
Sudah 3 hari Litha belum terbangun dan terbaring didepan Nagato selama 72 jam dalam lelah Nagato menunggu Litha bangun, dalam letih Nagato menunggu Litha kembali.
Kakek Hyogoro masih tidak percaya jika ada orang yang berhasil menyusup kedalam Hutan Cakrawyuha tetapi dirinya juga tak ingin percaya jika ada orang yang mengkhianatinya.
Nagato pergi keluar untuk memancing ikan ditemani Chibi karena kucing manis peliharaan Litha sangat menyukai ikan mentah.
Setelah selesai mendapatkan satu ikan Nagato kembali menunggu Litha karena dirinya juga tidak memancing karena menurut Nagati menunggu selama berjam - jam ikan memakan umpannya itu sangat membosankan dan melelahkan.
Nagato melihat didepan rumah ada Kakek Hyogoro sedang membakar daging rusa sendirian dan membuat api unggun kemudian Nagato duduk disamping Kakek Hyogoro dan memakan daging bersama.
Ketika matahari semakin terik dan gumpalan awan terlihat diatas langit yang tenang dan terang Nagato kembali menunggu Litha terbangun.
"Na .. ga .. to .." suara Litha yang terbata - bata memanggil dirinya.
Nagato langsung memegang tangan Litha dan melihat wajah gadis kecil yang membuatnya cemas beberapa hari ini.
"Ada apa, Litha?" Nagato melihat wajah pucat Litha yang berusaha membuka matanya.
Litha melihat wajah Nagato yang melihat dirinya dengan cemas kemudian Litha menyentuh pipi Nagato dan mengusapnya.
"Na .. ga .. to, apa Chibi ... sudah makan ikan?" Litha berusaha bangun tetapi perutnya masih terasa sakit sehingga Nagato membaringkan tubuh Litha kembali. Mendengar perkataan Litha membuat Nagato terkejut karena perempuan yang membuatnya cemas selama beberapa hari kebelakang justru mencemaskan peliharaannya karena takut Chibi kelaparan.
'Litha lebih mencemaskan Chibi daripada aku, kenapa aku merasa sedikit kesal?" Nagato kemudian menjelaskan pada Litha jika setiap pagi dia memancing ikan ditemani Chibi dan dia memberi makan Chibi secara teratur.
"Syukurlah ..." Litha tersenyum hangat pada Nagato sambil memejamkan matanya kembali.
"Daripada memikirkan Chibi lebih baik kau harus mengkhawatirkan dirimu sendiri." Nagato bergumam pelan sambil memalingkan wajah kesamping.
__ADS_1
"Nagato aku lapar bisakah kau membuatkan makanan untukku?" Litha tersenyum lembut menatap Nagato dan suara Litha terdengar begitu lembut ditelinga Nagato.
Nagato membalas senyuman Litha kemudian dia beranjak pergi kedapur untuk membuat makanan yang akan dia masak untuk Litha.
Didapur terlihat Kakek Hyogoro yang sedang membersihkan daging ayam dan memotongnya menjadi bagian kecil - kecil.
Nagato berniat membuat bubur ayam untuk Litha walau tidak tahu cara membuatnya setidaknya dia pernah melihat ibunya memasak bubur dan Nagato mencoba mengingat resepnya.
"Nagato, apa kau bisa membuat bubur ayam untuk Litha?" Kakek Hyogoro sedang melihat Nagato memasak air beras dan kaldu ayam sehingga dia bertanya kepada muridnya tersebut.
"Y-Ya, mungkin ..." suara Nagato terdengar sangat pelan karena dia juga baru pertama kali memasak untuk seorang perempuan yang menjadi teman pertamanya dan kali ini memasak besar agar menjai nasi yang lembut saja membuat tangannya bergemetar.
Nagato menunggu selama 30 menitan, mata Nagato kembali perih ketika mengiris bawang untuk digoreng kemudian dia juga memotong daun bawang dan seledri sambil menunggu berasnya masak.
Nagato kemudian membuat sambal karena makanan yang pedas sudah menjadi kesukaannya.
