Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 156 - Ibu Kota Daifuzen


__ADS_3

Mengingat pertemuannya dengan beberapa pendekar di Penginapan Bunga Badai membuat Nagato masih sedikit kesal, keesokan harinya Nagato langsung pergi bersama yang lain menuju Ibu Kota Daifuzen.


Selama perjalanan menuju Ibu Kota Daifuzen, Nagato masih mengingat sosok pemuda yang mengawasi pendekar dari Klan Fuyumi. Dalam perjalanan Nagato beberapa kali mendengar Emi dan Shirayuki berbicara tentang beberapa orang yang mengincar Iris.


Gadis berparas cantik seperti ibunya itu memiliki tubuh jelmaan dewi salju yang dapat membuat sebuah keajaiban. Emi melakukan penjagaan ketat pada Iris dan Litha selama perjalanan, setelah mengecek tangan Litha dengan merasakan denyut nadinya. Alangkah betapa terkejutnya Emi setelah mengetahui Litha memiliki tubuh jelmaan dewi pengobatan.


Satu hal yang paling mengejutkan Emi adalah Nagato yang memiliki tubuh jelmaan dewa api yang sama dengan Pandu. Tetapi tubuh Nagato sudah lemah sejak lahir, penyakit jantung yang membuatnya hanya mampu hidup hingga berumur lima belas tahun membuat Emi merenungkan langkahnya untuk menolong Nagato.


Pemuda yang sedang berjalan disamping cucunya membuat Emi tertarik, Nagato dapat sembuh setelah melakukan hubungan badan dengan salah satu dari tiga gadis yang ada dipikiran Emi. Ketiga gadis tersebut tak lain adalah Iris, Litha dan Hisui.


Emi menyadari khasiat dari pernapasan yang selalu Nagato lakukan, menyatu dengan alam dan mengingat dengan Sang Pencipta setiap hembusan napas kita.


"Nagato, menurutmu pernapasan itu apa?" Emi bertanya pada Nagato sambil melirik pemuda yang sedang berjalan di dekat cucunya, perkataan Emi membuat Iris, Litha, Hika dan Tika menoleh melihat Nagato.


"Aku pernah diberitahu mendiang ayahku." Nagato secara tidak sadar hendak menyebutkan nama ayahnya, tetapi dia melihat wajah keempat gadis yang terlihat penasaran dengan jawabannya, sehingga Nagato tidak kelepasan dalam mengucapkan hal yang tidak perlu. "Pernapasan langsung berkaitan dengan alam dan Tuhan. Pada setiap tarikan napas, dan hembusan napas kita, baik mendiang ayahku dan Kakek Hyogoro selalu mengingatkanku agar aku selalu mengingat Tuhan dalam setiap hembusan napas kita."


"Kenapa Nenek Emi menanyakan hal itu?" Nagato keheranan menatap Emi yang berhenti berjalan. Tidak berapa lama Emi bergumam pelan menatap Nagato. "Pandu..."


Nagato kembali berjalan karena melihat Emi yang diam selama beberapa detik, Iris kagum dengan Nagato yang selalu bertindak di luar perkiraannya. Setiap tindakan, perkataan dan emosi yang ditunjukkan Nagato sangat alami dari sifatnya yang terkadang terlihat kuat dan baik-baik saja, tetapi terkadang Nagato juga terlihat sangat rapuh dan tak tersentuh dalam jangkauan Iris.


"Oh, iya, Litha. Ngomong-ngomong, Kakek Hyogoro sekarang sedang berada di mana?" Nagato berjalan di samping Litha sambil melirik jepit rambut yang dikenakan gadis tersebut.


"Entahlah ... coba Nagato tebak sendiri." Litha tersenyum manis menatap Nagato. "Sepertinya Kakek sedang minum-minum sambil menikmati makanan, tetapi Kakek tidak memberitahu kita berdua tentang tujuannya meninggalkan kita di bersama Bibi Shirayuki," tambah Litha sendu.


"Kakek Hyo, pasti sedang berkelana. Menarik sekali." Nagato tersenyum tipis di balik topeng rubah putih, tangannya menyentuh pundak Litha. "Jangan bersedih Litha. Aku yakin Kakek Hyo mempunyai sesuatu yang disembunyikan dari kita, demi kebaikan kita berdua." Litha mengangguk pelan mendengar perkataan Nagato.

__ADS_1


Shirayuki tersenyum melihat Nagato dan Litha yang sedang membicarakan Kakek Hyogoro. Perlahan Shirayuki mendekati Nagato dan Litha sambil mengusap rambut mereka berdua.


"Ada Bibi Shirayuki disini, jadi jangan khawatir," ucap Shirayuki menenangkan Nagato dan Litha.


Litha mengangguk pelan sambil menikmati sentuhan hangat tangan Shirayuki di rambutnya. Tidak terasa mereka telah sampai di Ibu Kota Daifuzen yang merupakan ibu kota dari Kekaisaran Kai.


Penjaga pintu masuk menyuruh Emi mengisi surat dan menunjukkan sebuah kartu. Shirayuki menyuruh Oichi dan Ichiba berada di samping kiri dan kanan pendekar muda Klan Fuyumi.


