
Pagi ini angin berhembus dengan sejuknya membuat dedaunan jatuh berguguran. Cuaca cerah membuat perasaan hati yang gundah perlahan merasakan kehangatan.
"Nagato! Beraninya kau pergi lagi!" teriak Dorobo melihat Nagato membawa Litha pergi dari rumahnya.
Akhir - akhir ini Nagato selalu membawa Litha pergi dan mengajaknya untuk menyusuri wilayah Me. Tidak terlalu membosankan bagi Nagato ketika mencoba untuk menghafal setiap rute yang ada di Ashikubi.
Nagato berlari sambil memegang tangan Litha dengan erat. Keduanya pergi ke sebuah tempat yang biasanya mereka berdua pakai untuk melihat perbatasan Kekaisaran Kai dan Kerajaan Ellesmere.
Pohon besar yang paling tinggi di Ashikubi menjadi tempat Nagato dan Litha menikmati pemandangan. Hembusan angin menerpa tubuh mereka berdua, kesejukan yang terasa begitu menyejukkan hati membuat Nagato dan Litha tidak pernah bosan menikmati pemandangan yang sedang mereka tatap.
Seluruh wilayah Me terlihat dari atas pohon bahkan permukiman penduduk di Kerajaan Ellesmere juga terlihat walau terlihat buram di mata.
Litha tersenyum sembari tangannya membuka membiarkan angin menerpa tubuhnya.
"Dunia ini sangatlah luas, sangat disayangkan jika aku menghabiskan waktuku di benua yang kecil ini..." gumam Litha pelan sambil menikmati angin yang menerpa tubuhnya.
Nagato terdiam ketika merasakan nafsu membunuh di bawahnya dan beberapa suara langkah kaki yang semakin dekat ke tempat ia dan Litha sedang menikmati pemandangan.
Nagato menaikan alisnya ketika melihat bayangan seorang anak laki - laki berumur tujuh tahun sedang dikejar puluhan pria.
"Ada apa Nagato?" tanya Litha melirik Nagato yang sedang berdiri dekat tangga yang mereka buat di pohon besar tersebut.
Nagato tidak menjawab pertanyaan Litha dan menuruni tangga dengan cepat. Pedang yang tersarung rapi di pinggangnya langsung Nagato cabut ketika berada di bawah permukaan tanah.
"Tolong aku!" teriak anak yang berlari ke arah Nagato dan bersembunyi di balik punggungnya sambil memegang baju hitam yang dikenakan Nagato.
Nagato menatap tajam puluhan orang yang berpakaian layaknya seorang prajurit kerajaan. Sejumlah pertanyaan muncul di dalam benaknya, Nagato sangat yakin jika anak yang berlindung di balik punggungnya bukanlah anak sembarangan.
"Siapa sebena-" belum selesai Nagato berbicara matanya melebar melihat lambang Kerajaan Sihir Azbec yang dipakai puluhan pria dihadapannya.
Nagato tidak habis pikir jika ia akan bertemu dengan prajurit dari Azbec di Ashikubi. Tidak perlu berpikir dua kali Nagato langasung mengayunkan pedangnya menyerang puluhan pria dihadapannya.
"Siapa bocah ini?!" salah satu pria yang menangkis serangan Nagato dengan tombaknya terkejut melihat kelincahan Nagato.
Nagato memutarkan tubuhnya dan menciptakan pusaran api yang membakar seluruh pria yang menyerangnya.
"Pergi dari sini!" Nagato menatap dingin dan terlihat jika wajah datarnya sangat menakutkan.
Tidak sampai tiga detik seluruh pria yang mengincar anak laki - laki yang Nagato lindungi lari terbirit - birit.
Nagato menyarungkan pedangnya kembali sebelum menghela napas panjang dan kembali naik ke atas pohon.
__ADS_1
"Tunggu!" teriak anak yang Nagato tolong.
"Aku ingin berterimakasih, namaku Asha Fang..." ucap anak laki - laki yang bernama Asha dan berumur tujuh tahun tersebut.
Nagato menatap tajam Asha sebelum kembali naik memanjat pohon. Nagato sama sekali tidak peduli dengan Asha.
"Kakak teknik pedangmu sangat keren." puji Asha pada Nagato dan terlihat jika wajahnya terlihat begitu kegirangan.
Nagato mengerutkan dahinya sebelum melempar ranting pohon ke arah Asha.
"Jangan panggil aku sembarangan, bocah sialan!" Nagato menatap dingin Asha.
Asha tertawa dan mengikuti Nagato naik ke atas pohon. Sesampainya di atas pohon, terlihat Litha sedang duduk dan melirik Nagato yang datang bersama Asha.
"Indahnya... aku tidak menyesal kabur dari rumah..." gumam Asha ketika melihat pemandangan yang begitu memanjakan matanya. Hutan hijau membentang dengan luas dan beberapa permukiman terlihat dari atas pohon.
Litha menatap Asha yang terlihat wajahnya seperti bukan orang dari Kai.
"Nagato, anak ini siapa?" tanya Litha pada Nagato sambil menjaga jarak dengan Asha.
