
Nagato baru sadar jika topeng rubah putih miliknya terjatuh entah dimana, dia sendiri telah lupa. Dalam perjalanan menuju Arena Lingkaran Harimau terlihat Iris, Litha dan Tika menahan tawa karena banyak gadis yang mencuri pandang untuk melihat ketampanan Nagato.
"Naga sepertinya banyak orang yang menyukaimu, hanya dengan melihat wajahmu saja mereka langsung terlihat seperti ikan teri yang dijemur kepanasan, apa yang menarik darimu?!" Iris terlihat sebal melihat banyak orang yang menatap Nagato dengan tatapan yang terpesona.
"Kamu juga, banyak anak laki-laki yang tertarik padamu. Mereka melihatmu dengan tatapan menyebalkan, kamu sendiri tidak sadar jika telah tertarik padaku. Aku justru yang seharusnya berkata seperti itu, kenapa kamu tertarik padaku? Apa karena wajahku atau kamu tertarik padaku setelah aku menyelamatkanmu? Semua perempuan hanya melihatku dari luarnya saja, cih." Nagato mengalihkan pandangannya dan berjalan cepat di depan.
"Jika Nagato bertanya padaku, aku jujur tertarik dengan laki-laki yang dapat diandalkan seperti Nagato. Dia tidak rela melihat temannya disentuh atau dilukai orang lain, tapi sayang Nagato sudah ada yang punya, hihihi." Tika menanggapi perkataan Nagato dan melirik Iris yang berjalan disampingnya.
"Kalian berdua pasangan serasi, aku merasa iri karena tidak pernah melihat Nagato bersikap seperti itu padaku." Kali ini Litha menanggapi perkataan Nagato.
"Litha..." Nagato menggumam pelan menatap Litha yang terlihat bahagia, entah kenapa ekspresi wajah gadis manis itu tidak terlihat cemburu ataupun sedih.
"Sudahlah, aku harap kita tetap seperti ini sampai dewasa nanti. Kalian adalah teman pertama dalam hidupku." Nagato memasuki Arena Lingkaran Harimau dan berjalan mendahului ketiga gadis yang ada dibelakangnya.
Wajah Litha sedikit memerah karena mendengar perkataan Nagato. Dia sadar jika Nagato tetap peduli padanya, kemudian dia melirik Iris.
"Aku menyukai Naga karena dia bersikap alami seperti ini, perkataan dan tindakannya sangat kasar dan penuh emosi, dan aku terkadang merasa tidak bisa membiarkan Naga sendirian, dia terlihat seperti daun layu dan rapuh yang dengan mudah hancur karena tiupan angin. Dia terlihat tetap kuat dalam suasana hatinya yang sedih, aku ingin menolongnya, aku ingin berbagi keluh kesah kehidupan dengannya dan aku ingin mengajarkan pada Naga jika di dunia ada begitu banyak bentuk kebahagiaan." Iris dengan tulus mengatakan isi hatinya di depan Litha dan Tika.
"Aku tidak salah dengar bukan? Sahabatku mengatakan hal seperti ini, dulu Iris yang kukenal sangat dingin, tidak pernah tertawa tetapi setelah bertemu Nagato kepribadiannya berubah drastis." Tika menutup mulutnya dengan telapak tangannya sembari tertawa kecil melihat Iris yang malu-malu.
"Syukurlah ternyata Iris memiliki perasaan yang sama denganku." Litha membatin penuh perasaan lega.
Iris mengalihkan pandangannya agar tidak melihat Tika dan Litha yang sedang tersenyum.
"Ngomong-ngomong jika Nagato memilih kalian bertiga bagaimana? Sepertinya menarik ketika kita beranjak dewasa, Nagato menjadi seorang ayah, Iris menjadi ibu pertama, Litha menjadi ibu kedua dan Hisui menjadi yang ketiga," ledek Tika pada Iris da Litha.
"Jangan ngomong sembarangan, kembar!" Iris dan Litha memegang pundak Tika secara bersamaan.
"Iya, iya, lagipula aku hanya bercanda. Kalian berdua terlalu serius. Tapi menurut kalian bagaimana? Lagipula banyak perempuan yang tertarik dengan Nagato termasuk aku." Tika berjalan meninggalkan Iris dan Litha setelah puas melihat wajah kedua temannya yang malu-malu itu. Gadis kembar manis itu terlihat begitu senang setelah menggoda kedua temannya.
