
Mengingat waktu di alam bawah sadar Litha mengalir lambat, Ophys menunggu Litha siuman sembari memakai kembali pakaiannya.
‘Walau di hadapanku dia baik-baik saja, tetapi jauh di dalam alam bawah sadarnya yang sesungguhnya dia merasakan keputusasaan dan nalurinya terus memberontak karena mengkhawatirkan kakaknya. Walau dia siuman di dunia nyata, tetapi Litha akan kehilangan seluruh ingatannya.’ Ophys tersenyum pahit menatap wajah Litha yang sedang tertidur pulas.
“Aku rasa cucu dari Sura pasti akan tetap hidup...” Ophys menggumam pelan mengingat saat dia bersama anggotanya datang dengan Singa Terbang bersama Melody dan Yin Lingling ke kediaman Klan Kagutsuchi. Disana dia bertemu dengan Tosa yang telah sekarat dan meronta memohon pertolongan.
‘Namaku Tosa! Tolong bantu aku! Kumohon selamatkan beliau! Guru Besar Sura mengalami pendarahan! Semua orang telah mati, tetapi hanya beliau saja yang harus selamat dan hidup! Ilmu yang ada di beliau tidak boleh... tidak boleh berhenti sampai generasi ini!’
Ophys kembali tersenyum pahit mengingat perkataan Tosa ketika memohon pada dirinya. Waktu memang telah berlalu dengan kejam dan meninggalkan bekas penderitaan, tetapi dunia tetap berjalan.
Beberapa saat kemudian Litha terbangun dengan tubuh yang dibalut pakaian. Kedua matanya mendapati Ophys yang sedang tertidur disampingnya sambil memeluknya.
Litha sendiri merasa dirinya telah akrab dan mengenal Ophys walau hanya bagian kecilnya saja, tetapi Litha merasa bahagia karena Ophys menolongnya tanpa pamrih.
“Terimakasih Kakak Ophys...” Litha menggumam pelan dan membalas pelukan Ophys.
‘Apa disana Kakak Soren baik-baik saja? Aku sangat mengkhawatirkannya...’ Litha memeluk Ophys lebih erat. Seperti seorang anak yang memeluk ibunya sendiri.
Ophys membuka matanya pelan dan mendapati Litha yang membalas pelukannya. Dia berniat untuk tertidur lebih lama karena tidak menyangka mana yang diserap oleh Litha membuatnya merasakan kelelahan. Namun rasa lelahnya tidak berlangsung lama, karena Ophys berada di alam bawah sadar milik Litha.
“Kakak Ophys, aku tahu kau sudah bangun. Jangan menjahiliku.” Litha duduk dan tersenyum sambil menatap wajah Ophys yang pura-pura sedang tertidur.
Ophys tertawa lirih mendengar perkataan Litha. Dengan segera dia mengubah posisinya dari tidur menjadi duduk sambil menatap sekelilingnya. Ophys ingin melihat kondisi Litha, sehingga tangannya memeriksa denyut nadi gadis manis yang mencoba menarik tangannya itu.
“Auramu telah pulih, Litha. Maaf jika tadi aku sedikit memaksa, pasti menyakitkan ya?” Walau Ophys dikenal sebagai Ratu Iblis dan ditakuti musuh-musuhnya, tetapi dihadapan Litha, dia benar-benar perempuan berparas cantik yang perhatian.
Litha justru terselamatkan karena Ophys membantu dan menyemangatinya. Walau dia sempat merasakan rasa sakit yang baru dia alami dalam hidupnya, tetapi Litha merasa dirinya berhasil melewati semua rasa sakit itu berkat pertolongan Ophys.
Mata Litha menatap Ophys dengan tatapan menyelidik. Litha adalah gadis yang peka akan orang disekitarnya, dan berbeda dengan Nagato. Tangan Litha menyentuh telapak tangan Ophys karena merasa perempuan dihadapannya melakukan sesuatu yang tidak dia ketahui.
__ADS_1
“Kakak Ophys, aku kehilangan ingatanku yang tersegel. Ketika setiap energi milik kita telah terkuras habis, aku mengorbankan ingatanku agar dapat membantu yang lain dan bergerak. Aku merasa saat Kakak Ophys membantuku barusan...” Bibir Litha disentuh jari Ophys.
“Jangan katakan apapun. Aku ikhlas membantumu. Jadi jangan membahasnya. Mengerti?” Ucap Ophys sambil mengedipkan mata kirinya.
Litha menganggukkan kepalanya karena terbius dengan kecantikan Ophys. Tanpa sadar Litha mengagumi Ophys yang terlihat anggun dimatanya.
“Litha, coba lepaskan aura tubuhmu secara perlahan. Aku rasa kau memiliki dua warna aura di dalam tubuhmu.” Ophys memberi arahan pada Litha sembari menciptakan ilusi boneka kayu.
“Apa keahlianmu?” Ophys bertanya setelah melihat delapan belas boneka kayu terbentuk dan berdiri.
Litha menjawab, “Berpedang...” Sedikit ragu. Litha merasa sedikit ragu ketika menjawabnya karena dia belum menemukan kemampuan yang cocok bagi dirinya untuk bertarung.
Ophys menatap Litha dengan seksama. Dia bisa melihat bahwa Litha adalah gadis muda yang berbakat, hanya saja Litha lebih mahir dalam sihir dibandingkan ilmu pedang. Menurut Ophys, Litha lebih cocok menjadi seorang penyihir petarung dibandingkan pendekar pedang.
