
Keesokan harinya, suasana di Ibu Kota Daifuzen menjadi sangat tenang tidak ramai seperti biasanya. Kabar penyusup yang datang dari Kekaisaran Rakuza dan Kekaisaran Kinai juga telah tersebar dengan cepat.
Satra mengetahui penyusup yang datang ke Kekaisaran Kai seperti Reptile dan Panglima Goro namun tidak dengan pasukan yang dibawa kedua orang tersebut. Mengingat kedatangan Reptile ke Kekaisaran Kai hanya untuk menculik Fuyumi Iris dan mencari pendekar muda berbakat untuk mengganti seribu orang yang tidak memenuhi syarat perjanjian damai antara Sepuluh Tetua Kai dan Kaisar Orochi.
Bahkan lebih ironis lagi Satra tidak mengetahui rencana Kaisar Orochi yang berniat membunuh Kaisar Hizen. Bukan itu saja, Satra juga tidak mengetahui tindakan Gore yang berniat menikamnya dari belakang atau mengkhianatinya secara diam-diam.
Gore berniat menjadikan Ibu Kota Daifuzen sebagai uji coba pembantaian dengan pasukan manusia buas yang sudah dia kumpulkan beberapa tahun belakangan ini. Manusia buas yang telah memiliki kekuatan Hewan Buas dan Binatang Iblis adalah manusia yang mempunyai kekuatan seperti Arwah Suci.
Sementara itu di pekarangan halaman belakang Penginapan Matahari Timur bagian tempat penginapan Klan Fuyumi, di sana terlihat seorang pemuda yang melepas bajunya sedang mengolah pernapasan.
Seperti biasa Nagato mengisi waktu luangnya dengan berlatih. Dia berlatih mengolah pernapasan setelah tidur hanya dalam kurun waktu dua jam.
Semenjak dirinya tidak merasa kelelahan, Nagato masih sulit melupakan kejadian yang seperti neraka itu. Di mana api membakar segalanya termasuk ayah dan ibunya. Luka lama terus menganga di dalam hati Nagato walau luka hati itu sendiri tidak terlalu melebar.
Nagato sekarang duduk bersila dan mengolah pernapasan. Aliran napasnya sangat tenang. Suara kicauan burung menemani ketenangan Nagato. Dalam ketenangan itu dia mendengar suara ayunan pedang kayu.
Mata Nagato membuka pelan-pelan. Kemudian dia menatap ke arah sumber suara. "Hanabi?" Nagato menatap Hanabi yang sedang berlatih di sampingnya.
Mengingat kamar penginapan Klan Fuyumi dan Klan Misuzawa sangat dekat, jadi halaman belakang penginapan yang menjadi tempat laithan Nagato dan Hanabi masih menyatu dan berdekatan.
Nagato sekarang fokus melihat Hanabi. Permainan pedang Hanabi yang anggun itu membuat mata Nagato tidak berkedip sedikitpun.
"Kamu kenapa?" Hanabi menghentikan latihannya dan menatap Nagato sambil menyeka keringat di lehernya. "Dari tadi terus menatapku. Apa ada yang salah dengan gerakanku?"
Nagato sendiri tidak menyangka akan menatap Hanabi sangat lama. "Aku hanya penasaran saja dengan orang yang mengajarimu teknik pedang itu. Karena gerakan kita, maksudku permainan pedang kita hampir sama."
Nagato berdiri dan menepuk celananya. Kemudian dia menghampiri Hanabi. "Apa Nenek Hana yang mengajarimu?" Tanya Nagato memastikan.
Hanabi menatap wajah Nagato dan bentuk perutnya yang dibilang sangat sangat menggairahkan itu, namun Hanabi tidak tertarik dengan Nagato. Gadis berambut hitam kemerah-mudaan itu menatap Nagato seperti biasanya. "Bukan Ibu Hana yang mengajari teknik pedang ini. Tetapi kakakku yang bernama Matsuri." Hanabi menjawab sembari menatap pedang kayu yang dia genggam.
"Matsuri?" Nagato pernah mendengar nama tersebut. Misuzawa Matsuri adalah murid dari mendiang ayahnya selain Hawk dan Hayabusa.
Nagato tidak berkata apapun lagi selain melangkahkan kakinya meninggalkan Hanabi.
__ADS_1
"Nagato!" Hanabi memanggil nama Nagato. Kemudian Nagato menoleh menatap gadis cantik yang sedang dipenuhi keringat itu.
“Aku harap babak selanjutnya kita berdua bertemu. Aku ingin melawanmu!” Hanabi kembali mengayunkan pedangnya dan berlatih setelah menantang Nagato.
“Heh? Dia menantangku?" Nagato membatin dan berjalan meninggalkan Hanabi. "Dasar aneh...” Batin Nagato menambahkan.
Hari ini Nagato menghabiskan waktunya dari pagi sampai siang dengan berendam di kolam air panas. Di dalam kepalanya sekarang terus terngiang perkataan Hayabusa.
"Jadi perkataan Nenek Emi itu benar. Orang yang memiliki kekuatan keturunan Dewa-Dewi bisa mendatangkan keajaiban dengan cara berhubungan badan." Batin Nagato sambil menenggelamkan wajahnya ke dalam air. Kemudian dia kembali bersandar dan menikmati sensasi kehangatan kolam air panas.
