Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 172 - Jaga Jarak Aman


__ADS_3

Nagato menarik selimutnya agar gadis yang dia sembunyikan tidak kelihatan.


"Di belakangmu itu apa?" Emi menatap tajam sesuatu di balik selimut.


"Ini ... ini gulingku Nenek Emi." Nagato gemetar tangannya memeluk Iris.


"Naga. Kamu menyentuh perutku," batin Iris berusaha untuk tenang dan mengatur napasnya. Karena setiap hembusan napas Iris yang keluar dari mulutnya akan terasa dingin.


"Ada dua guling ya di kamarmu. Nenek Emi ambil satu ya." Emi mengambil guling Nagato yang terjatuh di ranjang. Nagato juga lupa jika ada guling yang asli dari penginapan terjatuh di lantai kamar penginapan.


"Nenek Emi ada apa menemuiku. Saat ini aku sudah ngantuk." Nagato mencari alasan sambil meregangkan pelukannya di perut Iris. Kemudian dia kembali membalikkan badannya menatap Emi.


"Tentang yang terjadi di turnamen. Kenapa kau sangat marah ketika lawanmu berbicara sesuatu padamu. Bisa kau ceritakan padaku," ujar Emi sambil duduk di depan ranjang Nagato.


Sementara itu Nagato masih tertidur di atas ranjang. Emi berada di bawah sehingga pandangan mata Emi hanya bisa melihat Nagato. Kini Iris dapat tenang karena Nagato tidak lagi pura-pura menganggapnya sebagai guling.


Nagato ingin duduk tetapi dia sadar keberadaan Iris. Dengan hati-hati Nagato merubah posisi tidurnya.


"Kau cukup berbaring saja. Nenek Emi hanya ingin mendengar penjelasanmu." Nagato bernapas lega mendengar perkataan Emi.


"Saat itu..." Nagato berbicara dengan tenang menjelaskan perkataan Kujo yang membuatnya marah. Emi cukup pengertian mendengar penjelasan Nagato.


Iris tanpa sadar tertidur di ranjang Nagato. Gadis cantik itu tidak mendengar penjelasan Nagato tentang identitasnya kepada Emi.


"Kenapa kau sangat marah saat ada orang yang menghina nama Pandu?" tanya Emi memastikan.


"Nenek Emi ... Pandu adalah nama ayahku. Namaku yang sebenarnya adalah Kagutsuchi Nagato. Kagutsuchi adalah nama pemberian ayahku untuk nama marga Kai. Sedangkan nama Azbec pemberian dari ibuku kepadaku adalah S-" Emi terkejut mendengar perkataan Nagato padanya, tanpa sadar dia memotong perkataan Nagato.


"Kagutsuchi..." Emi berusaha untuk tetap tenang.


"Nagato, dengarkan perkataan Nenek Emi," ucap Emi memegang tangan Nagato.


"Apa tujuan hidupmu? Apa yang ingin kau lakukan jika penyakitmu sembuh?" Emi bertanya serius pada Nagato.


Nagato menatap Emi dalaam waktu yang cukup lama. Kemudian tangannya menyentuh badan Iris yang sudah tertidur di ranjangnya.


"Apa aku harus mengatakannya di depan Iris," batin Nagato khawatir perkataannya akan membuat Iris menjauhinya. Mengingat nama Kagutsuchi adalah nama tabu di Kekaisaran Kai.


"Tujuanku hanya satu ... aku akan membunuh semua orang yang mencemarkan nama baik ayahku. Aku pasti akan membunuh mereka semua. Siapapun musuhku, baik itu Kazan atau Kaisar Hizen sekalipun. Aku tidak akan pernah melepaskan mereka. Akan kupastikan mereka semua menderita." Nagato menatap Emi yang terkejut.

__ADS_1


Dalam pandangan Emi sekarang Nagato hanyalah pemuda yang terobsesi akan dendam.


"Mungkin jika aku tidak memiliki dendam seperti ini. Aku akan hidup bersama Iris. Aku ingin merasakan cinta yang dapat merubah pandanganku terhadap dunia. Aku harap orang yang kuharapkan itu adalah Iris." Nagato tersenyum tipis melihat Emi yang terkejut mendengar nama cucunya.


"Nenek Emi cukup puas mendengar penjelasanmu Nagato. Selama kamu dan Litha berada di pengawasanku. Aku pastikan kalian baik-baik saja." Emi tersenyum meyakinkan Nagato.


"Bisa kau ceritakan padaku tentangmu? Nenek Emi ingin mendengarnya..." Emi menambahkan.


Nagato tersenyum tipis dan bercerita sedikit demi sedikit tentang tujuan hidupnya, keinginannya, maupun ambisi besarnya.


Emi memejamkan matanya sesaat, cerita Nagato kebanyakan tentang rasa sakit dan dendam. Tidak berapa lama giliran Emi yang bercerita.


Emi menceritakan pada Nagato tentang Iris yang memiliki sifat yang sama persisi dengan Shirayuki. Bisa dibilang Iris adalah jelmaan Dewi Salju sekaligus reinkarnasi dari Shirayuki.


"Hmm ... jadi bisa begitu ya." Reaksi Nagato sangat santai.


"Setiap kekuatan bisa mengalami pembangkitan. Shirayuki menggunakan kekuatan pembangkitan itu untuk membuahi rahimnya sendiri. Bisa dibilang mewariskan." Nagato sedikit tertarik mendengar penjelasan Emi.


"Nagato. Apa kamu masih mencintai Iris setelah mengetahui masa lalunya?" Emi menatap Nagato serius.


