
Nagato terlihat sangat kelelahan, tenaga pemuda itu terkuras habis karena terus melarikan diri dari kejaran serigala hijau.
"Litha, sepertinya sebentar lagi matahari akan terbit?!" ucap Nagato yang sedang bersandar di pohon sambil mengatur nafasnya.
"Aku tidak menyangka akan seperti ini." balas Litha yang sedang bersandar disamping Nagato.
Semak - semak didepan mereka bergoyang, Litha mencoba untuk melihat apa yang ada dibalik semak - semak tersebut, ketika tangan gadis kecil itu mencoba masuk dan menyentuh, betapa terkejutnya dirinya karena melihat anak kucing yang menggemaskan ditangannya.
'Anak kucing ini begitu lucu, kenapa dia ada disini?' Litha membawa anak kucing tersebut untuk menunjukkannya pada Nagato.
"Nagato, lihat aku menemukan anak kucing ini!" Litha terlihat begitu bahagia karena telah menemukan anak kucing.
"Litha, apa anak kucing itu tidak berbahaya?" tanya Nagato karena dirinya mengingat pesan dari Kakek Hyogoro agar tidak meremehkan Hutan Cakrawyuha.
Litha mengerutkan dahinya melihat reaksi Nagato dan tersenyum tipis.
"Tidak, anak kucing ini tidak berbahaya, coba kamu lihat bukankah dia ini terlihat begitu menggemaskan!" Litha mendekat pada Nagato sambil memperlihatkan anak kucing yang dia temukan kepada pemuda yang sedang bersandar dibawah pohon itu.
"Litha, kita bergegas matahari sudah terbit!" ucap Nagato dengan tenang sambil berdiri dan menatap langit yang mulai terang.
'Eh ... jangan bilang Nagato takut dengan kucing!' Litha tersenyum tipis kemudian mengikuti perintah Nagato.
Nagato dan Litha kembali ke kediaman Kakek Hyogoro, mereka berdua melewati lapisan hutan ke sepuluh dan kembali ke padang rumput yang tadi malam sudah mereka singgahi.
Nagato dan Litha tidak sadar jika di lapisan hutan ke sebelas juga ada padang rumput seperti dilapisan hutan ke sepuluh dan mereka berdua tidak sadar jika mereka telah memasuki lapisan hutan ke sebelas tadi malam.
Nagato dan Litha terus berjalan, ketika mereka berdua sudah melewati padang rumput dan memasuki lapisan hutan ke sembilan, anak kucing yang sedang Litha pegang mencakar tangan Litha hingga terlihat ada goresan cakar dan darah yang mengalir ditangan Litha yang putih itu.
"Nagato! Anak kucing ini kenapa?" Litha menatap Nagato dengan mata yang berkaca - kaca karena merasa iba pada anak kucing yang dia temukan. Nagato terlihat kebingungan dengan situasi yang dirinya hadapi.
"Anak kucing itu terlihat kehausan!" jawab Nagato singkat sambil menatap anak kucing tersebut, walau sebenarnya dia juga tidak tahu apa penyebab anak kucing itu mencakar Litha.
***
Sementara itu Hawk yang sedang dalam perjalanan menuju Hutan Cakrawyuha sudah berada dilapisan ke lima belas sambil terus berlari, dirinya tidak mengalami gangguan sedikitpun ketika melewati rute yang biasa dilewati Kakek Hyogoro menuju tengah Hutan Cakrawyuha.
"Bau apa ini? Kenapa begitu menyengat?" gumam Hawk kemudian dia melompat keatas pohon sambil menatap sekitarnya.
"Padang rumput disana sudah terbakar habis?!" Hawk melompat kebawah kemudian mempercepat langkah kakinya, langkahnya lebih cepat dari langkah angin dari Klan Kitakaze karena Hawk mengkombinasikan auranya dengan elemen angin, sehingga dirinya bisa memanipulasi angin sesuka hatinya walaupun ada batasannya.
"Hangus terbakar?!" Hawk mengerutkan dahinya kemudian dia menatap puluhan tumbuhan kantong semar yang ada dipinggiran padang rumput.
Terlihat mayat Serigala Hijau sudah dimakan Kantong Semar sehingga Hawk tidak melihat tumpukkan mayat Hewan Buas tersebut.
