Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 220 - Keterlibatan Nagato!


__ADS_3

Nagato melapisi kedua tangannya dengan aura tubuhnya yang berwarna emas. Kemudian dia memanipulasi aura tubuhnya menjadi api sebelum melepaskan pukulan tangannya pada orang-orang yang mengeroyok Litha dan yang lainnya.


"Nagato!" Chiaki terkejut melihat Nagato.


"Eh? Iris?" Hika ikut terkejut melihat Iris yang datang bersama Nagato.


"Hei, Fuyumi Nagato! Mereka adalah orang dari Kekaisaran Rakuza. Kita tidak boleh sembarangan berurusan dengan mereka!" Yuri yang ikut pergi bersama Chiaki dan Chaika menegur Nagato.


"Bukankah tadi mereka berniat melakukan sesuatu pada kalian semua?" Nagato menatap tajam Yuri. "Siapapun yang berani melukai temanku. Aku tidak akan pernah tinggal diam!" Nagato menatap puluhan pria yang menjaga jarak dengannya.


"Tuan Lewis. Ini dia pemuda yang bernama Fuyumi Nagato!" Salah satu pria berteriak. Tidak lama seorang pria berambut pirang turun dari atap bangunan.


"Jadi kita salah orang. Ini adalah Fuyumi Litha kalau tidak salah. Yang kita cari hanyalah Fuyumi Iris." Seorang pria berambut pirang yang bernama Lewis menatap Litha dengan seksama. Kemudian dia mengalihkan pandangannya untuk menatap Iris.


"Penyusup yang ditugaskan untuk menculik Fuyumi Iris telah mati. Jadi ini saatnya kita menangkap anak yang memiliki kekuatan keturunan itu?" Lewis tersenyum tipis menatap tajam raut wajah Nagato yang terlihat emosi.


"Tetapi Fuyumi Nagato bukan tandingan kita, Tuan Lewis..." Salah satu pria yang menyusup dari Kekaisaran Rakuza menelan ludah ketakutan melihat Nagato.


"Kita mendapatkan misi ini dari Tuan Reptile. Kalian lebih takut dengan Fuyumi Nagato dibanding Tuan Reptile, hah?!" Lewis menatap seluruh pasukan militer Kekaisaran Rakuza yang menyusup dan memakai jubah berwarna merah.


"Kalian tidak pantas menjadi bagian dari pasukan Yang Mulia Orochi!" Lewis menusuk perut pria yang takut dengan Nagato menggunakan tangan kanannya.


Mata Nagato melebar begitu juga dengan yang lainnya. "Cih, kenapa malam ini jadi seperti ini?!" Nagato mendecakkan lidahnya.


"Nagato lebih baik kita melarikan diri dan cari pertolongan dari pendekar di penginapan!" Chiaki memegang lengan Nagato.


"Jangan melakukan tindakan yang gegabah, Nagato!" Litha menatap tajam Nagato karena pemuda itu terlihat tidak bisa mengontrol emosinya.


"Untung kamu baik-baik saja, Litha." Nagato justru tersenyum lega melihat Litha yang terlihat seperti biasanya. "Aku akan memenuhi janjiku!" Batin Nagato.


Litha mengalihkan pandangannya menatap Lewis yang melapisi tangan kanannya dengan aura tubuhnya. Bahkan Lewis bisa membuat tangan kanannya menjadi lancip.


"Kalian cukup diam!" Lewis menatap puluhan pria yang memakai jubah berwarna merah. "Tidak ada pilihan lain selain menghabisi mereka! Tidak boleh ada yang tahu tentang penyusupan kita!"


Nagato melepaskan aura tubuhnya dalam jumlah besar. "Bara Api!" Ketika Nagato sudah bersiap menahan serangan Lewis. Sebuah tebasan pedang yang menghancurkan jalanan depan Arena Lingkaran Harimau membuat Lewis terkejut begitu juga dengan Nagato.


"Oi, apa yang kalian lakukan disini? Aku sudah suruh kalian pulang, bukan?" Hayabusa datang dengan dua pedang berwarna hitam dan putih di tangannya.


Nagato menatap tajam Hayabusa. "Kau orang aneh yang tadi." Perkataan Nagato membuat Hayabusa mengernyitkan keningnya.


"Namaku Hayabusa! Ingat itu Fuyumi Nagato!" Ekspresi wajah Lewis berubah setelah mendengar nama Hayabusa.


