
Nagato dan Heise saling menatap tajam satu sama lain, tidak berapa lama Heise mengeluarkan sebuah tombak. Semua penonton mulai bersorak melihat Heise yang terlihat tangguh, sementara itu Nagato hanya mengamati gerakan Heise.
Pendekar yang menjadi atasan klan dan Sepuluh Tetua Kai mengamati Nagato. Mereka semua menyadari Nagato terlihat seperti seekor harimau yang sedang membiarkan mangsanya mendekat.
Heise dengan senyum meremehkannya mulai melakukan pergerakan, tangannya memutarkan tombaknya. Dengan langkah yang cepat dia mulai mengayunkan tombaknya mengincar ulu hati Nagato.
Semua orang yang bersorak mendukung Heise langsung terdiam, serangan Heise tidak ada yang mengenai Nagato sama sekali. Kelincahan dan kegesitan Nagato yang menghindari setiap serangan Heise membuat dukungan penonton beralih pada Nagato.
Hideaki mengkerutkan wajahnya melihat Heise yang tidak berdaya melawan Nagato. Tidak ada serangan yang dilesatkan Nagato pada Heise. Hal yang dilakukan Nagato hanya menghindari serangan Heise sambil memejamkan matanya.
"Kiri ... kanan ... kemudian dia mengincar ulu hatiku kembali." Nagato memejamkan matanya dan melakukan konsentrasi secara penuh sambil mengolah pernapasan. Setelah menghindari serangan Heise selama beberapa menit, Nagato mulai mengeluarkan auranya yang berwarna emas ke arah Heise dan Mujin.
Semua pendekar yang baru melihat warna aura Nagato terkejut, mereka semua merapatkan giginya. Sosok Nagato membuat mereka penasaran dengan identitasnya.
"Bagaimana bisa dia menghindari setiap seranganku?" ucap Heise dengan napas yang terengah-rengah. Pandangan matanya melihat Nagato yang masih berdiri tegak dan tidak bergerak dari tempatnya, melihat hal itu membuat Heise marah pada Nagato.
"Rasakan ini!" Heise melemparkan tombaknya dengan sekuat tenaganya ke arah Nagato. Semua orang yang melihat pertandingan ketiga ini menatap Nagato yang berlari ke arah tombak.
"Bara Api."
Nagato melepaskan auranya dan memanipulasinya menjadi api. Tangannya mengepal, dalam konsentrasinya dia melesatkan pukulan tangan ke arah tombak. Api berkobar di udara membentuk sebuah pukulan tangan.
Semua penonton mulai bersorak mendukung Nagato. Pukulan tangan Nagato membuat tombak Heise terpental ke belakang kembali.
Melihat raut wajah Heise yang sama dengan anak-anak seusianya yang belajar bela diri untuk mencari ketenaran, tentu hal itu sangat membuat Nagato merasa muak. Nagato mengolah pernapasan sambil menggunakan tenaga dalamnya untuk mengakhiri pertandingan.
Nagato memusatkan tenaga dalamnya pada kedua telapak kakainya yang menjadi tumpuan, ketika dia berlari dirinya terlihat seperti menghilang. Semua penonton kebingungan tidak melihat keberadaan Nagato.
"Di mana dia?" Heise menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Nagato.
"Aku di sini." Nagato sudah siap melepaskan pukulannya yang dilapisi api pada Heise. Raut wajah Heise pucat pasi, untuk bergerak saja sudah sangat sulit.
Nagato memukul perut Heise hingga pemuda itu terpental ke belakang, tidak memberi kesempatan pada lawannya untuk memulihkan tenaganya, Nagato berniat melakukan serangan kembali tetapi Mujin menahan Nagato dengan menyentuh pundak pemuda tersebut.
"Pemanang pertandingan ini adalah Fuyumi Nagato." Mujin mengangkat tangan Nagato dan mengakhiri pertandingan. Semua penonton terkejut dengan kemampuan kecepatan Nagato yang mampu membius mereka, bahkan pertandingan ini membuat pendekar muda tak bermahkota yang sedari tadi diam mulai menunjukkan ekspresi wajah mereka.
Heise masih terbaring di atas tanah, tidak berapa lama tim medis mengangkat Heise menggunakan tandu dan membawanya ke dalam ruangan kesehatan yang ada di Arena Lingkaran Harimau.
