Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 301 — Pencuri Ashikubi


__ADS_3

Saat Hayabusa pergi berkelana untuk melihat sendiri ramalan Sarah tentang sosok anaknya yang akan membuat seluruh negeri di Benua Ezzo bersatu di bawah namanya. Hampir waktu yang bersamaan dengan kepergian Hayabusa berkelana, Hawk dan pasukannya datang ke Wilayah Me untuk mengunjungi makam Kakek Hyogoro dan Panglima Perang Goro yang dimakamkan di Wilayah Me.


Sementara itu Matsuri bersama Kyla dan beberapa prajurit militer Kekaisaran Kai wanita dengan jumlah yang sedikit berkelana menyusup ke beberapa kerajaan serta kekaisaran demi mencari keberadaan Nagato.


Matsuri pergi bersama Kyla setelah keberangkatan Hawk menuju Wilayah Me. Kekaisaran Kai sekarang sedang dalam masa pemulihan, negeri yang sudah lama tercerai-berai kini kembali bersatu. Bangsawan Minami, Bangsawan Kochi dan Bangsawan Kita saling membantu masalah keuangan.


Sachie berniat menjadikan Wilayah Me sebagai ibukota Kekaisaran Kai yang baru mengingat jasa Kakek Hyogoro, serta dua pendekar muda yang masuk ke final Turnamen Harimau Kai. Baik Nagato dan Litha pasti akan mempunyai pemikiran yang serupa, keduanya akan menggunakan uang hadiah untuk diberikan pada penduduk yang tidak mampu yang berada di Wilayah Me.


Pertempuran yang terjadi di Ibukota Daifuzen menyisakan banyak luka. Banyak klan yang semakin melemah karena kehilangan Ketua dan Tetua mereka. Namun di balik kesedihan itu, seluruh penduduk Kekaisaran Kai saling bergotong royong membantu orang-orang yang telah berjuang mempertahankan Kekaisaran Kai di Ibukota Daifuzen.


Kejadian malam yang berapi-api membuat sebagian orang gelisah menatap masa depan. Pergelojakan yang baru-baru ini terjadi di Kekaisaran Kai membuat beberapa orang melakukan pergerakan masing-masing, seperti kelompok yang berada di Kekaisaran Kinai, kelompok yang berniat menjatuhkan penguasa negeri, begitu juga dengan yang ada di Kekaisaran Rakuza.


Sementara itu di Kerajaan Sihir Azbec, perbudakan dan kesenjangan sosial semakin terlihat. Semenjak kedatangan Baha Jellikoth, semakin banyak bisnis perbudakan, terutama Black Madia dan seluruh orang yang menjadi pengikutnya. Mereka semua terpengaruh dengan budaya asing dari Kekaisaran Bahamut yang menjadikan sesama manusia sebagai budak.


Organisasi Disaster yang berada di Kerajaan Sihir Azbec dipimpin Magma. Sampai saat ini Magma memfokuskan tujuannya untuk menemukan Air Suci Tipe Langka Jenis Penyembuh : Air Mata Phoenix. Proyek Beast dan Air Suci Buatan akan ditangani Gore, demi mencapai tujuan untuk mempunyai pasukan yang unggul, Magma melakukan perekrutan kepada siapapun orang yang ingin menjadi bawahannya.


Dari hari ke hari, Organisasi Disaster yang berada di Kerajaan Sihir Azbec semakin bertambah anggotanya. Magma sendiri adalah orang yang sangat perhitungan sama seperti ayahnya, dia tidak akan melakukan pertarungan yang sia-sia tanpa keuntungan.


Bersamaan dengan pergerakan masing-masing di setiap negeri yang ada di Benua Ezzo, khususnya Wilayah Me terjadi keributan karena Kelompok Pencuri Ashikubi berada di Kota Reruntuhan Kuno.


Saat mendengar kedatangan Hawk ke Wilayah Me, Dorobo menunggu pria yang telah diangkat menjadi Panglima Besar Kekaisaran Kai dengan membawa kayu di tangan kanannya.


Nenek Beo sudah menyuruh Dorobo agar tidak terlalu menyalahkan Hawk, tetapi wanita yang sudah tua renta itu menyadari jika Dorobo telah mengasuh Nagato dan Litha selama setahun. Tentu saja Dorobo lebih mengenal Nagato dan Litha, dibandingkan dirinya. Setelah mendapatkan kabar kematian Litha, dan menghilangnya Nagato tentu saja Dorobo tidak dapat tenang. Sudah dua minggu lebih dua tidak tidur karena terus memikirkan serta mengkhawatirkan kondisi Nagato.


