
Azuma menatap wajah Nagato dan yang lainnya cukup lama, mereka semua terlihat sangat penasaran.
"Namaku adalah..." Azuma menahan tawa ketika melihat wajah Nagato dan yang lainnya semakin penasaran. Tidak berapa lama dia batuk pelan dan berkata, "Apa yang kalian lakukan setelah mengetahui namaku?"
Nagato berdecak kesal karena telah sangat penasaran dengan nama asli dari Azuma. Dengan wajahhya yang terlihat tidak peduli Nagato menjawab, "Aku tidak terlalu peduli, jika kau tidak memberitahu namamu, aku juga tidak akan memberitahu namaku." Hisui yang paling muda diantara yang lainnya hanya diam dan mendengarkan.
"Nama kakak tampan ini Fuyumi Nagato. Kenapa Kakek Azuma sangat penasaran dengan nama kakak tampan?" Nagato mengerutkan alisnya ketika melihat wajah Hisui yang tidak menatap dirinya.
"Bocah manja ini!" Nagato membatin penuh kekesalan.
Azuma tertawa melihat Nagato yang terlihat kesal, sedangkan Hisui sekarang menatap Nagato yang terlihat kesal menatap tajam dirinya.
"Kakak tampan kenapa?" Hisui dengan wajah polosnya bertanya pada Nagato.
"Tidak ada apa-apa, aku hanya tertegun melihat matamu yang sayu itu." Nagato memaksakan senyumannya.
"Menarik, menarik, jadi namamu Nagato. Tenang, aku akan memberitahu namaku..." Azuma tertawa karena melihat Hisui yang malu-malu setelah Nagato memujinya.
"Namaku Satsuma. Aku adalah seorang buronan, selama ini aku menyembunyikan identitasku setelah aura tubuhku tertutup dan kekuatanku lumpuh." Hisui menjadi orang pertama yang paling terkejut.
"Kakak Azuma ternyata namanya Satsuma?!" Hisui masih tidak percaya.
"Maaf Tuan Putri Hisui. Selama ini saya telah berbohong tentang identitas saya kepada anda." Satsuma tersenyum kecut dan berkata, "Karena bagaimanapun saya harus tetap hidup walaupun dengan nama palsu, beruntung tidak ada yang menyadarinya, dan saya mendapat pekerjaan sebagai orang yang merawat Kuil Kagutsuchi ini dari Panglima Goro. Ini menjadi rahasia kita." Satsuma tertawa lepas setelah berbicara cukup panjang.
"Satsuma? Aku pernah mendengarnya dari Kakek Hyo..." Nagato bergumam pelan dan menatap Litha.
"Satsuma adalah orang yang dibicarakan Kakek Hyogoro. Dia termasuk pengikut ayahmu, Nagato..." Litha berbisik lirih di telinga Nagato.
"Paman Satsuma. Apa kau mengenal Kakek Hyogoro?" Nagato tidak menyangka akan melihat pengikut ayahnya tetapi kondisi Satsuma sangat memprihatikan.
Satsuma terkejut mendengar nama Kakek Hyogoro tetapi dia menyembunyikan keterkejutannya. Kepalanya mengangguk dan mulutnya berkata, "Aku kenal baik dengan Bos Hyogoro."
Nagato dan Litha hanya tersenyum, sedangkan Iris dan yang lainnya penasaran dengan hal yang dibicarakan Nagato, Litha dan Satsuma.
"Aku hanya ingin menanyakan itu, aku sudah cukup puas dengan jawabanmu, Paman Satsuma." Nagato merapatkan giginya sebelum mengakhiri pembicaraan, "Tapi aku belum sepenuhnya puas, apa kau bisa beritahu aku kejadian yang sebenarnya tentang ayahku?!"
"Ya, aku akan beritahu padamu setelah kau mampu menjadi juara Turnamen Harimau Kai." Wajah Satsuma yang jenaka berubah jadi serius.
