
Nagato yang terkena racun tubuhnya begitu panas dalam keadaan tertidur wajah pemuda itu terlihat begitu pucat.
"Kakek ... apa Nagato akan baik - baik saja?" Litha cemas melihat Nagato yang terbaring di kasur penginapan Desa Ninniku.
Kakek Hyogoro mengerutkan dahinya karena setelah mendengar penjelsan Litha dan Rini ketika Nagato bertarung melawan ST 14, dirinya yakin bahwa Nagato merupakan garis keturunan khusus yang memiliki darah murni marga Kagutsuchi yang telah dinanti para leluhur Nagato selama ribuan tahun.
"Kekuatan yang tidak dapat ditiru ataupun dipelajari oleh orang lain, kemampuan yang diwariskan pada satu garis keturunan ... " guman Kakek Hyogoro sekarang dirinya merasa yakin bahwa Nagato juga memiliki tubuh Jelmaan Dewa Api hanya saja satu hal yang membuat Kakek Hyogoro cemas adalah Kutukan Kuno Dewa Kematian yang memilih tubuh Nagato sebagai tubuhnya.
"Kemungkinan Nagato sulit berumur panjang jika tidak ... " batin Kakek Hyogoro yang sedang memijat keningnya.
Litha terdiam selama beberapa saat kemudiam menatap Kakek Hyogoro dengan mata yang berkaca - kaca.
"Aku harus merahasiakan hal ini karena aku sudah berjanji kepada ibuku ... tetapi Nagato juga sudah menceritakan masa lalunya dan berterus terang padaku." Litha bimbang ingin memberitahukan sesuatu yang sangat penting pada Kakek Hyogoro tetapi dirinya merasa takut karena sulit baginya mempercayai seseorang.
"Kakek sudah menolongku dan Nagato adalah temanku ... aku percaya pada mereka." batin Litha membulatkan tekadnya untuk menceritakan sebuah rahasia keluarganya kepada Kakek Hyogoro.
"Kakek sebenarnya tubuhku ... " Litha menjelaskan kepada Kakek Hyogoro bahwa dirinya memiliki tubuh yang spesial karena darah dan kulitnya bisa menyembuhkan penyakit manusia.
Kakek Hyogoro terkejut mendengar pengakuan Litha dan dirinya tidak menyangka akan memiliki dua murid seperti ini.
"Tubuh Dewi Pengobatan ... ini sangat langka." Kakek Hyogoro memijat keningnya sambil memikirkan sebuah cara untuk menyelamatkan Nagato.
"Litha ulurkan tanganmu." Kakek Hyogoro menatap Litha dan menyuruh gadis kecil itu mengulurkan tangannya karena dirinya ingin memeriksa denyut nadi Litha untuk memastikan apa yang diucapkan oleh Litha sebuah kebohongan atau tidak.
__ADS_1
"A-Aku tidak menyangka akan memiliki dua murid yang begitu luar biasa." gumam Kakek Hyogoro yang telah selesai memastikan bahwa tubuh Litha memiliki kekuatan Dewi Pengobatan.
"Litha jangan beritahukan hal ini kepada siapapun ... cukup kita berdua dan Nagato yang mengetahui hal ini." Kakek Hyogoro menatap Litha dan menyentuh pundaknya.
"Iya kek." Litha tersenyum dirinya merasa lega karena telah menceritakan rahasia tentang tubuhnya pada Kakek Hyogoro.
"Kakek aku akan menyuruh Nagato menghisap darahku." Litha menghampiri Nagato dan mengangkat kepala pemuda itu untuk menyandarkannya pada pundaknya.
"Li-Litha ... " gumam Nagato dengan suara yang terdengar lemas.
"Nagato gigit leherku." Litha memerah wajahnya sedikit malu ketika membuka sedikit baju bagian atasnya.
Nagato hanya menuruti perkataan Litha dan menggigit leher putih gadis kecil tersebut.
"Nagato gigit bukan sep-" Litha memerah wajahnya karena dirinya melihat Nagato mengemut lehernya, pemuda itu sepertinya salah mendengar perkataan Litha.
"Mmm .... mmmm." gumam Nagato yang sedang mengemut kulit leher Litha.
Tidak lama Litha melepas memegang tubuh Nagato dan menatap wajah pemuda itu.
"Eh? Nagato wajahmu pucat sekali .... apa kamu demam tinggi?" Litha ingin memarahi Nagato yang mengecup lehernya tetapi setelah melihat wajah pemuda itu dirinya menjadi luluh karena kasihan.
"Gigit leherku dan hisap darahnya sedikit!" Litha mencoba menjelaskan kepada Nagato tetapi pemuda itu hanya menggumam sambil mencoba membuka matanya yang terlihat sangat mengantuk.
__ADS_1
Litha memeluk kepala Nagato dan membenamkan pada lehernya.
"Gigit." Litha berbisik ditelinga Nagato yang terasa panas ketika pipinya bersentuhan dengan telinga Nagato.
Nagato menggigit leher Litha kemudian menghisap darahnya sedikit.
Litha meringis menahan rasa sakit dan geli ketika Nagato menggigit lehernya.
"Sudah cukup!" Litha membaringkan tubuh Nagato diranjang kembali dan dirinya menatap wajah Nagato dengan malu - malu.
Wajah Nagato yang pucat kembali cerah secara perlahan - lahan dan suhu panas ditubuhnya juga telah menurun.
"Li-Litha ... mmmm." gumam Nagato yang sedang memejamkan matanya dan tersenyum tipis.
"A-Apa kau sudah se-sembuh?" Litha memalingkan wajahnya karena malu menatap Nagato walau dirinya merasa begitu khawatir pada pemuda tersebut.
"Tadi aku bermimpi menggigit lehermu dan setelah itu aku merasa sembuh." jawab Nagato pelan dengan mata yang masih tertutup.
"Eh? K-Kamu harus melupakan mimpi itu." wajah Litha memerah karena Nagato telah menggigit lehernya.
"Y-Ya." Nagato tertidur lelap setelah sembuh sedangkan Litha tidak menyangka akan ada kejadian yang seperti ini dalam hidupnya.
Kakek Hyogoro yang mencoba mendengar pembicaraan kedua muridnya dari balik pintu hanya tersenyum kecil karena tingkah Litha dan Nagato.
__ADS_1