
“Kode...” Sebuah suara dari Tablet yang digenggam Hound terdengar.
“Heart...” Hound sedang menghubungi seseorang. Sementara Nagato terbaring lemah dengan mata yang terpejam.
“Posisi...”
Hound menjawab, “Ezzo...”
“Oh, Hound. Bagaimana keadaan disana, apakah adikmu itu melakukan pergerakan?”
Hound menatap langit sembari memegang Tabletnya, “Tidak. Magma belum melakukan pergerakan, hanya saja kemungkinan besar Organisasi Disaster akan melakukan pergerakan menuju Benua Jiu dengan kelompok yang dipimpin ayahku dan bencana. Itu adalah kabar yang aku dengar baru-baru ini...”
Seseorang di seberang belahan dunia, orang yang menjadi Pahlawan Bintang Lima mengetuk jarinya di meja, “Salah satu Panglima dari Kekaisaran Bahamut menjajah salah satu negeri di benua itu. Merepotkan, sepertinya dunia ini masih jauh dari yang namanya perdamaian.”
“Ketika dunia dipimpin para tirani, jadi memang seperti inilah kondisinya.” Hound berkata sambil mengeluarkan rokok disakunya, “Aku akan meninggalkan misiku sebentar. Bisakah carikan informasi tentang keberadaan Air Mata Phoenix.”
“Ada apa? Apakah ada masalah di sana?”
Hound menatap Nagato yang terlihat pucat wajahnya, “Ada masalah pribadi. Aku menemukan anak dimana orang tuanya telah mati karena perbuatan ayahku. Setidaknya, aku ingin menebus dosaku.”
“Begitu ya. Hoh, informasi keberadaan Air Mata Phoenix sulit ditemukan. Menurut rumor, Air Mata Phoenix berada di benua tersembunyi.” Orang yang sedang berbincang dengan Hound lewat Tablet menjelaskan.
“Anak ini bermarga sama dengan Mugen. Aku sebisa mungkin ingin membuatnya bebas. Kagutsuchi Nagato, itulah nama anak yang ingin kuselamatkan.” Hound kembali berbicara.
“Kagutsuchi? Sepertinya dia juga telah menjadi korban. Aku bisa merekomendasikan Kagutsuchi Nagato ini menjadi seorang Pahlawan melalui latihan di Markas Pusat. Oh iya, akhir-akhir ini pergelojakan terjadi merata di seluruh dunia. Apakah kau dapat bertahan disana. Harus selalu berhati-hati, bagaimanapun adikmu itu memiliki kekuatan yang berlawanan denganmu.” Suara itu terlihat mengkhawatirkan Hound.
“Ya, jika aku dapat bertahan, aku akan mengajak Nagato menjadi seorang pahlawan...” Hound tersenyum.
‘Tetapi, luka dalamku karena menyerap api semburan Ignist mungkin telah berakibat fatal. Selagi hidup, aku akan mencoba menyembuhkanmu, Nagato...’ Hound membatin dan memejamkan matanya secara bertahap sembari menatap Nagato.
“Masalah di Benua Ezzo, mengenai Organisasi Disaster dan Bangsawan Bahamut kuserahkan padamu. Lakukan saja sesukamu.”
“Baik, akan kukirimkan pesan tentang kejadian yang baru-baru ini terjadi di Benua Ezzo.” Hound mengakhiri panggilan dan menggendong tubuh Nagato.
Ketika Hound melanjutkan perjalanan menuju kota, Nagato terbangun dan membuka matanya. Dia menatap Hound penuh curiga.
“Tadi aku mendengar kau mengatakan misi? Apa kau akan berniat membunuhku?!” Nagato melepaskan diri dari Hound, tetapi dia terkejut karena tubuhnya terasa begitu lemah.
“Kau juga mengatakan Organisasi Disaster.... Jangan bilang kau berpura-pura bersikap baik padaku, dan menyerahkanku pada Magma!” Nagato berteriak, sambil menatap Hound penuh curiga sebelum tubuhnya ambruk ke tanah.