Hawk kemudian meninggalkan lapisan hutan ke sebelas dan memasuki lapisan hutan ke sepuluh, Hawk terus melangkahkan kakinya dengan cepat ketika dirinya memasuki lapisan hutan ke sembilan dia melompat kembali keatas pohon dan berniat menikmati pemandangan tetapi dari atas dirinya bisa melihat bayangan dua anak kecil dibawah sana.
"Ngapain mereka disini? Apa dua bocah itu tersesat?!" gumam Hawk kemudian dia turun dan menghampiri kedua anak kecil yang dia lihat dari atas pohon. Kedua anak kecil yang Hawk lihat adalah Nagato dan Litha.
__ADS_1
"Apa yang kalian lakukan disini?!" tanya Hawk kepada Nagato dan Litha.
Nagato mengerutkan dahinya dan menatap tajam Hawk sambil meningkatkan kewaspadaannya terhadap orang yang baru dia temui itu.
"Seharusnya aku yang berkata seperti itu! Apa yang kau lakukan di tempat ini?!" Nagato menatap dingin Hawk.
Hawk tidak menjawab pertanyaan Nagato dan melihat anak kucing yang sedang dipegang Litha, dirinya terkejut karena tangan Litha telah tercakar anak kucing namun gadis kecil itu tidak melepaskannya justru memeluk anak kucing itu dengan erat.
Hawk menampar pipi Litha dan melepaskan anak kucing tersebut.
"Beraninya kau menampar Litha, sialan!" Nagato meledak emosinya dan memukul kepala Hawk.
"Duh!" Hawk tidak menghindar justru membiarkan kepalanya dipukul oleh Nagato.
"Cakar kucing itu adalah racun yang mematikan, untung saja kucing itu masih kecil jika sudah besar sedikit maka efek racun yang ada di kukunya akan berakibat lebih fatal daripada ini!" Hawk memencet tangan Litha yang tergores oleh cakaran anak kucing, darah keluar dari bekas cakaran anak kucing yang Litha temukan.
"Akh!" Litha meringis menahan sakit, Nagato menatap tajam Hawk, dirinya tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini.
"Na-Nagato ... " ucap Litha dengan terbata - bata, pandangan matanya mulai agak kabur dan buram secara perlahan, seketika kepalanya terasa pusing kemudian Litha terjatuh dan memejamkan matanya.
"Litha! Oi, paman apa yang terjada pada Litha?!" Nagato memegang tubuh Litha dan menatap tajam Hawk dengan penuh rasa curiga.
"Paman? Aku masih muda seenaknya saja kau memanggilku seperti itu!" Hawk sedikit kesal dengan anak kecil yang baru dirinya temui itu.
"Tenang gadis manis itu hanya pingsan, tubuhnya terkena efek cakar kucing manis yang membuatnya tertidur!" Hawk menambahkan.
"Aku akan membawa Litha ketempat Kakek Hyo!" jawab Nagato sambil mencoba menggendong tubuh Litha.
"Heeh ... kita satu arah jadi biarkan aku yang membawa tubuh gadis manis itu!" Hawk menatap Nagato.
"Paman terlalu mencurigakan, biar aku saja yang membawa Litha!" jawab Nagato dengan nada yang agak kesal kepada Hawk. Nagato menggendong tubuh Litha dan berjalan pelan meninggalkan Hawk.
"Paman, tolong bawakan anak kucing itu, Litha menyukainya!" Nagato menoleh kebelakang dan menyuruh Hawk untuk membawa anak kucing yang melukai Litha.
Hawk mengerutkan dahinya sambil mencoba untuk tetap bersabar karena Nagato menyuruhnya membawa anak kucing.
"Bocah sialan!" gumam Hawk kemudian dia membawa anak kucing tersebut.
Mereka meninggalkan lapisan hutan ke sembilan, dan terus memasuki hutan lapisan dalam, sinar matahari membuat mereka dengan mudah kembali ke tengah Hutan Cakrawyuha.
Nagato mengerutkan dahinya karena tadi malam dirinya bersama Litha tersesat walau sudah hafal arah jalan pulang ke kediaman Kakek Hyogoro.
