
Lima hari telah berlalu semenjak pertempuran di Gunung Menangis. Namida bersama beberapa pendekar Perguruan Gunung Menangis pergi ke Ibu Kota Kekaisaran Kai yaitu Ibu Kota Daifuzen.
Namida ingin bertemu langsung dengan Sepuluh Tetua Kai. Gunung Menangis adalah tempat terisolasi di Kekaisaran Kai, selain Klan Kagutsuchi dan Sepuluh Tetua Kai tidak ada yang mengetahui keberadaan lokasi Gunung Menangis. Penyerangan yang dilakukan Sekte Pemuja Iblis membuat Namida mencurigai Sepuluh Tetua Kai.
Setelah memulihkan tenaganya selama dua hari Nagato kini telah pulih kembali. Perjalanan menuju Wilayah Me berlangsung tanpa hambatan. Mereka bertiga pergi ke tempat Nenek Beo sebelum Nagato dan Litha dititipkan di tempat pencuri yang dulu menjadi bawahan Kakek Hyogoro.
Seperti biasa Kakek Hyogoro membagi uang imbalannya menjadi tiga bagian. Seperti biasa juga Kakek Hyogoro memakai uang Nagato untuk membeli arak kesukaannya.
Nagato tidak pernah mengeluh sedikitpun melihat kebiasaan Kakek Hyogoro. Hari ini Nagato dan Litha akan ditinggal pergi Kakek Hyogoro selama setahun.
Sebuah permukiman yang dikelilingi bukit dan hutan - hutan. Tempat itu biasa disebut dengan Ashikubi.
Kakek Hyogoro menjelaskan pada Nagato dan Litha jika dirinya akan pergi jauh selama satu tahun.
"Dorobo!" teriak Kakek Hyogoro sambil mengetuk pintu rumah yang terlihat seperti gudang itu.
"Berisik! Apa kau ingin kubunuh!" teriak perempuan muda berumur dua puluh tahun dari balik pintu.
"Bos!" kaget perempuan tersebut setelah membuka pintu rumahnya.
"Lama tidak berjumpa, Dorobo..." sapa Kakek Hyogoro pada perempuan yang bernama Dorobo tersebut.
"Kepalamu itu lama tidak berjumpa!" umpat Dorobo dari dalam hati sambil menatap Kakek Hyogoro tajam.
"Ada perlu apa kesini... aku bukan pengasuh anak kecil. Mereka berdua itu siapa?" Dorobo menatap tajam Nagato dan Litha yang memakai topeng rubah putih.
"Mereka berdua muridku. Ini aku berikan arak untukmu..." jawab Kakek Hyogoro sambil melempar arak dan memberikannya pada Dorobo.
"Baiklah, mereka berdua boleh menginap di rumahku." balas Dorobo setelah menerima satu botol arak dari Kakek Hyogoro.
Kakek Hyogoro mengajak Dorobo pergi ke luar sebentar karena ia ingin membicarakan tentang identitas Nagato pada Dorobo.
Kakek Hyogoro bercerita panjang lebar pada Dorobo tentang Nagato, dari pelariannya yang dikejar Kazan dan menuju Hutan Cakrawyuha. Dia menceritakan garis besarnya tentang masa muda Pandu karena kemungkinan Nagato akan membuat Dorobo kerepotan.
__ADS_1
Dorobo meminum arak sambil mendengarkan perkataan Kakek Hyogoro tanpa memotong perkataannya sedikitpun, dia bisa mengerti tentang sifat anak yang tak jauh dari ayahnya.
"Bos, seluruh Kai membenci Pandu. Sudah pasti jika Nagato sudah mengetahui seluk beluk masa lalu ayahnya itu..." ucap Dorobo sambil meneguk kembali araknya.
Kakek Hyogoro meminum araknya sambil tersenyum kecut beberapa kali sebelum dirinya tersenyum lebar.
"Kau tahu jika Pandu adalah orang jenius tapi dia itu terlalu bodoh..." ucap Kakek Hyogoro pada Dorobo. Terlihat jelas jika Kakek Hyogoro sudah begitu menikmati arak.
"Bodoh? Apa maksudmu?" Dorobo mengerutkan dahinya mendengar ucapan Kakek Hyogoro sambil mengambil botol arak milik Kakek Hyogoro diam - diam.
"Pandu adalah orang yang paling takut dengan namanya kehilangan. Sejak kecil ia kehilangan ibunya, semenjak itu aku mendengar cerita dari Guru Besar Sura..." ujar Kakek Hyogoro tertahan dan wajahnya sangat murung.
