
Litha mematung ketika Ophys menceritakan tentang sosok monster yang menghuni lautan iblis atau lebih dikenal dengan laut selatan.
“Benarkah? Apa disana ada makhluk seperti itu?” Litha bertanya dengan wajah yang sumringah. Mental gadis manis itu perlahan-lahan memulih.
Ophys tertawa pelan, “Benar, dan disana juga ada para duyung yang dikenal dengan Ras Mermaid.” Ophys mengedipkan mata kirinya kepada Litha.
Keduanya terlihat sudah akrab dalam waktu sekejap. Ophys begitu perhatian kepada Litha. Begitu juga dengan Litha yang sama sekali tidak merasa takut kepada Ophys, dan justru gadis manis tak henti-hentinya ingin mendengarkan cerita Ophys.
Di dunia alam bawah sadar keputusasaan Litha, waktu berjalan dengan lambat. Ophys merasakan sesak dihatinya ketika melihat Litha tertidur dan menyebut nama Nagato maupun Soren secara bergantian.
“Litha, apa yang ingin kau lakukan ketika dirimu sadar? Walau ingatan lamamu menghilang, tetapi aku rasa kau mempunyai sesuatu yang ingin kau lakukan bukan?” Ophys bertanya, sambil menatap Litha dengan kedua bola mata yang hangat.
Litha membuka matanya dan menatap wajah Ophys dengan seksama, “Aku ingin melihat Paus Terbang...” Litha mengusap kedua matanya sambil memandang wajah Ophys yang tersenyum.
“Saat ini kita berada di punggung Paus Terbang. Kau sedang berpelukan denganku di kamar...” Ophys menjelaskan pada Litha tentang markas kelompoknya yang berada di punggung Paus Terbang. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju pulau yang akan menjadi tempat mereka tinggal yakni pulau yang hanya dihuni seorang perempuan.
Wajah Litha semakin memerah setelah mengetahui jika dirinya tanpa busana sedang berpelukan dengan Ophys. Melihat ekspresi Litha yang menggemaskan, Ophys tertawa lirih.
“Bisakah kau bawa diriku ini ke dalam sebuah ilusi, setidaknya aku ingin memelukmu. Aku ingin menangis, aku takut sendirian seperti ini...” Litha kembali menangis. Walau sudah berusaha sebisa mungkin untuk tertawa lepas dan bersikap tenang tetapi kesedihannya terlalu besar hingga membuat gadis manis itu merengek kepada orang yang baru dikenalnya.
Ophys melepaskan kekuatan sihirnya. Sihir impian yang hanya sebagai ilusi. Tetapi bagi Litha ini adalah kenyataan, ketika Litha dan Ophys saling berhadapan, dengan segera Litha memeluk tubuh Ophys.
Litha langsung menangis histeris dan memeluk Ophys dengan begitu erat. Ophys sebisa mungkin mencoba menjadi orang tempat bersandar Litha. Mengingat gadis manis itu mengalami trauma dan penderitaan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, Ophys mengelus rambut Litha dan kembali membuat sebuah ilusi.
Litha menyeka air matanya dan duduk bersama Ophys menikmati lautan awan yang membentang dengan luas disekitarnya. Matanya menatap Ophys yang tersenyum ramah padanya. Pernah Litha membaca artikel di koran Surat Kabar Burung Gagak tentang Ophys bersama mendiang ibunya.
Litha berpikir jika Ophys adalah sosok perempuan yang menakutkan karena mendapatkan julukan Ratu Iblis, tetapi semua itu jauh dari apa yang dia pikirkan. Ternyata sosok Ophys adalah seorang perempuan berparas cantik, baik hati dan membuat dirinya terasa begitu nyaman ketika berada didekatnya.
“Leluhurku pernah datang ke Benua Ezzo. Aku rasa kita berdua adalah saudari jauh. Walau umurku ini ratusan tahun, tetapi aku bisa menjadi teman sebayamu.” Ophys mencubit hidung Litha dan membuat Litha tertawa geli.
Ophys bercerita sedikit kepada Litha karena gadis manis terlihat begitu penasaran dengan masa lalu seorang penyihir. Sikap Litha yang selalu penasaran dengan sebuah sejarah ataupun kejadian penting di masa lalu, sangat berbeda dengan Nagato yang selalu menjadi pendengar yang baik.