Hawk menghampiri Nagato dan berjalan disampingnya, setelah itu Hawk bertanya pada Nagato mengapa mereka berdua bisa ada di lapisan hutan ke sembilan. Kemudian Nagato menceritakan kepada Hawk bahwa mereka berdua diberi ujian oleh Kakek Hyogoro pada malam hari tetapi mereka berdua tersesat dan bertemu puluhan serigala hijau.
"Jadi itu ulahmu?" Hawk mengerutkan dahinya dan menatap Nagato.
"Apa maksud paman?" Nagato tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Hawk.
__ADS_1
"Padang rumput yang terbakar itu, aku tidak menyangka kau bisa berbuat seperti itu." Hawk tersenyum tipis menatap Nagato.
Nagato tidak menjawab perkataan Hawk dan hanya terus berjalan menuju ke kediaman Kakek Hyogoro, disepanjang perjalanan Hawk bercerita kepada Nagato bahwa ketika malam hari seluruh makhluk hidup yang ada di Hutan Cakrawyuha akan beraktivitas bahkan tumbuhan dan pohon - pohon yang terlihat tidak bergerak juga akan melakukan aktivitas.
"Aku tidak peduli!" ucap Nagato ketika mendengarkan Hawk bercerita padanya.
"Kau sepertinya anak nakal ya?" Hawk tersenyum sinis dan berniat mengeledek Nagato.
"Paman, jadi kau kesal karena aku tidak peduli denganmu!" Nagato tersenyum sinis menatap Hawk kemudian memalingkan wajahnya dan melanjutkan kembali perjalanan. Hawk menelan ludah dan menatap punggung Nagato yang berada didepannya.
"Sialan bocah ini, dia anak siapa?" batin Hawk yang melihat sikap Nagato.
Nagato menyipitkan matanya ketika melihat burung elang emas terbang di langit dengan bebasnya.
"Oh, bukankah itu ... " batin Nagato ketika melihat Kin terbang rendah menghampiri dirinya.
"Kin, sepertinya kau sampai duluan!" Hawk menatap Kin yang akan hinggap dipundaknya.
"Siapa paman yang terlihat membosankan ini!" Nagato menatap Hawk yang sedang berbicara dengan Kin.
Tidak lama mereka sudah sampai di tengah Hutan Cakrawyuha, disana terlihat rumah sederhana milik Kakek Hyogoro.
"Nagato, apa kalian berdua baik - baik saja?" sapa Kakek Hyogoro yang sedang membasuh wajahnya.
"Litha terluka!" balas Nagato singkat sambil berjalan menghampiri Kakek Hyogoro.
"Apa!" Kakek Hyogoro berlari menghampiri Nagato untuk melihat keadaan Litha karena dirinya merasa cemas.
Kemudian Nagato menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kemarin malam dan apa yang terjadi pada Litha, setelah mendengarkan penjelasan Nagato, Kakek Hyogoro terkejut karena di lapisan zona aman ada Hewan Buas.
"Apa kalian baik - baik saja? Tubuhmu tidak terluka, kan?" Kakek Hyogoro mencemaskan kondisi Nagato.
Nagato merasa risih karena Kakek Hyogoro begitu khawatir kepada dirinya dan tak lama Hawk menghampiri Kakek Hyogoro.
"Bos, lama tidak berjumpa!" sapa Hawk sambil tersenyum pada Kakek Hyogoro.
"Jangan panggil aku dengan sebutan itu, bocah sialan!" Kakek Hyogoro terlihat tidak suka dengan cara Hawk menyebut dirinya.
"Hahaha, dimana mereka?" tanya Hawk yang menanyakan Nagato dan ketiga pelindungnya.
"Oh, ini anak Pandu sedangkan ketiga pelindung sedang berlatih di lapisan hutan ke dua puluh dua!" jawab Kakek Hyogoro sambil menunjuk Nagato.
"Heeh? Ini anak guru, ya jika dipikir ketampanannya sama dengan guru tetapi sikapnya sangat berbeda!" Hawk jongkok sambil menatap wajah Nagato.
Nagato kesal mendengar perkataan Hawk.
"Kesan pertamaku padamu sangat buruk, paman membosankan!" Nagato memalingkan wajahnya kemudian menaruh tubuh Litha di teras rumah Kakek Hyogoro.
__ADS_1