"Jika Pandu sangat trauma dengan kejadian itu..." tambahnya lirih.
Dorobo menelan ludah sebelum meneguk kembali araknya ia penasaran dengan cerita masa lalu Pandu.
"Pandu akan menghabisi siapapun yang berani menyentuh temannya ataupun keluarganya. Pada saat dia seperti itu, di mataku Pandu adalah orang yang tidak peduli jika dia kehilangan nyawanya, asalkan orang yang dia cintai selamat maka dia akan tenang." Kakek Hyogoro meminum araknya sambil tertawa lepas mengingat wajah Pandu.
"Hanya orang bodoh yang tidak sayang dengan nyawanya. Melarikan diri juga strategi dalam bertarung, bagiku melarikan diri bukanlah selalu berarti sebuah kekalahan..." sahut Dorobo setelah mendengar perkataan Kakek Hyogoro.
"Aku melihat Nagato memiliki sifat yang sama seperti Pandu. Ketika Litha terluka maka Nagato akan berubah kepribadiannya, aku yakin bukan hanya Litha saja, siapapun orang yang telah menjadi temannya maka Nagato akan melindunginya..." tambah Kakek Hyogoro.
Dorobo terdiam sesaat sebelum menatap Nagato dan Litha yang sedang bertarung dengan anak buahnya yang menjadi pencuri.
Kakek Hyogoro menjelaskan pada Dorobo tentang kepergiannya selama setahun, tentang kepergiannya yang akan menyelidiki markas Sekte Pemuja Iblis yang tersebar di seluruh daratan Benua Ezzo.
"Baiklah aku akan menjaga dua bocah ini tetapi jangan terlalu berharap padaku merawat mereka layaknya orang tua pada biasanya." ucap Dorobo sambil berdiri dan menepuk - nepuk celananya.
"Aku tidak pernah merasakan kasih sayang orang tua, jadi aku hanya bisa mengajari mereka berdua cara membunuh dan mencuri saja." tambah Dorobo sebelum pergi meninggalkan Kakek Hyogoro.
Kakek Hyogoro bangkit berdiri dan menghampiri Nagato dan Litha yang sedang bertarung melawan pencuri.
"Kalian berdua mulai hari ini tinggal disini, Kakekmu ini akan pergi sebentar." ucap Kakek Hyogoro pada Nagato dan Litha.
__ADS_1
Nagato tidak menjawab perkataan Kakek Hyogoro karena bagi Nagato ada orang yang mau merawat dirinya saja sudah untung.
"Kakak pergi kemana?" tanya Litha dengan mata yang berkaca - kaca.
"Kakek hanya ingin pergi sebentar saja. Setelah kembali nanti, Kakekmu ini ingin melihat kalian berdua menjadi kuat dan setelah kita bertemu kembali kalian berdua akan mengikuti turnamen itu." jawab Kakek Hyogoro tersenyum lebar sambil mengelus rambut Litha.
Litha diam setelah mendengarkan jawaban Kakek Hyogoro karena ia pikir Kakek Hyogoro akan meninggalkannya bersama Nagato.
"Aku akan memenangkan turnamen itu. Litha hidup bersama para ******** ini tidak buruk juga..." ucap Nagato pada Litha sambil melirik Dorobo bersama anggota pencurinya.
"Siapa yang kau bilang ********! Bocah tengik!" teriak Dorobo hendak memukul Nagato.
"Sabar bos bagaimanapun juga anak tengik ini murid dari Bos Hyogoro." salah satu anak buah Dorobo yang bernama Saru mencoba menenangkan perempuan berambut ikal tersebut.
Kakek Hyogoro tertawa melihat Nagato yang masih tetap tenang. Sebelum Kakek Hyogoro pergi meninggkalkan Nagato dan Litha ia memberikan uang pada Dorobo.
"Itu uangku..." gumam Nagato melihat uangnya yang ada di tangan Dorobo.
Dorobo menyuruh Nagato dan Litha masuk ke dalam rumah mereka, sebuah rumah yang biasa disebut dengan Markas Pencuri Ashikubi.
___
**Chapter spesial ini menjadi cikal bakal salah satu dari Lima Penguasa menolong Nagato di masa depan.
Terlalu banyak chapter dan basa - basi jadi kalian nikmati saja dulu ceritanya.
Tunggu saja Arc Bahamut Warππ
Di sana semua akan terjawab.
Semoga kalian menikmati chapter ini, beberapa chapter ke depan menceritakan tentang Nagato dan Litha yang berlatih bersama Bisma.
Enjoy Reading SLURππ€
__ADS_1
Jangan lupa komentar biar rame dikitπ€**