
Ibu Kota Daifuzen perlahan menjadi tempat pertarungan Manusia Hewan Buas melawan wujud Setan Merah, Kaisar Orochi yang mengubah wujudnya menjadi Yamata No Orochi.
Perubahan wujud Kaisar Orochi, Setan Merah dari Rakuza. Arwah Suci Jenis Mythical : Yamata No Orochi.
(Sumber : Aplikasi Pinterest.)
Wujud Yamata No Orochi berhasil membuat momentum pertempuran berat sebelah. Kekuatan beserta semburan api yang keluar dari mulut delapan kepala Yamata No Orochi memporak-porandakan Ibu Kota Daifuzen.
Api melahap rumah dan bangunan megah. Tak terhitung banyak prajurit yang mati, terluka bahkan terbakar hidup-hidup karena terkena semburan api Yamata No Orochi.
Darah membanjiri jalanan Ibu Kota Daifuzen. Teriakan dan tangisan menyatu. Pertempuran yang dilakukan Kaisar Orochi beserta Kekaisaran Rakuza akan menjadi penentuan. Jika mereka berhasil menundukkan Kekaisaran Kai maka Organisasi Disaster yang ada di Kerajaan Sihir Azbec bisa mereka kalahkan.
Saat ini Kaisar Orochi sangat membutuhkan rakyat dari luar Kekaisaran Rakuza untuk berkerja di pabrik senjata yang akan mereka gunakan untuk perang kremasi menguasai seluruh daratan Benua Ezzo.
Seribu penduduk dari Kekaisaran Kai yang dijadikan budak, pekerja tanpa henti, makan seadanya masih belum mencukupi kuota mereka. Satu-satunya cara untuk menjadi penguasa terhebat, Kaisar Orochi berniat menyatukan seluruh negeri di Benua Ezzo di bawah namanya, di bawah genggaman tangannya dan mengukir namanya menjadi sejarah penguasa Benua Ezzo terhebat di sepanjang masa.
Setan Merah, Kaisar Orochi, terus menyerang membabi buta dan mencari seorang dalang dari Manusia Hewan Buas. Kekuatan yang dapat memporak-porandakan Ibu Kota Daifuzen sangat berarti untuk mereka. Jika dalang dibalik penyerangan Manusia Hewan Buas bisa diajak bekerjasama. Maka Kekaisaran Rakuza dapat memulai ambisinya lebih cepat.
“Kira! Tunanganmu telah mati! Cari dan dapatkan Fuyumi Iris!” Salah satu kepala ular yang wajahnya terlihat seperti orang memakai topeng berwarna putih menatap tajam Kira.
Wajah Kira pucat pasi. Ini adalah sosok mengerikan yang membuat pergelojakan di Kekaisaran Rakuza beberapa tahun lalu.
“Baiklah, ayah! Aku akan mencari Fuyumi Iris!” Kira tanpa membantah perkataan ayahnya yang merubah wujudnya menjadi Yamata No Orochi langsung mencari keberadaan Iris.
“Namida, Owara, Takamasa dan kalian semua! Bergabunglah denganku atau mati!” Kepala ular Yamata No Orochi menyeringai melihat pendekar dari kubu timur sedang menghadang dirinya.
“Klan dari kubu barat sudah kubunuh bersama pasukanku. Tetapi kalian dari kubu timur sangat berbakat. Tunduk padaku, maka penyerangan ini akan kuakhiri!” Kali ini Namida, Owara dan Takamasa melakukan serangan beruntun tanpa menghiraukan peringatan Kaisar Orochi.
“Enam Puluh Ribu Tangisan Sang Hujan!”
“Teknik Pedang Aliran Awan Api : Api Mengarungi Udara!”
“Tusukan Seribu Pedang Angin!”
Kaisar Orochi yang sekarang memakai wujud Yamata No Orochi melepaskan aura intimidasi yang menyebar ke segala penjuru Ibu Kota Daifuzen.
Raungan Yamata No Orochi yang tiga dari delapan kepalanya terpotong menggema ke segala penjuru Ibu Kota Daifuzen.
