Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 239 — Phyton


__ADS_3

Satha terluka parah dan melarikan diri ke kediamannya sebelum masuk ke dalam terowongan bawah tanah menuju Kota Mikazuchi.


Sepuluh Tetua Kai yang dihadang Hayabusa, Chosu, Mujin, Shin dan Take terlihat kesulitan karena mereka dihadang dari dua arah.


Phyton tidak menemukan Kaisar Hizen dimanapun. Istana Hizen sudah dikosongkan oleh Kaisar Hizen sehari sebelumnya. Tak lama suar berwarna merah terlihat di segala penjuru langit Ibu Kota Daifuzen.


Ledakan keras disertai asap berwarna merah mewarnai langit pagi Ibu Kota Daifuzen.


“Bunuh semua pendekar dan sisakan penduduknya!” Lewis yang merupakan salah satu dari tujuh anggota Phyton menatap asap berwarna merah.


Tanda dari Kaisar Orochi, Reptile, Panglima Nobu beserta Kira mengumumkan dimulainya rencana pembunuhan pasukan militer Kekaisaran Kai beserta pendekar dari kubu barat dan kubu timur.


Sepuluh Tetua Kai yang tersisa di depan Istana Hizen tidak dapat menahan serangan dari dua arah. Di depan ada Chous, Hayabusa beserta kelompoknya. Sedangkan di belakang mereka di hadang oleh seluruh anggota Phyton.


“Hayabusa, kita telat. Hizen dan Satra telah melarikan diri!” Mujin merapatkan giginya karena mendengar pembicaraan anggota Phyton.


“Kita telat. Sepertinya kota ini tidak akan bertahan lebih lama...” Hayabusa menyipitkan matanya menatap kembang api berwarna merah yang menghiasi langit malam Ibu Kota Daifuzen.


Sementara itu ribuan orang yang berkumpul di kediaman rumah Satra tersenyum lebar.


“Apakah itu tandanya?”


“Itu isyaratnya!”


Ribuan prajurit militer Kekaisaran Rakuza bergerak dan memulai rencana mereka untuk mengambil alih Kekaisaran Kai dengan menduduki Ibu Kota Daifuzen.


Namun Kaisar Orochi dan Panglima Nobu beserta Reptile tidak menyadari pergerakan yang dilakukan Sachie dan Gyuki yang telah mengevakuasi penduduk desa sejak tengah malam menuju Kediaman Lama Akaramizarawa yang ada di Desa Ame.


Bersamaan dengan pergerakan Kekaisaran Rakuza, Sekte Pemuja Iblis yang dipimpin Gore juga melakukan pergerakan.


“Mengamuklah!”


Gore tersenyum lebar ketika seribu pria dewasa yang memiliki tubuh Hewan Buas beserta kekuatannya langsung bergerak dan menghancurkan dinding Ibu Kota Daifuzen.


“Manusia Api. Sekarang giliran kalian...” Gore menjentikkan jarinya dan menatap sepuluh orang yang tak lain adalah Manusia Api percobaan yang dilakukan dirinya bersama Black Madia dan Magma untuk menciptakan seorang pengguna Air Suci Buatan Tipe Elemen : Api seperti Pahlawan Api yang bernama Blast.


“Tuan Gore, semoga saja ini membuahkan hasil yang memuaskan.” Pria bernama Gunter yang pernah mengamati percobaan manusia buas di Kota Yasai terlihat khawatir karena mengingat kehebatan pendekar pedang dari Kekaisaran Kai.


“Jangan khawatir. Kalian dari Akuyaku cepat cari kelima anak yang kusuruh itu! Aku tidak ingin mendengar kegagalan! Bawa mereka berlima ke Lembah Rafinha!”


Gore menatap tajam keempat anggota Akuyaku.


“Baik, Tuan Gore!” keempat anggota Akuyaku segera bergerak mencari keberadaan lima anak muda yang menjadi incaran Gore.


“Kita bersembunyi dan tunggu kedatangan Wang Zhi...” Gore dan Brusca pergi ke suatu tempat ketika Ibu Kota Daifuzen dilanda kekacauan.


***


Di Penginapan Matahari Timur. Beberapa pendekar dari Klan Mangetsu menguburkan mayat Ashiya dan Himuro di tempat pemakaman.


Sementara itu Shirayuki bertanya pada Iris yang terlihat pulang dengan wajah pucat. Tanah yang dipijaknya membeku bahkan salju turun dengan deras layaknya hujan membuat langit di atas Penginapan Matahari Timur seperti sedang musim dingin.

__ADS_1


“Iris, kamu kenapa?” Shirayuki memeluk anaknya dan menyentuh kedua pipi Iris.