"Tunggu! Kakek Azuma sama kakak tampan lagi ngomong apaan sih?! Kenapa kalian berdua saling kenal?" Hisui terlihat kebingungan begitu juga dengan Iris, Hanabi, Hika dan Tika.
"Nagato adalah murid kenalan Kakek Azuma jadi sudah pasti Kakek Azuma sedikit mengenalnya." Satsuma tersenyum ramah pada Hisui.
Alasan itu diterima Hisui dengan mudah, tidak berapa lama kemudian Satsuma mulai bercerita.
"Apa kalian mengetahui makhluk yang digadang-gadang sebagai makhluk terkuat di air, tanah dan udara? Orang biasanya menyebut makhluk legenda itu sebagai Naga." Satsuma menatap Hisui yang tersenyum karena gadis bermata sayu itu sangat menyukai cerita tersebut.
"Apa hubungan Naga dengan nama dari Turnamen Harimau Kai? Menurutku tidak ada hubungannya sama sekali..." Tika menanggapi perkataan Satsuma. Gadis kembar manis itu memejamkan matanya, sedangkan jari jempol dan telunjuknya dia tempelkan didagunya.
"Sebenarnya tidak ada hubungannya, hanya saja orang yang memberi nama kompetisi pertarungan antar pendekar muda yang sampai sekarang dikenal dengan Turnamen Harimau Kai adalah leluhur Klan Kagutsuchi. Dahulu jauh saat 2000 tahun yang lalu, sebelum leluhur Klan Kagutsuchi datang ke Benua Ezzo, mereka pernah bertarung dengan Naga yang ada di dunia luar, menurut legenda Naga sudah menjadi musuh alami mereka. Menurut kalian hewan apa yang bisa mengalahkan Naga?" Satsuma dengan pandainya membawa Nagato dan yang lainnya terbang masuk ke dalam ceritanya.
"Harimau?" Hika, Tika dan Hisui menjawab bersamaan, sedangkan Iris dan Hanabi hanya diam mendengarkan.
"Kucing ... Chibi sini," ujar Litha memecah suasana yang sedang serius itu, Nagato hanya tersenyum mendengarnya.
"Lain Harimau dan Kucing. Hewan yang akan mengalahkan Naga adalah Garuda." Nagato memberi pendapatnya. Mendengar itu tentu saja Iris yang sedang memasang wajah serius langsung tertawa lirih, sedangkan Hanabi hanya diam menatap Nagato.
"Naga kamu aneh," ujar Iris lirih sambil menutup mulutnya yang tertawa.
__ADS_1
"Kenapa kamu bisa berkata Garuda yang akan mengalahkan Naga?" Satsuma menatap Nagato dengan penuh rasa penasaran. Dia penasaran dengan jawaban Nagato.
"Terlintas saja di pikiranku jika Garuda bisa mengalahkan Naga." Nagato masih menatap Iris yang sedang tertawa kecil.
Satsuma hanya tersenyum dan mengelus jenggotnya, kemudian dia kembali melanjutkan ceritanya.
"Keluarga Kagutsuchi selalu bisa menggunakan teknik pedang aliran harimau, teknik aliran naga dan teknik aliran matahari. Ketiga teknik itu terus diwariskan secara turun temurun, orang yang bisa menguasai ketiga teknik pedang itu dengan sempurna tidak ada sampai sekarang. Bahkan pemimpin terakhir Klan Kagutsuchi yang bernama Kagutsuchi Sura dengan keponakannya yang bernama Kagutsuchi Pandu hanya menguasai ketiga teknik pedang itu setengahnya saja. Orang yang bisa menguasai ketiga teknik pedang yang konon melegenda itu namanya tertera di prasasti emas yang ada di Lembah Matahari, hanya saja aku tidak dapat membacanya." Nagato menatap tajam Satsuma. Dia penasaran dengan masa lalu Satsuma.
"Lalu apa hubungannya dengan harimau?" Nagato bertanya pada Satsuma karena penasaran.