“Ingin mempertahankan tanah air kalian? Aku telah melihat ribuan petarung dari Kerajaan Ellesmere, Kerajaan Tifon dan Kerajaan Plasa. Mereka sama seperti kalian! Lemah!” Tiga kepala yang baru saja terpotong tumbuh kembali dan menyemburkan api ke sembarang arah.
“Makhluh dalam legenda...” Namida menelan ludah melihat kekuatan Yamata No Orochi milik Kaisar Orochi, Setan Merah dari Kekaisaran Rakuza.
“Menghindar!” Namida berteriak sekeras-kerasnya agar prajurit militer Kekaisaran Kai dan pendekar yang sedang dalam keadaan putus asa sadar dari ketakutannya.
Beberapa orang menghindar dan reflek mengindari semburan api Yamata No Orochi. Namun sebagian yang lain pasrah karena mereka merasa tidak akan mampu melawan kekuatan penghancur yang dapat membakar orang hidup-hidup sama seperti ketika manusia membakar daging hewan.
“Tidak heran orang asing yang menguasai Kerajaan Azbec tidak berani melakukan pergerakan sembarangan. Jadi mereka mewaspadai Orochi!” Namida mengumpat dalam hatinya menatap Yamata No Orochi yang masih memporak-porandakan Ibu Kota Daifuzen.
Tubuh berwarna merah karena darah. Mata merah menyala dari delapan kepalanya meneror setiap orang yang melihatnya.
“Reptile! Dimana Hizen dan sepuluh orang busuk itu?!” Salah satu kepala Yamata No Orochi menatap salah satu anggota Sekte Pemuja Iblis yang baru saja datang untuk memberi laporan.
“Aku bukan Tuan Reptile, Yang Mulia Orochi. Hizen dan Satra telah melarikan diri. Sedangkan Sepuluh Tetua Kai yang tersisa telah dihabisi Phyton dan sekelompok pendekar yang dipimpin Hayabusa!” Pria yang berdiri dan menunduk pada Kaisar Orochi tidak dapat bergerak selain merasakan tekanan yang luar biasa dari Yamata No Orochi.
“Dasar bodoh!” Mulut Yamata No Orochi menggigit tubuh pria tersebut hingga hancur. Kemudian Delapan kepala ular menatap Ibu Kota Daifuzen dari atas yang telah hancur dan porak-poranda.
“Hayabusa? Nama yang tidak asing. Aku tertarik mengajaknya bergabung denganku!” Kali ini Kaisar Orochi terus bergerak dan melayangkan serangan pada Namida dan yang lain.
“Percuma!” Salah satu kepala Yamata No Orochi menyeringai menatap Namida yang berusaha membunuhnya, “Yang dapat membunuhku hanya penerus Kagutsuchi Sura! Dengan pedang leluhur mereka yang bernama Pedang Kusanagi! Kalian semua tidak akan mampu membunuhku!”
“Sialan, aku kelelahan. Tetapi aku tidak menyangka Hiragi juga telah mati...” Akaza yang sedang bertarung bersama Akai, Hinozaya dan Takeda.
“Dia masih hidup, adiknya yang bernama Hisui telah mati...” Hinozaya menanggapi perkataan Akaza dan kembali melancarkan serangannya.
__ADS_1
Sadar jika semangat bertempur dari pihak Kekaisaran Kai melemah. Hinozaya merasa kekuatan Yamata No Orochi sangat berdampak besar menaikan semangat bertempur prajurit militer Kekaisaran Rakuza.
Semua pendekar yang telah menyebar menyatu ke tengah Ibu Kota Daifuzen. Sedangkan prajurit militer Kekaisaran Kai yang dipimpin Hawk dan Matsuri sedang menghadang Onigawara bersama pasukan militer Kekaisaran Rakuza yang ada di Kediaman Satra.
Raungan dan teriakan dari Manusia Hewan Buas dan prajurit dari kedua belah pihak bercampur. Darah segar terus mewarnai setiap sudut Ibu Kota Daifuzen yang dilahap api.
Shirayuki melepaskan aura tubuhnya dalam jumlah besar dan membekukan bangunan yang dilahap api.
“Yuki..., maaf, selama ini aku pernah menyakitimu bahkan belum sempat mengucap kata maaf. Aku kehilangan dua adikku yang berharga. Hidup ini sangat memilukan...” Shirayuki membatin dan menatap ratusan mayat yang membeku.