Nagato berjalan dengan santai menuju bangku penonton tempat Klan Fuyumi. Kemudian dia duduk di samping Iris dan Shirayuki.
"Berjalan mulus ya Nagato," ucap Shirayuki pada Nagato sambil melihat Nagato yang tidak menunjukkan ketertarikan sama sekali.
"Sejujurnya aku bisa mengakhirinya lebih cepat, tapi aku tidak ingin meremehkannya, hanya saja saat melihat wajahnya ... tatapannya itu sangat membuatku muak," jawab Nagato dengan sedikit emosi.
"Murid dari perguruan besar, dan anak-anak yang telah merasakan ketenaran, mereka akan memandang rendah yang lainnya," balas Shirayuki sambil memainkan kipasnya.
"Fuyumi Litha, Ryuko! Dua nama yang kupanggil, silahkan maju ke depan!" Mujin berteriak dengan lantang sambil memasang ekspresi wajahnya yang santai.
"Litha, berjuanglah ... tetap fokus dan jangan remehkan lawanmu," ucap Emi menenangkan Litha yang terlihat gugup.
"Ya, nenek." Litha tersenyum sambil menarik napas panjang dan langsung menghembuskannya, Litha ingin menenangkan diri dengan melakukan hal itu.
"Litha jangan sampai kalah," ucap Nagato pada Litha sambil tersenyum dari balik topeng rubah putih yang dia kenakan.
__ADS_1
"Ya," jawab Litha singkat sambil membalas senyuman Nagato dengan manis.
Litha berjalan menuju lapangan, sementara itu Ryuko sudah menunggu Litha di lapangan. Tepuk tangan penonton sangat meriah, mereka semangat melihat gadis muda cantik yang tidak kalah cantiknya dengan Iris.
Di salah satu bangku penonton, tempat para pendekar Klan Kuromachi menonton, Kurose menjilat bibirnya sendiri ketika melihat Litha berjalan. Entah apa yang ada dipikirannya, tetapi Kurose terlihat begitu mencintai Litha hanya karena nafsu.
"Fuyumi Litha dari Klan Fuyumi dan Ryuko dari Pedang Naga Sakti ... apakah kalian berdua masih ingat dengan peraturannya?" Mujin bertanya pada Litha dan Ryuko yang saling berhadapan.
Litha dan Ryuko mengangguk pelan sebelum mereka berkata. "Kami masih ingat peraturannya," ucap Litha dan Ryuko secara bersamaan.
Ryuko menggunakan pedang sebagai senjatanya, ukiran naga terlihat jelas di pedangnya. Untuk sesaat Ryuko mengamati Litha yang terlihat seperti anak yang bukan berasal Kekaisaran Kai.
"Namamu Fuyumi Litha, bukan?" Ryuko bertanya pada Litha sambil tersenyum manis pada lawannya itu.
Litha mengangguk pelan sambil membalas senyuman Ryuko.
"Namaku Litha, salam kenal ya." Litha mengulurkan tangannya pada Ryuko. Kemudian Ryuko menjabat tangan Litha.
"Aku Ryuko, senang berkenalan denganmu, Litha." Ryuko tersenyum lembut pada Litha dan menjabat tangan lawannya itu.
Penonton yang melihat kedua gadis muda saling berjabat tangan langsung bersorak, mereka tidak sabar menantikan pertarungan antara Litha melawan Ryuko di pertandingan keempat Turnamen Harimau Kai ini.
Mujin menatap Litha dan Ryuko yang terlihat saling mengerti perasaan masing-masing sebagai seorang perempuan, kemudian dia menyuruh keduanya mengambil jarak.
"Ambil jarak, dengarkan aba-aba dariku, mengerti?" Mujin melihat Litha dan Ryuko yang menjaga jarak. Mereka berdua mengangguk pelan sambil berusaha untuk tetap tenang dan menghilangkan kegugupan mereka.
Litha dan Ryuko sama-sama baru mengikuti Turnamen Harimau Kai. Walau umur Ryuko lebih tua setahun, karena umurnya tiga belas tahun, tetapi ini adalah pertama kali bagi Ryuko mengkuti pertandingan antar perguruan atau klan.
"Aku harus lolos ke babak selanjutnya ... lihat aku Nagato, Iris, Hika, Tika..." Litha memegang pedangnya yang memiliki ukiran corak bunga.