"Aku mendengar cerita dari Guru Besar Sura jika leluhur Klan Kagutsuchi yang bernama Ashura dapat memotong tubuh Naga setelah menguasai seluruh teknik pedang aliran harimau. Kemungkinan nama orang yang tertera di prasasti emas adalah Kagutsuchi Ashura." Satsuma menatap tujuh anak muda yang sedang mendengarkan ceritanya.
"Asal-usul nama Turnamen Harimau Kai adalah untuk memperingati dan harapan para leluhur jika kelak Kekaisaran Kai akan mempunyai seorang pendekar seperti Kagutsuchi Ashura. Seorang pendekar berjiwa besar seperti Kagutsuchi Ashura yang dapat bertarung dan melindungi tanah Kekaisaran Kai maupun Benua Ezzo dari orang luar walau musuhnya makhluk terkuat sekalipun!" Satsuma menambahkan.
Nagato menghela napas panjang setelah mendengar cerita Azuma. Pandangan matanya terarah pada Hisui yang terlihat begitu senang.
"Menurutku cerita ini tidak terlalu menarik, terus kenapa bocah manja ini terlihat senang sekali?" Nagato membatin sambil menatap Hisui.
"Aku menyukai cerita ini, Kagutsuchi Ashura adalah panutanku, aku akan menjadi seorang Ratu yang akan melindungi Kekaisaran Kai maupun Benua Ezzo dari tangan-tangan jahat!" Hisui tertawa senang setelah berbicara dengan jelas. Sementara itu Iris, Litha, Hika dan Tika sempat terkejut, sedangkan Hanabi hanya diam dan mendengarkan.
"Bocah manja ini memiliki tujuan dan mimpi yang mulia, kelak setelah kamu dewasa, aku ingin melihatnya." Nagato membatin dan menatap senyuman wajah Hisui penuh makna, melihat itu Iris mendengus kesal.
"Naga!" Iris mengembungkan pipinya menatap Nagato.
"Cerita ini kurang menarik, aku lebih menyukai cerita tentang Paus Terbang yang sering aku dengar dari Litha." Nagato menatap Hisui yang menatap dirinya dengan tajam.
"Kakak tampan tidak menyukai cerita tadi, Kakak Litha coba ceritakan padaku tentang cerita yang dimaksud kakak tampan." Hisui berpindah tempat duduk, gadis bermata sayu itu sekarang duduk di samping Litha.
"Eh? Aduh Nagato, kenapa kamu membicarakan tentang itu!" Litha mendengus kesal.
"Litha aku ingin mendengarnya, aku penasaran dengan cerita itu." Iris juga menatap Litha dengan penuh harap.
"Apa kalian akan menertawakanku setelah aku bercerita tentang negeri dongeng itu?" Litha tersenyum ragu menatap teman-temannya itu. Mereka semua hanya menggelengkan kepalanya.
Tidak berapa lama Litha mulai bercerita tentang negeri dongeng yang ada di angkasa, sebuah negeri yang hanya dihuni oleh Ras Elf. Ras Elf mempunyai tempat tinggal di atas punggung Paus Terbang. Seekor Paus Terbang yang selalu mengarungi lautan awan dan berkeliling dunia itu selalu berpindah-pindah tempat.
Nagato tersenyum ketika melihat Iris dan yang lainnya tidak menertawakan Litha. Selesai bercerita, Litha menatap tanah dan mengalihkan pandangannya.
"Apa mereka akan seperti yang lainnya?" Litha membatin mengingat dirinya selalu ditertawakan ketika bercerita tentang Paus Terbang pada teman-temannya di Kota Roshima.
Hisui terlihat sangat kagum dengan Litha. "Hebat ... benar kata kakak tampan, cerita Paus Terbang lebih bagus dari cerita Kakek Azuma." Sedangkan Hika dan Tika berkata, "Litha, Litha, kamu tahu cerita ini dari siapa? Nanti malam kita tidur satu kamar ya, kami berdua ingin mendengar cerita yang lain lagi."
