Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 87 - Gua Hati


__ADS_3

Keesokan harinya Kakek Hyogoro mengantar Nagato dan Litha untuk bermeditasi di Gua Hati selama 14 hari kemudian dia menjelaskan kepada dua muridnya sebelum mereka berdua melakukan meditasi didalam gua.


"Ketika bermeditasi jangan pikirkan hal yang lain, kalian berdua harus meyakinkan diri jika kalian yakin bisa melewati ujian ini." jelas Kakek Hyogoro melihat Nagato dan Litha yang sedang berdiri didepan gua.


Setelah mendengar penjelasan Kakek Hyogoro mereka berdua kemudian memasuki Gua Hati dan mulai berjalan menyusuri lorong gua yang gelap tersebut.


"Nagato aku takut ...." ucap Litha lirih sambil tangannya memegang tangan Nagato dengan erat.


Nagato terus berjalan dan sampai didalam gua yang disana ada batu datar yang bisa digunakan untuk duduk bersila.


"Litha, tenang saja ada aku disampingmu jadi kamu tidak perlu takut." Nagato mengusap rambut halus dengan lembut dan berusaha menenangkannya.


Litha tersipu malu karena setiap Nagato mengusap rambutnya dirinya juga merasa senang.


"Nagato, aku ingin kita berdua duduk berhadapan." pinta Litha menatap Nagato dengan penuh harap.


Nagato hanya tersenyum tipis dan mengangguk pelan kemudian dia duduk bersila menggunakan posisi yang menurut dirinya nyaman untuk bermeditasi.


Nagato dan Litha menghilangkam semua pikiran duniawi yang ada didalam kepala mereka berdua kemudian memusatkan perhatian mereka hanya pada satu titik yaitu konsentrasi secara penuh sambil mengatur aliran nafas mereka dengan melakukan pernafasan.


Keduanya kini telah tenang berkonsentrasi secara penuh bahkan suara nafas mereka tidak terdengar.


Perlahan - lahan semua beban yang ada didalam kepala mereka berdua menghilang yang tersisa hanyalah sebuah ketenangan untuk mengolah pernafasan dan melewati ujian ini selama 14 hari.


Nagato tidak mendengar suara serangga yang ada didalam gua bahkan dia merasa bahwa dirinya berada didunia mimpi yang panjang disana terlihat sebuah hutan yang luas dengan gumpalan awan yang membentang diatas langit yang terang.


Nagato berjalan menyelusuri hutan yang ada didalam alam bawah sadarnya tidak lama dia mendengar suara air yang mengalir dan mendekati suara tersebut disana terlihat sebuah sungai yang mengalir dengan air yang begitu jernih.


Ketika Nagato hendak mencoba untuk meminum air sungai dihadapannya ada bayangan orang yang dibelakang dirinya yang tersenyum sinis melihatnya. Bayangan orang yang tak asing baginya membuat dahi Nagato mengerut.


"Lama tidak berjumpa ...," Nagato menatap dingin bayangan orang yang terlihat dari dalam air sambil meliriknya,"aku?"

__ADS_1


Nagato langsung menendang cepat mengincar kepala sosok dirinya yang lain dengan tumit kakinya.


"Seperti yang kuharapkan dari sosok diriku." Nagato menatap dingin sosok dirinya yang berhasil menghindari tendangannya.


"Tidak kusangka kau bisa memasuki alam bawahmu sendiri." suara yang terdengar mengerikan memainkan melodi penuh kebencian.


Nagato mematung ketika melihat Roh Dewa Kematian Shinigami muncul dari belakangnya dan menghampirinya secara perlahan.


"Iblis, kemarilah." perintah Roh Dewa Kematian sambil menjentikkan jarinya.


Sosok Nagato yang lainnya berjalan menghampiri Nagato dan menyentuh pundaknya kemudian mereka berdua bersatu.


Roh Dewa Kematian Shinigami mengambil wujud Magma salah satu Petinggi Disaster yang merupakan anak kandung dari Kazan. Shinigami sengaja mengambil wujud Magma agar Nagato kembali mengingat kebenciannya.


Nagato mengerutkan dahinya, sosok dihadapannya membuat seluruh indera berhenti.


