
Bisma menjelaskan pada Nagato, Litha dan Asha jika dia akan kembali ke Pulau Aksara selama beberapa hari lagi. Bisma menceritakan tentang dunia luar pada Nagato, Litha dan Asha sebanyak - banyaknya. Litha semakin tertarik untuk pergi ke dunia luar karena itu adalah impiannya sejak kecil yang ingin menjadi seorang petualang menjelajahi dunia.
Sudah hampir dua bulan Nagato dan Litha tidak pernah kembali ke Markas Pencuri Ashikubi. Dorobo mencari keberadaan Nagato dan Litha dimana - mana tetapi tidak dapat menemukan keberadaan mereka berdua.
"Hari ini adalah hari terakhir aku melatih kalian bertiga, aku tunggu kedatangan kalian di Pulau Aksara..." ucap Bisma pelan.
Nagato sedang duduk bersila mengolah pernapasan sambil mengikuti arahan Bisma untuk mencoba membuka gerbang hitam yang menurut perkataan Bisma itu adalah gerbang iblis.
Litha dan Asha sedang mengikuti latihan Nagato walau mereka berdua tidak bisa mengikuti konsentrasi Nagato yang luar biasa.
"Buat tubuhmu menyatu dengan alam..." batin Nagato mengolah pernapasan penuh selama dua hari belakangan ini.
Nagato begitu menyukai latihan karena dia ingin tumbuh kuat, kekalahan bertarung melawan Bisma juga menjadikannya sebagai motivasi agar lebih baik lagi.
"Sudah tiga bulan semenjak kepergian Kakek Hyo, aku harus memberi kejutan pada kakek pemabuk itu ketika dia kembali..." batin Nagato mengingat wajah Kakek Hyogoro yang sedang meminum arak.
Bisma hanya tersenyum melihat Nagato yang sedang terus berlatih pernapasan. Hari ini Bisma memberi makan singa terbang yang menjadi kendaraannya dengan daging yang lebih banyak dari biasanya.
"Setidaknya aku bisa melihat orang yang mewarisi tekadmu, Hiryuu..." guman Bisma pelan menatap Nagato.
Nagato semakin sulit untuk melihat gerbang hitam ketika dia berkonsentrasi secara penuh, tidak seperti sebelumnya, sekarang Nagato merasa jika tubuhnya berada di dasar laut yang gelap.
Nagato mencoba untuk tetap tenang karena menurut penjelasan Bisma seseorang yang mempunyai hak untuk berdiri di depan gerbang iblis akan merasakan sensasi yang ingin melihat gerbang itu kembali, jika orang tersebut mampu membuka gerbang dan memasukinya maka dia akan mendapatkan kekuatan yang berbeda dari manusia biasa.
Nagato melihat gerbang hitam yang menurut Bisma itu adalah gerbang iblis di dasar lautan, napas Nagato semakin sesak dan tidak beraturan. Litha dan Asha bisa merasakan jika Nagato sedang mengolah pernapasan yang berbeda dari mereka berdua.
Litha takjub ketika merasakan aura Nagato yang begitu tenang dan membuatnya merasa nyaman berada di dekat Nagato.
Bisma menatap Nagato yang sedang fokus, walau dari jauh Bisma bisa merasakan jika Nagato telah melihat gerbang iblis kembali.
"Kazan? Sulit untuk mengalahkan pengguna air suci jika kau hanya mengandalkan kekuatan surgawi, aku menemukan seorang anak yang berbakat tetapi dendam yang dimilikinya seperti sebuah pedang bermata dua." batin Bisma menatap Nagato tajam.
"Uhuk... uhuk..." Nagato batuk ketika merasakan dirinya tenggelam dan tidak dapat bernapas, Bisma menghampiri Nagato dan membawa tubuh pemuda itu untuk beristirahat.
Bisma menjelaskan pada Litha dan Asha jika Nagato menganggap mereka berdua sebagai teman yang berharga sehingga Nagato selalu memaksakan dirinya untuk lebih kuat agar dapat melindungi Litha dan Asha.
__ADS_1
Latihan bersama Bisma telah usai, sebuah latihan yang singkat membuat Nagato dan Litha mulai bisa memanipulasi aura. Asha yang tidak memiliki bekal bela diri sama sekali kini telah meningkat pesat kemampuannya tentang ilmu bela diri.
Setelah melewati hari demi hari dengan latihan bersama Bisma, hujan panas dan kekerasan di wilayah Me dapat dilewati dengan mudah oleh Nagato, Litha dan Asha.
Nagato bangun dan melihat Bisma sedang membuat api unggun, matanya terarah pada makanan yang dibeli Bisma.
"Jadi Kakek Bisma akan pergi..." batin Nagato melihat Bisma yang sedang membuat api unggun bersama Litha dan Asha.
Bisma menoleh melihat Nagato yang telah bangun kemudian menyuruh Nagato untuk bergabung. Asha menghampiri Nagato dan terlihat raut wajah anak muda itu terharu setelah mendengarkan cerita Bisma.
"Kak Nagato, kau adalah kakak yang baik, sangat berbeda dengan kakakku..." ucap Asha menangis dan menghampiri Nagato.