__ADS_1
“Aku tidak menyangka bisa melihat bidadari yang cantik. Semua ini terasa mimpi, aku berharap semua kejadian itu adalah mimpi...” Litha kembali sedih, setelah merasa ceria untuk sesaat, Litha justru terlihat murung. Dengan segera Ophys menyentuh pipi Litha.
Kedua bola mata Litha nampak sayu memandang wajah Ophys. Tak lama gadis manis itu membaringkan tubuhnya dan membenamkan kepalanya di pangkuan paha Ophys.
“Litha, apakah kau tidak takut denganku? Bisa saja aku ini adalah orang jahat yang akan memakanmu.” Ophys mengusap rambut Litha dan menatap wajah gadis manis tersebut.
Litha kembali tertawa karena Ophys selalu saja mengatakan hal membuatnya merasa tenang dan nyaman, “Aku sama sekali tidak takut. Karena aku merasa kamu terlihat seperti kakakku. Walau kakakku selalu tidak peka, tetapi dia sangat perhatian padaku.” Litha menggerutu, sementara Ophys hanya tertawa mendengarnya.
“Kakak Soren memanglah orang yang kuat dan terlihat tegar, tetapi jika aku tidak ada disampingnya, aku takut dia melakukan hal yang bodoh. Aku takut dia mati...” Litha kembali meneteskan air matanya.
“Bukankah dia orang yang kuat? Kalau begitu, kamu tidak perlu mengkhawatirkan calon suamiku...” Ophys mencoba menenangkan Litha yang kembali menangis.
“Tidak. Dia sama sekali tidak kuat. Kakak Soren hanyalah orang yang terlalu giat berlatih lebih dari siapapun, jika aku tidak menegurnya dan tidak ada disampingnya, mungkin dia akan melakukan hal yang bodoh...” Litha menangis sesenggukan dan memeluk perut Ophys. “Bisa saja dia akan mati karena bunuh diri. Kakak Soren hanyalah orang yang lemah. Aku merasa dia bisa mati kapan saja ketika merasa putus asa... Karena itu aku sangat mengkhawatirkannya! Aku tidak ingin membiarkannya sendirian!”
Litha memeluk perut Ophys lebih erat dari sebelumnya hingga membuat Ophys merasa gelagapan. Tangisannya terdengar keras dan membuat hati Ophys teriris. Setelah menangis cukup lama, Litha penasaran dengan perkataan Ophys tentang Nagato.
“Kakak Ophys, tadi kau menyebut Kakak Soren sebagai calon suamimu? Atau hanya aku yang salah dengar barusan?” Litha langsung mengubah posisi tidurnya dan menatap Ophys yang tersenyum ramah padanya.
Litha membuka mulutnya namun tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Setelah kedua bola matanya bertemu dengan kedua bola mata Ophys. Tak lama keduanya tertawa lepas.
“Litha, bagaimana jika kau menjadi adikku. Aku akan melatihmu tentang ilmu sihir. Suatu saat kau ingin membantu calon suamiku bukan?” Ophys berbicara dengan nada yang sangat akrab dengan Litha. Setiap perkataan dan tindakan Ophys membuat Litha merasa lebih tenang.
Litha menganggukkan kepalanya penuh antusias, dia langsung memeluk tubuh Ophys tanpa rasa malu. Ya, memang keduanya memiliki ikatan yang lebih dari perkiraan. Ophys dan Litha dengan cepat dapat membaur satu sama lain dan mulai akrab karena di dalam pembuluh darah Litha mengalir darah seorang Elf.
Walaupun Ratu Sihir Azbec yang menjadi istri dari Raja Sihir Azbec di masa lalu telah tiada, tetapi ikatan darah tidak akan putus. Keturunan Von masih tetap ada dan kelak di masa depan nanti ketiga saudara sepupu yang terpisah akan kembali bertemu dan melepas rindu.
“Aku mau menjadi adikmu, Kakak Ophys!” Litha nampak manja, sedangkan Ophys merasakan kebahagiaan tersendiri karena melihat Litha kembali tersenyum ceria.
“Tetapi, apa bisa aku berlatih sihir di alam bawah sadarku yang penuh dengan keputusasaan ini? Terus bagaimana dengan bagian diriku yang ada di sana, Kakak Ophys?” Litha bertanya sambil melepaskan pelukannya secara perlahan.