“Apa kau membenci Organisasi Disaster?” Hound bertanya sembari menyalakan api untuk rokoknya.
Nagato menggertakkan giginya, “Akan kupastikan seluruh anggotanya mati! Jika aku bertahan hidup, aku akan membunuh mereka!”
“Sepertinya kau begitu membenci mereka...” Sahut Hound sambil merokok dengan santainya.
“Mereka yang telah membunuh Kakek dan nenekku di Azbec! Bahkan orang tuaku! Tentu saja aku membenci mereka lebih dari apapun itu!” Nagato mencoba berdiri, tetapi seluruh tubuhnya terasa begitu lemah.
Hound menghela napas panjang, “Tubuhmu itu telah di ambang batas. Aku akan carikan dokter untukmu, mereka pasti bisa menyembuhkanmu.” Hound hendak menggendong Nagato tetapi tangannya ditepis.
“Biarkan aku berjalan sendiri.” Nagato terlihat tidak peduli.
‘Sial! Kenapa aku harus merasakan ini!’ Nagato memegang dadanya yang terasa nyeri. Wajahnya dipenuh keringat, sementara tubuhnya kian memanas.
Tanpa Hound dan Nagato sadari. Selebaran poster buronan Nagato tersebar di Kerajaan Sihir Azbec dan negeri yang telah dikuasai Kekaisaran Rakuza. Dalang dari orang yang menyebarkan poster buronan dengan harga yang besar adalah Wrath.
Wrath telah mendapatkan izin dari Gore. Bahkan kabar poster buronan itu menyebar cepat. Selain wajah Nagato, disana juga tertulis jika Nagato membunuh ribuan orang tanpa pandang bulu dan mendapatkan julukan monster pembawa kematian karena membunuh orang hanya dengan aura.
Ketika Hound membawa Nagato di depan sebuah bangunan yang seperti rumah sakit di Kerajaan Ellesmere, Hound tersenyum optimis dan memasuki bangunan tersebut.
Beberapa pelayan menyambut kedatangan mereka. Hound dan Nagato memasuki sebuah lorong, mereka dituntun hingga akhirnya memasuki sebuah ruangan milik seorang dokter.
“Rumah sakit di kerajaan ini besar. Pasti ada dokter hebat yang akan menyembuhkanmu, Nagato.” Hound tersenyum ramah dan meremas rambut Nagato.
“Jangan sentuh kepalaku!” Nagato menepis tangan Hound.
__ADS_1
“Bersikaplah seperti anak kecil, Nagato.” Hound berkata sambil berjalan di belakang Nagato.
“Aku bukan anak kecil!” Nagato merasa kesal dan mempercepat langkah kakinya.
Sesampainya di ruangan yang disana terlihat ada seorang dokter, Nagato dan Hound segera duduk di bangku. Namun sesuatu yang mengejutkan terjadi. Dokter tersebut bukannya mengobati Nagato, justru dia berteriak.
“Anak ini...” Dokter tersebut mematung sebelum kembali berteriak, “Hah? Pembawa kematian?” Dokter itu merinding ketakutan.
Nagato dan Hound belum menyadari jika selebaran poster Nagato telah menyebar dengan cepat. Tentu saja orang-orang diseluruh Benua Ezzo, kecuali Kekaisaran Kai dan dua negeri tersembunyi telah mengetahui rumor kepalsuan dan fitnah yang ditujukan pada Nagato.
“Dokter, anak ini telah lama mengidap penyakit jantung. Tubuhnya ini sangat lemah, apakah kau bisa menyembuhkannya? Soal biaya tenang saja, aku mempunyai cukup uang...” Ucap Hound sambil menatap dokter tersebut tanpa curiga.
Dokter itu justru menatap Nagato cukup lama sebelum bertanya, “Maaf anak muda, kau berasal darimana?” Terlihat dokter itu menjaga jarak dari Nagato dan Hound.
Nagato juga tidak merasakan curiga. Sehingga dia menjawab pertanyaan dokter tersebut dengan cepat.