"Kurang ajar!" Lewis membatin kesal. Kemudian dia memberi perintah pada pasukan militer Kekaisaran Rakuza yang menyusup untuk segera mundur. "Kita mundur! Dia bukan tandingan kita!"

__ADS_1


Nagato terkejut mendengarnya. "Siapa orang ini?" Batin Nagato sambil menatap tajam Hayabusa.


"Kalian juga cepat kembali. Sampaikan pada pendekar yang ada di penginapan jika ada penyusup dari Kekaisaran Rakuza dan Kekaisaran Kinai." Hayabusa menatap Lewis yang sudah melarikan diri bersama puluhan pria. "Sekalian katakan pada guru kalian. Hayabusa telah kembali!"


Perkataan Hayabusa membuat Nagato dan yang lain kebingungan. Tidak mau ambil pusing, Nagato mengajak yang lainnya untuk segera kembali ke Penginapan Matahari Timur.


Hayabusa tersenyum tipis. "Jadi benar mereka mengincar orang yang memiliki kekuatan Titisan Dewa-Dewi." Batin Hayabusa sambil mengikuti Nagato dan yang lainnya secara diam-diam untuk memastikan mereka aman.


Setelah sampai di Penginapan Matahari Timur, Chiaki menjelaskan apa yang terjadi pada mereka kepada Kitakaze Owara. Sedangkan Hika, Tika dan Litha memberitahu kejadian tersebut kepada Emi dan Shirayuki.


"Naga, apa yang sekarang kamu pikirkan?" Iris membatin sembari melirik Nagato.


"Iris, kamu tidak memberitahu tentang kematian Guren Toshiko?" Nagato berbisik lirih di telinga Iris.


Gadis cantik itu menatap Nagato cukup lama. Tangannya memegang lengan baju Nagato. "Kamu yang harus jelaskan pada Ibuku, Naga!" Iris memaksa Nagato untuk menjelaskan kematian Guren Toshiko pada Shirayuki.


"Tunggu sebentar, aku akan menjelaskannya. Tetapi untuk saat ini kita harus beri tahu yang lainnya tentang penyusup dari Kekaisaran Rakuza dan Kekaisaran Kinai. Sesuai kata Hayabusa.", Nagato menenangkan Iris. Dengan lembut dia tersenyum pada Iris.


"Aku akan mencari Chibi terlebih dahulu dan menyuruhnya untuk mencium bau orang yang membunuh Guren Toshiko!" Nagato membatin dan menatap Litha yang sedang berbicara dengan Shirayuki.


Tidak lama Nagato bergegas mencari Chibi yang ada di dalam penginapan. Kucing manis itu berada di kamar Litha dan sedang tertidur. Nagato sedikit kesal melihat Chibi yang selalu tertidur setiap dia melihatnya.


Sebelum membangunkan Chibi yang sedang tertidur, Nagato mencari ikan mentah di dapur penginapan. Kemudian dia sengaja memancing Chibi untuk bangun dan keluar menggunakan ikan mentah tersebut.


"Meong-Meong..."


"Bagus, bagus. Sini Chibi pemalas." Nagato justru terlihat senang melihat Chibi kesusahan mengambil ikan mentah yang dia pegang.


"Naga!"


"Nagato!"


Secara tidak sadar tindakan Nagato membuat Iris dan Litha mengikutinya. Kedua gadis muda itu sekarang berada di samping kiri dan kanan Nagato.


"Chibi, kamu lapar, kan?" Nagato tidak pandai mencari alasan. Bahkan sekarang dia terlihat kebingungan.


"Naga, kamu pikir aku tidak menyadarinya!" Iris mengambil ikan mentah di tangan Nagato. Kemudian Litha juga menatap tajam Nagato.


"Nagato, aku rasa kamu menyembunyikannya sesuatu dariku?" Litha tersenyum manis pada Nagato sambil mengelus kepala Chibi.


Nagato menghela napas panjang. "Baiklah, kalian berdua kenapa bisa tahu kalau aku menyembunyikan sesuatu?" Dengan penuh rasa penasaran Nagato menatap wajah Iris dan Litha.


"Karena aku selalu mengawasimu, Naga!"

__ADS_1


"Karena aku selalu mengawasimu, Nagato!"


Iris dan Litha menjawab pertanyaan Nagato secara bersamaan. Wajah kedua gadis tersebut memerah.