Ophys meremas rambut Litha dan tersenyum, “Tenang saja, dunia ini mengalir dengan lambat di bandingkan dengan dunia nyata. Aku bisa saja menciptakan klon untuk mengurus segala urusanku di dunia nyata, agar aku dapat menemanimu sepanjang waktu. Lagian aku tidak setega itu meninggalkan adik kecilku yang manis ini.”
__ADS_1
Setelah membalas perkataan Litha, ada perasaan malu di benak Ophys karena dia baru pertama kali bersikap alami di depan seseorang kecuali mendiang ibunya. Ophys yang dikenal anggotanya adalah sosok yang tegas, hanya Melodi, Fubuki dan pemimpin dari Surat Kabar Burung Gagak yang mengetahui kelembutan hati Ophys sehingga ketiga orang tersebut rela menjadi pedang dan perisai untuk Ophys.
‘Novelitha Von Azbec. Pertama kali dalam hidupku, aku mengangkat seorang adik sekaligus murid. Selama kau menjadi gadis kecil yang cengeng, aku akan tetap berada disampingmu.’ Ophys menatap Litha penuh makna sembari berjalan melewati lautan awan.
Litha terlihat ceria sekarang, “Kakak Ophys, terimakasih telah menyelamatkanku. Walau Kakak Ophys tidak mengenalku, tetapi aku akan membalas kebaikan hati Kakak Ophys suatu hari nanti! Pasti, aku akan membalasnya!” Litha berjalan disamping Ophys dan berkata penuh dengan rasa terimakasih.
Ophys tersenyum mendengarnya, “Aku menolongmu dengan ikhlas. Dengar, Litha, tubuhmu ini adalah tubuh yang langka. Kau harus menemukan orang yang tulus mencintaimu. Karena aku tidak ingin ada orang-orang sepertinya di masa lalu...” Ophys mencengkeram pundak Litha dan menjelaskan pada Litha tentang Tubuh Jelmaan Dewi Pengobatan.
Di masa lalu perempuan dengan kemampuan Jelmaan Dewi selalu dimanfaatkan oleh pria. Ophys ingin di masa ini tidak ada kejadian yang serupa. Sudah ratusan bahkan ribuan nyawa melayang di tangan Ophys ketika perempuan berparas cantik itu mengetahui setiap pria yang mengincar perempuan dengan kekuatan Jelmaan Dewi.
Litha mendengarkan dengan seksama dan menganggukkan kepalanya pelan memahami perkataan Ophys.
“Aku akan melupakan Kakak Soren sebagai orang yang ingin kujadikan pendamping hidupku. Aku harap suatu saat nanti, aku bertemu dengan seseorang yang tulus mencintaiku.” Litha berkata dengan wajah manisnya, dan membuat kesan kepolosannya terlihat.
Ophys tertawa mengeledek, “Kamu hanyalah gadis kecil berumur dua belas tahun. Kenapa bisa mengatakan hal yang romantis seperti itu.” Ophys tersenyum jahil.
“Kakak Ophys sendiri berumur ratusan tahun. Bukankah berarti Kakak Ophys sudah nenek-nenek...” Litha membalas perkataan Ophys dengan sengit.
Ophys tersenyum semanis mungkin kepada Litha. “Apakah wanita secantik aku ini terlihat seperti nenek-nenek?” Litha menggelengkan kepalanya.
“Sudah bercandanya, aku akan melatihmu.” Ophys mencubit hidung Litha dengan lembut, “Apa kau memiliki tujuan ataupun ambisi? Jika ada, katakan padaku!”
Litha menatap Ophys tajam dan mengepalkan tangannya, “Aku ingin menjadi lebih kuat! Hingga di masa depan nanti aku dapat bertarung melawan orang-orang dengan kekuatan mutlak seperti mereka!” Muncul beberapa bayangan orang-orang yang melakukan pembantaian di Kota Roshima maupun Ignist dan anggotanya di pikiran Litha.
“Jalan hidupmu masih panjang. Tetapi akan kupastikan kau dapat menguasai pengembangan aura bahkan sihir tingkat tinggi, agar kau dapat membantu calon suamiku di masa depan nanti.”
Perkataan Ophys membuat Litha bergidik ngeri.
‘Calon suami? Aku tidak yakin Kakak Soren akan memiliki lebih dari satu istri...’ Litha menebak-nebak dalam hatinya.
Dengan begitu awal kisah Litha yang menjadi saudari angkat Ophys dimulai.
__ADS_1