“Aku berasal dari Kekaisaran Kai...” Nagato mengalihkan pandangannya karena tidak nyaman dengan tatapan dokter tersebut ketika mata mereka bertemu.
“Hah? Kekaisaran Kai? Jadi anak ini sungguhan!” Dokter itu langsung menjaga jarak lebih jauh.
“Panggil pasukan militer! Aku menemukan monster pembawa kematian! Cepat hubungi pasukan militer!” Dokter tersebut memanggil pelayan yang sedang berada di luar ruangan.
Hound tersentak kaget karena tidak menyangka akan mendapat sambutan yang begitu buruk, ‘Ada apa sebenarnya? Kenapa aku merasakan firasat buruk...’
Kekhawatiran Hound semakin terbukti ketika dokter tersebut mengambil barang-barang yang ada di ruangan bersama pelayan dan mulai melemparkan segala barang ke arah Nagato.
‘Heh?’ Nagato tidak tahu kenapa tatapan mereka begitu takut dan membencinya.
Hound bergerak cepat menarik tangan Nagato dan keluar dari tempat tersebut. Mereka berdua terus bergerak menjauh hingga akhirnya di tengah kota, Hound dan Nagato baru mengetahui tentang poster buronan Nagato.
“Siapa yang melakukan ini?!” Hound membakar papan pengumuman dan menggertakkan giginya.
‘Apakah Magma?! Tidak. Magma tidak akan bertindak seperti ini. Aku rasa Gore dan anggotanya?’ Hound mengepalkan kedua tangannya hingga api mulai memutari kedua tangannya.
Nagato mematung dan tidak berbuat apapun. Saat ini dia merasakan pengalaman pertama dalam hidupnya, dimana dirinya ditatap penuh kebencian oleh ratusan bahkan ribuan orang karena tuduhan.
Ketika ratusan penduduk kota yang ada di Kerajaan Ellesmere melemparkan batu pada Nagato, dengan segera Hound menyambut lemparan itu dengan pukulan tangan yang memanjang membentuk kepalan tangan yang dilapisi api.
“Dokter gila! Sungguh tidak berguna! Ayo pergi, Nagato!” Hound menatap dingin semua orang yang telah mengetahui poster buronan Nagato.
“Aku tidak akan diterima oleh siapapun...” Nagato pesimis. Mentalnya belum pulih sepenuhnya hingga kejadian barusan menyebabkan trauma tersendiri.
“Apa yang kau katakan? Aku akan menyembuhkanmu, rumah sakit dan kota ini sudah gila. Ayo kita pergi, Nagato...” Hound membawa tubuh Nagato dari samping.
“Lepaskan aku! Tempat ini sangat asing bagiku!” Nagato memukul Hound, namun bagi pria berambut merah itu, pukulan Nagato sama sekali tidak bertenaga karena sekarang Nagato tidak lebih dari anak muda lemah yang memiliki penyakit yang bisa membuat dirinya mati kapan saja.
“Berhentilah bertingkah seperti anak kecil!” Hound mulai kesal mendengar ocehan Nagato yang pesimis, “Dengar Nagato, jangan menyerah! Kau belum mengerahkan seluruh perjuanganmu untuk menemukan obat yang dapat menyembuhkan penyakitmu!”
Hound membawa Nagato menuju kota di Kerajaan Ellesmere. Dari satu kota ke kota lainnya, tetapi reaksi semua orang hampir sama. Ternyata di seluruh Kerajaan Ellesmere, poster buronan Nagato telah tersebar.
Walau hanya wajah yang dilukis, tindakan orang yang menulis dan menyebarkan fitnah memberi imbalan untuk kepala Nagato dengan jumlah yang besar membuat Hound murka.
Tentu saja semua dapat dilakukan dengan mudah oleh Sekte Pemuja Iblis. Wrath dan Gore dapat menyebarkannya dengan mudah karena Reptile bekerja di bawah Kaisar Orochi.
Saat Hound dan Nagato berada di kota yang terlihat megah namun tidak terlalu besar, hanya saja kota yang berada di ujung Kerajaan Ellesmere itu terasa begitu nyaman. Tetapi bagi Nagato, semuanya sama. Tidak ada tempat yang akan menerima dirinya.