Shinigami menatap dingin Nagato yang terdiam selama beberapa saat karena melihat sosok Magma dihadapannya.


Nagato menarik pedang hitam yang dibelikan Kakek Hyogoro kepadanya.


"Magma!" teriak Nagato dengan mata yang mendelik.


Detak jantung yang berdetak memainkan melodi kemarahan yang luar biasa. Nagato lepas kendali dan menyerang Magma secara membabi buta.


Shinigami tersenyum melihat Nagato yang menyerang sosok Magma yang merupakan sebuah ilusi.


"Bocah, bagaimanapun api sangat sulit untuk mengalahkan magma apalagi musuh terbesarmu mempunyai seluruh kekuatan dari sebuah bencana gunung meletus." Shinigami menunjukkan kekuatan Magma yang sesungguhnya walau hanya sebuah ilusi tetapi tebasan pedang api Nagato tidak dapat melukai tubuh Magma sedikitpun.


Nagato berdecak kesal melihat Magma yang menangkis ayunan pedangnya dengan tangan yang dilapisi magma.


"Sirih!" hati Nagato menarik nafas panjang dalam satu tarikan nafasnya kemudian dia mencoba menenangkan pikirannya agar lebih leluasa dalam bergerak tetapi sosok kebencian yang menyatu dengannya membuat emosi Nagato tidak stabil sehingga dia tidak bisa melakukan konsentrasi secara penuh.

__ADS_1


Magma yang dari diam dan menatap dingin Nagato mulai tersenyum sinis.


"Bocah, ayahmu adalah orang yang bodoh!" sindir Magma menatap Nagato lurus.


Nagato berhenti bergerak setelah mendengar perkataan Magma seluruh tubuhnya memanas.


"Waktu yang tepat untuk menghabisi anak orang tua bodoh itu." gumam Magma sambil mengepalkan kedua tangannya.


"Sebelum kau beranjak dewasa lebih baik kau harus kubunuh dengan tanganku sendiri! Karena akan merepotkan jika kau dendam terhadap kami!" Magma memukul Nagato yang terdiam dengan tinju magmanya hingga perut Nagato terbakar dan bersimbah darah.


"Argh!" Nagato meringis kesakitan memegang perutnya yang sedikit berlubang.


"Jangan meremehkanku!" teriak Nagato bangkit berdiri sambil menatap dingin Magma.


Magma menaikan alisnya melihat Nagato yang berdiri kembali walau perutnya sudah berlubang dan bersimbah darah.


"Aku tidak menyangka anaknya juga sebodoh ini." gumam Magma dengan mata yang menyipit menatap Nagato.


Shinigami yang melihat pertarungan itu tersenyum karena didunia tidak ada yang namanya perdamaian bahkan orang yang kuat jika hatinya terlalu baik maka dengan mudah orang itu bisa dikalahkan banyak contohnya seperti Pandu dan seluruh anggota Klan Kagutsuchi.


Nagato menghilang dari pandangan Magma ketika dirinya menggunakan seluruh kekuatannya walau kecepatannya itu membuat Magma terkejut tetapi kecepatan Nagato yang sekarang ini bukanlah apa - apa bagi Magma.


"Jurus Suci Pertama : Gelombang Magma."


Magma dengan mudah memukul perut Nagato hingga berlubang besar dan menganga terbakar api.


Nagato mencoba mengayunkan pedangnya disaat - saat terakhir untuk menebas kepala Magma tetapi mulutnya memuntahkan darah segar yang begitu banyak walau hanya sebuah ilusi tetapi bagi Nagato rasa sakit ini adalah kenyataan.


"Jangan bercanda, apa aku akan mati disini?!" Nagato jatuh kebelakang pelan - pelan ketika Magma mencabut pukulan tinjunya diperut Nagato.


Seluruh pandangan mata Nagato menjadi gelap tidak bisa melihat apa - apa dan tubuhnya merasakan rasa sakit yang luar biasa.

__ADS_1


"Argh! Perutku sial!" batin Nagato memegang perutku yang berlubang dan bersimbah darah dia merasakan sakit yang luar biasa disekujur tubuhnya karena pukulan magma.


__ADS_2