
Ketika Nagato berdiri sambil menggegam pedangnya, seorang gadis kecil yang berparas cantik dan dingin menampar pipi Nagato dengan begitu keras.
"GEPREK."
Tamparan tangan Iris membuat pipi Nagato menjadi merah.
Sontak semua orang yang melihat tindakan Iris yang menampar Nagato terkejut dan melihat mereka berdua.
"Iris, kamu kenapa?" Hika bertanya kepada Iris karena teman baiknya itu menampar pipi Nagato dengan cukup keras hingga terdengar suara yang begitu syahdu dari tamparan Iris.
"Hika ... Hika ... Iris ingin menyuruh Nagato untuk tetap tenang!" Sahut Tika sambil berjalan menghampiri Hika dan menepuk pundak saudari kembarnya itu.
"Hmmmm ... sepertinya gadis kecil ini boleh juga ... " batin Serlin sambil menatap Iris.
"Tenangkan dirimu! Jangan terbawa emosi sesaat!" Iris menatap Nagato dengan tajam, hembusan nafas mulut Iris yang dingin terasa di wajah Nagato.
Nagato memalingkan wajahnya dan termenung selama beberapa detik, dirinya tidak menyangka akan ada seseorang yang mampu membuatnya terdiam seribu bahasa.
Setelah tenang Nagato menatap Iris dengan tatapan tajam, mereka berdua saling menatap satu sama lain.
"Sialan ... " gumam Nagato pelan.
"Apa katamu?" Iris mendekati Nagato dan menatapnya lebih dekat.
Kali ini hembusan nafas Iris lebih terasa dan membuat kulit wajah Nagato sedikit terasa dingin karena wajah Iris terlalu dekat dengannya.
Nagato menghela nafas panjang kemudian menepuk pundak Iris dengan tangannya.
"Singkirkan tanganmu!" ucap Iris ketika bahunya dipegang oleh Nagato.
"Aku hanya ingin berterima kasih padamu!" Nagato sedikit kesal dengan sikap gadis didepannya itu.
Nagato berjalan mendekati Kuina, gadis itu pingsan dan terluka cukup parah di badannya karena menahan pukulan X 2.
Nagato memikirkan sesuatu selama beberapa saat, setelah itu dia berbicara pada Serlin.
"Kak Serlin, izinkan aku turun untuk bertarung!" Nagato terlihat tenang sekarang.
Entah mengapa dirinya bisa bersikap tenang dan tidak membiarkan amarah mengendalikan dirinya, Nagato sedikit tertarik pada Iris dan Litha yang mampu membuat perasaannya menjadi lebih baik akhir - akhir ini.
"Nagato, kamu jangan bercanda? Bukankah kamu melihat sendiri ... aura berwarna hitam miliknya dan jangkauan aura intimidasinya yang luas itu!" Serlin memandang Nagato dan berusaha menyuruhnya agar tidak bertindak secara gegabah.
"Sekarang aku sudah tenang!" Nagato menjawab singkat sambil memandang Serlin dan berusaha untuk meyakinkan gadis itu.
__ADS_1
"Tidak Nagato, kau tidak boleh bertindak gegabah! Aku tidak akan mengizinkanmu!" Serlin terlihat begitu khawatir pada Nagato sehingga gadis itu sedikit emosi karena anak dari gurunya terus mendesaknya.
"Kak Serlin, aku mohon ... aku tidak akan bertindak gegabah!" Nagato mencoba untuk meyakinkan Serlin kembali.
"Nagato ... apa kamu tidak mendengar perkataanku!" suara Serlin meninggi dan menatap tajam Nagato.
Serlin menatap mata Nagato, dirinya terkejut melihat pancaran mata Nagato yang dipenuhi dengan kepercayaan diri kepada diri sendiri dan seorang pria yang telah membulatkan tekadnya.
"Guru Pandu ... " gumam Serlin pelan ketika melihat wajah dan tatapan mata Nagato.
Mula - mula Serlin ragu, apakah mampu Nagato mengalahkan manusia buas X 2 yang melukai Kuina dengan cukup parah, setelah terus didesak oleh Nagato akhirnya Serlin mengizinkan pemuda itu untuk maju melawan manusia buas X 2 yang telah melukai Kuina.
"Kak Serlin cukup sembuhkan Kuina dengan sihir penyembuhan kalau bisa disaat bersamaan gunakan sihir untuk memperkuat senjataku!" Nagato berjalan meninggalkan Serlin.
Nagato berjalan menghampiri seorang gadis kecil yang berdiri dan terlihat anggun karena hawa disekitar gadis kecil itu terasa dingin.
"Woy, bukankah kau seorang pendekar?" sapa Nagato seraya berjalan menghampiri Iris yang tetap cuek dengannya dan terlihat tidak peduli.
"Woy katamu? Aku mempunyai nama!" Iris mengerutkan dahinya mendengar Nagato yang menyapanya itu, gadis kecil itu membalikkan badannya dan menatap tajam Nagato.