Mata Shirayuki menatap kedua bola mata Iris yang berubah menjadi warna hijau muda dan putih.


“Hisui telah mati...” Sontak Emi, Nagato dan Litha yang mendengarnya melebar matanya.


“Ayahnya yang telah membunuhnya! Dia penyebabnya! Tante Yuki juga telah dibunuh oleh orang itu!” Semua pendekar dari kubu timur menatap Iris yang berteriak.


“Hizen dan Satra menjual negeri ini pada orang asing. Mereka berniat menjadikan Ibu Kota Daifuzen menjadi tempat pertempuran...”


Namida dan Owara menghampiri Iris. Tak lama Namida mengepalkan tangannya.


“Keluarga Akaramizarawa telah melakukan pergerakan. Kita sebagai penduduk asli Kai harus melindungi tanah ini. Setelah membunuh semua penyusup. Kita tidak bisa menganggap Hizen sebagai Kaisar Kai lagi. Lupakan sumpah dekrit darah karena kita memiliki pewaris tahta Kekaisaran Kai yang baru!” Namida menatap Nagato yang terdiam tanpa ekspresi setelah mendengar Hisui mati.


Ketika asap merah memenuhi langit Ibu Kota Daifuzen. Pendekar dari kubu timur melihat tanda berwarna merah yang bercampur putih. Itulah tanda dari Sachie dan Gyuki yang memberi tahu tentang posisi penyusup Kekaisaran Rakuza dan Sekte Pemuja Iblis.


“Saatnya berpencar!” Namida bergerak dan memimpin pendekar dari kubu timur menuju tempat penyusup dari Kekaisaran Rakuza.


“Kalian pendekar muda akan dipimpin Oichi. Jangan lengah!” Emi menatap semua pendekar muda dari kubu timur yang berkumpul di halaman depan Penginapan Matahari Timur.


Bahkan Chaika dan Chiaki tidak ikut kedua orang tuanya yang telah dievakuasi menuju Desa Ame.


“Nezusaki. Kau telah mengikuti orang yang salah, begitu juga dengan kami yang terlalu diam dan tidak menentang. Hari ini kau akan berurusan dengan Shin. Kalian selesaikan masalah klan kalian sendiri.” Yamashita menatap tajam Nezusaki sebelum bergerak.


“Nagato, Litha, Iris. Kalian bertiga harus selalu bersama. Kalian harus saling melindungi satu sama lain...” Shirayuki memeluk Nagato, Iris dan Litha sebelum bergegas pergi bersama Emi.


Tak lama seluruh pendekar pergi dari Penginapan Matahari Timur. Oichi memimpin pendekar muda dari kubu timur untuk pergi ke tempat Sachi dan Gyuki.


Nagato memegang pedangnya dan masih tidak percaya jika Hisui telah tiada. Sumpah dan janji yang mereka buat masih teringat jelas dalam pikirannya.


Litha melirik Iris sesaat sebelum melihat langit Ibu Kota Daifuzen yang dipenuhi burung merpati terbang ke arah timur.


Gerbang megah yang kokoh dihancurkan oleh pria yang berbadan setengah ular berwarna merah. Tak lama serangan susulan terjadi dan menghancurkan gerbang depan Ibu Kota Daifuzen.


Nagato tidak menyangka Turnamen Harimau Kai akan berakhir tidak jelas. Langit pagi yang cerah tak secerah hatinya. Dalam sekejap Ibu Kota Daifuzen sudah menjadi medan pertempuran, ketika prajurit militer Kekaisaran Rakuza dikepung prajurit militer Kekaisaran Kai.


Sebelum sampai di tempat Sachie dan Gyuki. Ratusan orang bersenjata lengkap menghadang rombongan yang dipimpin Oichi.


“Jangan ragu! Mereka adalah orang dari Kekaisaran Rakuza! Bunuh atau kalian yang kalian terbunuh!”


Oichi melakukan penyerangan ketika lusinan orang menyerangnya.


“Aku tidak menyangka akan seperti ini...” Renji memegang pedangnya dan mengikuti tindakan Oichi.


Nagato melihat semua pendekar muda sudah bertarung melawan prajurit militer Kekaisaran Rakuza.


Pagi ini Iris membentuk pedang es dan membunuh setiap orang yang mengincarnya dengan satu tebasan tepat di kepala.


Tatapannya begitu dingin. Iris terlihat berbeda hari ini. Benturan pedang dan tombak terus terdengar di segala penjuru.


Nagato dan Litha juga saling melindungi. Mereka berdua menghilangkan keraguan dan membunuh prajurit militer Kekaisaran Rakuza. Membunuh, membunuh dan membunuh.

