Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 121 -Akhir Pertempuran Gunung Menangis


__ADS_3

Setelah Nagato tumbang. Di ruang singgasana Istana Labirin terjadi keributan. Karena Namida bersama Litha dan Masayu, berhasil menemukan keberadaan Fu.


Fu sendiri tidak menyangka semua temannya telah dikalahkan. Bahkan dihadapannya kini ada tiga orang yang menemukan keberadaan dirinya.


"Sial! Mereka berhasil menemukanku!" umpat Fu dalam hatinya ia berdecak kesal melihat kedatangan Namida, Litha dan Masayu.


Fu memainkan serulingnya kembali. Semakin lama Fu memainkan serulingnya semakin besar dan kekar tubuh Fu.


"Ibu, bukankah dia perempuan? Kenapa jadi kekar seperti itu?" tanya Masayu pada Namida.


"Entahlah..." jawab Namida pelan sambil menghela napas panjang.


Fu memperkuat tubuhnya dengan kekuatan manusia buas. Kemudian dia mengeluarkan jurus ilusi pada dirinya sendiri. Semakin Fu berkhayal menjadi orang kuat maka semakin efektif kekuatan seruling ilusi miliknya.


Namida menyarang Fu dengan pedangnya. Tebasan pedang Namida dapat ditahan dengan mudah oleh Fu. Bahkan Fu menahannya dengan tangan kosong.


Namida merapatkan giginya melihat tangan Fu yang menahan tebasan pedangnya. Dia bisa melihat Fu mendapatkan kekuatan itu dari seruling ilusi miliknya.


Melihat Namida yang bertarung melawan Fu. Litha dan Masayu ikut membantu Namida. Mereka berdua menyerang Fu dari dua arah yang berlawanan.


Serangan Litha dan Masayu begitu dalam. Tetapi tubuh Fu yang terluka dapat beregenerasi sendiri, melihat hal itu membuat mereka berdua berdecak kesal.


"Tarian Peri Air."


Litha menyerang Fu dengan tebasan beruntun. Setiap tebasannya dalam, dengan langkah kakinya yang lembut. Litha berhasil menebas badan Fu.


"Tangisan 500 Kata."

__ADS_1


Tebasan Masayu membentuk air padat berbentuk sabit. Masayu menebaskan pedangnya pada badan Fu.


Fu mencoba menghindari dua tebasan yang mengarah pada dirinya. Dengan cepat Fu mundur dan berniat melarikan diri. Tetapi dia melihat Namida yang mencegat dirinya.


Namida tersenyum tipis sambil mengayunkan pedangnya pada Fu. Tebasan demi tebasan pedang Namida mampu membuat Fu terdesak.


Fu sadar jika dirinya tidak dapat lolos dari situasi yang tidak menguntungkannya. Fu memikirkan cara untuk keluar dari Gunung Menangis.


Fu menahan tebasan pedang Namida dengan serulingnya. Selain harus bertarung melawan Namida, keberadaan Litha dan Masayu juga cukup membuatnya kerepotan.


Litha menyerang dari sisi kiri ia terus mengayunkan pedangnya menyerang Namida. Sedangkan Masayu menyerang dari sisi kanan. Serangan dari berbagai arah membuat Fu terdesak. Perlahan Fu mulai panik, sehingga efek seruling ilusinya mulai tidak terlalu berpengaruh padanya.


Namida mengolah pernapasan hujan sebelum menebas tubuh Fu. Dengan cepat Namida membunuh Fu dalam satu kali tebasan pedangnya.


Setelah kematian Fu. Istana Labirin perlahan hancur dan menghilang. Namida menemukan Nagato yang terkapar di atas kayu kemudian dia mengangkat tubuh Nagato sebelum keluar melarikan diri dari reruntuhan.


Litha dan Masayu mengikuti Namida dari belakang. Setelah sampai di luar, di sana terlihat seruling ilusi yang tergeletak di tanah. Tubuh Fu, Kyu, Gyu dan Shu tidak ditemukan dimanapun.


Wajah Nagato yang rupawan membuat Namida dan Masayu terpana. Namida menyentuh detak jantung Nagato.


"Penyakit ini..." batin Namida setelah selesai memeriksa detak jantung Nagato.


Namida berkeringat dingin karena dia sangat mengenal penyakit yang tidak bisa disembukan itu.


"Apa dia anak dari Pandu?" batin Namida sambil menatap wajah Nagato.


"Pemuda bertopeng ini tampan sekali," kata Masayu ketika melihat wajah Nagato yang rupawan.

__ADS_1


Litha diam menatap Masayu dari balik topengnya. Dia juga tidak menyangkal jika banyak orang yang tertarik dengan Nagato.


"Apa dia juga temanmu?" tanya Masayu pada Litha.


Litha mengangguk pelan. Tak lama Kakek Hyogoro datang dan melihat keadaan Nagato.


Namida mengenal Kakek Hyogoro dan mengajaknya untuk beristirahat di kediaman Perguruan Gunung Menangis.


Sesampainya di kediaman Perguruan Gunung Menangis. Namida menyuruh anggota pendekarnya untuk membawa Nagato ke dalam kamarnya.


Nagato tertidur di ranjang yang biasa dipakai Namida. Seluruh aura dan tenaga dalam Nagato terkuras habis.


Malam berlalu dengan gerimis yang membasahi Gunung Menangis. Keesokan harinya Nagato membuka matanya dan mendapati seorang perempuan memeluk tubuhnya.


"Siapa dia?" batin Nagato ketika melihat seorang gadis muda yang tak asing di matanya.


Masayu membuka matanya sambil mencoba berdiri. Masayu tersenyum manis melihat Nagato.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Nagato pada Masayu.


Nagato mengira dirinya masih memakai topeng. Tetapi ketika tangannya menyentuh wajahnya sendiri, Nagato sadar jika topengnya telah terlepas.


"Aku hanya tidur di sampingmu. Ngomong - ngomong tadi malam kamu memeluk tubuhku..." jawab Masayu malu - malu sambil tersenyum lembut.


Nagato bangun dan berusaha menggerakan badannya. Seluruh tubuhnya terasa sakit dan tidak ada tenaga sedikitpun.


Masayu menyuruh Nagato untuk tidur kembali. Setelah melihat Nagato tertidur, Masayu keluar dari kamar ibunya dan pergi ke tempat Litha.

__ADS_1


Kakek Hyogoro menceritakan pada Namida tentang peristiwa 15 tahun silam. Sebenarnya Kakek Hyogoro ingin menitipkan Nagato dan Litha pada Namida. Tetapi setelah mendengar jawaban Namida yang menolak permintaannya, Kakek Hyogoro memutuskan untuk menitipkan Litha dan Nagato pada Shirayuki.


Nagato memulihkan tenaganya selama dua hari di kediaman Perguruan Gunung Menangis sebelum kembali ke Hutan Cakrawyuha.


__ADS_2