Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 160 - Turnamen Harimau Kai Dimulai!


__ADS_3

Satra menatap semua orang yang hadir menonton Turnamen Harimau Kai di Ibu Kota Daifuzen.


"Terimakasih telah hadir di Arena Lingkaran Harimau para hadirin sekalian, sebuah turnamen tahunan yang selalu digelar di Ibu Kota Daifuzen ini selalu meriah setiap tahunnya. Sungguh sebuah kehormatan bagi kami, Sepuluh Tetua Kai bisa mewariskan turnamen yang turun-temurun terus dilakukan di tempat ini..." Satra memulai pidatonya untuk menenangkan peserta baru Turnamen Harimau Kai yang terlihat gugup, sudah menjadi pekerjaannya untuk mendapatkan kepercayaan dari masyarakat.


"Sebelum kita mulai acara ini, izinkan saudara saya yang bernama Mujin untuk menunjukkan nama-nama yang akan bertarung di babak penyisihan." Satra menatap Mujin yang sedang di bawah lapangan.


Mujin melepaskan auranya dan tenaga dalamnya secara bersamaan, setelah auranya berubah menjadi api, dia membuat sebuah busur panah dan menarik anak panah tersebut ke arah langit dan melepaskannya.


Semua orang terpana melihat anak panah yang meledak di atas langit membentuk tulisan sebuah nama peserta yang mengikuti Turnamen Harimau Kai.


Penonton bersorak gembira melihat nama-nama pendekar muda yang tercantum namanya bertarung di babak penyisihan. Sepuluh pendekar muda jenius dan pendekar muda tak bermahkota menunggu lawan-lawannya di babak 32 besar.


Di langit tertulis nama seluruh pendekar muda dari Klan Fuyumi. Pertandingan pembuka Turnamen Harimau Kai akan menyajikan pertempuran antara Kitakaze Renji melawan Akatsuki Akai. Kemudian disusul pertandingan menarik antara Fuyumi Iris melawan Kitakaze Chaika.


Kubu timur tidak merasa diuntungkan, susunan peserta yang bertarung kebanyakan dari kubu timur melawan kubu timur. Sedangkan kubu barat sendiri melawan kubu timur, sangat terlihat jika Turnamen Harimau Kai adalah sebuah kompetisi yang telah diatur.


Nagato menatap namanya yang tertulis di atas langit, dia melihat namanya ditulis dengan nama Fuyumi Nagato. Setelah mengecek namanya, Nagato menatap Emi dan Shirayuki yang berada di bangku penonton bersama Klan Misuzawa dan Klan Mangetsu.


Nagato sendiri melawan murid dari Ikatan Darah Tunggal yang bernama Heise. Sementara itu Litha melawan pendekar dari Pedang Naga Sakti yang bernama Ryuko.


Tidak berapa lama Satra terlihat sedang berbincang-bincang bersama Kaisar Hizen. Ternyata Satra sedang berbicara dengan Kaisar Hizen tentang hadiah pemenang dari Turnamen Harimau Kai.


Turnamen Harimau Kai adalah ajang untuk mencari seorang pendekar yang kelak akan dididik menjadi seorang prajurit hebat Kekaisaran Kai. Juara pertama sampai ketiga akan diberi keistimewaan untuk hidup mewah dan mendapatkan sebuah ketenaran. Juara pertama akan mendapatkan uang senilai delapan juta keping emas dengan Air Suci Buatan Tipe Elemen : Api. Air Suci Buatan itu dibuat antara kerja sama Organisasi Disaster dengan Gore. Semua orang terkejut mendengar hadiah yang menggiurkan. Satra mendapatkan Air Suci Buatan itu dari Gore dan dia berniat untuk menjadikan kekuatan yang dicari-cari itu untuk menjadi hadiah, agar orang yang meminumnya bisa menjadi tangan kanannya. Air Suci Buatan sangat berbeda dengan Air Suci dan tentu saja semua itu akan menyebabkan efek samping yang fatal bagi orang yang meminum Air Suci Buatan.


Tahun ini Hadiah Turnamen Harimau Kai lebih besar dari biasanya, tidak banyak yang tahu jika semua hadiah itu menggunakan uang rakyat dengan cara merampas dan korupsi yang dilakukan para pejabat di Kekaisaran Kai. Dalang dari semua itu tak lain adalah Satra sendiri.


Semua orang melihat hadiah juara kedua juga cukup besar karena juara kedua akan mendapat uang sebesar lima juta keping emas, sedangkan juara ketiga akan mendapatkan uang sebesar tiga juta keping emas.


Semua pendekar muda yang mengikuti Turnamen Harimau Kai penasaran dengan air suci yang dibicarakan Satra.