Kakek Hyogoro memperhatikan Nagato yang sedang membuat bubur ayam kemudian dia menegur Nagato yang selalu memakan makanan pedas karena menurutnya itu tidak baik untuk tubuhnya dan Kakek Hyogoro selalu menegur Nagato agar pemuda itu mengurangi memakan makanan pedas karena sambal dan sebagainya membuat Nagato sulit untuk melakukan pernafasan penuh ketika lathian dan membuat pernafasannya menjadi mudah bocor.
Setelah satu jam Nagato mengambil mangkuk lalu menaruh bubur ayam diatasnya. Kemudian dia menaburkan daging ayam goreng yang telah dipotong kecil - kecil tanpa tulang, bawang goreng, dan yang lainnya.
"Kakek Hyo, apa disini tidak ada kecap?" Nagato sedang mencari kecap manis didapur rumah Kakek Hyogoro.
Kakek Hyogoro menghampiri Nagato kemudian dia tertawa ketika melihat bubur ayam yang sudah jadi.
"Tunggu, kakek ambilkan kecap ..." Kakek Hyogoro mengambil kecap yang ada diruangan sebelah dapur kemudian memberikannya kepada Nagato.
Nagato menaruh sedikit kecap diatas bubur ayam kemudiam membawa mangkuk yang berisi bubur ayam tersebut untuk diberikan kepada Litha.
__ADS_1
Litha melirik Nagato yang membawa mangkuk kemudian gadis itu tersenyum melihat pemuda yang terkadang bersikap dingin itu sekarang terlihat begitu menghangatkan hatinya.
"Litha, aku membuat bubur ayam ... ini pertama kali aku memasak untuk seseorang jadi aku takut kamu tidak menyukainya ..." Nagato duduk disamping Litha kemudian dia memegang badan Litha yang terlihat rapuh dimatanya.
Litha tersipu malu melihat Nagato yang begitu peduli padanya kemudian gadis kecil itu ingin membuat satu permohonan pada Nagato.
"Nagato, aku ingin kamu yang menyuapi aku ..." Litha memalingkan wajahnya dan suaranya terdengar sangat pelan hingga Nagato tidak mendengarnya.
Nagato memegang sendok dan menyuruh Litha untuk membukan mulutnya.
Litha membuka mulutnya dan mengunyah bubur ayam buatan Nagato. Jantungnya berdebar melihat Nagato yang bersikap biasa saja ketika menyuapi dirinya.
"Hmm ... rasanya enak, begitu hangat dimulutku dan daging ayamnya terasa lembut bahkan bawang gorengnya juga terasa ..." Litha memegang pipinya setelah menelan bubur ayam buatan Nagato kemudiam gadis kecil itu tersenyum bahagia karena bisa memakan masakan Nagato.
"Heeh ... aku belum mencobanya, aku jadi penasaran ..." Nagato bergumam pelan kemudian mengambil satu sendok bubur ayam untuk mencicipi bubur ayam buatannya.
'Hmm ... enak ...' Nagato mengunyah dengan santainya sendok bekas mulut Litha.
Litha memerah wajahnya melihat Nagato memakan bubur ayam bekas sendoknya.
"Nagato, bubur ayam itu untukku .." Litha dengan manja membuka mulutnya dan menyuruh Nagato untuk menyuapinya lagi.
Litha tersenyum sambil mengunyah bubur ayam buatan Nagato.
Nagato menyentuh pipi Litha dan mencubitnya karena ada sedikit nasi lembut yang menempel dipipi gadis kecil itu.
"A-A-Apa yang kamu lakukan Nagato?" Litha terkejut merasakan sentuhan tangan Nagato dipipinya bahkan pemuda itu sesakali mencubit lembut pipinya.
__ADS_1
"Ini ..." Nagato menunjukkan nasi lembut yang menempel pipi Litha kemudian dia menaruh jarinya dibibir Litha.
Litha menjilat jari Nagato dengan lembut dan memakan nasi lembut yang menempel dipipinya walau dirinya merasa sangat malu tetapi perasaan yang menghampiri Litha saat ini adalah sebuah kebahagiaan. Karena Litha sangat nyaman ketika berada didekat Nagato.