
Satu hari telah berlalu disebuah gubuk kecil dekat pegunungan dan gua yang cukup panjang. Nagato sudah siap untul membuka kedok kejahatan yang telah dilakukan Amaga.
Setelah mendengar rencana yang dibuat oleh muridnya itu membuat Kakek Hyogoro terkejut karena kemiripan Pandu dan Nagato yang pintar dalam menyusun strategi.
Kakek Hyogoro menggendong Yoshimitsu yang telah bangun sebelum memulai pergerakan Nagato memikirkan rencana ini dengan matang. Nagato masih khawatir jika Cika dibunuh oleh Amaga karena Kakek Hyogoro tidak membawa gadis itu ketempat persembunyian Tsutomu tetapi dari penjelasan Kakek Hyogoro kemungkinan banyak penjaga rumah yang menjaga kamar Cika.
Tsutomu juga ikut pergi ke kediaman Bangsawan Kochi setelah kemarin malan pria itu mendengar permintaan maaf Yoshimitsu yang telah memecatnya bahkan lebih memilih mendengarkan tuduhan yang dilakukan Amaga.
'Paman Tsutomu sungguh baik tetapi sebaik apapun manusia tetap ada kebencian didalam hatinya.' Nagato melirik Tsutomu yang berjalan disampingnya kemudian dia menatap Litha yang terlihat gelisah.
"Kenapa?" Nagato menepuk pundak Litha membuat gadis kecil itu kaget karena pundaknya ditepuk oleh Nagato.
"Sepertinya Chibi marah padaku karena aku tidak memberinya ikan kemarin." tatapan mata Litha membuat Nagato terdiam selama beberapa saat setelah mendengar jawaban gadis kecil itu.
"Chibi, lihat itu ada kodok bukankah kau juga menyukai hewan itu!" Nagato sedikit kesal dengan tingkah kucing manis peliharaan Litha.
Litha mencubit lengan Nagato setelah mendengar perkataan pemuda itu dengan pipi yang mengembung Litha menjauh dari Nagato.
"Dasar Nagato menyebalkan! Hmpt!" Litha sengaja mengembungkan pipinya dan memalingkan wajahnya kesamping melihat pipi Litha yang menggemaskan, Nagato menyentuh pipi gadis kecil itu dan sedikit mencubit pipi Litha.
Litha memerah wajahnya melihat Nagato yang menyentuh pipinya namun entah mengapa dirinya sedikit kesal ketika melihat raut wajah Nagato yang tetap bersikap biasa.
"Jangan anggap aku sebagai anak kecil!" Litha memukul perut Nagato.
Nagato tersenyum menahan pukulan Litha kemudian dia memegang tangan Litha.
"Jangan memukulku, pukulanmu tidak terasa sakit." Nagato memegang tangan Litha sebelum melepaskannya dan kembali berjalan.
__ADS_1
Litha tersipu malu melihat Nagato yang selalu khawatir padanya dan gadis kecil itu merasa senang karena akhir - akhir ini dia tidak melihat Nagato yang selalu bersikap dingin dan sedikit berbeda ketika mereka berdua bertemu.
Setelah berjalan melewati lorong Gua Helai kini Nagato dan yang lainnya telah sampai kembali disebuah hutan yang dekat dengan permukiman penduduk.
"Kakek, setelah sampai didepan rumahmu kau harus membongkar semua kedok dari kacamata sialan itu!" Nagato melirik Yoshimitsu yang digendong Kakek Hyogoro.
"Nagato ... jaga bicaramu, kau tidak sopan memanggil Tuan Yoshimitsu dengan sebutan kakek!" tegur Tsutomu pada Nagato yang sedang berbicara dengan Yoshimitsu.
Nagato tersenyum dan menatap Tsutomu.
"Hanya dia seorang bangsawan aku harus merubah sikapku dan bersikap sopan padanya, aku memang seperti ini jika paman tidak suka itu bukan urusanku tetapi aku juga tidak suka terhadap orang yang bersikap pura - pura baik dan sopan karena ada alasannya, itu yang terjadi pada kalian saat ini, bukan?!" Nagato melanjutkan kembali perjalanannya sambil mengingat ayahnya yang selalu bersikap baik tetapi menurut dirinya ada yang salah dengan semua itu.
Mereka semua terdiam mendengar perkataan Nagato sedangkan Litha sedikit khawatir pada Nagato karena gadis kecil itu selalu melihat perubahan sikap Nagato.