"Mungkin anak orang kaya..." jawab Nagato cuek dan terlihat tidak peduli sama sekali.
"Kakak tampan dan Kakak cantik, perkenalkan namaku Asha Fang. Aku adalah orang yang akan menjadi pahlawan dunia." ucap Asha dengan bangga sambil membusungkan dadanya.
Nagato merapatkan giginya dan memukul kepala Asha. Raut wajahnya terlihat begitu kesal karena Asha memanggilnya dengan sebutan Kakak.
"Pahlawan? Hanya orang bodoh yang memanggil dirinya sendiri sebagai pahlawan." sahut Nagato dan menatap tajam Asha.
"Kau tidak tahu kekuatan dari ABB. Mereka orang yang tinggal di dunia luar sana adalah orang yang hebat mereka biasa dikenal dengan pahlawan, karena pahlawan memburu penjahat seperti Ophyis, Hiryuu, dan Kazan. Aku ingin menjadi seperti pahlawan besi yang ditakuti di antara penjahat." balas Asha sambil memukul tangannya ke udara dan matanya menatap langit.
Nagato terdiam karena ia tidak mempunyai mimpi dan yang ada di dalam hidupnya hanyalah sebuah ambisi. Ambisi untuk membunuh Kazan dan Black Madia bersama seluruh antek - anteknya.
Nagato kembali bersandar dan melihat Asha yang sedang bercerita panjang lebar. Litha tertawa mendengar cerita Asha dan mereka berdua terlihat sudah mulai akrab.
"Pahlawan? Jika aku menjadi pahlawan yang bekerja di bawah ABB maka aku bisa membunuh semua manusia seperti Kazan di muka bumi ini." batin Nagato setelah mendengar cerita dari Asha.
Litha memberitahu nama Nagato pada Asha, dalam sekejap Asha menghampiri Nagato dan memegang tangannya.
"Hei Kak Nagato, apa Kak Litha itu pacarmu? Dia sangat baik dan cantik..." bisik Asha di telinga Nagato.
Nagato memukul wajah Asha pelan sebelum menghela napas panjang.
__ADS_1
"Sudah kubilang aku bukanlah kakakmu." ucap Nagato dengan tenang.
Nagato menatap Litha dan sejumlah pertanyaan muncul di dalam hatinya. Nagato mengenal Litha dan Iris tanpa sengaja, bagi Nagato kedua perempuan itu sudah mengisi hatinya.
"Cinta membuat hidupmu lebih berwarna? Apa ini yang di maksud oleh ibu?" batin Nagato mengingat perkataan Sarah yang menceritakan pada Nagato tentang bagaimana Sarah bisa jatuh cinta pada Pandu.
Asha bisa melihat jika Nagato menyukai Litha hanya saja Nagato sendiri tidak sadar dengan perasaannya.
"Jika kau ingin menjadi pahlawan maka kau hanya akan menjadi bulan - bulanan para penjahat." ucap Nagato pada Asha.
"Seorang pahlawan selalu dihina di awal tetapi pahlawan akan dipuja - puja di akhir nanti." jawab Asha tersenyum tipis melihat Nagato.
Nagato merapatkan giginya ia berdecak kesal mendengar perkataan Asha. Tangan Nagato langsung menarik pipi Asha dan berkali - kali ia memukul perut Asha pelan.
Asha tertawa menahan pukulan pelan Nagato kemudian dia tersenyum bahagia.
"Tidak sia - sia aku kabur dari rumah." batin Asha.
"Litha sudah saatnya kita mencari rusa dan pulang." ucap Nagato berjalan menuruni tangga pohon.
Litha mengikuti Nagato turun kemudian di susul Asha dari belakang.
"Kak Nagato, ijinkan aku ikut." Asha memohon pada Nagato.
Nagato membiarkan Asha mengikuti dirinya bersama Litha mencari rusa sebelum pulang ke Markas Pencuri Ashikubi.
Seperti biasa Nagato sangat ahli dalam memburu hewan, lima ekor rusa telah ia telah dapatkan. Litha menangkap lima ekor ayam sedangkan Asha tidak menangkap apapun.
"Pahlawan?" ledek Nagato tersenyum sinis pada Asha.
"Lihat saja aku akan menjadi seorang pahlawan dan membuktikan pada semua orang!" teriak Asha dengan keras.
Nagato melempar rusa yang ia tangkap pada Asha dan menyuruh Asha membawannya. Litha tertawa pelan melihat tingkah konyol Asha.
Seperti biasa di depan Markas Pencuri Ashikubi di sana terlihat Dorobo bersama anggotanya sedang menunggu hasil tangkapan Nagato dan Litha.
"Kerja bagus Nagato." Dorobo mengambil rusa yang dibawa Asha dan menyuruh anak buahnya membakar daging rusa tersebut.
Dorobo tidak mengeluh tentang Nagato dan Litha yang tidak pernah mendengarkan perintahnya. Kehadiran Asha tidak disadari oleh Dorobo dan anak buahnya.
"Sepertinya aku akan aman disini." batin Asha sebelum memakan daging rusa yang diberikan oleh Nagato.
__ADS_1