Saat Hound dan Nagato melewati tengah kota, ratusan penduduk kota mengejar mereka. Hound tidak habis pikir jika dirinya dikejar-kejar seperti seorang penjahat.
Hound menarik Nagato menuju sebuah gang, disana mereka berdua bertemu dengan seorang pemuda berambut biru yang sedang memegang poster buronan Nagato.
‘Sial! Dimanapun tidak ada tempat yang aman! Kenapa seorang Pahlawan sepertiku harus dikejar-kejar seperti penjahat!’ Hound berdecak kesal.
“Aku memang membunuh orang, mungkin ini karma untukku.” Nagato berkata pelan, kemudian memasrahkan dirinya. Tetapi kepalanya dijitak oleh Hound.
“Jangan menyerah, bodoh! Sudah kubilang, aku akan menyembuhkanmu! Kau ini terlalu pesimis! Bukankah kau memiliki janji dengan Litha?!” Hound menatap Nagato geram sehingga dia berbicara cukup keras, “Apapun yang terjadi jangan menyerah!”
__ADS_1
“Tetapi sekarang aku tidak bisa berbuat apapun. Aku tidak dapat bergerak seperti dulu...” Nagato telah menyadari jika aura dan tenaga dalamnya perlahan mulai melumpuh.
Saat Hound dan Nagato sedang berdebat. Kejaran ratusan penduduk kota semakin mendekat karena terdengar hentakkan langkah kaki mereka. Bahkan Nagato dan Hound sampai melupakan pemuda berambut biru yang sedang mengawasi mereka.
“Kalian berdua. Masuklah ke dalam rumah...” Pemuda berambut itu membuka pintu rumah dan memberi tanda pada Naagto dan Hound agar masuk ke dalam rumah.
Hound dan Nagato tanpa curiga langsung masuk ke dalam. Mereka berada di dalam sampai orang-orang yang mengejar mereka menjauh.
“Apa kau melihat pria berambut merah dan iblis berwajah tampan?”
“Aku tidak melihat satupun orang yang lewat didepan ku.” Jawaban pemuda berambut biru membuat Nagato dan Hound terkejut sekaligus merasa beruntung.
“Ternyata dia cukup baik juga...” Hound menghela napas panjang karena telah bersiap melukai penduduk kota jika tidak mempunyai pilihan lain.
Pemuda berambut biru membuka pintu rumahnya, “Mereka sudah pergi.”
Hound dan Nagato dengan cepat keluar.
“Terimakasih, siapa namamu?” Hound bertanya, sementara Nagato hanya diam.
“Ehmm, sepertinya kalian berdua hanyalah seorang buronan. Jadi tidak akan terlalu berpengaruh. Namaku Yuyutsu.” Pemuda itu menjawab sembari duduk di depan pintu, “Ngomong-ngomong ini bukanlah rumahku, jadi kalian berdua cepat pergi dari sini. Aku tidak bisa membantu lebih.”
Hound tertawa canggung, “Baiklah. Terimakasih Yuyutsu.”
Hound dan Nagato segera pergi meninggalkan kota yang baru saja mereka singgahi.
___
Waktu semakin berlalu, hari demi hari penyakit Nagato semakin memburuk. Dua tahun berlalu, umur Nagato sekarang empat belas tahun.
Kesehatan Nagato semakin memburuk. Hound telah membawa Nagato berkeliling seluruh Benua Ezzo, bahkan di Kekaisaran Kai tidak ada yang dapat menyembuhkan Nagato. Sehingga Hound memilih mencari Air Mata Phoenix. Tatapi tanpa petunjuk yang pasti, Hound hanya membuat kesehatan Nagato setiap harinya bertambah buruk.
Tekanan dan trauma karena tidak ada satupun orang yang menerimanya kecuali di Kekaisaran Kai. Membuat Nagato tidak percaya pada siapapun. Bahkan dia sama sekali tidak ingin menginjakkan kaki di Kekaisaran Kai, karena disana tidak ada tempat untuknya pulang.