Di waktu yang sama Amaga yang berada dirumah kediaman Bangsawan Kochi sudah membunuh beberapa penjaga rumah dan dia juga sudah memberi air terlarang yang telah dicampur dengan air minum penjaga rumah yang menjaga Cika dikamarnya.
Dengan senyuman yang menyungging diwajahnya Amaga berpikir jika dia tidak perlu mengotori tangannya untuk membunuh Cika karena jika penjaga rumah meminum air minum tersebut maka mereka semua berubah menjadi manusia buas yang kehilangan akal dan membunuh Cika yang sedang mereka jaga.
Kedamaian dan pujian yang dia dapatkan selama 5 tahun membuatnya menjadi manusia yang gila akan pujian dan serakah bahkan Amaga tidak tahu cara berterimakasih kepada orang yang telah menyelamatkannya.
Penduduk desa yang melihat Amaga sedang berjalan didepan mereka membuat mereka begitu kagum dengan kesopanan dan kebaikan hati Amaga.
"Selamat pagi Tuan Muda Amaga." salah satu penduduk menyapa Amaga.
Amaga membantu kakek tua renta menyebrangi jalan dan membelikan kakek itu makanan melihat kebaikan hati Amagi para penduduk desa semakin terkagum - terkagum padanya.
Amaga tersenyum ramah pada penduduk desa dan menyapa mereka semua.
__ADS_1
"Tuan Amaga, kupikir saat itu yang mati dibunuh oleh gadis kecil adalah Tuan Muda?" salah satu gadis desa bertanya kepada Amaga.
Dengan senyuman ramahnya Amaga membuat gadis desa tersebut semakin kagum padanya kemudian dia menjelaskan jika Litha hendak membunuhnya tetapi gadis kecil itu salah target dan membunuh penjaga rumah yang mirip dengannya.
Sementara itu dirumah kediaman Bangsawan Kochi disebuah ruangan kamar yang megah dan luas ada seorang gadis muda yang sedang menangis, beberapa penjaga rumah berusaha menenangkannya tetapi gadis yang bernama Cika terus menangis dan terlihat sedih karena masih tidak percaya jika ayahnya telah mati bahkan yang membuat lebih syok setelah mendengar orang yang membunuh ayahnya adalah Tsutomu seorang pria yang pernah bekerja sebagai mantan kepala pelayan Bangsawan Kochi.
Posisi kepala pelayan telah diberikan kepada Amaga sejak pria licik itu berhasil mendapatkan hati Yoshimitsu dan menuduh Tsutomu telah menghamili pembantu bahkan membuat pembantu tersebut bunuh diri keesokan harinya.
Beberapa penjaga rumah yang sedang berada diluar kamar menjaga Cika meminum air minum yang diberikan Amaga.
Salah satu penjaga hendak meminum air putih yang didalam gelas tetapi dirinya menjadi ragu setelah melihat beberapa penjaga rumah yang meminum air minum tersebut berteriak mengerang kesakitan.
"Ka-Kalian kenapa? Tubuh kalian membesar!" penjaga itu ketakutan melihat teman - temannya berubah menjadi manusia buas.
"Menurutmu bagaimana?" seorang pria yang berumur 65 tahun datang dengan pedang yang tersarung rapi dipinggangnya dan identitas pria adalah Kakek Hyogoro.
"Pembunuh!" penjaga itu ketakutan melihat Kakek Hyogoro.
Kakek Hyogoro sedikit kesal tetapi kedatangannya kemari hanya untuk menyelamatkan Cika.
Didalam kamar Cika terkejut ketika dinding rumahnya retak dan gadis itu melihat manusia buas yang terlihat mengerikan.
"To-Tolong aku ... " Cika menjerit histeris karena melihat manusia buas.
"Nona Muda, maaf aku datang terlambat!" Kakek Hyogoro datang dan membawa tubuh Cika keluar rumah Bangsawan Kochi.
Kakek Hyogoro melihat penjaga yang masih takut dengannya.
__ADS_1
"Cepat ikuti aku, kalian akan bertemu dengan Tuan Yoshimitsu!" Kakek Hyogoro berlari meninggalkan kediaman Bangsawan Kochi diikuti penjaga rumah dari belakang.
Cika terkejut mendengar perkataan Kakek Hyogoro dengan perasaan cemas dan bahagia karena tahu bahwa ayahnya masih hidup, Cika tidak sabar untuk melihat Yoshimitsu.