Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 247 — Takdir Yang Tidak Mereka Sadari


__ADS_3

“Manusia terbakar?” Alis Shirayuki mengernyit dan menatap sepuluh orang yang tubuhnya terbakar sedang menghabisi pasukan militer Kekaisaran Rakuza.


Terlihat dua Manusia Api berlari ke arah Shirayuki yang memimpin pendekar kubu timur, “Membekulah! Wahai makhluk yang menjijikkan!”


Tanah dan tubuh Manusia Api membeku. Namun dua Manusia Api dapat menghancurkan es yang membekukan tubuh mereka.


Dari mulut bahkan pukulan tangannya mengeluarkan api ke sembarang arah. Pasukan dari pihak Kekaisaran Kai dan pasukan pihak dari Kekaisaran Rakuza menjadi korban amukan Manusia Api.


“Tombok Tanah Lima Pilar!”


“Pelindung Air Deras!”


“Api lemah seperti ini tidak akan bisa mengalahkanku!” Shirayuki melepaskan hawa dingin dalam jumlah besar membantu tembok tanah dan air.


Kaisar Orochi yang merubah wujudnya menjadi Yamata No Orochi terus bergerak kesana kemari menakuti dan mengintimidasi pihak Kekaisaran Kai.


Salah satu kepala Yamata No Orochi mendongak ke atas dan menyemburkan api ke arah langit, “Kalian berlima keluar dan hadapi jendral dari Kai!”


Shirayuki penasaran dengan lima orang yang datang dari arah luar Ibukota Daifuzen. Kelima orang ini memiliki aura yang tidak bisa dianggap remeh.


Namun empat jendral Kekaisaran Kai menghadang dan menaikan semangat tempur pasukan.


“Darah Sakura Bersemi!”


Matsuri menebaskan pedangnya dari jauh dan di tahan oleh permainan pedang salah satu dari lima orang suruhan Kaisar Orochi.


“Tidak buruk juga. Aku, Gura, akan melawanmu!” Pria yang memakai jaket beserta tudung itu memainkan pedangnya dari jauh menebaskan pedangnya yang menciptakan puluhan sabit angin.


“Jangan menunduk! Kekaisaran Kai belum berakhir! Dasar jelata lemah!” Budou memainkan pedangnya dan menahan salah satu pria berbada kekar yang menggunakan dua pedang besar sebagai senjatanya.


“Bukankah Kekaisaran Kai bagian barat terkenal dengan diskriminasi. Kalian tertular budaya asing bukan?” Pria berbadan kekar yang bernama Kagemune tersenyum menyeringai menatap Budou yang memanipulasi aura tubuhnya menjadi petir.


“Aku adalah bangsawan yang mencintai tanah airnya sendiri! Tapi aku membenci orang yang lebih lemah dariku! Apa yang salah dengan itu, hah?!” Seperti biasa Budou memiliki emosi yang meluap-luap. Ayunan pedangnya sangat agresif membuat Kagemune mundur lima langkah untuk memperhatikan pergerakan Budou.


“Mulutmu itu selalu saja berbicara seenaknya. Jika kau tetap seperti itu, kau tidak akan dicintai penduduk Kekaisaran Kai, bodoh!” Tsumasaki datang dengan santai sebelum menghembuskan api dari mulutnya.

__ADS_1


“Siapa yang peduli dengan itu. Orang lemah hanya bisa tunduk pada yang kuat. Dunia ini seperti itu cara kerjanya.” Budou kembali memainkan pedangnya dan tidak menggubris perkataan Tsumasaki lebih jauh lagi.


“Hah, dia sama sekali tidak berubah dari dulu.” Tsumasaki menggaruk kepalanya dan menghela napas panjang.


“Jangan alihkan pandanganmu!” Salah satu dari lima orang suruhan Kaisar Orochi menyerang Tsumasaki diam-diam.


“Aku sedang memperhatikanmu!” Tsumasaki menahan tebasan pedang orang yang menyerangnya, “Membiarkan musuh mengira dirimu lengah adalah hal yang bagus bukan?”


Tebasan pedang Tsumasaki dalam dan membunuh orang yang menyerangnya itu, “Empat lawan empat. Ini lebih adil bukan?”


Hawk hanya tersenyum tipis dan menebaskan pedangnya dari kejauhan, “Jangan biarkan Orochi merebut tanah air kita ini! Nasib ribuan orang berada di pundak kita!”


Perkataan Hawk membuat prajurit militer Kekaisaran Kai yang sudah putus asa mulai kembali semangat secara perlahan.


“Benar, aku mempunyai seorang anak dan istri yang menungguku di rumah. Aku tidak akan membiarkan penduduk di Kai menjadi budak Orochi!”


“Setelah kita memukul mundur mereka. Kita akan menguak kebenaran dan mengadili Hizen!”


“Kota Mikazuchi akan kita ungkap kebenarannya! Kita punya pasukan dari pendekar kubu barat dan timur yang bersatu! Tunggu kaum bangsawan sialan!”