"Kakak Oichi, tenang saja. Kami tidak perlu pengawal." Iris tersenyum tipis melihat Oichi yang berdiri di samping kirinya.


"Jujur aku sangat risih seperti ini." Nagato mengeluh sambil kepalanya menatap langit.


Oichi tertawa pelan melihat tingkah Nagato dan Iris yang memprotes tindakan Shirayuki. "Jangan anggap remeh ibu kota, kalian berdua. Tempat ini sangat berbeda dengan Utara." Oichi kembali mengingatkan tentang kejadian kemarin malam pada Nagato dan Iris.


Setelah Emi selesai mengurus surat, dengan cepat dia mengajak yang lain untuk segera memasuki Ibu Kota Daifuzen. Dalam satu langkah kaki yang pasti, Nagato melebar matanya melihat bangunan kota yang sangat megah dan berbeda dari kota lainnya di Kekaisaran Kai.


Banyak lelaki yang mencuri-curi pandang menatap Shirayuki. Ada perasaan kesal pada Nagato melihat tatapan penuh nafsu dari beberapa pria yang sedang dirinya tatap.


"Bibi Shirayuki, apa boleh aku membakar mereka?" Nagato bertanya pada Shirayuki dengan nada kesal sedikit bercanda.


"Ssst ... Nagato gak boleh ngomong begitu," ujar Shirayuki menatap Nagato sambil menyentuh bibir pemuda tersebut dengan jari telunjuknya. "Terimakasih sudah perhatian sama bibi." Shirayuki mengedipkan matanya pada Nagato.


Wajah Nagato merah padam melihat Shirayuki. Matanya sedikit melirik laki-laki yang sedang melihat Shirayuki. Tatapan mereka menunjukkan sorot mata iri pada Nagato.


"Cepat ikuti aku." Emi berjalan dengan cepat menuju sebuah penginapan yang telah disiapkan khusus untuk Klan Fuyumi di Penginapan Matahari Timur.

__ADS_1


Panitia penyelenggara Turnamen Harimau Kai membagi penginapan besar menjadi dua, pertama kubu barat yang berada dekat dengan kediaman Satra. Sementara itu penginapan yang telah disiapkan untuk kubu timur berada dekat dengan Arena Lingkaran Harimau.


Penginapan Matahari Timur memiliki halaman yang cukup luas, rumput hijau tumbuh dengan rapi di depan penginapan. Pohon-pohon sakura juga ada di sekitar Penginapan Matahari Timur.


Setelah sampai di Penginapan Harimau Timur beberapa pendekar dari kubu timur terlihat sudah sampai terlebih dahulu. Klan Fuyumi mendapat bagian penginapan yang dekat dengan Klan Misuzawa. Kedua klan tersebut bersebalahan tempat menginapnya.


Setelah mengamati Penginapan Matahari Timur sesaat, Nagato menyipitkan matanya menatap tajam bayangan dua gadis kembar. Tidak berapa lama bayangan tersebut terlihat semakin jelas.


Nagato melihat dua gadis kembar yang berlari cepat ke arah Litha. Dua gadis kembar yang tumbuh dengan baik, terlihat jelas di mata Nagato.


"Menarik, sepertinya Chiaki dan Chaika juga berjuang keras." Nagato menatap Chiaki dan Chaika yang sedang berpelukan dengan Litha. "Dimana Ninjin? Apa dia berhasil menjadi murid Klan Kitakaze?" Nagato bertanya-tanya dalam hatinya sambil mencari keberadaan Ninjin.


"Lama tidak berjumpa, Chiaki, Chaika..." Nagato menyapa Chiaki dan Chaika yang sedang berpelukan dengan Litha.


"Ini pasti, Nagato." Reflek tangan Chiaki memegang tangan Nagato yang sedang melambai pelan pada mereka berdua. "Kenapa kamu memakai topeng rubah putih imut ini, Nagato?" Chiaki memiringkan kepalanya ke samping kebingungan.


"Aku hanya ingin menutup wajahku saja, hanya itu saja alasanku." Nagato menyentuh topeng rubah putih sambil menatap Chiaki dari balik topeng rubah putih yang dia kenakan.


"Jangan terkejut ya Nagato. Aku dan Chaika telah menjadi pendekar perempuan dari Kitakaze bersama Kak Yuri." Chiaki tersenyum sambil memutarkan tubuhnya kegirangan.


"Ini adalah hal yang baik..." Nagato bergumam pelan menanggapi perkataan Chiaki.


Tidak berapa lama Emi memanggil lima pendekar muda dari Klan Fuyumi yang masih berbincang-bincang dengan Chiaki dan Chaika untuk segera masuk ke dalam penginapan. Dengan tegas Emi menyuruh kelima pendekar muda yang mewakili Klan Fuyumi untuk beristirahat merileksasikan tubuh mereka.


Emi ingin mengajari mereka berlima bela diri tangan kosong. Perhatian Emi sangat terlihat pada lima pendekar muda yang mewakili Klan Fuyumi.

__ADS_1


"Dua hari dari sekarang, Turnamen Harimau Kai akan dimulai," kata Emi pada Nagato dan yang lainnya. Perkataan Emi membuat Nagato, Iris, Litha, Hika dan Tika tersenyum tipis sebelum mengikuti latihan ringan arahan Emi.


__ADS_2