli kue coklat kesukaannya, Iris menghampiri Nagato yang sedang menunggu dirinya. Kemudian Nagato dan Iris berjalan berdampingan menuju Danau Sakura. "Biar aku yang membawanya." Tangan kiri Nagato memegang kotak makanan yang berisi kue. Sedangkan tangan kanannya memegang tangan Iris dan menggenggamnya dengan erat.


Iris melirik Nagato dan tersenyum lembut pada pemuda yang berjalan disampingnya. Tangan kirinya membalas sentuhan lembut telapak tangan Nagato.


Sesampainya di Danau Sakura, Nagato dan Iris duduk di tempat yang paling sepi. Tempat tersebut dipenuhi dengan pohon wisteria. Bangku taman terlihat kosong, sementara itu di pinggiran danau dari arah jam sembilan disana terlihat ratusan orang sedang menerbangkan lampion ke atas langit malam di sekitar Danau Sakura.


Nagato dan Iris duduk berdua di bangku taman. Nagato membuka kotak makanan dan menaruhnya di tengah bangku tempat mereka berdua duduk.


"Apa ini pembatasnya?" Iris menatap Nagato penasaran.


"Tidak juga." Nagato menatap lampion yang mulai berterbangan.


Tidak berapa lama Iris memakan kue coklat sambil melihat lampion yang ditatap Nagato. Tangan Iris memindahkan kotak makanan ke samping, kemudian dia bergeser duduk mendekat pada Nagato. Setelah itu Iris bersandar di bahu Nagato tepat setelah dia menghabiskan ketiga kue cokelat yang dia beli.


Nagato tersenyum tipis melihat Iris yang sengaja menyandarkan kepalanya di bahunya. Dengan hati yang berdebar-debar, Nagato memberanikan diri untuk mengelus rambut halus Iris dan mencium aroma wangi dari rambut halus gadis cantik yang bersandar di bahunya tersebut.


"Naga, soal permintaan itu. Aku ingin kamu memelukku." Iris menatap wajah Nagato dan tangannya memegang tangan kanan Nagato dengan erat.


Nagato memerah wajahnya, begitu juga dengan Iris. "Apa hanya itu permintaanmu?" Tanya Nagato memastikan. Hatinya sangat senang mendengar permintaan Iris, namun sebagian dirinya juga merasa sangat malu.


Iris mengangguk lirih. "Naga, aku merasa kamu selalu menghilang dariku..." Tiba-tiba Iris menangis lirih. Perubahan sikap Iris membuat Nagato begitu terkejut.


"Kenapa kamu menangis?" Nagato menyeka air mata Iris dengan lembut. "Aku tidak akan menghilang darimu. Aku berjanji akan mengawasimu setiap waktu walau aku melakukannya dari tempat yang sangat jauh." Nagato mendekap tubuh Iris.


"Naga, lagi-lagi kamu mengatakan itu!" Iris membalas pelukan Nagato. "Aku selalu memikirkanmu setiap waktu! Aku cemas padamu, Naga! Apa maksudmu di malam itu mengatakan hal yang membuatku menangis seperti ini?!" Iris menatap wajah Nagato dan memukul dada pemuda tersebut dengan pelan.


"Aku..." Suara Nagato tertahan. Kedua tangannya sekarang menyeka air mata Iris, kemudian dia satukan keningnya dengan kening Iris. "Di dalam tubuhku ada kutukan yang memperpendek umur hidupku. Dan aku mempunyai penyakit jantung yang membuat umurku tidak akan bertahan sampai lima belas tahun. Hidup ini tidak adil." Nagato ingin menangis tetapi dia menahannya. Entah kenapa Nagato merasa bersalah karena telah memberitahu Iris tentang penyakitnya.


Iris memeluk tubuh Nagato. "Kamu bohong!" Kemudian Iris menangis sejadi-jadinya di dada Nagato.


"Iris, maaf, tapi malam ini aku ingin melihat senyumanmu." Nagato menarik napas dalam-dalam dan menenangkan Iris. Suaranya terdengar sendu dan bibirnya bergetar ketika mengatakan itu.


"Aku akan mencari jalan keluarnya. Aku janji. Aku tidak akan kalah dengan penyakit dan kutukan yang ada di tubuhku ini." Nagato mencium kening Iris. "Aku juga takut sendirian. Aku takut kehilangan seseorang lagi. Apa kamu masih mencintai seorang laki-laki penakut yang seperti ini?" Nagato menatap kedua bola mata Iris yang masih mengeluarkan air mata.


"Laki-laki yang dapat membuatku seperti ini hanya kamu, Naga. Apa perlu aku mengatakan perasaanku sekali lagi kepadamu." Iris menyeka air matanya dan memegang kerah baju Nagato.


"Kamu juga perempuan yang selalu membuatku ingin tetap bertahan hidup sampai dewasa nanti." Nagato membalas perkataan Iris dan menatap wajah Iris yang sedang dibenamkan didadanya.


"Aku juga ingin tumbuh dewasa bersamamu, Naga." Sahut Iris disela-sela tangisannya yang sudah berhenti.


"Iris, kamu sudah tahu identitasku yang sebenarnya, bukan?" Nagato tersenyum lembut pada Iris. Namun gadis cantik itu sekarang terlihat kebingungan.


"Identitasmu? Kamu seorang Pangeran dari Pulau Ryushima. Kalau tidak salah, tujuh tahun lalu aku mendengarnya dari obrolan Chiaki dan Chaika saat kamu tertidur." Jawab Iris sambil menatap raut wajah Nagato yang terkejut.

__ADS_1


"Iris, malam ini aku akan mengatakan yang sejujurnya padamu. Nama margaku adalah Kagutsuchi." Jantung Iris berdetak kencang tepat setelah mendengar pengakuan Nagato. Gadis cantik itu terkejut mendengar ucapan Nagato.


Bersamaan dengan Nagato dan Iris yang sedang menikmati keindahan malam di tepi Danau Sakura. Ribuan lampion yang diterbangkan oleh ratusan orang dari arah jam sembilan Danau Sakura mulai menghiasi langit malam Ibu Kota Daifuzen khususnya di atas langita Danau Sakura. Ribuan lampion itu mewarnai langit malam yang berbintang dan dibalut sinar lembut rembulan.


__ADS_2