Litha terkejut melihat tanggapan teman-temannya, dengan malu-malu dia menatap wajah teman-temannya yang sedang kagum dengan cerita Paus Terbang.
"Silahkan ini dimakan, kalian belum sarapan pagi. Ini sudah siang hari, jangan telat makan, karena kalian dalam masa pertumbuhan." Satsuma datang membawa sup dan nasi.
"Terimakasih Kakek Azuma..." Hisui membantu Satsuma menaruh piring dan gelas.
"Kakek tidak usah repot-repot..." Hanabi yang sedari tadi diam mulai berbicara.
"Hanabi lebih baik kita terima saja tawaran kakek, lagipula kita belum sarapan pagi." Tika memegang tangan Hanabi dan tersenyum padanya. Hanabi hanya mengangguk pelan dan melihat wajah Tika.
Iris, Hika dan Litha sedang berbincang, tidak berapa lama mereka semua duduk melingkar sebelum menyantap hidangan yang telah disajikan oleh Satsuma.
"Selamat makan..."
Nagato dan yang lainnya menyantap makanan dengan lahap, Satsuma sendiri merasa bahagia karena sudah lama dia tidak mengobrol dengan orang sebanyak ini selain dengan Hisui.
__ADS_1
Selesai makan siang, Iris dan yang lainnya kembali mendengarkan cerita Litha. Sedangkan Nagato tertidur di bawah pohon sakura bersama Chibi yang tertidur di atas perutnya.
Hanabi hanya diam mendengarkan cerita Litha. Gadis yang memiliki rambut hitam kemerah mudaan itu menyukai cerita Litha namun tidak menunjukkan ekspresi yang tertarik.
Ketika sinar matahari semakin hangat menerpa kulit, Nagato masih tertidur, dia sudah lupa tujuannya mengajak Iris dan yang lainnya jalan-jalan untuk menikmati makanan terpedas di rumah makan yang namanya cukup mentereng di Ibukota Daifuzen.
"Ibu..." Nagato bergumam pelan ketika melihat wajah seorang perempuan di atas wajahnya, ketika matanya terbuka sepenuhnya, wajah Iris yang hendak membangunkan Nagato justru membuat pemuda itu terkejut.
"Apa tadi kamu mimpi buruk Naga?" Iris bertanya lirih kepada Nagato. Dengan malu-malu Nagato menutupi matanya dengan tangan, kemudian dia bergumam pelan, "Aku bermimpi melihat seorang bidadari ... sosok bidadari yang sangat mirip dengan mendiang ibuku." Nagato menatap Iris dalam waktu yang cukup lama.
"Siapa bidadari yang mirip dengan mendiang ibumu?" Tanggapan Iris membuat Nagato bangkit dari posisi tidurnya dan berbisik lirih di telinga Iris. "Coba tebak siapa? Dia sekarang ada di dekatku." Nagato berdiri dan menghampiri Satsuma untuk mengucapkan terimakasih. Dia tidak mempedulikan Iris yang sedang tersipu malu.
"Paman Satsuma terimakasih atas jamuannya. Kami kembali dulu, berkat Paman Satsuma seharian ini cukup menyenangkan." Nagato melirik Iris yang sedang terlihat mengalihkan pandangannya ketika dirinya menatap gadis cantik tersebut. Nagato berjalan ke arah tangga dan melihat senja di atas bukit yang indah ini, terlihat di langit sore jika matahari tenggelam perlahan-lahan.
"Indahnya ... Hisui baru kali ini melihat pemandangan seperti ini di Kuil Kagutsuchi..." Gadis bermata sayu itu tersenyum lembut sambil berdiri disamping Litha.
"Hanabi apa kamu menyukai pemandangan ini?" Nagato melirik Hanabi yang berdiri di samping Iris.
"Lumayan, tidak buruk juga menghabiskan waktu seharian bersama kalian," jawab Hanabi sambil menatap wajah Nagato. Gadis pendiam itu baru sadar jika Nagato terlihat tampan dengan tatapan yang dingin namun jauh yang terlihat di bola mata pemuda itu menyiratkan sebuah kesedihan. Melihat itu Hanabi terdiam membisu.