"Pertandingan keempat Turnamen Harimau Kai antara Fuyumi Litha dari Klan Fuyumi melawan Ryuko dari Pedang Naga Sakti, dimulai!" Tepat setalah aba-aba dari Mujin memulai pertandingan keempat Turnamen Harimau Kai. Sorakan penonton terdengar menggema ke seluruh pelosok Arena Lingkaran Harimau.
Litha dan Ryuko saling mengamati satu sama lain, keduanya saling mewaspadai kekuatan satu sama lain. Ryuko memulai serangan pertama kali pada Litha. Pedang berwarna kuning milik Ryuko terayun ke kanan dan ke kiri menyerang Litha.
"Sirih." Litha menarik napas panjang dalam satu tarikan napasnya, kemudian dia menyalurkannya ke setiap bagian tubuhnya kecuali kepala.
Litha dapat menangkis tebasan pedang dari Ryuko. Keduanya bertukar tebasan selama beberapa detik sebelum mulai menggunakan teknik pedang mereka masing-masing. Permainan pedang Litha yang berbeda dengan Klan Fuyumi membuat semua orang berdecak kagum, langkah kaki Litha terlihat begitu indah dan penuh dengan seni.
Litha dan Ryuko bertukar jurus pedang yang menjadi teknik andalan masing-masing. Ryuko mulai melakukan beberapa langkah tipuan, tebasan pedangnya sangat dalam dan terisi.
Benturan pedang dari Litha dan Ryuko menggema di lapangan Arena Lingkaran Harimau. Keduanya terus melancarkan serangan, beradu tebasan selama beberapa menit.
Ryuko menebaskan pedangnya dari kiri ke kanan dengan cepat, tetapi Litha dapat menahannya. Semua orang terdiam dan hanya kagum dengan pertandingan yang mereka lihat.
"Teknik Pedang Pertama Aliran Pedang Naga Sakti : Cengkeraman Naga."
Ryuko menggunakan teknik pedang yang hanya diajarkan di Pedang Naga Sakti. Tebasan pedang Ryuko menciptakan sebuah cakar hewan buas berwarna kuning yang melesat cepat ke arah Litha.
"Tarian Peri Air."
Litha membalas serangan Ryuko dengan menggunakan teknik pedang yang dia ciptakan sendiri, teknik itu tercipta berkat ajaran Kakek Hyogoro. Langkah Litha terlihat seperti menari dan terlihat indah, semua orang diam selama beberapa detik ketika langkah kaki Litha menciptakan lintasan air.
Penonton benar-benar terbius melihat Litha yang terlihat seperti menari, tetapi tariannya terasa seperti pembunuh yang membuat lawannya kagum sebelum membunuhnya.
__ADS_1
Cakar hewan buasa berwarna kuning milik teknik pedang Ryuko dapat ditangkis oleh Litha. Benturan kedua jurus milik Litha dan Ryuko terbang ke atas dan meledak menjadi sebuah aura berwarna kuning bercampur biru.
Semua penonton yang melihat pertandingan keempat Turnamen Harimau Kai semakin berdecak kagum.
"Luar biasa! Litha dan Ryuko sangat hebat di usia mereka yang muda!"
"Semangat Fuyumi Litha!"
"Jangan sampai kalah Ryuko dari Pedang Naga Sakti!"
Para penonton mulai memberi dukungan pada peserta yang memikat hati mereka dengan permainan pedangnya.
Ryuko mengerutkan dahinya melihat teknik pedangnya dapat ditangkis oleh Litha. Setelah mengatur napasnya yang terengah-rengah Ryuko menggunakan teknik kedua dari Pedang Naga Sakti.
"Teknik Pedang Kedua Aliran Pedang Naga Sakti : Sabit Ekor Keemasan."
Ryuko melepaskan auranya dan tenaga dalamnya secara bersamaan, kemudian dia mengalirkan auranya yang berwarna kuning pada pedangnya. Setelah pedangnya bercahaya, Ryuko berlari dengan cepat ke arah Litha sambil mengayunkan pedangnya.
Sementara itu Litha mengolah pernapasannya dan melepaskan auranya yang berubah menjadi warna merah muda. Perlahan Litha memanipulasi auranya menjadi sebuah air padat yang tajam melapisi pedangnya. Lagi-lagi kehebatan Litha dalam menggunakan auranya maupun kemahirannya dalam memanipulasi auranya membuat semua orang berdecak kagum.