"Apa mereka mengincar Iris karena ingin mendapatkan keajaiban itu..." Nagato membatin sembari menatap atap-atap yang menutupi kolam air panas.
"Wah. Iris badanmu sangat lembut sekali."
"Litha, kamu juga. Dan jangan katakan hal yang memalukan!"
Nagato memerah sedikit wajahnya mendengar suara Iris dan Litha di kolam air panas sebelah tempat dimana dia sedang berendam.
Dengan cepat Nagato membasuh seluruh tubuhnya dan mengenakan handuk. Kemudian dia beranjak keluar kolam air panas. Di depan pintu dia melihat Hika dan Tika yang hanya melilitkan tubuhnya dengan handuk.
"Wah. Hika, Hika. Disini ada Nagato. Tadi dia mendengar obrolan Litha sama Iris. Ya, kan Hika?" Sontak Nagato menatap tajam Tika dan langsung menuju kamarnya.
Tika tertawa lirih sedangkan Hika kebingungan. Tidak lama Iris dan Litha datang ke pintu depan kolam air panas.
"Tika!" Iris langsung mencubit pipi Tika. "Dimana Naga? Apa dia mendengar perkataanku?"
Tika masih tertawa lirih. "Naga? Oh, Nagato. Dia sudah kembali." Setelah itu Iris melepas cubitan tangannya di pipi Tika.
"Apa yang aku katakan? Bagaimana jika nanti Nagato tidak menganggapku sebagai adiknya lagi?" Litha justru bergumam lirih dan kebingungan.
"Daripada memikirkan itu, mending kita masuk dan mandi." Hika mendorong tubuh Litha dan Iris.
"Kembaranku memang hebat. Ayo kita mandi." Tika langsung mendahului Iris, Litha dan Hika.
__ADS_1
Suara tawa dan senda gurau di dalam kolam air panas terdengar. Siang hari terus berlalu dan perlahan hari mulai sore, sementara itu di ruang tengah penginapan terlihat Nagato sedang menceritakan pada Emi, Hana, Namida dan Owara tentang perkataan Hayabusa.
Mereka berempat terkejut mendengar perkataan Nagato, setelah selesai bercerita, Nagato melirik gadis yang duduk di samping Namida. Tidak berapa lama dia mengingat gadis tersebut.
Namun gadis tersebut terlihat acuh pada Nagato bahkan sekarang dia memanyunkan wajahnya.
"Kalau tidak salah namanya Masayu?" Nagato membatin dan menatap Masayu.
Saat ini, Emi dan yang lainnya sedang membahas masalah kedepannya. Bahkan
kejadian semalam telah sampai di telinga Keluarga Akaramizarawa. Sehingga sekarang ribuan prajurit militer Kekaisaran Kai langsung mendatangi penginapan yang menerima orang-orang mencurigakan.
Nagato keluar dari ruang tengah dan membiarkan empat ketua klan mengobrol di dalam. Ketika keluar, Masayu mengikuti dirinya dari belakang.
Nagato duduk di teras penginapan. Kemudian dia menoleh melihat Masayu yang duduk disampingnya. "Lama tidak berjumpa, Masayu," sapa Nagato.
Masayu tersenyum manis pada Nagato. "Kupikir kamu lupa sama aku." Masayu menatap wajah Nagato yang terlihat tampan itu.
"Aku ingat. Kamu saat itu tidur disampingku saat aku pingsan." Nagato justru mengingat masa lalunya. Mendengar itu, wajah Masayu merah padam.
"Ehem!" Iris batuk pelan dan menatap halaman depan penginapan. Terlihat gadis cantik itu sudah memakai baju putih dan rok panjang berwarna putih dengan rambutnya yang diikat itu.
Bahkan Litha, Hika dan Tika juga datang bersama Iris. Mereka berempat duduk di samping Masayu.
"Kakak Masayu!" Litha langsung memeluk tubuh Masayu. "Lama tidak berjumpa."
Masayu membalas pelukan Litha. "Novelitha!" Masayu menyebut nama Litha dan mencium rambut Litha yang harum.
Nagato diam mengamati gadis-gadis yang sedang saling menyapa dan berkenalan satu sama lain. Tidak berapa lama Nagato berdiri dan mempersiapkan diri untuk mandi sore lebih awal.
Dari sore sampai malam hari, Nagato berendam di kolam air panas. Tidak pernah terpikirkan sama sekali di benak Nagato jika dia menghabiskan waktu dengan berendam di kolam air panas.
Ketika malam tiba, Nagato memakai kimono yang sama dengan kimono yang dipakai Iris dan yang lainnya. Bahkan Shirayuki dengan sangat peduli mendandani Nagato agar penampilannya tetap terjaga.
__ADS_1
Setelah sampai di depan penginapan, Nagato melihat Iris, Litha, Hika dan Tika yang sudah berdandan cantik. Kemudian pandangannya menatap Kenji, Ninjin, Renji, Takao dan Yuri yang datang bersama Chiaki dan Chiaka.
Tidak lupa Litha juga mengajak Hanabi dan Masayu. Setelah itu mereka berangkat bersama-sama menuju tengah kota untuk jalan-jalan mengisi waktu luang dengan pergi ke pasar malam yang ada di Ibu Kota Daifuzen.