"Ada apa denganmu?" Nagato mengerutkan dahinya melihat Asha yang sedang menangis menghampiri dirinya.
"Ka-Kak Nagato... aku kira kau hanya lelaki tampan yang giat berlatih hanya untuk terlihat kuat di kalangan perempuan. Aku salah sangka, ternyata Kak Nagato ingin menjadi kuat agar bisa melindungi Asha dan Kak Litha." tangis Asha mencoba memeluk tubuh Nagato.
Nagato terlihat risih melihat Asha kemudian dia melirik Bisma dan Litha yang tertawa pelan.
"Jangan menangis, bocah sialan! Jika aku mempunyai seorang adik, aku akan mendidiknya untuk menjadi orang yang kuat dan tidak cengeng sepertimu!" tegur Nagato dan menahan pundak Asha yang hendak memeluknya.
"Rasakan itu!" umpat Asha setelah memukul perut Nagato.
Nagato tersenyum sinis dan menarik kerah baju Asha yang hendak melarikan diri sebelum membalas pukulan Asha.
"Beraninya kau memukulku!" bentak Nagato memarahi Asha.
Asha meringis kesakitan karena pukulan Nagato kemudian dia membalas memukul Nagato, tidak berapa lama Nagato dan Asha berkelahi.
Bisma meminum arak dan menatap Nagato dan Asha yang sedang berkelahi. Di sisi lain Litha hanya memakan makanan yang dibeli Bisma.
"Nagato tidak pandai mengungkapkan perasaan, harga dirinya terlalu tinggi dan dia sama sekali tidak peka..." Litha mengeluh dan menghela napas panjang.
Bisma tertawa keras mendengar perkataan Litha, menurut Bisma wajah Nagato sangat rupawan tetapi sifat Nagato yang benci kekalahan dan tidak peka menjadi keunikan sendiri bagi Nagato di mata Bisma.
"Litha, apa kau menyukaiku Nagato?" tanya Bisma menatap Litha sambil meminum arak.
__ADS_1
Litha tersedak mendengar pertanyaan Bisma yang membuatnya malu.
"Ti-Tidak..." jawab Litha pelan terbata - bata.
Bisma tertawa melihat reaksi Litha, melihat Litha yang menyukai Nagato membuat Bisma mengenang masa mudanya.
"Kak Litha tidak pernah memukulku!" teriak Asha mendorong tubuh Nagato.
"Kak Nagato bukanlah kakak yang baik!" tambah Asha dan pergi duduk di dekat Bisma.
Nagato terdiam mendengar perkataan Asha, sebagian dirinya merasa bersalah karena telah memukul Asha.
"Sepertinya jika aku memiliki seorang adik dia juga akan membenciku, seorang kakak yang memukul adiknya..." gumam Nagato pelan dengan suara yang tertahan.
Nagato duduk di samping Litha dan memakan daging yang dibakar Bisma. Suasana di depan api unggun canggung karena Nagato dan Asha tidak saling menegur satu sama lain.
Bisma meminum araknya sebelum menjelaskan pada Nagato, Litha dan Asha tentang dirinya yang berniat meninggalkan Benua Ezzo.
"Aku akan pergi esok hari. Kalian telah berkembang dengan cukup baik, gunakan kekuatan kalian untuk saling melindungi." ujar Bisma pada Nagato, Litha dan Asha.
"Kakek Bisma, apa aku harus mencari Lion jika ingin pergi dari Ezzo?" tanya Litha pada Bisma.
"Lion?" Nagato, Asha dan Bisma keheranan mendengar ucapan Litha.
Litha menunjuk singa terbang yang menjadi kendaraan Bisma.
Nagato menghela napas panjang karena dia pikir Lion adalah seorang manusia, sudah lama Nagato tidak melihat Litha yang menamai hewan sesuka hatinya.
"Kalian bisa pergi dengan kapal, kalau tidak salah di suatu tempat yang dekat dengan Ezzo ada sebuah negeri yang terjajah..." Bisma memijat keningnya dan menjelaskan pada Nagato, Litha dan Asha jika sebuah tempat di Benua Ezzo yang berada paling ujung yaitu Pulau Ryushima begitu dekat dengan dunia luar. Menurut Bisma, Pulau Ryushima akan menjadi pintu masuk Benua Ezzo beberapa tahun lagi setelah Terusan Fajar jadi.
Nagato tidak dapat mencerna perkataan Bisma tetapi satu hal yang dia ketahui dari perkataan Bisma adalah tentang lima negara pemegang hak istimewa di ABB. Nagato berasumsi jika cepat atau lambat Benua Ezzo akan terbuka untuk dunia luar.
Setelah larut malam, Bisma tertidur di depan api unggun sambil memegang botol araknya yang telah habis. Nagato membakar daging kembali dan berniat untuk tidak tidur malam ini.
Nagato melirik Litha yang tertidur di sampingnya kemudian dia melihat Asha yang sedang tidur di dekat batu.
__ADS_1
"Sepertinya aku harus berlatih menjadi kakak yang baik." batin Nagato menatap Asha yang tertidur.