Nagato semakin tertarik untuk menenangkan Turnamen Harimau Kai hanya saja dia bisa melihat jika Satra terlihat seperti orang yang menyembunyikan sesuatu yang besar.


"Hadiahnya cukup menggiurkan, bukan? Kalian bisa menjadi pengguna air suci jika menjadi sang juara. Tunjukkan kemampuan terbaik kalian..." Satra melirik Mujin setelah selesai menjelaskan hadiah Turnamen Harimau Kai.


"Kalau begitu saya persilahkan Tetua Api untuk memimpin jalannya pertandingan." Satra mempersilahkan Mujin untuk mengambil alih.


Semua orang bersorak mendengar Satra selesai menjelaskan hadiah yang cukup besar, suara gemuruh penonton membuat Mujin terdiam.

__ADS_1


"Perkenankan aku untuk memperkenalkan diri, namaku Mujin. Aku akan menjadi wasit di babak penyisihan Turnamen Harimau Kai. Kuharap kerja samanya, saudara semua." Mujin menatap seluruh penonton yang berteriak sebelum melihat peserta yang terlihat gugup duduk di atas bangku penonton Arena Lingkaran Harimau Kai.


"Kita langsung mulai saja turnamen ini. Dua orang pertama yang tercantum namanya harap segera maju." Mujin berteriak ke arah pendekar muda yang mengikuti kompetisi Turnamen Harimau Kai.


Renji dan Akai turun dari bangku menuju lapangan, keduanya saling menatap tajam satu sama lain. Pertandingan pembuka menyajikan seorang pendekar muda jenius dari Klan Kitakaze yang termasuk dalam sepuluh pendekar muda jenius. Sementara itu Akai sendiri merupakan adik dari Akatsuki Akaza. Umur Akai masih tiga belas tahun, walau melawan orang yang lebih tua darinya, Akai berusaha untuk tetap tenang dan tidak menunjukkan ketakutannya.


Mujin memberi tanda keduanya untuk maju, dia menjelaskan aturan pada seluruh orang yang ada di Arena Linhkaran Harimau dengan lantang. Aturan yang dikatakan Mujin sangat jelas, peserta dilarang membunuh peserta yang lain, dan tidak boleh menciderai lawannya dengan luka yang parah dan berakibat fatal.


"Semua senjata boleh kalian gunakan, hanya saja tidak ada yang namanya bunuh-membunuh di turnamen ini. Jangan menyimpan dendam pada peserta lain ketika kalian gagal bertarung atau dikalahkan." Mujin melihat pendekar muda yang serius mendengarkan perkataannya.


Dua pemuda sudah dalam posisi masing-masing, kebanyakan penonton mendukung Renji yang terlihat lebih unggul dari Akai.


Keduanya mengeluarkan senjata mereka, Renji mengeluarkan pedangnya, sedangkan Akai hanya menggunakan sebuah tongkat dari kayu rotan. Mujin menatap Renji dan Akai sesaat sebelum memberi tanda pertandingan pembuka Turnamen Harimau Kai dimulai.


Renji menggunakan langkah anginnya dan melesatkan serangan cepat ke arah tubuh Akai. Benturan pedang dan rotan terdengar menggema di lapangan. Akai melepaskan auranya yang berwarna merah dan memanipulasinya menjadi api.


"Rotan Api Membara."


Akai langsung mencari momentum untuk menyerang Renji dengan teknik bertarungnya, serangan cepat dari Akai membuat Renji mundur beberapa langkah ke belakang. Tangan Akai memutarkan tongkat rotan dengan cepat, putaran apinya membuat Renji terdesak.


Elemen bawaan yang dimiliki Renji adalah angin, jika dia menggunakan teknik angin milik Klan Kitakaze maka itu akan menguntungkan Akai.


"Aku harus mengalahkannya dalam satu gerakan ini," batin Renji menatap tajam Akai yang lebih muda darinya. Renji berlari ke arah Akai tanpa menggunakan kekuatan elemen angin miliknya, Renji hanya memusatkan auranya untuk melindungi setiap tubuhnya. Api yang membakar tubuh Renji tidak terlalu parah lukanya, karena dia melapisi tubuhnya dengan auranya yang berwarna hijau muda.


"Maaf, walau kita sama-sama dari kubu timur, tapi harga diriku sebagai seorang senior akan mengalahkanmu, Akai." Renji memutarkan tubuhnya ketika melewati kobaran api karena teknik tongkat milik Akai. Setelah berada di depan Akai dengan cepat Renji mengayunkan pedangnya memberikan serangan balik.


"Aku juga tidak ingin kalah di awal pertandingan. Jika kalah, maka aku akan membuat malu nama kakakku," ucap Akai sambil menangkis tebasan pedang Renji dengan tongkatnya.