Setelah melihat Ryuko semakin mendekat padanya, Litha juga berlari ke arah Ryuko dengan menggunakan langkah kakinya yang lembut mengikuti gerakan Nagato. Serangan mendadak dari Litha tidak disangka oleh Ryuko.
"Putaran Jarum Air."
Litha memutarkan tubuhnya, kemudian dia menebaskan pedangnya pada Ryuko. Puluhan jarum berbentuk air padat menyerang Ryuko. Serangan Litha tidak berhenti disitu saja, serangan keduanya menyusul ketika Litha menebaskan pedangnya dan menciptakan sebuah sabit berwarna biru muda ke arah Ryuko.
Benturan teknik kali ini lebih besar, baik Litha dan Ryuko berusaha menahan tubuh mereka yang terhempas angin. Serangan milik Litha yang tidak memberi waktu untuk Ryuko membalas serangannya, membuat Ryuko terdesak, dalam sekali langkahnya yang cepat, Litha berhasil menodongkan pedangnya tepat di leher Ryuko. Sementara itu kakinya menendang tangan Ryuko yang memegang pedang bersamaan dengan dirinya saat menodongkan pedangnya pada Ryuko. Kecepatan Litha membuat Ryuko tidak dapat bereaksi sama sekali dan mengantisipasi serangan susulan yang dilancarkan Litha.
Napas dari kedua gadis muda terdengar, mereka berdua saling menatap tajam satu sama lain selama beberapa detik, tidak berapa lama kemudian Ryuko mengangkat kedua tangannya dan menyerah.
"Aku menyerah, Litha, kau pemenangnya." Ryuko dengan lega mengangkat kedua tangannya, tidak ada rasa dendam dan kekesalan yang terukir di wajah Ryuko maupun di hati Ryuko.
"Aku harus berlatih lebih giat lagi, sampai jumpa tahun depan, selamat Litha kamu lolos ke babak selanjutnya." Ryuko memberi selamat pada Litha.
Tindakan Ryuko membuat semua orang memberi tepuk tangan pada kedua gadis muda yang telah selesai bertanding. Mujin maju mendekati Litha dan Ryuko. Kemudian dia menyuruh kedua gadis tersebut untuk saling berjabat tangan.
"Terimakasih Ryuko. Aku akan berjuang demi dirimu di babak selanjutnya," ucap Litha ketika tangannya menjabat tangan Ryuko.
"Teknik dan kecepatnmu seperti pemuda bertopeng itu. Sungguh hebat, wakil dari Klan Fuyumi tahun ini." Ryuko tersenyum lembut pada Litha.
"Terimakasih..." Litha hanya tersenyum membalas senyuman lembut Ryuko. Tidak berapa lama dia membatin. "Semua ini berkat Kakek," batin Litha mengingat jasa-jasa Kakek Hyogoro yang selalu ada untuk dirinya dan Nagato.
Selesai bersalaman, Ryuko mengambil pedangnya yang terjatuh di tanah. Kemudian Mujin mengumumkan Litha sebagai pemenangnya.
"Pemenang pertandingan keempat ini adalah Fuyumi Litha perwakilan dari Klan Fuyumi!" Mujin berteriak pada penonton diiringi suara gemuruh penonton memberi tepuk tangan mereka kepada Litha.
Selesai bertanding, Litha dan Ryuko kembali ke tempat mereka masing-masing. Litha kembali bergabung dengan pendekar muda perwakilan dari Klan Fuyumi yang lainnya, sedangkan Ryuko kembali duduk menonton bersama pendekar dari Pedang Naga Sakti.
Di kerumunan penonton, Hayabusa tertawa pelan mengambil taruhan yang menjadi hadiahnya.
"19,220 keping emas ini menjadi milikku. Kalian sungguh luar biasa mendukung Heise dari Ikatan Darah Tunggal, hahaha." Hayabusa tertawa dan mengantongi uang yang baru saja dia dapatkan.
"Akan dibawa kemana Kekaisaran Kai? Apakah ada orang yang dapat menantang semua orang yang ada di sini suatu hari nanti, jika ada, maka dengan senang hati aku akan mengikutinya." Hayabusa bergumam pelan sebelum mencari penjual makanan.
__ADS_1
Hideaki berdecak kesal karena kalah taruhan, kemudian dia kembali berkumpul dengan Sepuluh Tetua Kai yang menonton bersama keluarga Kaisar Hizen.