“Bos, tidur dan beristirahatlah, jangan terus mabuk-mabukan seperti ini. Yang kau lakukan ini tidak baik untuk kesehatanmu...” Celes menegur Dorobo namun perkataannya tidak digubris sedikitpun.


“Belikan aku sake lagi! Kalian masih mempunyai uang bukan?!” Dorobo berteriak pada Celes, Usup dan Kuas.


“Bos, sudahlah... Jika kau sakit, kami akan khawatir padamu...” Kuas mencoba menenangkan Doroba namun justru dirinya terkena tamparan keras dari Dorobi di pipinya.


“Dibandingkan dengan ini... semua ini sama sekali tidak menyakitkan...” Dorobo meminum sake terakhirnya sebelum membanting botol tersebut dan menatap dingin Celes.


“Pergi beli sake! Cepat!”


Celes berkeringat dingin dan langsung berlari membeli sake. Nenek Beo yang melihat Doroba hanya bisa menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya.


‘Anak itu aku rasa masih hidup, aku tidak bisa ikut campur. Semoga saja anak itu bertemu dengan orang itu...’ Nenek Beo membatin sembari menatap wajah Dorobo yang sembab.


Tak lama kerumunan di Kota Reruntuhan Kuno semakin ramai. Penduduk berbondong-bondong melihat kedatangan Hawk yang datang dengan kabar baik karena Wilayah Me akan dijadikan sebagai Ibukota Kekaisaran Kai yang baru. Sistem diskriminasi telah dihapus dari Kekaisaran Kai setelah masa kepemimpinan Hizen berakhir.


“Proyek ibukota baru di Wilayah Me!”


“Akhirnya Keluarga Akaramizarawa mengambil alih negeri! Semoga saja mereka sama seperti keluarga Furigiri di masa lalu!”

__ADS_1


“Kita sekarang telah resmi menjadi penduduk Kekaisaran Kai!”


“Benar, aku harus berhenti menjadi pencopet!”


Orang-orang yang datang dari berbagai wilayah di Wilayah Me mulai saling membicarakan kabar kebenaran pemindahan Ibukota Kekaisaran Kai. Begitu banyak orang-orang yang berkumpul di Kota Reruntuhan Kuno membicarakan kabar kebenaran tersebut.


Saat semua orang sedang menyapa Hawk. Celes mencoba menghentikan Dorobo yang memegang botol sake ditangan kirinya. Wanita itu datang mengusir orang-orang yang menghadangnya dan menatap Hawk dengan tatapan penuh kemarahan.


“Bos, hentikan! Jangan bertindak gegabah!” Celes mendorong tubuh Dorobo namun dengan mudah tubuhnya terhempas karena Dorobo mendorongnya.


“Hei, Hawk!” Seketika semua orang menatap ke arah Dorobo.


Dorobo melempar botol sake yang dia genggam ke tubuh Hawk. Semua orang terkejut melihat tindakan Dorobo yang secara terang-terangan melukai Hawk. Ketika ratusan prajurit militer Kekaisaran Kai mengangkat senjatanya, dengan segera Hawk mengangkat tangannya memberi tanda pada bawahannya agar jangan menarik senjatanya.


“Kau tidak punya malu dan berani-beraninya datang ke tempat ini!” Dorobo berlari dengan cepat sambil mengayunkan kayu yang dia pegang di tangan kanannya. Semua orang terbelalak kaget ketika kayu yang digenggam Dorobo mengenai wajah Hawk.


Seketika wajah Hawk mengeluarkan darah segar dari keningnya. Semua orang terkejut melihat kemarahan Dorobo, namun sebagian orang hanya diam karena mengetahui hubungan Dorobo dan Hawk.


“Bos, hentikan—” Belum selesai anggota Pencuri Ashikubi menegur, Dorobo kembali melayangkan pukulan.


“Murid kurang ajar! Dasar tidak berguna!” Dorobo membuang kayu di genggaman tangannya, lalu melayangkan pukulan pada wajah Hawk untuk melampiaskan kemarahannya.


“Padahal kau ada di pertempuran itu! Kenapa kau tidak melindungi mereka berdua! Oi, Hawk! Jawab! Apa kau bisu?!” Dorobo memukul mulut Hawk hingga berdarah.


Hawk menerima pukulan Dorobo tanpa melawan. Dia sendiri menyadari bahwa dirinya telah gagal sebagai murid karena tidak dapat menyelamatkan anak dari sang Guru yang telah berjasa dalam hidupnya.


“Oi, Hawk! Berdiri! Jawab perkataanku! Kenapa kau membiarkan Nagato menderita! Kenapa kau membiarkan Litha mati dihadapannya!” Dorobo melayangkan pukulan yang membuat mulut Hawk penuh dengan darah segar.


”Bos, hentikan!” Celes, Usup dan Kuas mencoba menenangkan Dorobo.