"Namaku Fuyumi Iris, ingat namaku itu dikepalamu!" Iris menyentil dahi Nagato.
Nagato menutup matanya, dan sekarang dia merasa begitu kesal dengan sikap dingin Iris, gadis kecil itu menatap Nagato seperti menunggu sesuatu.
"Namamu?" Iris menatap dingin Nagato.
Bukannya menjawab pertanyaan Iris, kali ini Nagato menghampiri Tika dan Hika, sedangkan dia menghiraukan pertanyaan Iris bahkan mengabaikan gadis kecil yang berparas cantik dan manis yang mirip dengan ibunya itu.
"Bolehkah, Aku meminjam busur panah itu?" Nagato menunjuk Busur panah yang dibawa oleh Hika.
"Eh ... ini ... silahkan." Hika gugup karena Nagato menghampirinya.
"Tika ... Tika ... dia menghampiriku!" ucap Hika pelan sambil melompat kecil.
"Hika ... Hika ... dia sama seperti Iris tatapan matanya begitu dingin! Keren!" Tika memandang Nagato yang kian menjauh dari mereka berdua.
Nagato berjalan mendekati X 2 sambil membawa busur panah di tangannya.
Serlin yang melihat Nagato sudah membulatkan tekadnya, gadis itu hanya menghela nafas panjang sambil berharap yang terbaik buat Nagato.
"Seorang lelaki yang membulatkan tekad, kah?" batin Serlin sambil terus menyembuhkan luka dibadan Kuina dengan sihirnya.
"Guru, anak mu yang berumur lima tahun ini tumbuh dengan cepat setelah peristiwa itu, entah aku harus merasa senang atau tidak." Serlin cemas melihat perubahan sikap Nagato yang terkadang berubah drastis.
__ADS_1
"Nagato ... Iris" gumam Serlin pelan kemudian dia mengolah pernafasannya.
"Sirih." batin Serlin sambil mengolah pernafasannya.
"Magic : Weapon Aura."
Busur panah yang dipegang Nagato terlihat bercahaya dan berwarna biru muda.
Iris berjalan menghampiri Nagato, wajah gadis kecil itu memerah karena diabaikan oleh Nagato.
"Aku kenapa? Rasanya begitu kesal diabaikan oleh pangeran sok tampan ini!" batin Iris sambil mengumpat Nagato dalam hatinya.
Nagato menoleh kebelakang dan melihat Iris di saat yang bersamaan.
"Eh .. apa dia bisa mendengar suara hatiku? Tidak .. tidak .. !" batin Iris sambil terus mendekati Nagato dan memalingkam wajahnya kesamping.
Setelah itu Nagato berhenti ketika dia memperkirakan jarak jangkauan aura intimidasi X 2.
"Iris, bantu aku mengalahkan sialan itu!" Nagato menatap tajam X 2 dan meminta bantuan Iris.
Iris memalingkan wajahnya dan mengabaikan Nagato.
"Anak ini? Dia mirip sekali dengan perempuan yang menanyakan identitas ayahku!" batin Nagato sambil memandang Iris dari atas sampai bawah karena baginya Iris mirip dengan Shirayuki.
"Aku sedikit merasa kesal melihat sikapnya tapi entah kenapa ada sesuatu didalam dirinya yang membuat seluruh sel tubuhku berhenti bergerak." batin Nagato, dirinya terlihat tidak terlalu mengerti dengan perasaan yang bercampur aduk menghampiri dirinya itu.
Iris menatap balik Nagato, dirinya merasa risih ditatap oleh pemuda didepannya namun disaat yang bersamaan ada perasaan senang dan Iris tidak terlalu mengerti tentang sebuah perasaan itu.
Nagato terdiam menatap Iris, entah mengapa dirinya sedikit tertarik dengan gadis kecil itu karena Iris bersikap alami kepada Nagato bahkan gadis itu tidak segan untuk menamparnya dan berbeda dengan gadis kecil lain yang pernah ditemuinya selama perjalanan ini.
"Namaku Kagutsuchi Nagato." ucap Nagato dengan lirih menatap Iris kemudian dia melihat X 2 yang mencoba untuk bangkit berdiri.
"Kagutsuchi? Eh .. aku tidak salah dengar, kan?" batin Iris sambil memandang pemuda disampingnya itu.
"Naga-." bibir Iris gemetar ketika ingin mengucapkan nama Nagato, wajah Iris memerah tidak menyangka dia merasa gugup untuk pertama kali dalam hidupnya.
"Namaku Nagato." ucap Nagato singkat.
"Apa tadi aku mengucapkan nama asliku?" batin Nagato sambil mengerutkan dahinya karena dia merasa telah mengucapkan hal yang ingin dirahasiakan oleh dirinya itu.
"Aku terlalu terbawa suasana .. ?" gumam Nagato pelan.
Iris berhasil menenangkan Nagato, akhirnya Nagato dan Iris bekerja sama untuk mengalahkan manusia buas X 2 yang telah melukai Kuina dan pertempuran akan berlanjut.
__ADS_1