“Lihat, Nagato! Kota ini sepertinya dipenuhi dengan orang-orang yang baik! Pasti ada seorang dokter yang dapat menyembuhkan penyakit jantungmu!” Hound penuh optimis memasuki kota dan menuju tempat kediaman seorang dokter.
“Tidak! Mereka pasti tidak akan menerimaku!” Nagato berteriak. Dia menutup seluruh wajahnya dengan kain karena sudah merasakan trauma ditatap ratusan orang penuh kebencian.
Di kota itu pun, semuanya tidak menerima Nagato. Sekarang rumor tentang anak muda yang memiliki julukan monster pembawa kematian tersebar ke seluruh Benua Ezzo.
Pihak Kekaisaran Kai dengan gencar melakukan pencarian untuk menyelamatkan Nagato, tetapi mereka sulit menemukan petunjuk tersebut.
Hingga akhirnya Nagato dan Hound berada di suatu tempat yang ada di Kerajaan Sihir Azbec.
“Hound .... Terimakasih karena telah berusaha menyembuhkanku, tetapi aku sudah mencapai batasku...” Nagato batuk darah ketika merasakan dirinya sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi.
Hound yang sedang menggendong Nagato menggigit bibir bawahnya merasa bersalah, “Berhenti mengeluh! Kau pasti bisa sembuh! Di Kerajaan Azbec pasti ada seorang penyihir yang dapat menyembuhkanmu! Bertahanlah, Nagato!”
Hound membawa Nagato ke Kerajaan Sihir Azbec untuk menanyakan keberadaan Air Mata Phoenix kepada Magma.
Di tempat yang bersalju. Nagato tidur beralaskan jubah dan jaket milik Hound.
Sementara itu Hound sedang merokok dan meminum air. Dia menatap langit malam, perasaan bersalah terus membayangi dirinya.
“Apa yang sudah kulakukan selama dua tahun belakangan ini? Aku terus-menerus membuat Nagato merasakan traumu dan melukainya .... Dan kondisi tubuhnya bbukan bertambah baik, justru semakin parah dan memburuk... Apa aku melakukan ini karena dia anak dari Pandu, orang yang dibunuh ayahku?” Hound membanting botol air tersebut dan berdiri menghampiri Nagato, “Tidak .... Orang itu sudah bukan ayahku lagi! Aku menolongnya dan bertindak seperti ini dengan ikhlas!”
Kedua bola mata Hound berkaca-kaca ketika melihat tubuh Nagato yang lemah serta wajah yang pucat itu.
“Aku .... Aku .... Aku sangat kasihan padamu .... Nagato! Aku yakin kau akan membenciku jika anak dari orang yang membunuh orang tuamu mengatakan ini....” Hound berlinang air matanya, “Kau masih sangatlah muda dan butuh perhatian .... Dan kau selalu berkata lebih baik mati... Itu sangat menyedihkan dan membuatku bersalah padamu, Nagato...”
Hound meneteskan air matanya. Pria berambut merah itu mencurahkan perasaannya pada Nagato yang sedang tertidur lelap.
“Kau .... Saat itu kau menusuk perutku dengan pisau, tapi itu sama sekali tidak menyakitkan! Justru kaulah yang merasakan kesakitan dan menderita! Maafkan aku, Nagato. Kau pasti sangat menderita!” Hound menangis, hingga air matanya menetes membasahi baju yang dikenakan Nagato bahkan jaket hitam miliknya.
Hound berjalan menjauh dari Nagato dan menangis. Sementara Nagato melebar matanya dan terbangun. Dan Nagato telah mendengarkan perkataan Hound.
__ADS_1
‘Hound-San.’ Nagato menggigit bibir bawahnya agar tidak bersuara, dia menangis karena tidak menyangka akan bertemu dengan orang sebaik Hound.
Ini bukan masalah dendam. Hound telah membantunya. Pria berambut merah itu mengajarkan padanya agar dapat kembali mempercayai seseorang dan bertahan hidup walau sesakit apapun itu.