Iris dan Litha berjalan mengikuti Tika tanpa bicara sepatah katapun, perasaan mereka campur aduk sekarang. Setelah sampai di bangku penonton yang kosong, terlihat Nagato duduk sendirian dan menjadi perhatian semua orang.
Iris, Litha dan Tika menggelengkan kepalanya tidak percaya, Nagato duduk dengan santainya, tatapannya yang dingin dan terkesan menganggap orang-orang disekitarnya tidak ada membuat ketiga gadis yang memperhatikannya hanya bisa menghela napas panjang.
"Nagato apa kau tidak sadar banyak orang yang melihatmu..." Tika duduk di samping Nagato dan menyapanya.
"Anggap saja mereka tidak ada, jangan ungkit itu Tika. Jujur sekarang aku merasa risih melihat tatapan yang memuakkan ini." Nagato melirik Tika sesaat dan tidak lama dia mendecakkan lidahnya, "Cih, topeng penutup wajahku dimana? Bisa-bisanya aku melupakannya."
__ADS_1
'Walau tampan ternyata Nagato seperti ini, cukup menarik." Tika membatin pelan dan menatap ke arah lapangan untuk memperhatikan dua peserta yang sedang bertanding.
Iris dan Litha melihat Nagato yang fokus melihat pertarungan di lapangan Arena Lingkaran Harimau kemudian kedua gadis itu mengkuti tindakan Nagato.
"Permainan pedang itu sedikit mirip dengan gaya berpedang kalian berdua, Naga, Litha..." Iris melihat dengan baik dan jelas gerakan Hanabi yang sangat lincah dan gemulai dalam memainkan pedanganya.
"Dia menciptakan pedang dari aura tubuhnya, ilusi bunga sakura..." Nagato menanggapi perkataan Iris. Matanya terus melihat gerakan Hanabi yang berkali-kali melakukan gerakan tipuan.
"Darimana dia belajar gerakan seperti itu? walaupun mirip tetapi apakah ini sebuah kebetulan?" Litha menatap Hanabi yang mundur menjaga jarak dari Akira.
"Pedang sakura dan pertarungan jarak dekatnya jauh di atas peserta lain. Sepertinya Hanabi sangat mirip dengan sahabatku yang dingin, datar dan tidak peduli," sahut Tika sedikit bercanda sambil melirik Iris. Kemudian dia membatin dalam hatinya, "Apa yang terjadi jika Hanabi mengenal Nagato? Pasti akan menarik, jika Nagato dapat meluluhkan gadis yang cuek seperti Hanabi maka aku akan memberi julukan Penakluk Gadis pada Nagato." Mata Tika melirik tajam Nagato.
"Kenapa aku merasa Tika mengatakan sesuatu yang membuatku kesal?" Nagato membatin dalam hatinya sambil melirik Tika sedikit untuk memastikan.
Pandangan mereka berempat tertuju pada serangan tapak tangan Akira yang dapat mengeluarkan api yang cukup besar, serangannya lurus dan membentuk sebuah tapak tangan api.
Hanabi dengan wajah datarnya yang tenang menghindari serangan Akira tanpa kesulitan, gadis cantik dengan rambut hitam kemerah mudaan itu mengayunkan pedang yang terbentuk dari bunga sakura dari jauh.
Semua orang terpukau dengan pertarungan Hanabi yang berganti-ganti menyerang dengan pedang dan pukulannya.
"Tapak Sembilan Pohon Sakura Berguguran."
"Tapak Api Abadi."
Akira membalas serangan yang dilancarkan Hanabi dengan teknik dari Perguruan Api Abadi. Serangan tapak tangannya dapat dihindari Hanabi. Sadar serangannya tidak mempan terhadap Hanabi dengan cepat Akira melakukan serangan selanjutnya.
"Putaran Pukulan Api Membara!"
Tangan Akira diselimuti api, semua orang melihat jika teknik pukulan tangan itu mirip dengan Nagato. Walau melihat serangan seperti itu, Hanabi tetap tenang dan terlihat sangat santai.
"Pedang Sakura."
Telapak tangan Hanabi menggenggam sebuah pedang yang terbentuk dari bunga sakura, kemudian dia mengayunkan pedangnya untuk menahan serangan pukulan api yang dilesatkan Akira.
Semua orang mengira Hanabi akan terus mengayunkan pedangnya tetapi mereka dikejutkan dengan Hanabi yang melempar pedang sakuranya ke arah Akira. Bahkan Akira sendiri tidak menyangka melihat lawannya akan melakukan tindakan seperti itu.
"Apa yang akan dia lakukan?" Akira membatin penuh rasa penasaran.