Hawa dingin yang keluar dari tubuhnya membuat beberapa orang menjaga jarak dengannya, “Ichiba, kita lawan Orochi! Kita harus membalikkan keadaan!”
Ichiba hanya mengangguk dan mengikuti perintah Shirayuki. Dalam perjalanan mereka berdua melihat anak kesayangan mereka bertempur dan membunuh tanpa keraguan.
“Itu...” Ichibi berhenti melangkah melihat sosok pria dengan rambut tipis bahkan hampir botak. Di punggungnya terdapat simbol matahari dan sedang bertarung melawan Panglima Perang Nobu.
“Takatsugu...” Ichiba menangis dan berlari ke arah Takatsugu.
“Ichiba!” Shirayuki mengernyitkan dahinya melihat Ichiba menghiraukan perkataannya.
“Menyamar menjadi wasit. Sepertinya kita masih dapat membalik keadaan ini. Mengingat Takatsugu mempunyai kekuatan Ushi Oni!” Shirayuki tersenyum lebar dan melayang di udara mengkuti Ichiba.
Kediaman Satra.
Hawk dan Matsuri melihat pembantaian mengerikan yang menewaskan seluruh anggota pendekar dari Klan Muromcahi telah tewas di penginapan.
“Muromachi Kise. Aku ingat dia adalah salah satu peserta Turnamen Harimau Kai, Jendral Hawk...” Salah satu prajurit militer Kekaisaran Kai memberitahu identitas salah satu pemuda yang selamat karena di atas tubuhnya ada Midorimachi.
“Berikan perawatan. Kita akan bergegas membantu pendekar dari kubu timur untuk menghentikan amukan Yamata No Orochi!” Hawk bergerak memimpin seribu pasukan.
Matsuri meratapi kematian yang menghancurkan Klan Muromachi. Kejadian yang sangat mirip dengan Klan Kagutsuchi.
“Kupikir aku harus percaya perkataan Hayabusa saat itu. Menghabisi Hizen lebih cepat. Namun kami justru melindungi ******** itu!” Matsuri menarik pedangnya dan melepaskan aura tubuhnya.
“Hentikan amukan Yamata No Orochi dan habisi orang-orang dari Kekaisaran Rakuza!”
Matsuri memimpin seribu pasukan dan bergerak ke arah pendekar dari Air Terjun Kebenaran dan Kuil Matahari Baru untuk memberi bantuan.
Di Luar Ibu Kota Daifuzen.
“Tsumasaki! Ini!” Budou tak habis pikir melihat Ibu Kota Daifuzen porak\-poranda bahkan di dalam kota megah itu terdapat ular raksasa berwarna merah dan berkepala delapan sedang menyemburkan api dari mulutnya.
__ADS_1
“Manusia dan Hewan Buas?” Tsumasaki merapatkan giginya melihat kengerian yang sedang dia tatap dan lihat dengan jelas.
“Semuanya! Angkat senjata kalian!” Tsumasaki mengerutkan dahinya karena situasi ini mengingatkannya dengan kondisi beberapa negeri di Benua Ezzo yang telah mengalami pergelojakan hebat terlebih dahulu.
“Kita akan masuk ke Ibukota!” Tsumasaki dengan cepat bergerak. Sedangkan Budou sudah bergerak terlebih dahulu diikuti beberapa pasukannya.
Tengah Kota, Ibu Kota Daifuzen.
“Sial! Aku tidak pernah menyangka kita hanya akan menjadi tumbal Satra!” Pendekar dari Klan Kurozawa bertempur habis-habisan melawan prajurit militer Kekaisaran Rakuza.
“Gadis kecil cantik?” Kirisaki melihat Iris yang telah membunuh ratusan orang. Gadis muda itu sedikit bergidik melihat ekspresi wajah Iris yang memandang sinis orang disekitarnya.
“Kirisaki, jangan alihkan perhatianmu!” Azuki menegur Kirisaki yang selalu mencuri-curi pandang melirik Iris.
“Maaf...”
Pusaran api dan angin berbenturan membunuh prajurit militer Kekaisaran Rakuza. Nagato dan Renji saling menatap satu sama lain.
“Sepertinya semua kubu bersatu. Seharusnya dari dulu kita harus bersatu...” Azuki membatin dalam hatinya.