"Bocah manja, terimakasih telah menemani kami..." Nagato mengelus rambut Hisui sebelum berjalan menuruni tangga.
Mereka menuruni tangga dan kembali ke Penginapan Matahari Timur. Hisui mengikuti Nagato dan yang lainnya untuk kembali ke Penginapan Matahari Timur. Dalam perjalanan mereka semua tersenyum puas setelah menikmati tempat-tempat indah di Ibukota Daifuzen.
"Tempat-tempat yang Hisui perlihatkan semuanya sangat indah. Aku tidak akan merasa bosan tinggal disini..." Litha mengelus rambut halus Hisui dan memanjakan gadis bermata sayu itu.
"Tapi tempat tinggalku lebih indah karena dikelilingi hutan dan disana ada air terjun, bukit angin dan masih banyak lagi," ujar Litha menambahkan..
"Lain kali ajak Hisui ya Kakak Litha..." Gadis bermata sayu itu tersenyum lembut kepada Litha.
"Iya adikku..." Litha mencubit pipi Hisui dengan lembut karena merasa gemas melihat gadis bermata sayu tersebut.
Dalam perjalanan menuju Penginapan Matahari Timur yang melewati jalanan kota, dimana malam hari ini jalanan kota terlihat lebih ramai dari hari kemarin. Nagato dan yang lainnya melewati rumah makan yang ada di tengah kota, pandangan mata Nagato terarah pada tiga orang yang tidak asing. Dia pernah melihat ketiga orang tersebut di Kota Fusha.
"Mereka?" Nagato berhenti berjalan selama beberapa detik, enam gadis yang melihatnya juga ikut berhenti.
"Ada apa kakak tampan?" Hisui kebingungan melihat Nagato yang menaikan alisnya.
"Tidak ada apa-apa." Nagato kembali berjalan dan membatin lirih dalam hatinya, "Aku tidak melihat mereka bertiga di Arena Lingkaran Harimau. Ada apa sebenarnya?"
Setelah sampai di Penginapan Matahari Timur, Hisui sudah dijemput Yuki bersama beberapa pelayan dari Istana Hizen. Sementara itu Nagato dan yang lainnya kembali ke kamar masing-masing, diantara mereka ada yang langsung pergi mandi seperti Nagato, Iris dan Litha. Ada juga yang bermain kembang api bersama pendekar muda dari Klan Kitakaze seperti Hika dan Tika. Sedangkan Hanabi kembali ke ruang penginapan Klan Misuzawa dan menceritakan kegiatannya hari ini kepada Hana namun gadis berambut hitam kemerah mudaan itu tidak menceritakan tentang Satsuma kepada Hana.
Sementara dalam waktu yang bersamaan di rumah makan tengah kota terlihat Shin, Take dan Ohta sedang memakan makanan. Mereka betiga juga sedang membicarakan Nagato.
"Tuan Shin kenapa kita tidak boleh melibatkan dia?!" Seperti biasa Take terlihat begitu emosi.
"Sial! Aku tidak harus bagaimana lagi, siapa yang bisa kita percaya ... aku menyesal karena percaya pada setiap perkataan Nezusaki sialan itu!" Ohta membanting gelas berisi arak.
"Jangan bicarakan tentang hal ini di depan umum!" Shin menegur dua orang yang beberapa tahun belakangan ini tetap menemaninya.
"Kita pindah tempat dan cari Kujo! Kita harus memberitahu pada anak itu tentang kebenarannya. Tentang orang yang membunuh orang tuanya!" Shin berdiri dan kembali memakai jubah putih bersama tudung putihnya, sedangkan wajahnya ditutupi sebuah kain putih. Penampilan Take dan Ohta juga sama seperti Shin.
Mereka melakukan pergerakan yang mencurigakan.
___
22 komentar : Bonus 1 chapter.(0/5)
__ADS_1
122 Like : Bonus 1 chapter.(2/5)