"Jangan bilang?" Nagato justru terkejut mendengar jawaban Iris dan Litha. "Kalian berdua mengintip saat aku mandi-"


Belum selesai Nagato mengucapkan kalimatnya, Iris memencet hidung Nagato dan memotong perkataannya. "Mana mungkin aku melakukan hal itu!"


Litha tertawa cekikikan melihat reaksi Nagato. Tidak berapa lama Nagato menatap Iris dan Litha cukup serius.


"Iris, tolong kamu pergi dengan Litha dan jelaskan pada Bibi Shirayuki dan Nenek Emi tentang kematian Guren Toshiko." Nagato terlihat seperti memohon pada kedua gadis muda tersebut. "Ada sesuatu yang ingin kulakukan. Dan Litha, aku akan mengajak Chibi jalan-jalan keluar sebentar."


Iris dan Litha saling menatap satu sama lain. Kemudian mereka berdua mengangguk dan mengikuti perkataan Nagato. "Baiklah, aku akan menjelaskan tentang kematian Guren Toshiko." Iris menatap Nagato khawatir tetapi gadis cantik itu tetap mempercayai tindakan Nagato.


Litha mengelus kepala Chibi dengan lembut. "Chibi, ikuti perintah Nagato. Jika kamu mengikutinya maka aku akan memberimu ikan mentah lebih banyak dari jatah biasanya."


"Meong-Meong..."


Chibi langsung berjalan di depan Nagato dan melirik pemuda berwajah rupawan itu.


"Kenapa aku merasa kesal dengan Chibi?!" Nagato membatin kesal melihat Chibi yang terlihat seperti memberi perintah padanya untuk segera berjalan.


"Hati-hati, Naga..." Iris menatap Nagato khawatir. "Aku tidak ingin kamu terlibat dengan sesuatu yang berbahaya." Wajah Iris terlihat mengkhawatirkan Nagato.


Litha bahkan terkejut melihat Iris yang bersikap manja di depan Nagato. "Benar kata Iris. Kamu tidak boleh bertindak gegabah, Nagato." Litha menatap tajam Nagato.


"Ingat, setelah kami selesai menjelaskan kematian Guren Toshiko. Kamu harus kembali ke penginapan ini!" Litha mengingatkan Nagato.


"Ya, aku akan kembali secepatnya." Nagato tersenyum pada Litha. Kemudian dia berjalan keluar penginapan dan langsung bergegas menuju tempat Hayabusa berada.


Belum sampai di jalanan sepi tempat dimana mayat Guren Toshiko ditemukan tergeletak disana, Hayabusa sudah menunggu Nagato di jalanan kota yang dekat Penginapan Matahari Timur.


"Oi, Fuyumi Nagato!" Hayabusa melompat dari pohon jambu. Pria itu bahkan sedang memakan buah jambu yang tumbuh dengan suburnya.


"Tadi kau ingin membicarakan sesuatu denganku, bukan?" Hayabusa menatap tajam Nagato. Kemudian dia memakan buah jambu yang ada di tangan kanannya. "Cepat katakan sekarang. Aku sudah tidak mempunyai waktu untuk berlama-lama menunjukkan identitasku."


Nagato tersenyum tipis melihat Hayabusa. "Lagipula aku memberi isyarat padamu untuk menungguku karena aku membawa kucing peliharaan temanku." Kemudian Nagato menatap Chibi yang sedang menyandarkan kepalanya di kaki Nagato.


Mata Hayabusa menyipit. "Bukankah ini Kucing Manis? Kupikir hewan ini sudah punah? Kucing ini termasuk jenis hewan yang paling langka. Dimana kau menemukannya?" Hayabusa melontarkan pertanyaan beruntun pada Nagato.


"Ini memang Kucing Manis. Aku dan temanku yang bernama Litha menemukannya di suatu tempat." Nagato menjawab sembari menatap Hayabusa sesaat, kemudian dia mengalihkan pandangannya menatap Chibi.


"Daripada itu, kupikir Kucing Manis ini dapat menemukan petunjuk orang yang membunuh Guren Toshiko," tambah Nagato sambil tersenyum tipis melihat reaksi Hayabusa.

__ADS_1


"Ini sangat membantu. Baiklah, aku akan terima bantuanmu, Fuyumi Nagato." Hayabusa menganggukkan kepalanya. Kemudian dia menatap Nagato dengan seksama. "Tetapi kau harus mengikuti syaratku, tidak, kau harus mematuhi perintahku ini!"


Sekarang Nagato menatap Hayabusa yang terlihat begitu serius.


__ADS_2