Sementara itu Nagato mengatur napasnya, “Tak kusangka bantuan Paman Satsuma dan orang satu itu sangat membantu Paman Gyuki...”
Nagato melihat Satsuma, Chosu dan Takatsugu bertarung sengit melawan Panglima Perang Nobu.
“Pernapasan Sirih!” Mata Nagato menatap tajam ratusan prajurit militer Kekaisaran Rakuza yang mengepung Chiaki dan Chaika.
Nagato mengayunkan pedangnya seperti menebas udara hingga api yang berkobar di udara itu membara.
“Getaran Amarah!”
Gelombang api tebasan pedang Nagato sangat cepat ditambah dengan aura tubuhnya yang dia salurkan pada pedangnya. Gelombang api itu melesat dan membunuh puluhan prajurit militer Kekaisaran Rakuza dalam sekali tebasannya.
“Nagato!” Chiaki dan Chaika terkejut melihat Nagato yang membantu mereka. Namun kedua gadis kembar itu melihat Nagato mengeluarkan aura yang cukup banyak untuk melakukan serangan barusan.
“Jangan ragu!” Hanya kata-kata itu yang keluar dari mulut Nagato. Ragu karena takut membunuh orang sudah pasti. Namun jumlah pasukan di pihak Kekaisaran Kai berkurang drastis ketika Kaisar Orochi merubah wujudnya menjadi Yamata No Orochi.
Nagato menyadari semangat juang prajurit militer Kekaisaran Rakuza meningkat. Sedangkan mental semangat juang pasukan militer Kekaisaran Kai melemah.
“Ini bukan hal baik. Aku harus mengerahkan kekuatanku membuat orang-orang kembali semangat! Aku juga tidak ingin dibunuh, tapi menyerah pada masih?! Jangan bercanda! Aku akan memilih tempat untukku mati! Tapi bukan tempat ini!”
Nagato berteriak dalam hatinya dan melepaskan aura tubuhnya. Langkah kakinya melesat menerjang lautan prajurit militer Kekaisaran Rakuza yang datang dari segala arah.
“Getaran Amarah!”
“Lautan Api!”
“Putaran Matahari!”
Nagato tanpa segan membunuh setiap prajurit militer Kekaisaran Rakuza yang mengepungnya. Kimono putih sekarang menjadi merah terkena darah segar. Bahkan kain putih yang terikat di pinggang kirinya juga terkena percikan darah.
“Keindahan Alam Salju Tak Terbatas!”
“Tusukan Seribu Akar Es!”
“Tombak Es!”
Iris berdiri tepat di belakang Nagato. Punggung keduanya bersentuhan. Semua orang yang melihat kedua pendekar muda yang telah saling mencintai itu dapat melihat. Tatapan mata yang tajam dari keduanya tidak terlihat takut melihat ratusan orang yang mengepung mereka.
“Iris, kamu pikir aku senang melihatmu menjadi pendendam!” Nagato meninggi suaranya dan melepaskan aura tubuhnya ke arah prajurit militer Kekaisaran Rakuza.
“Aku hanya melindungi diriku! Seorang pendendam jangan menasihatiku!” Iris membentak perkataan Nagato.
Keduanya kini berpikir tak searah. Emosi dan penyesalan meluap-luap di hati mereka. Api beserta es terus berkobar membekukan dan membunuh tanpa keraguan.
Litha melihat Nagato dan Iris yang semakin menjauh darinya. Kematian Hisui menjadi penyebab Iris menjadi bertindak demikian. Sekarang gadis manis yang selalu tersenyum itu tidak lagi dapat tersenyum seperti dulu.
__ADS_1
“Janji yang tidak bisa ditepati. Bukankah itu menyakitkan?” Matanya terpejam ketika membunuh prajurit militer Kekaisaran Rakuza dengan pedangnya. Tangannya telah ternoda. Tidak ada cara untuk kembali. Sekali membunuh tetap membunuh.
Tanpa sadar Nagato dan Iris berdiri di samping Litha. Kini mereka bertiga bertarung bersama, saling melindungi dan saling memahami jika mereka bertiga harus tetap hidup demi menuntaskan janji yang dibuat bersama Hisui.