Namun ribuan mayat yang bergelimpangan tetap saja dibunuh oleh kedua pihak. Siapa saja yang akan memenangkan pertempuran ini akan disebut sebagai pemenang. Dan pemenang itu tak lebih dari seorang pembunuh.


Pertempuran semakin sengit ketika Ushi Oni dan Yamata No Orochi kembali bertukar serangan. Ledakan yang layaknya bom udara membuat dataran padang rumput di sekitar Ibukota Daifuzen hancur.


“Takatsugu! Kekuatanmu ini sangat berharga untukku!” Salah kepala Yamata No Orochi menyemburkan api ke arah Takatsugu yang mengubah wujudnya menjadi Ushi Oni.


“Kekuatanku ini terlalu berharga untuk seorang sampah sepertimu Orochi!” Takatsugu sengaja memprovokasi Kaisar Orochi.


Tidak sampai satu menit. Kaisar Orochi menyembut ke segala dengan delapa kepala Yamata No Orochi. Serangan membabi buta itu membuat Takatsugu mengeluarkan pedangnya yang berukuran besar. Mungkin besar pedang itu sama dengan Bukit Angin yang ada di Hutan Cakrawyuha.


Takatsugu berniat memenggal delapan kepala Yamata No Orochi. Namun bantuan dari Panglima Perang Nobu yang membantu Kaisar Orochi membuat Takatsugu kesulitan bergerak. Bahkan serangan dari Manusia Hewan Buas yang mendekatinya dari arah Ibukota Daifuzen membuat Takatsugu hanya mampu memenggal tiga kepala Yamata No Orochi.


Manusia Hewan Buas itu menyerang Yamata No Orochi dan Ushi Oni. Semua yang ada didepannya mereka sedang, tidak peduli itu pihak Kekaisaran Kai maupun pihak Kekaisaran Rakuza.


Di sisi lain, Nagato bersama pendekar muda bertarung melawan Manusia Hewan Buas. Tak lama Nagato melihat Hanabi dikejar salah satu dari empat orang yang menyerang Hayabusa.

__ADS_1


“Lautan Api!”


Nagato menebaskan pedangnya dari jauh agar orang yang menyerang Hanabi menjaga jarak.


Hanabi menoleh melihat Nagato dengan tatapan biasa. Gadis berambut hitam kemerah-mudaan itu hanya menyeka keringatnya dan menatap pria yang sedang menjilat pedangnya.


“Pedang miliknya adalah senjata kuno. Pedang Air, kalau tidak salah namanya.” Perkataan Hanabi membuat alis Nagato mengernyit dan raut wajahnya begitu marah.


Nagato melepaskan aura tubuhnya lebih besar lagi. Kemarahannya semakin menjadi karena bisa melihat jelas pedang milik Kakek Hyogoro.


Dalam satu gerakan. Nagato berada di depan pria yang merupakan anggota Akuyaku. Tebasan pedangnya berbenturan dengan pedang yang dilapisi air itu.


“Wah, tidak sopan sekali! Tidak memperkenalkan diri langsung menyerang orang!” Pria tersebut tersenyum menyeringai dan memainkan pedangnya dengan cepat.


Nagato menangkisnya dan membalaskan dua kali lipat, “Beraninya kau!”


Tebasan pedangnya membentuk putaran api beserta ombak api yang membara. Namun pria yang menjadi lawan Nagato dapat menahannya dengan tebasan pedangnya yang dilapisi air.


“Kau siapa? Kenapa raut wajahmu terlihat begitu marah padaku. Apa aku pernah membunuh salah satu keluargamu?” Pria yang bernama Kousuke menatap sinis Nagato yang menatapnya dengan sangat tajam.


“Aku adalah orang yang akan membunuhmu. Namaku, Nagato! Ingat itu! Bedebah!” Kemarahan Nagato meledak ketika mendengar perkataan Kousuke. Permainan pedangnya berubah. Agresif dan berkali-kali memberi luka tusukan pada Kousuke.


“Kousuke. Cepat kalahkan dia, tapi jangan membunuhnya. Aku akan mengurus Fuyumi Iris!” Pria yang bernama Gunter melompat ke depan Iris dan Litha yang sedang berlari.


“Aku akan mengincar Hanabi!” Pria bernama Ren menghampiri Hanabi dan menebaskan pedangnya untuk memulai penyerangan.


Hanabi dengan tenang mencoba menahan setiap serangan brutal Ren. Permainan pedang Ren membuat Hanabi menjaga jarak dengan pria itu.


“Jangan menghindari seranganku, gadis muda!” Ren berteriak dan menatap tajam Hanabi.


‘Jika aku tidak menghindari seranganmu, aku akan mati...’ Hanabi membatin dan menghela napas panjang sebelum memulai serangan beruntun pada Ren.


Hanabi mengayunkan pedangnya lebih cepat, seketika daun-daun sakura berguguran disekitarnya.


“Tarian Pedang Sakura...”

__ADS_1


__ADS_2