“Kenapa kau tak melindungi mereka berdua?! Kenapa kau tidak menyelamatkan mereka?! Bukankah kau seorang Panglima Besar?! Jawab perkataanku ini, dasar murid tidak berguna!” Dorobo hendak memukul mata Hawk namun Nenek Beo berdiri di depan Dorobo.


“Sudah cukup, Dorobo...” Suara Nenek Beo yang terdengar lembut dan menenangkan membuat Dorobo berdiri dan menghempaskan ketiga anggotanya.


Dorobo terus meneteskan air matanya, “Aku tidak bisa membayangkan penderitaan yang Nagato rasakan sekarang! Dia sangat menyayangi Litha dan Asha! Walau dia terlihat tidak peduli, tetapi Nagato sangat menyayangi Litha dan Asha, dia menganggap mereka berdua adik kandungnya sendiri!”


Celes, Kuas dan Usup melepaskan pegangan tangan mereka yang mencoba menahan Dorobo. Teringat saat ketiga anak muda yang sedang bermain dan belajar pedang bersama di Markas Pencuri Ashikubi.


*Nagato, kau seharusnya jujur pada perasaanmu sendiri. Kenapa harus malu-malu seperti ini...


Litha, bagaimanapun aku harus lebih kuat agar dapat melindungi kalian berdua. Sebagai seorang pendekar pedang dan kakak, tentu aku harus menjadi kuat!


Hmmm, lakukan sesukamu. Kamu terlalu giat berlatih, aku akan memasakkan ayam goreng dan sambal pedas untukmu nanti malam...

__ADS_1


Benarkah, Litha?


Ya, bukankah kau selalu menyuruhku membuat itu di Hutan Cakrawyuha.


Heh, Kak Nagato menganggapku sebagai adik?


Kenapa kau disini, Asha? Jangan menggangguku!


Kak Nagato, Kak Litha, tadi malam aku menemukan tempat yang indah dan disana banyak kunang-kunangnya.


Heh, kalau begitu nanti malam kita kesana, ya kan, Nagato.


Tidak, aku ingin berlatih. Litha, kamu jangan terlalu terpengaruh dengan perkataan anak ini.


Ayolah Kak Nagato...


Asha*!


Celes menangis ketika mengingat masa lalu saat dia mengintip kebersamaan Nagato, Litha dan Asha. Begitu juga dengan Kuas dan Usup yang meneteskan air mata mengingat saat-saat Nagato, Litha dan Asha menjadi bagian dari Kelompok Pencuri Ashikubi.


*Sudah, sudah. Lebih baik kalian bertiga mandi dan istirahat dahulu, lalu ceritakan apa yang terjadi selama dua bulan ini. Bos sangat khawatir kepada kalian.


Berisik, pria rambut sapu!


Bocah tengik! Beraninya kau menghinaku!


Kak Nagato, pria berambut sapu itu sangat lucu sekali.


Bos, aku akan mencincang mereka berdua


Sudah Kuas, kalian bertiga masuklah*.


Nenek Beo menatap seluruh anggota Pencuri Ashikubi yang menangis. Kemudian dia mengalihkan pandangannya menatap Hawk yang terbaring di tanah dengan wajah yang lebam dan tetesan darah segar.


“Hawk. Apa yang terjadi pada Nagato? Kudengar dia tidak ditemukan dimanapun...” Nenek Beo bertanya pada Hawk.


“Nenek Beo...” Hawk mengubah posisinya menjadi duduk dan menyeka darah dimulutnya, “Di tempat kejadian hanya ada Litha yang telah meninggal dan Iris yang kehilangan ingatannya tentang Nagato. Mayat Nagato tidak ditemukan dimanapun, dan sama sekali tidak ada jejak kematiannya di Ibukota Daifuzen. Kami sedang melakukan pencarian. Kemungkinan dia masih hidup...”


Dorobo menangis setelah mendengar perkataan Hawk. Tangannya mengepal sesaat, sebelum dia merenggangkannya.


“Nagato hanyalah bocah tengik yang sok kuat, sebenarnya dia hanyalah anak yang rapuh dan cengeng. Andai aku bisa menggantikannya, aku ingin dia tidak menderita... Aku sendiri tidak bisa membayangkan betapa hancur perasaannya saat ini...” Dorobo menggigit bibir bawahnya dan menatap langit, “Semoga saja dia tidak melakukan hal yang bodoh...”


“Nagato! Apapun yang terjadi! Kau jangan mati!”

__ADS_1


Terlintas di benak Dorobo, jika Nagato akan bunuh diri karena merasa tertekan. Sehingga dia berteriak untuk melampiaskan kesedihannya.


__ADS_2