"Bagus, aku suka semangatmu itu." Renji memusatkan auranya pada bilah pedangnya. Kemudian dia menebaskan pedangnya lebih cepat. Akai kewalahan menahan tebasan Renji yang cepat dan gesit. "Kau cukup tangguh juga, Akai!"


Renji memotong rotan Akai dan menodongkan pedangnya tepat di leher Akai. Semua penonton terdiam selama beberapa detik sebelum bersorak.


"Berhenti! Pemenangnya adalah Renji!" Mujin memberhentikan pertandingan dan mengambil keputusan jika Renji yang menenangkan pertandingannya.


"Bukankah aku termasuk salah satu dari sepuluh pendekar muda jenius? Lalu kenapa kalian menyuruhku bertanding terlebih dahulu?" Renji menatap tajam Mujin. Kemudian matanya terarah pada sepuluh pendekar muda yang sedang berada di bangku penonton khusus peserta.


"Satu orang itu siapa? Aku mengerti ... jadi aku tersisihkan menjadi pendekar muda jenius, sungguh menggelikan." Renji tersenyum sinis meninggalkan Mujin dan Akai.

__ADS_1


"Sudah kuduga, aku tidak akan menang." Akai menangis sambil mendekati bangku penonton tempat pendekar dari Klan Akatsuki menonton.


"Bodoh! Jangan menangis!" Teriakan Akaza membuat semua orang menatapnya. Akaza memarahi Akai dan menyuruh adiknya tersebut untuk tidak terlalu memikirkan kekalahan pertamanya.


"Dengar, kalah bukan berarti kau seorang pecundang." Akaza terlihat seperti ingin memberi nasihat pada adiknya, tetapi dia malah mengeledek adiknya. "Tetapi pada dasarnya, kau sudah menjadi pecundang sejak dulu," tambah Akaza.


Akai kembali menangis mendengar Akaza yang mengeledeknya. Kemudian Akaza menyentuh kepala adiknya.


"Banggalah, kau telah berjuang melawan orang yang lebih kuat darimu, kau tidak perlu malu. Tertawalah." Akaza berhasil membuat Akai tenang.


"Kakak, tadi Renji bilang dia tidak menjadi bagian dari sepuluh pendekar muda jenius. Ada apa sebenarnya?" Akai menatap Akaza yang berjalan disampingnya.


"Entah, aku juga heran. Tetapi jika anak itu kuat, aku tidak peduli. Aku akan mengalahkannya!" Akaza menatap seorang pemuda yang terlihat seperti memiliki wewenang, cara duduknya sangat tidak sopan pada pendekar muda yang lebih tua darinya.


Tidak berapa lama Mujin kembali menyuruh peserta yang bertanding di putaran kedua untuk segera maju.


"Silahkan masuk ke dalam lapangan. Iris, Chaika!" Mujin berteriak memanggil dua nama pendekar muda yang akan bertanding.


Iris terlihat terbang di udara, seperti sosok Shirayuki yang dapat melayang di udara karena memiliki kekuatan jelmaan Dewi salju, Iris juga bisa melakukan hal yang sama dengan ibunya. Sementara itu Chaika terlihat begitu gugup, karena yang menjadi lawannya pertama kali adalah Iris.


Penonton saling membicarakan kecantikan dan keanggunan Iris yang sangat mirip dengan Shirayuki. Di mata mereka semua, Iris adalah sosok gadis muda tercantik di Kekaisaran Kai. Dari segi penampilannya dan setiap lekuk tubuhnya menunjukkan jika Iris akan semakin terlihat kecantikannya ketika dewasa.


"Cantiknya, dia seperti Putri Salju."


"Sungguh beruntung pria yang akan menjadi suami dari gadis muda itu."


"Sungguh kecantikan tiada tara, gadis muda itu mirip dengan ibunya."


"Anak dan ibu sama-sama menggoda."


Penonton bersorak ketika melihat Iris sudah menginjak tanah, beberapa dari mereka ada yang bersiul. Chaika terlihat semakin gugup mendengar sorakan penonton yang mendukung Iris.


"Kakak! Semangat!"


"Chaika jangan mengalah!"


Teriakan dari Chiaki dan Yuri membuat Chaika tersenyum. Gadis muda itu terlihat mulai tenang, dia tidak terlalu muluk-muluk untuk menjadi juara. Chaika hanya ingin menunjukkan hasil latihannya pada teman baiknya yaitu Litha.

__ADS_1


Iris dan Chaika sudah berada di tengah lapangan, mereka berdua sedang mendengarkan instruksi dari Mujin yang menjadi seorang wasit.


__ADS_2