Walau memiliki kekuatan penyembuhan, tetapi kekuatan itu berfungsi cepat pada Nagato dan kakak sepupunya yang berada di Kerajaan Sihir Azbec. Kemampuan terhebat Litha sebenarnya adalah sihir bertarung yang membantunya dapat bertarung dengan kekuatan sihir.
Kekuatan Litha bukanlah berasal dari mendiang ibunya. Ophys merasa Tubuh Jelmaan Dewi Pengobatan yang sekarang berada di dalam tubuh Litha adalah pemberian seseorang. Entah apa motifnya, tetapi Ophys bisa menebak dari setiap tindakan Litha.
Gadis manis itu selalu mengkhawatirkan Nagato lebih dari apapun. Litha rela mengorbankan apapun demi Nagato, bahkan ingatannya sendiri. Setelah Ophys berpikir cukup lama, akhirnya dia berpendapat jika mendiang ibu Nagato yang memberikan sebuah kekuatan untuk menyembuhkan adiknya yakni ibu Litha.
‘Dia masih tersenyum dalam kesedihannya.’ Ophys membatin lirih ketika melihat Litha tersenyum karena aura biru muda dan emas mengelilingi tubuh gadis manis tersebut.
“Kakak Ophys, apa aku harus menghancurkan semua boneka kayu tersebut?” Litha menunjuk delapan belas boneka kayu yang sedang bergerak ke arahnya.
Ophys tersenyum melihat semangat Litha. “Ya, kau harus mengalahkan mereka semua. Setelah kau mengalahkan mereka, aku akan mengajari adik kecilku yang manis ini cara menampung mana dalam jumlah besar.” Ophys meremas rambut Litha dan tersenyum, “Pergilah!”
Litha langsung berlari ke arah delapan belas boneka kayu dan mulai mengumpulkan aura tubuhnya dalam jumlah besar. Tangan kanannya dikelilingi aura berwarna emas yang memadat.
Litha tidak mau repot-repot menciptakan pedang dengan aura. Walau titik tenaga dalamnya masih lumpuh, butuh waktu untuk pulih sepenuhnya. Tetapi Litha tidak mengalami kesulitan yang berarti ketika menghadapi delapan belas boneka kayu.
__ADS_1
Serangan demi serangan dia lesatkan pada boneka kayu. Pukulannya begitu bertenaga dan dipenuhi emosi. Setelah delapan belas boneka kayu hancur sepenuhnya, Litha mengepalkan kedua tangannya.
Ophys memberi rangsangan pada Litha agar melampiaskan semua emosinya. Tak butuh waktu lama bagi Litha untuk berteriak dan memukul udara dengan pukulan tangannya yang bertenaga.
“Adik kecilku yang manis! Sini Litha, aku akan memberikan penjelasan tentang dasar-dasar ilmu sihir maupun aura yang akan kuajarkan padamu.” Dengan suaranya yang lembut memanggil Litha. Ophys memberi tanda pada Litha agar mendekat. Ophys sendiri menganggap Litha sebagai adik kecilnya yang menggemaskan.
“Baik, Kakak Ophys!” Litha segera berlari ke arah Ophys dan duduk disamping perempuan berparas cantik itu.
“Dengar Litha, mungkin dalam waktu tiga tahun ini, aku akan mengajari dasar-dasar aura dan mana. Dasar adalah sebuah pondasi. Jika pondasimu kokoh, maka kau akan dapat bersaing menjadi salah tiga Kapten Divisi di organisasiku. Tetapi semua itu butuh waktu dan ketekunan.” Ophys mencubit hidung Litha dengan lembut, “Dan kemauan untuk berlatih harus ada. Apakah kau bersiap menghadapi pelatihan di bawah bimbinganku ini?”
Litha tanpa sadar langsung memeluk tubuh Ophys dan menjawabnya cepat, “Kakak Ophys, aku bersedia. Aku akan menjadi murid Kakak Ophys!”
Ophys mengelus rambut Litha. “Jangan terlalu formal. Kamu sudah kuanggap seperti adik kandungku sendiri. Jadi cukup panggil aku Kakak saja, karena aku lebih menyukai panggilan itu.”
Litha tersenyum manis mendengar perkataan Ophys. Tak lama dia mendengarkan penjelasan Ophys tentang cara mengaktifkan energi aura dan mana, memperkuat pondasi aura dan mana, membangun inti aura dan mana, memproyeksikan kekuatan aura dan mana, serta menciptakan jurus gabungan antara aura dan sihir milik sendiri.
Litha membulatkan tekadnya untuk berlatih menjadi lebih kuat di bawah bimbingan Ophys. Demi bertemu dengan Nagato di masa depan nanti, Litha harus melewati masa-masa kelam, namun masa kelam itu tidak berlangsung lama karena dihadapannya ada perempuan berparas cantik yang menganggap dirinya sebagai seorang adik.
‘Kakak Soren, tunggu aku!’
Dengam begitu latihan Litha di bawah bimbingan Ophys baru saja dimulai.
___
Setelah di The Dawn, Karakter kita yang satu ini tidak akan muncul dalam waktu yang sangat lama. Litha akan kembali muncul saat Perang Bahamut, ketika Nagato hendak dieksekusi mati.
Sayonara Litha-Chan (Novelitha Von Azbec)
Sampai jumpa di The Dawn, After Bahamut War.
__ADS_1