__ADS_1
Tangan Hanabi mengepal dan gerakan langkah kakinya mundur ke belakang untuk melakukan serangan kejutan. Mata Akira melebar dan dia merasa jika Hanabi akan melakukan sesuatu.
"Kehalusan Sakura Bersemi."
Terlihat benturan pedang sakura Hanabi dan pukulan api Akira di udara, tidak berapa lama pukulan tangan Hanabi membuat Akira sangat terkejut, bunga sakura dalam jumlah banyak mengepal membentuk sebuah kepalan tangan yang besar melesat dengan cepat ke arahnya.
"Pelindung Api Membara."
Akira membuat sebuah pelindung dari api untuk menahan serangan yang dilancarkan Hanabi. Napasnya mulai memburu, Akira menjaga jarak dari Hanabi dan menjauh, tetapi serangan Hanabi diluar perkiraannya.
Hanabi ternyata bisa mengkombinasikan jurus yang satu dengan jurusnya yang lain. Telapak tangan Hanabi membuka, tidak berapa lama dia meremas lalu membukanya kembali.
"Kupu-Kupu Musim Semi."
Pukulan tangan sakura yang terlihat besar itu berubah menjadi kupu-kupu yang terbentuk dari bunga sakura dalam jumlah ratusan, semua penonton kembali disuguhkan dengan pertandingan yang memukau. Mata mereka tidak berkedip melihat serangan Hanabi yang bervariasi.
"Tidak mungkin..." Akira bergumam pelan sebelum dia berteriak, "Tidak akan kubiarkan kau menang dengan mudah, Hanabi!" Pukulan tangan api Akira membakar puluhan kupu-kupu sakura milik Hanabi sedangkan pukulan apinya kembali dihindari Hanabi.
"Dia menghindari seranganku..." Akira tidak percaya melihat Hanabi yang masih tetap tidak berubah raut wajahnya, raut wajah yang datar tanpa senyuman itu membuat Akira sedikit kesal karena dirinya telah kelelahan setelah bertarung cukup lama melawan Hanabi.
"Rasa Sakit Jarum Bunga Sakura."
Ratusan kupu-kupu bunga sakura telah menjadi puluhan jumlahnya karena terkena serangan pukulan api Akira. Tidak berapa lama kupu-kupu bunga sakura berubah bentuknya menjadi jarum-jarum yang melesat dengan cepat ke arah Akira.
Sachie yang melihat Hanabi mempunyai serangan bervariasi membuat dirinya merasa kagum dengan gadis yang mempunyai rambut berwarna hitam kemerah mudaan itu.
Akira terkena serangan jarum yang dilancarkan Hanabi tidak berapa lama tubuhnya terhuyung karena serangan Hanabi. Dan pertarungan melawan Hanabi cukup menguras tenaganya.
"Pandanganku kabur..." Tubuh Akira ambruk ke tanah setelah mencoba untuk tetap berdiri melawan Hanabi.
Sachie menghentikan pertandingan dan menulis sesuatu di udara. Seperti biasa tulisan di udara yang dilakukan Sachie membuat semua orang berdecak kagum.
Hanabi menekan aura tubuhnya dan mengatur napasnya yang terengah-rengah, setelah normal barulah dia memberi hormat kepada Sachie dan berjalan kembali ke bangku penonton tempat Klan Misuzawa duduk menonton.
Penonton bergemuruh memberi tepuk tangan untuk Hanabi. Selang dua menit kemudian, tenaga medis membawa tubuh Akira yang pingsan ke ruang perawatan.
Dua peserta terakhir tidak perlu dipanggil, mereka telah mengetahuinya. Hisui dan Gurojimaru berjalan langsung menuju tengah lapangan Arena Lingkaran Harimau. Tulisan yang tertulis di udara menunjukkan nama mereka, ledakan seperti kembang api itu membuat Hisui tersenyum. Namun senyumannya bukan karena ledakan yang dibuat oleh Sachie melainkan karena melihat Nagato yang tidak memakai topeng rubah putih.
__ADS_1
"Kakak tampan, aku akan memakai topeng rubah putih milikmu..." Hisui membatin penuh perasaan bahagia ketika topeng rubah putih milik Nagato dia kenakan di wajahnya. Semua orang menatap Hisui penuh keheranan, sedangkan Nagato mengerutkan dahinya dan membatin, "Bocah manja ini ingin mencari perhatian denganku. Lawannya cukup merepotkan, aku ingin melihatnya sendiri, bagaimana perjuanganmu itu, perjuangan dari bocah manja ini..."