__ADS_1


Darah terus berceceran. Jalanan dipenuhi darah segar yang mengalir di jalanan Ibu Kota Daifuzen.


Ratusan prajurit militer Kekaisaran Rakuza dapat mereka kalahkan dengan tangan yang ternoda. Noda karena darah.


“Kami belum menemukan keberadaan petinggi Kekaisaran Rakuza. Hati-hati dengan Orochi, dia memiliki kekuatan Arwah Suci : Yamata No Orochi...”


Sachie memberikan penjelasan. Dan tak lama petir menyambar dan menghancurkan rumah penduduk.


Nagato melihat raut wajah Sachie yang memucat. Dia bisa menebak pria yang datang bersama ratusan prajurit itu adalah orang kuat yang bisa membuat jalanan terbelah.


“Panglima Nobu, dia pengguna Senjata Kuno Tipe Pusaka : Kapak Petir!” Sachie berkata sebelum menelan ludahnya.


Gyuki menatap Hika dan Tika sebelum berdiri di depan mereka, “Kalian semua hadapi prajurit itu. Aku akan melawan Nobu!”


Nagato dan yang lain hanya mengikuti perkataan Gyuki untuk bertarung melawan ratusan prajurit militer Kekaisaran Rakuza.


Tanpa Keluarga Akaramizarawa ketahui, desa-desa yang dekat dengan Ibu Kota Daifuzen kecuali Desa Ame telah diserang oleh Sekte Pemuja Iblis.


Gyuki melepas pakaiannya dan memegang sebuah gunting, “Sudah lama aku tidak mencukur rambutku. Apa kau masih ingat denganku, Nobu?”


Panglima Nobu menyipitkan matanya melihat Gyuki, sang wasit pertandingan Turnamen Harimau Kai yang sedang mencukur rambutnya hingga mengingatkannya pada seseorang.


“Heh, Takatsugu? Tak kusangka kau masih hidup. Tunduklah pada Yang Mulia Orochi. Percuma kalian melawan!”


Panglima Nobu mengayunkan kapaknya yang membuat benturan pedang Gyuki dipenuhi petir.


“Seperti dahulu. Hanya saja aku tidak menyangka kau tunduk pada pemimpin palsu...” Gyuki mengolah pernapasan dan memutarkan tubuhnya.


Pertukaran serangan sengit terjadi antara Gyuki dan Panglima Nobu.


“Bukankah ini situasi yang terjadi sekarang. Semua negeri di Benua Ezzo dipimpin oleh orang yang palsu!”


“Keluarkan kekuatan Arwah Sucimu, Gyuki!” Teriakan Panglima Nobu membuat Gyuki tersenyum menyeringai.


”Belum wakutnya. Aku sudah tidak sama seperti dulu. Aku akan melindungi kebanggaanku dengan kekuatan itu!”


Gyuki terus melesatkan serangan beruntun. Tebasan demi tebasan terus dia lancarkan kepada Panglima Nobu.


Sementara itu setelah mendapatkan kabar Hisui melakukan bunuh diri. Lewis tidak habis pikir karena puluhan orang di Tebing Shi mati dengan cara membeku, bahkan potongan tubuh puluhan orang itu begitu rapi. Seperti bongkahan es yang berisi bagian tubuh manusia.


”Sea, Cirilo, Baxia, Scale, Blue, Light. Tangkap Fuyumi Iris. Itu perintah yang diberikan Tuan Gore kepada kita!”


Lewis melihat ada kelompok lain selain Kekaisaran Rakuza yang menyerang Ibu Kota Daifuzen.


“Tetapi, aku tidak mengira akan melihat makhluk seperti itu...” Pria yang bernama Light dan merupakan petarung dari Kerajaan Ellesmere menatap jelas Hewan Buas yang setengah bagian badannya adalah manusia.


“Benua ini sudah saatnya kremasi. Perang dan gejolak kekuasaan membuat semua orang hanya bisa memilih dua pilihan. Kekaisaran Rakuza atau Kerajaan Sihir Azbec...” Pria berambut hijau yang bernama Scale tersenyum lebar.


Phyton dalam perjalanan menuju Penginapan Matahari Timur. Sesampainya di Penginapan Matahari Timur, mereka hanya melihat mayat pendekar dari Klan Kuromachi yang telah dibunuh oleh Shin, Take dan Ohta.


Akhirnya mereka kembali bertemu denga kelompok yang dipimpin Hayabusa.

__ADS_1


“Kita bertemu lagi. Sepertinya kita semua memang berjodoh...” Hayabusa turun dari pohon dan berdiri di depan seluruh anggota Phyton.


***


__ADS_2