"Aku masih belum terlalu mengenal cinta. Tapi untuk saat ini aku sangat mencintai Iris begitu juga seterusnya. Aku hanya berharap Iris tidak jatuh tenggelam di kubangan lumpur yang sama denganku. Kubangan lumpur penuh keputusasaan dan kebencian." Nagato memejamkan matanya sambil memiringkan badannya.


"Nenek Emi jangan terlalu berharap banyak padaku. Aku tidak tahu masa depanku seperti apa. Bahkan sampai saat ini aku masih tidak ingin percaya jika masa laluku adalah sebuah kebenaran." Nagato memejamkan matanya sambil mengingat kebahagiaan yang dia rasakan ketika orang tuanya masih hidup.


"Nenek tidak terlalu mengerti perasaanmu. Tapi Nenek Emi juga pernah merasakan kehilangan. Kamu hanya harus tabah Nagato. Ingat di dunia ini tidak ada orang yang tercipta sendiri." Emi memegang tangan Nagato.


"Terimakasih Nenek Emi..." Nagato bergumam pelan. Tidak berapa lama matanya terpejam karena sudah mengantuk.


"Tidurlah. Besok kamu masih ada pertandingan." Emi mengecup kening Nagato.


"Iya Nenek Emi," jawab Nagato lirih.


"Ngomong-ngomong Iris kemana ya. Di kamarnya tidak ada, apa dia tidur sama Litha..." Emi mengambil guling Nagato dan membawanya. Nagato langsung kembali terbangun sepenuhnya. Dia cukup terkejut mendengar perkataan Emi.


Setelah pintu kamarnya ditutup Emi. Suasana kamar Nagato sangat tenang, suara langkah kaki Emi mulai menjauh. Nagato mendengar pintu kamar terbuka, kemudian dia merubah posisinya dari tidur menjadi duduk.


"Iris. Bangun. Nenek Emi sudah pergi..." Nagato menggoyang badan Iris namun tidak ada reaksi sama sekali. Kemudian dia membuka selimutnya, terlihat gadis cantik itu telah tertidur di ranjangnya. Rambut panjangnya terurai dan bibir tipis dan mungilnya sedikit merekah.


"Apa dia sengaja tertidur? Atau dia hanya pura-pura?" Nagato menatap wajah Iris lama.

__ADS_1


Dengan lembut Nagato menyentuh dan mencubit lembut pipi Iris. Karena dia bisa melihat ekspresi wajah Iris yang malu-malu setiap dia menyentuhnya, namun saat ini tidak ada reaksi sama sekali dari Iris.


"Dia sudah tertidur..." Nagato bergumam pelan. Kemudian dia menutupi tubuh Iris dengan selimutnya agar gadis itu tidak kedinginan.


"Naga..." Iris mengigau di dalam tidurnya.


Nagato memerah wajahnya melihat wajah Iris yang sangat cantik dalam kegelapan yang hanya dihiasi lilin.


"Selamat malam Iris..." Nagato mengecup kening Iris. Terlihat Iris tersenyum bahagia dalam tidurnya. Entah mimpi apa yang sedang Iris alami malam ini.


Kemudian Nagato beranjak tidur di lantai kamar. Dia belum siap tidur seranjang bersama Iris. Tentunya dia masih terlalu dini mengenal cinta.


Nagato memejamkan matanya untuk tidur. Perlahan dia bisa tertidur dengan tenang, namun selang beberapa jam kemudian tiba-tiba seluruh ruangannya menjadi dingin.


Hawa dingin dari arah Iris membuat Nagato terkejut.


"Dinginnya." Nagato duduk memeluk kakinya karena tubuhnya menggigil.


Pandangan matanya melirik Iris yang berkeringat di sekitar wajahnya. Kemudian Nagato berdiri dan duduk di samping ranjang.


"Apa Iris bermimpi buruk?" pikir Nagato menatap wajah Iris yang berkeringat.


Nagato membaringkan tubuhnya di samping Iris. Kemudian dia menyentuh tangan Iris yang lembut, sentuhan tangannya dibalas genggaman erat tangan dari sang gadis cantik yang sedang tertidur.


"Naga ... jangan tinggalkan aku sendiri..." Iris terlihat mengigau di dalam tidurnya. Matanya berlinang walau gadis cantik itu memejamkan matanya.


Nagato menyeka air mata Iris sambil menatap wajah Iris yang terlihat mengkhawatirkan dirinya. Bahagia dan sedih bercampur aduk di dalam diri Nagato. Dengan penuh kelembutan, Nagato mencium rambut hitam Iris yang sangat wangi itu.


Nagato merasa bersalah karena membuat Iris terlalu memikirkan dirinya. Sampai-sampai perkataannya sendiri terbawa di dalam mimpi malam gadis yang berada di dalam sentuhannya.


"Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian..." Nagato tersenyum melihat Iris sambil membaringkan tubuhnya di samping Iris.


Setelah Nagato memejamkan matanya, tiba-tiba Iris membalikkan badannya memeluk tubuh Nagato.


"Aku harus menjaga jarak..." Nagato bergumam lirih sambil duduk kembali. Dia menyandarkan tubuhnya di ranjang, sedangankan tangannya menggenggam tangan Iris.


Nagato tidak bisa tertidur malam ini, melihat Iris yang sedang bermimpi buruk membuat Nagato sangat khawatir. Jika dirinya tertidur maka esok hari akan terjadi kehebohan, tentu itu menjadi hal yang Nagato takutkan.


Ketenangan malam terus berlalu, seorang pemuda terus menjaga seorang gadis yang tertidur di sampingnya. Seperti hari-hari biasa, Nagato hanya tertidur selama dua jam. Selebihnya setelah terbangun, Nagato terus menatap wajah gadis yang dia cintai itu.

__ADS_1


Dalam ketenangan dia merasa senang dan dalam ketenangan dia juga merasakan sedih.


__ADS_2